Pesta Blogger 2010 : Plus Komunitas, Plus Keberagaman

Oktober Saat Pesta, Saat Semangat.

Bulan Oktober rasanya momen yang tepat bagi Pesta Blogger dilaksanakan. Ya, event tahunan ini serasa pas karena pada bulan yang sama, ada Hari Sumpah Pemuda. Hari dimana dikumandangkan persatuan negeri ini dibawah bangsa yang satu, tanah air yang satu, dan bahasa yang satu. Sedangkan Pesta Blogger adalah event gathering nasional tahunan yang biasanya didahului serangkaian event di berbagai daerah bertajuk “blogshop”.

Cocok, karena spirit blogger adalah semangat pemuda, generasi muda bangsa ini. Dan kali ini pun, beberapa event blogshop telah digelar, didahului yang pertama di Makassar.

Blogger ber-pesta. Tentu konotasinya jangan negatif. Pesta ini diartikan ajang kumpul dan bersenang-senang sesama blogor. Walau belum lama nge-blog, saya berpositif saja, Pesta ini mengesankan hal yang lebih ke informal, fun dan tanpa “ja’im”. Tentu kurang sip kalau disebut Seminar, Konferensi atau.. Gala. Walau demikian, “haha hihi” di pesta ini tentu sudah direncanakan matang dan ada kejutan-kejutan yang kita sangat harapkan setiap tahunnya. Tentu pesta bisa dijadikan positif, dengan “melaporkan” berbagai kegiatan-kegiatan roadshow blogshop yang tentu sangatlah positif. Layak rasanya, event puncak diartikan sebagai pesta dari sisi positif.

Keragaman dan Plus

Lalu, apa ya kejutan tahun ini? Rara, sang ketua panitia dalam press conference (preskon) nya beberapa waktu lalu di Jakarta mengatakan bahwa kali ini, tajuknya adalah “Pesta Blogger Plus” dengan tema “Merayakan Keragaman”. Acara puncaknya Oktober, dan para blogger sudah ramai-ramai memasang bannernya. Termasuk saya.

Keragaman dan Plus. Dua hal yang berkaitan. Itu yang menjadi isu utama Pesta Blogger 2010 ini. Plus artinya berlebih. Keragaman artinya ada bermacam-macam. Jelas, maksudnya adalah blogger ini adalah bagian dari dunia netizen. Blogger juga ngeblog, nge-twit. Mungkin bukan alay-ers hehe.. sebab setau saya, alay-alay itu hanya hobi update status, bukan nulis. Lalu, yang “begini-an” ini masuk mana? Masuklah ke “Plus” nya tadi. Bukan blogger, tapi senantiasa ngaskus, masuk juga di “Plus”nya. Jadinya, keberagaman. Keberagaman latar belakang blogger, wilayah geografis dunia nyata si blogger, dan yang berikutnya, keberagaman antar komunitas online.

Blogger, punya blog dan mengupdate blog. Komunitas-komunitas lain juga playgroundnya internet, walau tak harus punya dan update blog. Yang suka facebook kenal si “Alay” yang suka twitter kenal si “Unyu-unyu” dan yang punya blog kenal si “BW” dan yang punya milis kenal si “OOT”.

Benar, Era jejaring sosial meruntuhkan ekspansi blog sehingga di tahun 2009 sudah banyak blog yang tidak diupdate lagi. Semua update status. Atau bermain microblogging di plurk dan twitter. Saya rasa, tahun ini, para blogger panitia merespons perkembangan jaman dengan memasukkan unsur “plus” sehingga menggaet banyak komunitas dunia maya (netizen) lain. Bisa meriah. Dan kalau melihat siklus jejaring sosial yang naik turun, biasanya 2 atau 3 tahun kejayaan sebuah jejaring dan akan down. Jadi mungkin lebih banyak lagi komunitas yang bisa “digarap”. Misalnya koprol dan seterusnya.

Bisa jadi juga, malah blogger yang “bangkit” lagi karena kekosongan media jejaring sosial yang fresh, jika ternyata terjadi.  Mungkin ada teknologi baru terkait blog, tren dan berbagai hal yang sulit diramalkan di era yang serba cepat dan serba bolak balik ini.

Memang fase rising dan declining nya blog pasti ada. Semua produk seperti itu. Siklus. Dalam pemasaran, ini sudah lazim. Tinggal bagaimana seorang blogger menunjukkan militansinya, dan melalui tahap seleksi alam yang sudah diprediksi oleh banyak kalangan selalu dan pasti akan terjadi di berbagai bentuk media. Salah satunya blogging. Seleksi-lah yang akan menunjukkan blogging sampai kapan dan sekuat apa sih, para blogger ini mempertahankan legacy “pesta blogger”. Saat ini, faktanya memang perlu ada “plus” karena dari sisi blogger sendiri, harus diakui, menurun baik kualitas maupun kuantitasnya secara signifikan. Biar pestanya tetap “rame” maka perlu juga komunitas lain. Saya rasa kekhawatiran itu pasti ada. Apalagi kalau mesti kita lihat dari sudut pandang sponsor. More people, more fun. dan lebih banyak produk sponsor ter-deliver dengan baik ke calon konsumennya.

Namun inti dari blogging yaitu “menulis” catatan menjadi tidak begitu relevan. Ada komunitas yang masih nyambung dengan blog, seperti komunitas Kompasiana, Politikana, dan online dan atau citizen journalism lainnya, ada juga komunitas forum seperti Kaskus, KG-ers, serta newsdotcom lainnya, juga milis-milis Jalansutera, marketing-club, serta komunitas lain seperti Android Indonesia, Id Blackberry, komunitas Mig33 dan lain-lain tentu boleh join. Jadi pesta bersama.

Nah, mungkin kalau mau dicari kekurangannya, adalah misi blogging sebagai ajang untuk menulis agak turun, tapi memang fenomena tulisan-tulisan singkat via microblogging semacam twitter masih menghiasi. Kontinuitas pembicaraan dan timeline twitter masih bisa menjadi hal yang mengasikkan utk dibaca, juga dikomentari.

Keragaman Menuju Sinergi dan Kesamarataan

Kelihatannya memang “sumringah”. Jadi, saya sudah akan mengucapkan selamat tinggal kepada Pesta Blogger, sebab, dengan dicanangkannya gong “Plus” ini, mungkin tahun depan menjadi PB2011 Plus Plus, dan 2012 menjadi akhir dari Pesta Blogger. Sama halnya dengan film Hollywood yang terkenal itu. Kiamat. Sebab, ketika yang “plus” ini malah lebih besar, maka kegiatan-kegiatan roadshow dalam rangka PB yang selama ini ada harus dipikir ulang. Workshop penulisan, membuat blog dst akan diganti internet sehat, membuat account di media sosial, juga netiket. Arah dari perkembangan komunitas online sedemikian besar. Tidak bisa seseorang mengklaim dirinya blogger sejati dan menolak berbagai jejaring sosial lainnya. Sama saja mengkhianati eksistensi maya.

Alhamdulillah, sesuai dengan deklarasi “PLUS” tadi, Panitia Pesta Blogger sudah menjadikan ajang “Blogshop” lebih berwarna. Misalnya, adanya pertemuan dengan komunitas online lain, tak hanya blogger dan termasuk menjadi bagian dari pesta blogger plus ini. Bahkan di Makassar, komunitas Linux (sistem operasi) pun diundang. Wah, ini baru namanya antarkomunitas, dan ini baru party!

Jadi, seperti prediksi saya, nanti kedepannya wujud Pesta Blogger bisa berubah. Dan menurut sebuah teori, ketika terjadi perubahan dan perkembangan, mungkin, nanti pada suatu saat event tersebut akan segera berubah. Mungkin mengubah nama langsung menjadi “Pesta Komunitas Maya”, “Pesta Netizen” dan lainnya yang menarik dan representatif. ( Walau demikian, keberadaan event seperti “social media day” perlu dipertimbangkan sebagai benchmarking dst). Lalu, teori selanjutnya, kemungkinan ada party inside party, dimana “pesta blogger” versi baru nantinya adalah salahsatu acara party di dalam party yang lebih besar. Wallahu’alam namanya juga pendapat dan berdasarkan teori.

Mengapa demikian? Sebab, ketika kita bilang kalau blogger adalah sama dengan komunitas lain di internet, dan menjadi bagian tak terpisahkan, sudah selayaknya acara ini diganti. Blogshop pun, penamaannya mungkin berubah, misal workshop saja. Back to basic. Dan seterusnya, yang sekali lagi, ini sepertinya tergantung dari panitia tahun depan. Dan jumlah komunitas –non bloggers yang menjadi panitia tahun depan tentu memengaruhi dari sisi acara-acara. Kita lihat nanti, apa benar terjadi sinergi, perkembangan ke arah kebersamaan komunitas, atau mesti tetap dipimpin bloggers sebagai lokomotifnya.

