Sosialisasi Pemilu Indonesia di Internet?

Pada masa great depression Presiden AS, Franklin D Roosevelt (FDR) memanfaatkan radio untuk menjelaskan kebijakan New Deal-nya kepada warga negeri Paman Sam tersebut. Dalam masa 1933 sampai 1944, pidato radio FDR yang dikenal sebagai fireside chats ini mampu membangkitkan semangat kepada warga Amerika yang moralnya amburadul karena imbas depresi besar-besaran dan disusul Perang Dunia Kedua. Perkembangan teknologi puluhan tahun kemudian dimanfaatkan pula oleh kampanye politik, dimana John F Kennedy (JFK) dan Richard Nixon yang melakukan debat kepresidenan untuk pertama kalinya di televisi pada September hingga Oktober 1960. Setelah disiarkan secara langsung, penonton televisi memberikan kesimpulan untuk kemenangan JFK. Namun disisi lain, Nixon-lah pemenangnya, atau seri, bagi para pendengar radio. Terdapat perbedaan penerimaan terhadap hasil visual dan hasil pendengaran. Semua membutuhkan empati dan memerlukan tip trik yg berbeda agar dianggap sebagai pemenang.

Hari ini, tema “Change”nya Obama meledak dipasar pemilih (voters).
Barack Hoessein Obama, seorang kulit hitam dengan asal usul yang “gado-gado” sudah terpilih menjadi Presiden AS periode 2008-2012 dan dilantik pada 20 Januari 2009. Hari ini pula, peranan internet menjadi penting untuk mengetahui latarbelakang tokoh, pemikirannya, gagasan dan idenya, serta program-program atau janji kampanyenya. Pemanfaatan internet menjadi sangat penting bagi publik amerika. Figur obama dan semua hal tentang dirinya dapat dilihat di internet, dapat dicek dan bahkan diklarifikasi. “Tim pemenangan”Obama pun harus bekerja keras memuaskan keinginan banyak penduduk yang mencari informasi Obama sekaligus mengampanyekan suami dari Michele Obama ini.Tidak jauh beda dengan contoh media komunikasi ke masyarakat pada jaman FDR dan JFK, maka jaman Obama adalah jaman internetisasi. Ibarat kata, KPU (Komisi Pemilihan Umum) nya AS sudah jauh-jauh hari mempersiapkan media telekomunikasi (tolong digaris bawahi bahwa telekomunikasi–diluar media komunikasi lain seperti selebaran, koran pamflet, word of mouth dll) untuk kampanye dan sosialisasi pemilu ke masyarakat yang paling cepat dan paling tepat. Yaitu pada masa pertama : radio, pada masa kedua : televisi (dan radio), serta di masa ketiga ini adalah : internet.

Hal yang perlu dicatat oleh UC adalah kampanye pemilu saat ini di Indonesia sudah mulai dengan lugas memanfaatkan media televisi. Media yang dulu tahun 1960an sudah dimulai sebagai media kampanye. Tidak bosan-bosannya kita menonton iklan kampanye partai dengan segala macam cara dan rupa dalam merebut simpati pemirsa. Dan dengan dananya luar biasa besar, dengan harapan semua akan terbayar di Pemilu yang akan datang. Walaupun beberapa partai sempat muncul di facebook, iklan banner internet dst namun presentasenya sangat sedikit. Dan biasanya inisiatif dari caleg partai yang bersangkutan yang kebetulan mengusung “anak muda” dan semangat “muda”.

Nampaknya memang belum ada garis besar pemasaran partai membidik pasar intelektual internet ini. Artinya bangsa ini memang sudah ketinggalan 40 tahunan lebih dari bangsa lain dalam urusan pemasaran politik. Penggunaan media televisi yang masif memang ternyata dianggap lebih mengena ke target pasar. Wajar, sebab pengguna internet di Indonesia yang menurut www.internetworldstats.com 20 juta lebih pengguna internet dari Indonesia. Hmm.. memang masih sangat sedikit dibanding dengan 1 milyar penduduk dunia yang berinternet ria (out of 6 milyar total penduduk dunia). Oke, kalau memang demikian alasannya. Namun jangan lupa, hari ini, terjadi peningkatan 900% pengguna internet di Indonesia yang pada tahun 2000 lalu hanya 2 jutaan orang saja. Menurut sumber dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) angka yang tercatat malah 28 juta orang dan still counting. Tumbuhnya sangat pesat. Ya, kalau kita optimis, dan kalau Pemilu memang stabil dilaksanakan per-lima tahunan, maka di 2014 strategi media komunikasi sepertinya akan heavy on internet. Seperti Amerika dan negara-negara maju saat ini.

Pemilu 2009 sudah didepan mata, dan sampai sejauh ini dari hasil pantauan UC sosialisasi baru sebatas debat-debat para pengusung atau kader partai tertentu, misalnya di forum.detik.com yang membahas khusus seputar Politik. Sentil-sentilan, kritik dan kadang cemoohan kerap terjadi disana. Dan apabila dikatakan 40% warga negara akan Golput, maka dari forum tersebut cerminan demikian memang jelas sekali tampak.

Selamat berpemilu dan berdemokrasi. Selamat mencari suara sebanyak-banyaknya. UC hanya sebuah lembaga virtual dengan ide pemikiran dan berita. Mungkin kalangan intelektual yang melek IT bukan target utama, sebab sudah bisa “menentukan mana yang baik dan benar” dan dianggap “akil baliq” dalam urusan mencoblos partai A, B atau C bahkan keputusan untuk tidak mencoblos, itu sudah menjadi ijtihad politik dan sudah dipertimbangkan matang-matang. Lain halnya dengan masyarakat yang tidak tahu dan bingung, yang pastinya–mempunyai televisi dan radio di rumah masing-masing. Persis pada era JFK atau FDR yang disebutkan dimuka. Selanjutnya, terserah Anda.

 

Apa Pendapatmu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Intellectuals Networked

Iseng Dijual by UC

Fast & Most Reliable Domain Hosting Services!
Toko Online Gratis

My Books

Intellectual Visits

free counters

free web counter

Tweet with UC

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Switch to our mobile site