Potensi Keterbukaan ala Makassar : Sebuah Sudut Pandang

Sudut Pandang : Bukan Potensi itu.

Jika Anda membaca berbagai literatur dan informasi mengenai Sulawesi Selatan (Sulsel) dan potensi-potensi yang bisa dikembangkan, tentu tidak perlu bertanya ke saya. Pasti banyak “putera daerah” yang bisa menjelaskan mengenai hal itu kepada Anda. Spesifik malah. Bisa dengan bangga diceritakan, bisa juga dengan nada yang agak kecewa karena belum tergali.

Ya, itu kalau bicara potensi sumber daya alam. Saya yakin, tak lama, hanya hitungan lima menit Anda bisa menemukan berbagai tempat bersejarah, tempat rekreasi, tempat wisata yang indah di negeri di-ujung pandang ini. Thanks to Google, Perkembangan teknologi membawa kita mengarah ke beberapa website pariwisata, juga blog-blog berbahasa lokal, nasional maupun internasional yang berbicara sama. Indahnya alam dan wisata di Sulawesi Selatan. Juga, pastinya, blog-blog sahabat paccarita Anging Mammiri.

Ada benteng Somba Opu, ada pantai Losari, hutan wisata Malino, dan lain-lain. Belum lagi wisata kuliner. Bahkan bagi yang suka “mengheningkan cipta” bisa melihat-lihat makam raja-raja Tallo, makam Syekh Yussuf dan makam Pangeran Diponegoro. Tentu Bukan makam biasa. Setelah melihat-lihat “makam”, lama-lama Anda juga mungkin berpikiran untuk ber-”mukim” di negeri Indah ini. Ingin menutup mata disini. Banyak yang bisa dibaca dan dieksplorasi. Foto dan gambar-gambar menjadi ilustrasi keindahan. Anda buka saja situs semacam makassar kota, indotravellers, atau wisata melayu. Juga blog-blog sahabat terkait pariwisata di negeri “para daeng” ini.

Tapi bukan, bukan potensi itu yang akan Anda baca di tulisan singkat ini. Saya juga lebih senang membacanya di blog teman-teman blogger angingmammiri. Apalagi sedang ada lomba (yang saya juga ikuti). Sangat indah tulisan2 mereka. Pergi lah ke sana.

Lalu, apa tujuan saya menulis kalau begitu?

Tentu, bukan untuk meminta pembaca melakukan klik ke berbagai link wisata pulau eksotis diatas dan memperoleh informasi dari sana. Tak perlu lah repot. Semua dalam genggaman, semudah klik dari telunjuk jari. “The world is in your hand” kata Telkom. “Invincible Hand” kata Adam Smith. “Forehand dan Backhand” kata petenis (halah). “Hands Ball” kata pesepakbola (makin ngaco).

Ya, karena potensi tak melulu alam dan kekayaannya. Tapi juga manpower. Work force. Dari sudut pandang saya.

Sudut Pandang : Saya.

Nah, tau ndak, saya yakin, mungkin Anda tak jadi pergi ke Sulsel jika Anda terlalu sering nonton televisi. Ya. Apalagi yang ada di televisi selain berita tawuran, perkelahian, kriminal, kampus yang marah, McDonald yang terbakar, dan seterusnya. Itu yang terjadi. Betul? (jangan dijawab dulu, kalau tidak, tulisan ini tak usah diteruskan hehe.. ngangguk-ngangguk boleh lah..)

Nah, sebagai anak bangsa, saya pemuda rantau sejak lahir. Sebab Ayah saya dari Bone merantau bersama sekelompok Bugis, kebetulan ke Palembang. Bukan terpisah dari Bugis lain yang ke Afrika, Singapura, Malaysia, Jambi, Bangka Belitung. Tapi juga bersama-sama anak bugis lainnya, anak Pinisi di lepas pantai menuju tengah Sungai Musi. Berjualan-lah ‘etta (bapak) saya Kelapa Muda dan berkomunitaslah bersama orang-orang yang pantas sekali untuk bersenandung “Nenek moyangku orang pelaut”.

Dari sudut pandang “orang asing” (foreigner) inilah saya akan bercerita. Tentang Sulawesi Selatan, yang hampir tak pernah dalam mimpi-pun saya tengok. Kecuali perjalanan tak sengaja, suatu hari di tahun 2009. Tapi tulisan ini bukan tentang perjalanan saya, tapi tentang Makassar dan Sulsel pada umumnya, jadi, sengaja tak saya ulas motif saya ke Unhas selama dua-tiga hari itu.

Saya bingung mau memulai darimana, apakah dari kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) yang mana dua hari saya nginap di Laboratorium komputernya. Tidur disela-sela meja komputer, beralas jaket dan berselimut spanduk, sementara rekan-rekan lain masih asik berinternet sampai pagi, sebab kita disuguhi fasilitas koneksi internet supercepat. Atau, dari telepon marah-marah keluarga di Makassar dan Bone yang tidak diberitahu seumur hidup saya baru datang ke pulau Sulawesi, tanpa mampir. Entah bocor darimana itu informasi kalau saya, orang Sumatera tiba-tiba berdelegasi ke Sulawesi.

Mungkin bisa dimulai dari kesimpulan saja.

Wahai, itu Wakil Presiden dari Sulsel. Itu Teknokrat, mantan presiden dari Sulsel. Tak banyak. Berbeda sejarah dengan para “ningrat” asal Minangkabau atau Jawa dan Sunda, mengecap pendidikan kolonial. Intelektual dari negeri timur ini lebih suka untuk berdagang. Menguasai internasional tanpa harus mengenyam “pendidikan internasional”. Pada masa penjajahan-pun, kampus Unhas adalah rujukan, tak perlu ke pulau Jawa. Berbahasa, berbudaya, melalui “learning by doing”. Interaksi sosial internasional dengan bangsa lain. Tanpa hambatan dan keragu-raguan.