Judul Pesta blogger plus, menurut saya, kalau mengacu dengan sesama komunitas online, dan tidak merasa lebih hebat dan lebih baik, ya sama saja mengatakan Maia n Friends, atau Bondan Prakoso feat Fade2Blac, atau bahkan Batman & Robin, juga Upin Ipin dan kawan-kawan. Disana masih ada tokoh sentral dan tokoh tambahan atau sidekick. Mungkin karena sudah jadi brand maka masih dipertahankan. Tentu bukan hal yang sulit sekedar berganti judul event. Bisa jadi, panitia akan lebih berwarna dan beragam. Sesuai dengan tahun ini, merayakan keberagaman, dan tahun depan keberagaman itu bersinergi.

Jadi, secara alamiah, kalau memang mengatakan adanya “kesamarataan” status sosial di dunia maya, mungkin, tahun depan, mungkin tahun depannya lagi, saya rasa judul ini berubah. Tak masalah, karena spiritnya tetap sama. Muda, generasi muda, dan kalau tetap dilaksanakan di bulan Oktober, tentu merayakan juga Hari Sumpah Pemuda, yang merupakan hari PERSATUAN dalam merayakan KERAGAMAN.

Selamat datang masa baru jagat maya!

Blogger tamat?

Lalu, blogger mau kemana? Just blogging, mencurahkan isi pikiran, tanpa perlu bedol desa ramai-ramai menjadi menulis di media lain. Menjadi jurnalis warga yang punya pemikiran tanpa disetir. Dan blog akan bertahan selama internet bertahan. Catatan-catatan ini akan menjadi sejarah, menjadi bacaan orang lain dan menjadi bagian dari sejarah penulisnya. Blog is a web log. That’s the bottomline.

president@unggulcenter.org

Comments (6)

Blogor Ultah yang Kedua, Saya yang Kedua Sembilan

Selamat Ultah untuk komunitas Blogger Bogor (BLOGOR) yang ke-2 !

Setelah BW kebeberapa teman yang menulis mengenai ultah ini, saya juga kepengen nulis jadinya. Judulnya sih bikin malu hehe.. ngasih tau umur. Umur ke-29 itu sudah hampir kepala tiga. Sedangkan ke-2 itu baru belajar jalan. Ngoceh juga belum jelas. Itu kalau diibaratkan blogor adalah manusia.

Saya ingin berbicara mengenai kaitan antara umur Blogor dan umur Saya, si ayah, yang merasa selalu muda, funky dan kadang bikin kesal Istri!

Blogor adalah komunitas. Paguyuban saya rasa. Sebab saya tidak tahu AD ART dan Akta Notarisnya. Tentu, dengan beragam aktivitas, saya rasa pupuhu (ketua) bisa merekapnya selama dua tahun ini, beberapa jalan beberapa tidak. Hal yang paling awal untuk dilakukan organisasi yang masih muda, adalah.. bersenang-senang. Ya, betul. Artinya, mengkondisikan ini komunitas yang membuat happy. Bukan membuat sedih, apalagi lelah hati. Saya kurang tau definisinya, tapi lelah hati mungkin jauh lebih parah dari lelah fisik. Masalah lelah fisik, saya mengerti sekali, Sebab di usia 29 ini, ternyata otot saya layaknya orang 57 tahun. Itu kata dokter waktu tes. Ada alat canggihnya, dan jelas ditulis disana. Jadi perlu peningkatan olahraga dan penurunan berat badan. Ceritanya obesitas. Saya mengerti sekali masalah fisik, sebab di usia 29 ini, sejak masuk Rumah Sakit, saya tidak dapat lama-lama berdiri karena kaki yang bermasalah di pembuluh darah vena. Dampaknya vaskulitis. Kata dokter, sakitnya Hyper IgE. Mudah-mudahan bisa sembuh dengan satu cara, kata dokter lagi, menurunkan berat badan sebanyak 20 kilo. Kembali ke masa SMA. Sulit bagi saya. :(

So, jika kamu senang dan fun di Blogor, maka salah satu misi blogor tercapai hehe.. hip hip huraaa

Blogor, perlu juga membuat suasana senang. Misalnya kontribusi kegiatan-kegiatan. Saya lihat, bebersih bogor, sudah jalan tapi masih sedikit yang partisipasi. Saya contohnya. Karena modelnya jalan-jalan (baca kondisi kaki saya di atas). Kemudian ada arisan, kopdar mancing, itu cukup membangun kebersamaan. Kopdar adalah ruh komunitas. Baksos dan berbagai event lainnya adalah tenaga utk menjadi besar. Bedanya blogger indonesia dengan blogger amerika, misalnya, mereka gak ada kopdar. Kurang kebersamaan mereka. Makanya FACEBOOK diciptakan, mendekatkan yang jauh. Saling kenal walau sebelumnya gak kenal karena terlalu nge-”geng”. Kalau di Indonesia, sebaliknya Facebook menjauhkan yang dekat. Hehe.. jangan sampai deh.

Blogor, di usia ke dua tahun ini, memang perlu perbaikan. Wajar saja, karena dinamika yang saya lihat ada “hilang” kepemimpinan karena kesibukan. Berbagai masukan, kekecewaan, berantem, dan seterusnya telah terjadi. Semua dinamika, dan pada akhirnya, semua memang happy ending. Sebab, komunitas itu happy-happy. Kata Damiano Unggulo, penyair Italia jaman dahulu kala, “..jika kamu tidak senang, maka jangan lakukan. Kalau kamu lakukan, itu berarti kamu bilang kalau kamu senang melakukannya.”

Memang, usul dan ide banyak, tapi, apakah usul dan ide itu sebanyak SDM yang akan melaksanakannya? Jika iya, mangga atuh di List. Siapa saja yg berkomitmen. Jika saya komitmen untuk bilang akan hadir dan akan bantu. Maka saya hadir dan bantu. Kata Damiano Unggulo lagi, “janji adalah kebanggaan seorang lelaki”, dan “menepati janji adalah menjaga harga diri lelaki”..

Jadi, silakan pengurus blogor yang baru susun agenda mau apa di 2 tahun ke depan. Nggak usah muluk-muluk.. anak dua tahun bisanya apa ya kira-kira? Hayoo.. hmm bisanya ngambek, teriak, nangis dan berjalan kemana-mana. Pengin tahunya besar. Tapi dia lebih dulu mengeksplorasi semua sudut ruangan di rumahnya. Di kamar, ruang tengah hingga mau naik tangga ke lantai dua.

Oke, blogor jadilah seperti itu. Prioritas kegiatan adalah “mengenal” rumahnya. Bogor. Mengapresiasi. Mungkin Hari jadi Bogor bisa jadi momen sekali setahun yang wajib. Sisanya, acara-acara have fun. Gathering dan kumpulkan sebanyak mungkin member untuk menjadi bagian dari keluarga ini. Selain itu, anak balita mulai belajar bicara. Blogor harus mulai belajar bicara. Diajang lokal seperti balita kepada ibu, ayah an saudara-saudaranya. Blogor berkomunikasi dengan ibu pertiwinya. Tetangganya. Komunitas lain di bogor. baik kota maupun kabupaten.

Keep on Kopdar. Mengapa? Tidak ada yang bisa menggantikan ide-ide pada saat tatap muka. Tidak ada yang bisa meluruskan salah paham karena netiket selain silaturahmi langsung. Kita berteman offline dan online. Tidak salah satunya. Jadi, saya rasa, walau banyak yang masih perlu ditingkatkan, BRAVO untuk kepengurusan blogor pertama. Ada pelatihan, ada bedah buku, ada kopdar mancing, ada bareng-bareng ke Yogya, ke Blogshop dll. Selalu ada yang pertama untuk semuanya. Dan kepengurusan blogor pertama, selama dua tahun, menjadi pelajaran kita semua. Tentu bukan pelajaran yang berat, paling cuma menyusun balok sama menggigit-gigit bola. Ya namanya saja baru dua tahun!

Dan saya, di usia 29 akan terus menjadi anggota blogor yang mengapresiasi semua kegiatan yang disusun pengurus. Walau dengan hal yang kelihatan sepele, tapi penting. yaitu HADIR apabila diundang dan tidak ada agenda yang penting lainnya.

Sekali lagi, Selamat untuk Blogor, kunantikan kiprahmu dua tahun kedepan!

Comments (7)

Talkshow Kepemimpinan : Ada Revolusi di Dunia Maya!

PROLOG

“Assalamu’alaikum! Halo Bang, bisa nggak jadi pembicara di Seminar Kepemimpinan Nasional PPSDMS Sabtu besok? Maaf mendadak nih. Bang Unggul direkomendasikan oleh XXXX katanya jagoannya nehh masalah blog dan internet”

begitu kira-kira inti dari telepon yang saya angkat di Kamis pagi.

Ah bisa aja.. nggak deh, perasaan. Nggak banget. Tapi aduh, gimana ya.. saya mau sekali membantu, apalagi dari PPSDMS. Tapi saya ada acara di Jogja bareng teman-teman blogger Bogor. Yang lain saja yang kompeten. Saya cuma blogger dan peminat sosial-media yang nyubie

Sayang sekali, mendadak, padahal saya sudah bayar untuk sebuah event di Yogyakarta. Bareng Kang Akhdian, Mas WKF dan Mas Fajar Suyamto.

Gimana ya, tadinya Pak Enda yang ngisi tentang komunitas online dan perannya, tapi mendadak ada acara lain. Kalau bisa digantiin

Degg.. Enda Nasution. Pria yang ditasbihkan sebagai “bapak blogger Indonesia”. Mau digantiin Unggul Center. Namanya aja ngga ada yang kenal. Selain saya pernah salaman sama Bang Enda di ajang Teknopreneur Award 2009 dan senyam-senyum di Pesta Blogger 2010. Cuma “aktif” ngemeng di Blogor (Blogger Bogor) pula. Bukan siapa-siapa.

Tapi, wait. Justru sebuah tantangan dan kehormatan sekaligus. Udah ah, cancel saja acara di Yogya, terus begadang 2 hari untuk berikan slide presentasi terbaik, dan latihan public speaking. Audiensnya adalah anak-anak muda CERDAS dari UI, ITB, UGM dan UNAIR. Lima universitas negeri yang sangat beken. Terkenal dengan susah masuk susah keluarnya.

Mikir.. yap, kalau bang Enda alumnus ITB, saya alumnus UI kok, walau kuliah 6 tahun ampir Drop Out. Sama ajalah.. sama juga dengan Om Enda, sebab saya juga punya account facebook, twitter, linkedIn, juga nge-blog di The Unggul Center, saya rasa saya mampu kok.

Oke, saya pikir-pikir dulu ya sembari cari orang lain yang gantiin. Sepertinya pak Nukman Lutfi, yang paling cocok. Tapi nanti saya SMS

Tik tok tik tok..

masih berpikir-pikir, ijin dulu ah ke komunitas blogor lewat milis.. eh ternyata tanggapannya sama semua. GO FOR IT! Gudlak! Makin mantabh ni jadinya..

dan, SMS terkirim.

ADA REVOLUSI DI DUNIA MAYA

Akhirnya, Sabtu, 31 Juli, hari terakhir di bulan itu, dengan penuh percaya diri, tampillah seorang The Unggul Center, blogger nyubi, social media enthusiast (majang titel sendiri). Sebagai narasumber di ajang PEKAN KEPEMIMPINAN NASIONAL PPSDMS. Sebuah yayasan yang memberikan beasiswa pendidikan bagi mahasiswa berprestasi dan digodok sebagai calon-calon pemimpin masa depan.

Bersama dengan pak Iim Rusyamsi, Presiden TDA (Komunitas pengusaha, Tangan Di Atas) yang Alhamdulillah karena saya kenal, di milis dan komunitas yang sama, saya maju sebagai blogger. Disamping itu, ada juga Bang Goris Mustaqin. Alumnus PPSDMS yang sudah melanglang buana hingga salaman dengan Barack Obama di Washington, pendiri komunitas ASGAR (Asli Garut) dan pengusaha muda yang sukses. Biar keder sama kualifikasi pembicara-pembicara ini, yang penting tidak minder deh ehehe..

Saya memberikan judul yang sesuai dengan audiens pada hari itu. Sosok-sosok generasi muda yang akan mengubah bangsa menjadi lebih baik. Presentasi ini saya awali dengan judul “Ada Revolusi di Dunia Maya”. Wakakaka.. judulnya aja keren, padahal isinya.. biasa aja hehe.. gak papa. Saatnya jadi motivator dadakan, dan kalau perlu marah-marahin mahasiswa yang melempem dan gak peduli sama bangsa ini.

Diawali dengan pengenalan tentang media sosial dan jejaring sosial (singkat, sebab masa sih pada tidak tahu dan tidak punya!) saya lanjutkan langsung dengan Manfaat-manfaat yang bisa diperoleh dari berinternet dan ber-media sosial. Mulai dari sarana mencari jaringan sebanyak-banyaknya, personal branding, hingga sebagai penyambung tali antara “rakyat biasa” dengan “rakyat tidak biasa”. Lalu, bagaimana menyikapinya, juga dibahas dibeberapa slide. Dibahas juga bagaimana Eksis tidak sama dengan Narsis. Narsis dalam dunia internet yang “benar” adalah membangun kompetensi dan kepercayaan publik (pembaca dan netizen lainnya terhadap dirinya).

Blog, salah satu revolusi paling mendasar yang merubah tatanan pilar demokrasi. Di era partisipasi dan horisontalisme ini, penulis blog mendapatkan tempat terhormat. Berkembangnya jurnalis warga (citizen journalist) dari waktu ke waktu memperkuat bahwa pelaporan “terpercaya” adalah justru subyektivitas si jurnalis warga itu sendiri. Live report, atas apa yang terjadi, opini, atas apa yang terjadi dengan sudutpandang orang pertama. Hal yang kadang luput dari media massa mainstream.

Ada juga microblogging, sebagai sarana nge-blog singkat. Media ini juga mengukir sejarah. Kisah revolusi 140 karakternya twitter, yang di Moldova, Iran, Venezuela, China, juga AS dan Israel yang mendapatkan banyak pemilih melalui media jejaring sosial, merupakan bukti bahwa revolusi bisa digalang dari dunia maya. Tentu jangan “No Action Tweet Only”. Kisah dimana pengiriman twit oleh seorang Natalia Morar, perempuan aktivis dan wartawan investigasi yang baru berusia 25 tahun. Semula, Morar hanya berharap pesan yang dikirimnya melalui Twitter akan mengumpulkan ratusan orang saja, terdiri dari teman dan kenalannya. Tapi hukum “MLM” yang ada di jejaring sosial membuat 20 orang menjadi 20 ribu orang di alun-alun. Jumlah yang sangat besar untuk mempertanyakan mengenai kecurangan Pemilu. Hampir terjadi revolusi “nyata” namun apa daya pemerintah dan militer lebih kuat. Namun, itu bukti betapa powerful-nya jejaring sosial.

Lalu di Indonesia?

Ketika keadilan dicederai, tidak tahu entah kemana untuk mengadu, maka Gerakan Sosial dimulai di internet. Dulu, sudah ada petisi online. Saat ini, cause dan group di Facebook menjadi bukti kekuatan. Kasus Cicak Buaya dan Bibit Chandra di-push dari Facebook. Oleh “Facebookers”. Lalu, koin keadilan untuk kasus Prita, digalang di dunia maya. Tanpa komando perintah. Tanpa pikir banyak. Tanpa takut.

Muncul juga berbagai gerakan lain bertema kecintaan terhadap Indonesia. Mulai Indonesia Unite, dan lain-lain yang makin banyak. Karakternya sama. Inginkan perubahan, namun tidak MENUNTUT perubahan. Mengapa? Karena perubahan dimulai dari diri sendiri, dan ajak orang lain kemudian. Se-simpel itu. Itulah yang menjadi nilai utama “Revolusi” ini.

REVOLUSI DAN PERUBAHAN DARI DIRI

Di akhir cerita (slide yang panjannya 70 slide hehe..) ada pertanyaan, Why Me? Dan saya jawab di slide itu, ya Anda yang diberikan kesempatan untuk memimpin, diberikan beasiswa untuk jadi pemimpin. Dimudahkan dalam menuntut ilmu biar gak pusing mikirin biaya, pikirin aja bangsa ini mau dibawa kemana. Dan diminta dengan sangat oleh para donatur beasiswa untuk merubah negeri. Bukan cuma merubah diri dan lingkungan saja, dan jelas, itu Anda, Bukan saya! Hehe..

Semoga mencerahkan semua peserta yang hadir, dan Alhamdulillah, diskusi tidak selesai cuma disitu. Setelah acara selesai, banyak mahasiswa yang ngobrol dengan saya mengenai internet, komunitas online dan gerakan-gerakan sosial. Presentasinya ada juga dislideshare yaitu Blog, Internet dan Generasi Muda

Slide yang panjang itu juga diisi dengan kegiatan-kegiatan komunitas online yang berbuat NYATA bagi masyarakat daerahnya. Dan itu adalah bagian dari saya, dan bagian dari Anda, pembaca. Betul kan? Slide ini bisa diunduh, jika mau disini. Filenya cukup besar, 4 mb tapi memang isinya colorful dan Insya Allah, mudah-mudahan memberikan pencerahan bagi teman-teman semua, generasi muda negeri ini, bahwa, revolusi di mulai.. dari diri sendiri!

Comments (2)

Undangan Menulis Jelang 20 Tahun Linux!

UNDANGAN MENULIS / Call for Papers

Bagi yang gregetan (kayak lagu Sherina) mengenai 20 tahun Linux diciptakan, udah ngapain aja dan Mau Dibawa Kemana (kayak lagu Armada).. Silakan ide, opini, juga kalau ada update teknologi n apa aja tentang Linux yang mau dijadiin artikel dan dishare di ILC 2010 di Bogor..

Terbuka untuk semua kalangan, mulai pelajar hingga profesional yang ingin menuliskan pandangannya terhadap perkembangan Linux di Indonesia serta pemikiran-pemikiran di Dunia Linux.

Syarat dan Kondisi bisa dibaca di poster atau di situs resmi ILC.

Penulis diundang ke ILC 2010 dan bisa mempresentasikan ide dan hasil karyanya loh! Jadi, jangan cuma diam, jadikan Anda bagian dari PERUBAHAN!

Salam Open Source!

Comments (1)

Lompatan Modernisasi dalam Globalisasi

“The world is all that is the case. The world is the totality of facts, not of things. The world is determined by the facts, and by their being all the facts. For the totality of facts determines what is the case, and also whatever is not the case.”- Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus

Modernisasi adalah proses jadi modern, yang secara etimologis berasal dari kata Latin “modernus” berarti “sekarang”. Modernisme kerap dipahami sebagai sesuatu yang ada pada tataran konseptual (ideologi), sementara modernitas pada aras realitas praktis atau konkretisasinya.

Lalu, apa yang dimaksud dengan jaman modern? Secara historis modernisasi merupakan suatu proses perubahan menuju tipe sistem sosial, ekonomi dan politik yang telah berkembang pesat di Eropa Barat dan Amerika Utara sejak abad ke-17 sampai abad ke-19. Perkembangan ini menyebar pula ke negara Eropa lainnya, Asia, Amerika Latin dan Afrika. Sebetulnya titik erangkatnya adalah pola berpikir ilmiah yang dipicu oleh tokoh-tokoh abad renesans dan abad pencerahan (aufklaerung). Mereka menggeser paradigma mitis/teosentris ke arah paradigma antroposentris/kritis/fungsional.

Disiplin sosiologi (misalnya tulisan Prof.Soerjono Soekanto, 1970) mengajarkan bahwa syarat di mana suatu proses Modernisasi bisa terjadi adalah jika – paling tidak – enam faktor ini terdeteksi:

Pertama, cara berfikir ilmiah dan terlembagakan dalam the ruling class maupun masyarakat. Hal ini mengandaikan suatu sistem pendidikan dan pengajaran yang terencana dan baik.

Kedua, sistem administrasi negara yang baik, yang sungguh mewujudkan birokrasi yang handal. Bukan rejim kleptokrasi yang seperti terjadi saat ini.

Ketiga, adanya sistem pengumpulan data yang baik dan teratur yang terpusat pada suatu lembaga atau badan tertentu. Hal ini butuk kotninuitas penelitian agar data-datanya tidak kadaluarsa.

Keempat, penciptaan iklim yang kondusif dari masyarakat terhadap modernisasi dengan cara penggunaan alat-alat komunikasi massa. Hal ini harus dilakukan bertahap, karena banyak sangkut pautnya dengan sistem kepercayaan masyarakat (belief system).

Kelima, tingkat organisasi yang tinggi, yang di satu pihak berarti disiplin, sedangkan di lain pihak berarti pengurangan kemerdekaan.

Keenam, sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan ‘social planning’. Apabila hal itu tidak dilakukan, maka perencanaan akan terpengaruh oleh kekuatan dari kepentingan yang ingin mengubah perencanaan tersebut demi kepentingan suatu golongan.

Globalisasi yang merupakan proses perentangan jangkauan dan juga sekaligus pemadatan kegiatan seolah telah memaksa kita untuk seketika tercebur ke dalam proses modernisasi. Walaupun jika ditelaah satu persatu, keenam persyaratan modernisasi di atas belumlah cukup terealisasi secara memadai sebagai infrastruktur penopang proses modernisasi yang ideal.

Yang repot memang, tanpa melalui proses modernisasi yang sewajarnya, kita –saat ini – telah ramai dengan segala akitivitas dan hingar-bingar lompatan post-modernisme (pasca-modern). Masyarakat (utamanya masyarakat konsumen) jadi gagap dalam menyikapi gejala konsumerisme global. Catatan: bahkan untuk menstimulasi pertumbuhan, maka para pemimpin kita bersepakat untuk: meningkatkan konsumsi!

Pada umumnya, ditengarai kegagapan ini lantaran pola pikir dan ketidakbiasaan kita untuk berwacana secara kritis dan mendalam. Contoh soal, tatkala kita masuk dalam perdebatan yang berciri ideologis (misalnya diskursus soal Neolib baru-baru ini), dipaparkan oleh B. Herry-Priyono (Sesat Neoliberalisme, Kompas, 28 Mei 2009) bahwa bangsa kita pada umumnya gagap dalam bersikap lantaran kita tidak terbiasa berargumentasi dalam wacana yang bersifat ideologis dan filosofis (berpikir mendalam dan radikal).

Keluguan kitalah yang telah mengakibatkan pembiaran infiltrasi pola pikir fundamentalisme pasar yang mengukur segala sesuatunya berdasarkan kepraktisan untung-rugi. Olehnya kita banyak terjerumus untuk hanya peduli pada kiat-kiat praktis ekonomis (…jadi jutawan dalam semenit!). Seolah-olah ukuran sukses seorang manusia semata-mata adalah ukuran fulus.

Di sinilah fenomena corruptio-humana menjadi begitu telanjang, tapi anehnya kita tidak merasa malu (seperti kisah dongeng si raja bugil yang berlenggak-lenggok dengan bangga memamerkan ketelanjangannya). Budaya instan bagai virus yang menjalar kemana-mana. Jalan pintas (dengan menghalalkan segala cara) menjadi fakultas. Korupsi (berjamaah) menjadi tatanan nilai yang –celakanya – bisa diterima secara sosial!

Untuk melompat kita perlu mengambil ancang-ancang (posisi kaki kokoh, tapi lentur dan siap siaga serta fokus), artinya keenam syarat modernisasi itu perlu dikerjakan sungguh-sungguh dalam praksis keseharian. Supaya menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu menjadi karakter. Karena karakter inilah yang akan menentukan nasib bangsa ini. Jadilah mandiri, juga tuan di negeri sendiri. Sehingga kita tidak menjadi sekedar ‘imitatorum servum pecus’ (gerombolan pelayan yang hanya meniru-niru saja).

Oleh Andre Vincent Wenas (disarikan oleh The Unggul Center dari Majalah Marketing, Edisi 07-09)

Comments (1)

Melepaskan Baju dan Bicara atau Pakai Baju Terus Ngomong

Hii.. Parno ah..

Jangan salah sangka dulu.. ini judulnya membuka baju bukan asal baju. Saya ingin menyampaikan kalau dalam berkomunikasi, kita perlu untuk melepaskan baju, atau sebaliknya, perlu memakai baju.

Dalam keseharian, jika sedang asyik pules tidur siang bertelanjang dada.. keringetan pula, sedang mimpi pula,eh tau-tau ada yang ngetuk pintu. Mau bertamu. Apa yang Anda lakukan? Bangun, terus memakai baju. Baru menyambut tamu. Berkomunikasi. Sebaliknya, jika pada suatu waktu, saat sedang rapi-rapinya, kita mau bantuin orang yang sedang bersawah, kita lepas baju seragam, kemeja dan seterusnya. Ganti baju yang jelek dan ikut berpeluh mencangkul. Jika di sebuah Kolam Renang, Anda juga akan aneh kalau memakai baju sendirian. Walaupun rada minder dengan perut buncit dan gelambir (ngaca hehe..) tentu masih lebih nyaman membuka baju baru nyemplung.

Bagaimana kalau kondisinya berbeda namun kegiatannya salah? Ini yang mau saya curcol-kan. Halah.. Ingat Kasus terbaru di ajag sepakbola, dimana KAPOLDA JATENG minta Wasit diganti di tengah-tengah pertandingan? Ya, Dengan lantang pak Pulisi turun kelapangan dan protes.Beliau Lupa kalau memakai seragam kepolisian. Juga lupa kalau omongannya, dengan sedang memakai seragam, adalah juga atas nama institusinya. Tidak bisa kemudian dia ralat itu atas nama pribadi.

Sebaliknya, bagaimana jika ada seorang kawan baik, namun tidak mampu menempatkan diri dalam sesuatu yang formal. Mencampur adukkan masalah privat dan publik, juga mencampur adukkan gaya bahasa formal dan nonformal–as a friend? tentu kurang baik dan bisa memicu konflik. Apalagi, seperti kasus pak Polisi, dilakukan ditengah keramaian penonton. Jangankan wasit, pelatih pun bingung pak Polisi ini ngapain masuk ke Lapangan. Pengamat bola juga jelas menyatakan, hormati ranah masing-masing, kedudukan masing-masing dan berlakulah sewajarnya. Kata T2, grup band cewek yang lagi naik daun.. Pliss deh.. Jangan lebay.. tentu pengamat manajemen dan SDM juga mengatakan yang sama. Meniru sebuah iklan, mereka akan bilang Pengin Eksis, Jangan Lebay Pliz..

Di sebuah perusahaan, tentu yang baca milis–misalnya terjadi “salah pakai baju” di milis dan malangnya, berdampak negatif bagi si komunikator bersangkutan. Nah kalau dilapangan terjadi ketidakhormatan akan ranah masing2, di perusahaan juga sering terjadi. Ini fatal. Membuat keki, walau tidak sampai benci. Tapi jelas, kurang nyaman. Apalagi kalau levelnya disaksikan banyak orang (misal berantem di milis atau di cc ke para direktur) jelas tindakan kurang bijaksana.

Komunikasi, baik formal maupun nonformal memang dilandasi hak dan kewajiban. Pak Kapolda memang tegas dan jelas merasa benar, based on Peraturan FIFA. Benar, memang. Namun etika perlu diperhatikan kode etik antara lapangan menjadi milik wasit adalah hal yang wajar. Sebagai contoh, Wasit Webb di Final Piala Dunia 2010 menghamburkan 14 kartu kuning dan 1 kartu merah, tanpa intervensi dari polisi apalagi penonton. Semua perlu trust dan wasit yang pegang di lapangan.

Di kantor? Cukup tempatkan diri dengan baik. JIka diranah publik, bicaralah elegan. Jika diranah pertemanan, diluar itu, boleh berbicara agak ngawur. Tidak cukup adil bagi si penerima pesan apabila ada salah-salah kata (dengan sengaja) dan menyinggung perasaan.

Masalah yang kedua, hal tersebut selain memicu konflik juga berdampak kurang baik. Misalnya, si komunikator tentu sebagai insan institusi membutuhkan pertolongan rekan kerjanya, yang, siapatahu, merasa tersinggung oleh ulah “tidak pada tempatnya” tersebut.

Lalu, bukankah perlu semacam pencairan suasana dan suasana dibuat se-informal dan senyaman mungkin? Ya memang perlu. Tapi untuk kondisi tertentu. Jika memang setting-an wajah dan mimik serta kelakuan Anda “formal”, sulit untuk berupaya nonformal. Apalagi kalau Anda tidak sadar, banyak yang memperhatikan dan menjadi hal yang tidak baik untuk kedepannya. Tidak baik dalam hal hubungan dimana interelasi dibina sebagai sahabat yang trust-worthed dan I’ll do the best for you. Jika tidak, celaka. Anda hanya akan terjebak dengan senyum manis palsu dan berhubungan kaku. Di luar itu, wadehel…

Jadi, jangan salah pakai baju. Jangan juga salah lepas baju. Kadang kita perlu ketelanjangan untuk memahami satu sama lain. Namun telanjang bukan hal yang bagus bila yang berkomunikasi adalah orang yang berjenis kelamin beda (di dalam institusi kantor, anggap saja kedudukan dan atau divisi yang berbeda). Bisa miskomunikasi dan bisa.. mis.. mimisan! (ditonjok maksudnya)..

Salam komunikasi..

Comments (1)

Budaya Televisi, Imajinasi Masyarakat dan Pembangunan Cita-cita Madani

Televisi –sebagai bagian dari media—memiliki andil yang besar dalam pola perilaku masyarakat. Bahkan, popularitas Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun, yang membawanya ketampuk kepemimpinan nasional tak lepas dari peran televisi dan media cetak lain yang memuat sosok SBY yang tertindas akibat pernyataan Taufik Kiemas (tokoh PDI Perjuangan; suami Presiden Megawati Soekarnoputri) yang memojokkan dirinya. Tarigan (2004) menyebutkan bahwa sejak itu namanya melambung, dan dengan dukungan media massa yang mengekspos sedemikian rupa, terutama sisi-sisi yang “menguntungkan” (seperti cool, calm, confident, juga tampan, bersahaja, tenang, berwibawa).

Ditambah lagi dengan citranya sebagai tokoh protagonis yang disia-siakan, dianiaya, dan ditindas oleh tokoh antagonis yang sedang berkuasa, maka masyarakat pun kian bersimpati kepadanya. Ibarat sedang menonton sinetron atau drama, emosi masyarakat pun turut dilibatkan setiap kali SBY tampil, sehingga karena itu pula masyarakat seakan terdorong untuk berupaya memenangkan sang tokoh protagonis di akhir cerita. Hal yang sama dapat kita amati pada “doktrin” rambut yang bagus dan indah adalah yang hitam dan panjang. Begitu frame berpikir masyarakat setelah seabreg iklan shampoo menampilkan pesona bintang iklan dengan rambut demikian. Dalam kondisi masyarakat dengan budaya televisi yang kental, bukan tidak mungkin apapun yang disajikan “benda ajaib” ini akan diterima secara mentah, sadar atau tidak sadar.

Fenomena ini selain mengakibatkan dampak buruk bagi masyarakat walaupun dibuktikan bahwa pada tataran empiris, fenomena ini pada masyarakat dalam negara-negara berkembang (undevelop dan developing countries) menjadi momok karena “pemaknaan secara mentah” budaya televisi menjadikan realitas masyarakat semakin terlena dan termarjinalkan, dibanding dengan masyarakat pada negara maju atau modern yang cenderung memahami bentuk budaya demikian, bahkan bangsa-bangsa modern dan maju inilah yang “menjajah” dengan mempergunakan penguasaan media massa yang begitu massif sehingga berdampak buruk bagi masyarakat pada negara berkembang seperti Indonesia. Seperti inilah fenomena jagat media massa sebagai “kiblat” baru era teknologi dan industri. Pada realitas masyarakat seperti inilah kita berada, dan pada poin ini pulalah kita harus berbenah diri.

Budaya TV dan Imajinasi masyarakat
Budaya televisi bagi penulis merupakan istilah populer yang menyebut akan kecenderungan “latah” dalam mengaktualisasikan kehidupan sehari-hari menjadi tergantung akan “apa yang ada dan dikatakan” oleh media televisi, sebagai acuan informasi dan teknologi yang menjadi gaya hidup dalam interaksi dan kondisi sehari-hari masyarakat yang “membudayakannya”. Terlepas dari sekian banyak makna positif dunia pertelevisian, dalam konteks ini, budaya televisi dimaknai sebagai efek negatif yang menimbulkan ketertinggalan, kalau tidak dapat disebut kemunduran, suatu bangsa dan masyarakat yang ingin maju dan mandiri dan sejahtera dalam konteks sosial-ekonomi dan pemikiran (psikis, kemerdekaan dan kemajuan pikir). Budaya Televisi dan masyarakat menjadi erat kaitannya sehubungan fenomena-fenomena sosial belakangan ini yang mengusik dan menimbulkan kekhawatiran seputar keinginan atau cita-cita membentuk kondisi masyarakat yang ideal, dalam hal ini masyarakat madani.

Masyarakat kita adalah masyarakat yang hidup dalam dunia transisi ( semua serba “transisi”, baik kehidupan ekonomi, pemerintahan, budaya dan teknologi, namun yang paling populer secara umum adalah transisi politik, dari otoriter menuju demokratis) yang seakan melindas hidup mereka. Gejolak ekonomi dan politik reformasi menuju masa yang diidam-idamkan oleh semua elemen masyarakat, ternyata memang tidaklah mulus. Walau para pakar ekonomi-politik, teknokrat, politisi reformis, dan semua intelektual yang peduli pada masa depan bangsa secara konsisten menyerukan agar rakyat bersabar dalam kondisi seperti ini karena setiap negara akan mengalami keadaan yang sama dalam menempuh jalan baru demokrasi.

Namun apa daya, pada tataran grass root seringkali kemiskinan dan kebodohan yang meraja lela demikian mudah dan rentan untuk disusupi pola perilaku dan pola pikir yang salah, termasuk sindrom SARS (Sangat Amat Rindu Soeharto) yang dihembuskan oleh politisi-politisi busuk yang secara nyata mengajak rakyat kembali memuja “Bapak Pembangunan” dan kroni-kroninya. Upaya menuju “abad kegelapan” ini, yang sebagian berhasil (?) di counter attack lewat berbagai program pencerdasan bangsa dan penggguliran perokonomian dan konsep masyarakat madani oleh para intelektual yang tidak berkhianat pada bangsanya. Namun program demikian masih juga di dompleng oleh kalangan bisnis tanpa nurani yang membunuh moral dan etika demi kepentingan bisnisnya.

Seperti halnya yang pernah dikatakan oleh sang Raja Sinetron, Raam Punjabi, Ihwal ditolaknya film “Buruan Cium Gue (BCG)” oleh masyarakat, dan kritisi sinetron-sinetron glamor yang di produksi oleh Raam cs., maka dalihnya adalah Mereka hanya menjual mimpi dan imajinasi, karena hanya itu yang rakyat punya sekarang ini. Konyol dan menggelikan bahwa dengan cara seperti itu maka rakyat akan menjadi “sejahtera”. Imajinasi masyarakat disesatkan, karena sesungguhnya masyarakat miskin, bodoh, dan anak-anak muda yang hidup tanpa identitas tersebut akan terombang ambing dalam sejarah dan akhirnya mematikan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Kasus di Jepang di mana anak-anak mudanya enggan bekerja dan berusaha, hanya bersenang-senang dan “hobi bunuh diri”.

Imajinasi masyarakat yang benar adalah bagaimana membuat masyarakat mencapai imajinasinya. Imajinasi dalam konteks yang benar bukanlah Impian belaka, tetapi Cita-cita yang akan dicapai dengan tangan sendiri. Berbekal life skill dan paradigma sistem hidup yang demokratis, maka impian tersebut akan terwujud. Jadi, tidak diam di depan televisi dan mengkhayal kekayaan seperti dalam skenario film dan sinetron. Budaya yang ditampilkan di dalam kotak kaca yanng menyihir generasi muda ini serta merta menjadi mentah, ketika manfaat baik dari televisi dan pengaruh buruknya dapat dihindari. Secara kelembagaan, hadirnya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) membuat kita sedikit lega akan otoritas lembaga yang memiliki peran dan kewenangan yang telah lama diharapkan ini agar dapat menjadi rambu-rambu dalam hal penyiaran dan pertelevisian. Selebihnya, tentu saja kembali pada moral intelektual masing-masing sebagai bagian dari bangsa dan sebagai bagian dari ummat yang menempuh jalan akhirat, karena ini terkait dengan membawa bangsa menuju jurang kesengsaraan dan kemudaratan.

Posisi masyarakat dalam Pembangunan
Potret masyarakat perkotaan dalam pandangan para pemerhati dan aktivis pendidikan, sosial-kemasyarakatan pada saat sekarang ini cenderung menunjukkan situasi yang menyedihkan. Salah satu penyebab dari keterpurukan yang membawa bangsa (baca: masyarakat) menjadi seperti sekarang ini adalah paradigma pembangunan orde baru yang telah sekian lama dalam gagas “ekonomi sebagai panglima”. Sejak rejim orde lama berkuasa sampai orde baru runtuh, penerapan desentralisasi dalam bentuk otonomi daerah itu tidak pernah mencapai performa terbaiknya, bahkan orde baru selama kurang lebih 30 tahun berkuasa, penyelenggaraan kehidupan ketatanegaraan dan pemerintahan sarat dengan dengan rekayasa di bidang kehidupan politik, hukum, sosial, budaya dan ekonomi yang berdampak negatif pada melebarnya kesenjangan sosial dalam wujud tiadanya keadilan dan pemerataan, tidak tegaknya hukum bahkan terabaikannya perlindungan hak-hak asasi manusia yang akhirnya menghambat proses demokrasi yang bersendikan pada kedaulatan rakyat.

Meskipun kegiatan pembangunan orde baru dapat dipacu dan membawa kemajuan dalam indeks pertumbuhan ekonomi, namun kemajuan itu hanya dirasakan oleh sekelompok orang maupun golongan. Ironisnya, mayoritas masyarakat hanya menjadi obyek dari penguasa guna melanggengkan atau mempertahankan kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri. Pembangunan sosial-ekonomi mulai dikembangkan berdasarkan big push economic policy, dengan sistem perkerabatan (kroni) yang bersifat sentralistik. Sejak awal, pemerintahan orde baru dibawah Presiden Soeharto menekankan perlunya “Trilogi Pembangunan”, namun pada praktiknya hanya stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang selalu ditekankan. Butir ketiga dari Trilogi tersebut, pemerataan hasil-hasil pembangunan, tidak pernah mendapat prioritas. Maka dari itulah, masyarakat kita menemui ketimpangan yang teramat sangat, terutama dari sisi ekonomi (kesejahteraan) sehingga penguasaan minoritas atas mayoritas; atau seperti yang diamati Vilfredo Pareto( 1848-1923) terhadap pola ketidak seimbangan dalam pembagian kekayaan dan penghasilan dalam masyarakat Inggris, bahwa 20 persen masyarakat menguasai 80 persen masyarakat lainnya. Kondisi ini bukan kebetulan terjadi pada negara kita, tetapi merupakan buah simalakama yang ditanam bertahun-tahun sebelumnya oleh kekuasaan yang korup.

Riggs (1964) mengemukakan suatu teori terkenal dalam bidang kajian ilmu administrasi, yaitu the theory of Prismatic society, dimana ia menempatkan fase transisi didalam perkembangan suatu masyarakat sebagai prismatic society, yang apabila ditarik garis linear terletak antara apa yang dinamakan sebagai fused model society untuk masyarakat tradisional dan diffracted society untuk masyarakat yang lebih maju. Masyarakat tradisional (fused society), disebut Riggs dengan Chamber, sedangkan masyarakat maju atau modern disebut dengan istilah Office. Adapun suatu masyarakat yang terletak diantaranya, birokrasinya disebut Sala model atau Bureau. Inilah yang dikatakan sebagai masyarakat prismatik. Kita pada saat ini ternyata berada pada posisi ini.

Dalam sudut pandang teori WW Rostow, transformasi dari negara terbelakang menjadi negara maju dapat dijelaskan melalui urutan tingkatan atau tahapan pembangunan. Rostow mengemukakan lima tahap yang dilalui suatu negara dalam proses pembangunannya, yaitu tahap masyarakat tradisional (traditional society), prakondisi pertumbuhan (preconditions for growth), lepas landas (the take-off), menuju kematangan (the drive to maturity), dan masa konsumsi tinggi (the age of high mass consumption). Sampai saat ini kita masih bingung berada pada tahap yang mana, mengingat gembar-gembor pemerintah pada masa lalu yang menyatakan bangsa Indonesia telah berada pada masa prakondisi lepas landas dan siap untuk segera take-off. Jika benar, apakah ”pesawat” yang kita tumpangi bermasalah dan jatuh? Atau tidak dapat meninggalkan landasan pacu?

Dan jika sekarang masa reformasi, apakah ”harga mahal” reformasi ini akan tertebus di kemudian hari? Transisi menuju demokrasi, salah satu jargon masa reformasi yang rajin diusung Denny J.A., seorang doktor politik didikan AS dan beberapa tokoh nasional lainnya, masih belum dilihat ujungnya seperti apa, ketika masyarakat semakin hari semakin miskin dan semakin sulit melihat sang ”demokrasi”. Ilustrasi diatas dimaksudkan penulis untuk menggambarkan kondisi keterpurukan bangsa Indonesia. Pertanyaannya, bangsa kita sampai kapan berada pada kondisi transisi demikian?

Budaya Televisi, Meneropong Cita-cita madani
Gagasan masyarakat madani memang baru menggema awal tahun 90-an di Indonesia. Namun pada praktiknya telah dijalankan bahkan sejak zaman Rasulullah SAW dalam konteksual negara kota Madinah pada waktu itu. Secara definitif, masyarakat madani juga berasal dari konsep barat dengan pemaknaan sebagai civil society, yang juga padanan katanya antara lain masyarakat kewargaan, masyarakat sipil, masyarakat beradab atau masyarakat budaya. Seperti yang dikutip banyak karangan, tak kurang tokoh-tokoh muslim intelektual seperti Nurcholis Madjid, Azyumardi Azra, Amien Rais Ryaas Rasyid dan Habibie adalah salah satu dari banyak cendekiawan yang mempopulerkan istilah ini.

Walaupun perkembangannya masih terjadi tarik ulur penggunaan istilah, misalnya Muhammad AS Hikam yang tetap keukeuh memakai bahasa civil society ketimbang masyarakat madani karena menurutnya memiliki pergeseran makna dengan mengatakan “hanya” masyarakat kota yang memiliki pola masyarakat madani –sebagaimana madani yang diartikan pula sebagai masyarakat kota-padahal desa memiliki basis akar masyarakat sipil dalam konteks Indonesia. Jadi berbeda dengan makna masyarakat madani (civil society) tersebut. Culla (1999) mengatakan bahwa eksistensi masyarakat sipil/madani berlawanan dengan masyarakat yang tidak beradab (barbar, liar), juga berlawanan dengan kehendak penguasa karena masyarakat sipil berkonotasi negatif bagi orde baru pada masa itu.

Kita tidak perlu terperangkap pada perdebatan mengenai “pengindonesiaan” kata civil society, karena istilah mana saja yang dipakai sebagai padanan kata, pada dasarnya bukan masalah sepanjang kita memiliki perspektif, sudut pandang dan pemahaman konseptual yang sama menurut makna istilah yang digunakan. Dalam konteks tulisan ini, penulis ingin menekankan bahwa masyarakat madani memberikan sumbangsih bagi pembentukan suasana kewarganegaraan yang kondusif sehingga peran berbagai elemen bangsa dapat memberikan pemahaman dan pencerdasan seputar budaya bangsa agar tidak terlindas “budaya-budaya” negatif yang makin merasuk masyarakat.

Selain definisi-definisi yang diberikan kepada masyarakat madani, masyarakat madani juga diartikan sebagai masyarakat merdeka dimana justru dalam arti “masyarakat sipil” merupakan bentuk kehidupan sosial dimana masyarakat publik lah yang menjadi pemeran utama dengan negara dan hukum. Masyarakat madani adalah masyarakat yang di dalamnya terdapat suatu mekanisme induktif yang mencukupi kebutuhan memelihara dan menyembuhkan dirinya. Bukan negara atau elit agama, tetapi rakyat atau ummat itu sendiri yang menentukan apa yang benar bagi dirinya.

Apabila kita menginginkan tatanan politik dan masyarakat yang mandiri, dewasa, berpikir ke depan, dan memiliki visi, tidak ada jalan lain kecuali membiasakan diri menciptakan apa yang terbaik bagi bangsa dan negara ini. Realitas masyarakat yang hedonis, dan “menyembah” televisi menjadi PR bagi para orangtua, organisasi kemasyarakatan, tokoh-tokoh ulama dan adat, serta yang paling penting adalah dunia pendidikan. Kesemua elemen ini akan menjadi avant garde bagi upaya-upaya baik sistematis maupun tidak, dalam menyeret budaya anak bangsa menjadi budaya televisi—yang sekuler, hedonis, dan kapitalistis.

Skema masyarakat madani tidak akan menemui lonceng kematiannya manakala kesadaran untuk berbuat dan berusaha bagi perwujudan terbaik bangsa dalam kedudukannya pada gerakan masyarakat madani yang semakin lama semakin dipahami oleh masyarakat sebagai skema sosial budaya dan politik dalam mendudukkan hubungan yang proporsional antara negara dan masyarakat. Dengan berpijak pada asumsi bahwa masyarakat adalah elemen yang amat penting dalam sebuah negara, untuk tumbuhnya masyarakat madani sudah semestinya diberikan kebebasan kepada seluruh anggota masyarakat untuk turut serta menyumbangkan dan mengekspresikan ide-idenya.

Namun tentu saja, melepaskan bentuk-bentuk “kesesatan” yang ditawarkan oleh program-program televisi-televisi yang bersaing dalam menangguk untung tanpa memerdulikan etika moral dan ahlak (pernyataan ini merupakan hujatan hanya bagi program-program tertentu yang –seharusnya-disadari oleh pihak pengelola stasiun TV) untuk mencapai cita-cita madani memang hanya sebagian kecil dari upaya penciptaan iklim yang kondusif bagi pencapaiannya dibanding segi ekonomi dan politik perjuangan menuju kesejahteraan bangsa, namun dampaknya niscaya akan merugikan diri kita sebagai sebuah bangsa. Bangsa yang memiliki imajinasi; berupa cita-cita masyarakat madani.

president@unggulcenter.org
Tulisan Dimuat di Bunga Rampai “Budaya TV dan Masyarakat Madani”. Penerbit SALAM Press, 2005

Comments (2)

Ayah! Aku Mau Laptop, Aku Mau Tango Waffle Crunchox!

Ayah! Aku Mau Laptop, Mau NgeBlog!
Mungkin itu yang akan dijawab bayi mungilku, JK (Jessica Khairan), ketika pertama kali “mengambil alih” laptop dengan cepat merangkak ketika cuma beberapa detik ku berpaling.
Di suatu malam, malam yang biasa saja sebenarnya, Aku, si Ayah, duduk bersila dilantai kamar ruang tengah (sambil nonton tipi) dengan laptop dan seabrek pekerjaan, sekotak crunchox dan secangkir teh. Hampir setiap malam. Tapi entah si Bunda tau-tau membiarkan JK merangkak ke arahku.

Suprise!

Sulit sekali membuat JK meninggalkan mainan barunya. Ya Udah deh, dipencet-pencet lah tombolnya silakan ngetik dan membuat karya seni.

Ayah, Lapar! Bagi Crunchox-nya!
Mungkin itu yang ada dipikiran JK ketika melihat satu kotak Tango Waffle Crunchox didekat laptop. Ahay, mudah sekali meremuk-remuk kotaknya dan menyebabkan beberapa crunchox jadinya bertebaran.

Memang, setelah utak atik keyboard dan tertawa-tawa melihat tampilan desktop yang berubah, ada tulisan, ada pop-up windows dan seterusnya karena sembarang tombol dipencet, rupanya Crunchox di dekat laptop menjadi incaran selanjutnya. Tapi laptop tetap tidak mau dilepas!

Tanpa menunggu lama, satu kotak crunchox habis dibuka. Gigit gigit terus walaupun tidak punya gigi. Si Ayah hanya bisa geli tertawa dan memotret kejadian unik ini. Ya, biarkan saja, kan JK gak bisa buka bungkus crunchoxnya hihi..

Loh? Kata Siapa? Senjata utama alias Nangis sudah menjadi andalan sejak lama oleh bayi enam bulan ini. Asyik.. dibukain Bunda! dapet deh crunchoxnyaa..! Ya sudahlah, toh, dengan gizi yang padat dari crunchox berguna buat si JK. Lagian, JK cuma bisa ngemut dan tidak bisa gigit. Bayi mana yang sudah punya gigi? Hehe..

Why Waffle? Why Crunchox?
Wait a minute! Mengapa sekotak Crunchox bisa dibajak sama JK juga? Hehe.. ulah Ayahnya sih ini pastinya. Ehm, Sulit juga mengungkapkan enaknya love at the first bite si Waffle. Betewe, pada tahu Waffle kan? Yup, Waffle, sebuah kenikmatan unik yang sampai hari ini belum kutemukan di produk wafer lain. Sebab, Waffle ini biasanya kita temukan dibalut es krim dan biasanya nih, adanya di restoran cepat saji ala eropa dan amerika. Jadi, suguhan waffle, kamu anggap aja kue semacam roti bolu agak kering dengan efek seperti ketimpa jaring kawat kassa hehe.. Nah, Tango Waffle Crunchox setau saya adalah pertama dan satu-satunya yang punya produk Waffle Wafer Krim. Lezatnya sensasi Waffle kriuk (crunchy) dengan manis legit coklat crispy. Padat dan kaya gizi.

Faktor ini yang menyebabkan saya selalu enjoy bekerja dengan laptop ditemani satu kotak besar crunchox hehe.. plus, biasanya secangkir teh hangat dari istri menemani malam panjang lembur di rumah bersama kerjaan.

But this story is not about me after all. Boleh ya.. Boleh dong.. Look at her! Duh senangnya mainin laptop, mainin crunchox. Nggak mau deh dilepas dua-duanya. Sekarang, hampir tiap malam, JK menemaniku bekerja sebentar, dengan bermain laptop (dipangku) dan bermain crunchox (diemut).

Ayah, aku udah bilang, mau Laptop, juga mau Crunchox!

Comments (16)

Paul, Gurita yang Bisa Meramal Juara Piala Dunia

Paul bukanlah siapa-siapa. Bukan pelatih, mantan pemain, ataupun pengamat bola yang sering tampil di televisi. Namun paul, seekor gurita berusia dua tahun yang hidup di Sea Life Aquarium di Oberhausen, Jerman, sudah sering dipakai sebagai “peramal” nasib tim Panzer Jerman. Ajaib sekali, hewan laut ini bisa memprediksi. Metode “ramalan” Paul sederhana. Gurita kelahiran Inggris ini hanya mendekati salah satu dari dua buah kotak kaca yang ditempeli bendera Argentina dan Jerman yang diisi kerang. Nah, Paul ternyata mendekati Jerman.

Tampaknya, spesialisasi Paul memang di ramal meramal. Tengoklah, hasil ramalan Paul yang 100% tepat. Misalnya, sebelumnya Paul “meramal” Jerman menang atas Inggris 4-1. Dan itu tepat seratus persen! Paul juga meramalkan kemenangan Tim UberAlles atas Australia (4-0) dan Ghana (1-0) serta kalah dari Serbia (0-1).  Bahkan, ketika “dipakai” selama Piala Eropa 2008, prediksinya 80 persen tepat dari semua partai Jerman. Termasuk saat Der Panzer kalah 0-1 dari Spanyol di partai final. Dari Youtube, bisa dilihat video waktu Paul memprediksikan Jerman vs Inggris berikut ini :

Paul, Gurita Peramal Asal Jerman

Nah, kali ini, Paul meramalkan pemenang antara Jerman vs Argentina. Paul, yang “berkebangsaan” Inggris karena lahir di Inggris dan kemudian hijrah ke Jerman ini menebak, tentu saja, Jerman. Apakah prediksi Paul tepat? Kita nantikan pada tanggal 3 Juli 2010!

Kalau manusia baik modern atau tidak, sudah percaya dengan orang pintar, dukun, peramal, dan juga tanda-tanda alam, tentu pendapat Paul perlu juga “didengarkan”.

Saya memang tidak percaya, sebab paul sepertinya “membela” Jerman hehe.. tapi memang, prediksi paul kadangkala tepat. Mari, kita buktikan!

Comments (29)

Syekh Yusuf Al Makassari : Pendakwah Lintas Benua, Penyebar Islam di Afrika Selatan

Jika ditanya Afrika Selatan, tentu hingar bingar Piala Dunia 2010 yang melekat dipikiran kita. Selain itu, Nelson Mandela. Ya, Afrika Selatan sebagai negara yang baru 16 tahun “merdeka” dari penindasan ala Apartheid kulit putih sudah mampu menyelenggarakan ajang besar Piala Dunia, yang, walau banyak kekurangan, adalah ajang bergengsi dan menaikkan prestise negara tuan rumah.

Apakah ada Indonesia disana? Sebagai tim yang ikut berlaga, tentu tidak. Namun disana ada Macassar, kampung Makassar-nya Afrika Selatan. Basis penyebaran Agama Islam oleh Syekh Yusuf, Ulama asal Makassar, Sulsel yang dibuang Belanda akibat menentang penjajahan, kurang lebih 300 tahun yang lalu. Di Macassar, ada sebuah tempat yang dinamakan “The Kramat”. The Holy Resting Place of Sheikh Yusuf Al Makassari, semacam kampung atau perkampungan Makassar (dibaca dalam bahasa Indonesia) di Afrika Selatan.

Kiprah Syekh Yusuf tidak diragukan lagi. Walau terbuang, beliau malah menyebarkan keindahan Islam di tanah Afrika. Sebagai pembawa Islam di negeri-nya Nelson Mandela ini, Syekh Yusuf melakukan syi’ar Islam dengan gigih kepada masyarakat setempat. Ketokohan Syekh Yusuf diakui luas oleh penduduk di Afrika Selatan jauh bahkan melebihi Kaum Boer (keturunan Belanda) yang menetap dan tinggal disana, serta membentuk pemerintahan Apartheid yang membedakan Kulit Hitam dengan Kulit Putih. Sesuatu yang didalam Islam tidak pernah ada, yang ada hanyalah pembeda berdasarkan Keimanan dan Ketaqwaan.

Jejak Syekh Yusuf dimulai sejak dilahirkan di Gowa, Sulawesi Selatan, 13 Juli 1627 dengan nama Muhammad Yusuf, diberikan oleh Sultan Alauddin dari Kerajaan Gowa sendiri. Muhammad Yusuf muda diajari ilmu-ilmu keagamaan di Cikoang, dan juga mengembara menimba ilmu diberbagai tempat termasuk berhaji di umur 18 tahun dan menetap sementara di Timur Tengah memperdalam agama Islam. Muhammad Yusuf banyak singgah di Nusantara sesuai rute perkapalan, dan salah satunya adalah ke Banten sebagai kerajaan pesisir dan bersahabat dengan seorang pemuda, putera mahkota Banten, yang kelak bergelar Sultan Ageng Tirtayasa. Perjalanan dakwah beliau juga sampai ke Aceh dan Gujarat, India. Serta berguru di Yaman, Damaskus, dan Turki. Begitu banyak ulama menjadi gurunya, dan di Aceh, beliau langsung menempa ilmu dari Syekh Nuruddin Ar Raniri. Popularitas Yusuf dan lautan intelektualitas beliau dihargai banyak masyarakat dengan sebutan Syekh Yusuf Al Makassari berdasarkan dari asalnya, Makassar. Kadang ada juga yang menambahkan memberikan gelar kehormatan Al Bantani (dari Banten) yang lazim dipakai juru dakwah dan ulama.

Petualangan dakwah Syekh Yusuf mencapai titik tertentu dimana beliau merasa perlu untuk berjihad melawan penjajah di nusantara. Hal ini salah satunya karena kekalahan Gowa melawan penjajah belanda, dan sahabatnya, kini bergelar Sultan Agung Tirtayasa asal banten memerlukan bantuan beliau. Akhirnya, bersama pasukan Banten, Syekh Yusuf yang didaulat menjadi Mufti Banten, turut berjuang menentang penjajahan Belanda di Pulau Jawa. Dipecah belah oleh Belanda, sehingga Sultan Ageng berperang melawan Putranya sendiri, Sultan Haji, dan kalah pada tahun 1682, Syekh Yusuf dan pengikutnya, tentara-santri berjumlah 5000-an orang asal Bugis, Makassar dan pendekar Banten bergerilya selama dua tahun hingga ditangkap Belanda dan dibuang ke Batavia. Karena pengaruhnya yang besar, Syekh Yusuf dibuang lagi ke Sri Lanka (Ceylon). Di Sri Lanka, perjuangan Syekh Yusuf semakin menjadi-jadi. Karena Ceylon merupakan tempat persinggahan jamaah haji, maka Syekh Yusuf masih dapat menjalin komunikasi dengan Nusantara dan para pengikutnya. Para kafilah haji inilah yang membawa karya-karya Syekh Yusuf ke negeri kita

Gabungan ulama intelektual dan pemimpin perang dengan leadership tinggi, Syekh Yusuf dibuang ke negeri yang lebih jauh, agar pengaruhnya hilang di Asia. Syeikh Yusuf beserta rombongan pengikutnya berjumlah hampir lima puluh orang tiba di Tanjung Harapan tanggal 2 April 1694 dengan menumpang kapal Voetboog, yang mana Kapten Kapal tersebut, Van Beuren, kebangsaan Belanda, pun di-Islamkan oleh beliau dan ikut menetap di Afrika Selatan bersama keturunannya yang muslim.

Syeikh Yusuf al-Makassari di tempatkan di Zandvliet, desa pertanian di muara Eerste Rivier, dengan tujuan supaya tidak bisa berhubungan dengan orang-orang Indonesia yang telah datang lebih dahulu. Disana, Syeikh Yusuf al-Makassari membangun pemukiman di Cape Town yang sekarang dikenal sebagai Macassar.

Di Afrika Selatan, Syeikh Yusuf al-Makassari tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699 beliau dimakamkan di Faure, Cape Town. Saat ini, terdapat dua makam Syekh Yusuf, satu di Afrika Selatan, satu lagi di Lakiung, Sulawesi Selatan yang keduanya ramai dikunjungi hingga saat ini. Alkisah, adanya dua makam disebabkan permintaan Gowa untuk mengembalikan jenazah Syekh Yusuf ke kampung halamannya. Permintaan ini dikabulkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda, sehingga jasad Syeikh Yusuf Al Makassari pun diboyong kembali ke Nusantara. Jasad ulama besar ini tiba di Gowa pada tanggal 5 April 1705, dan dimakamkan pada hari Selasa tanggal 6 April 1705.

dirangkum dan ditulis ulang oleh president@unggulcenter.org dari berbagai sumber.

Comments (4)