Itu saja sudah cukup buat kesimpulan, kalau potensi SDM Sulawesi Selatan sangat jempolan. Tak banyak yang bisa. Untuk Indonesia Timur, Sulsel, Makassar jadi bandar terkenal. Primus. Menjadi loncatan sebelum ke negeri-negeri timur lainnya.

Beberapa bulan lalu, saya beli buku “Makassar Abad 18”. Penerbit KPG Gramedia. Mungkin teman pembaca pernah juga tau buku ini. Luar biasa isinya. Pelabuhan internasional. Hiruk pikuk perekonomian dan segala macam potensi alam dan sumberdaya lainnya tumpah ruah. Juga intrik politik ekonomi yang menyertainya. Pada saat itu, inggris berkuasa di samudera. Bersama pelaut Bugis Makassar!

Sudut Pandang : Media, Saya, Anda.

Tak banyak yang saya ceritakan lagi, tapi satu hal. Televisi. Peranakan Sulawesi dan Sumatera, saya tergolong kanan dan kiri semuanya di anggap kasar. Kasar dalam perkataan. Padahal cuma intonasi dan kalimat. Lugas, tegas dan keras. Bukan hal yang memalukan. Tak pernah saya lihat lempar batu sembunyi tangan, menyelipkan badik di belakang punggung. Tak ada. Di depan berhadapan. Kasar? Tidak. Itu honest. Jujur. Terbuka.

Lalu, kembali lagi, itu bakar-bakaran oleh mahasiswa, tawuran? Ah. Tak ada itu. Hawa yang panas, bikin hati tambah panas. Ketidak adilan juga bikin hati panas. Ada banyak analisa, namun saya tak berhak ikut menganalisa. Dari kampanye “Makassar tidak Kasar” yang digaungkan berbagai elemen masyarakat di Makassar, jelas juga kalau makassar memang –aslinya– tidak kasar. Orang bugis, makassar, wajo juga tak pula kasar. Kalau iya, maka rusuh bukan hanya di kampus, tapi di tempat lain. Di warung kopi, di Mall, di rumah tangga. Tapi nyaris tak ada. Memang ini ulah mahasiswa saja. Anda pernah jadi mahasiswa, saya juga. Jadi tahu sendiri lah karakter seperti apa mahasiswa itu. Pendek akal kalau sudah didalam “crowd”.

Lagi-lagi, menurut para sosiolog, tokoh budaya dan seterusnya, caranya ya dengan melakukan hal-hal yang menunjang kependidikan dan intelektualitas di kampus. Sederhananya, berikan apa yang jadi hobi. Panjat dinding di kampus, Lab komputer, arena berolahraga, akses perpustakaan, kampus yang bersahabat dan seterusnya. Juga, Berikan saja blog. Maka menulislah ia. Bukan masalah nama. Bukan masalah tempat. Itu terjadi dimana saja di sudut negeri. Di sudut dunia.

Justru hawa temperamental ini menjadi salah satu potensi SDM Sulsel. Ya, benar. Honesty. Bahasa umum (jawa) nya “tanpa tedeng aling-aling”. Tidak suka berbasa basi dan udang di balik batu. Ini sikap yang Jantan. Sejantan Ayam Jantan dari Timur. Lawan ya Lawan. Tak suka, ungkapkan.

Mengapa berpotensi? Bayangkan, jutaan intelektual bisa terlahir dari budaya mencari ilmu dengan jujur. Dengan apa adanya. Seperti dulu, tak banyak yang ke Pulau Jawa. Baguskan saja kampus dan institusi pendidikan, niscaya simpanan potensi ini akan menggelegak. Dulu mereka adalah leader among leaders. Dihormati di Indonesia dan Internasional. Saling punya pakta integritas. Bukan tak mungkin, di masa depan juga.

Tentu, ini perlu manajemen yang tepat. Dari Pemerintah provinsi, juga kabupaten/kota. Manajemen yang baik, oleh orang-orang baik dan orang-orang yang TEPAT. Bukan oportunis dan pura-pura menangis. Tapi yang mengerti benar-benar apa itu kejayaan Sulawesi Selatan. Apa itu Bugis Makassar. Saya tak mengerti benar, maka saya tak berniat jadi gubernur, atau pun juga walikota hehe..

Potensi-potensi keterbukaan ala Bugis Makassar ini jugalah yang membuatnya “terbuka”. Terbuka sebagai pelabuhan bebas, tak terkekang dominasi kekuatan (forces) manapun. Tak juga Belanda atau Inggris pada waktu dulu kala. Mereka “Live Free”. Damai dan Bebas. Terbuka akan ilmu budaya baru. Terbuka akan pendatang baru. Kampus-kampus, katanya banyak bukan orang Makassar sendiri. Saya tidak tahu pasti, tapi kemarin, di Unhas, waktu acara saya di tahun 2009, semua hangat. Sehangat Cotto Makassar. Senikmat semilir angin pantai Losari.

Jadi, tak perlu lihat media massa. Mereka punya agenda sendiri. Bukankah, Bad News is Good News? Datang ke Sulawesi Selatan, lihat keindahannya. Pandangi lekat-lekat Makassar dengan panas cerah udaranya. Satukan diri dengan terik matahari. Dan rasakan, tak juga kau menjadi panas hati, tapi panas otak. Ya, intelektualitas yang membalas ketidakadilan, bukan amarah dalam kerumuman tak berpemimpin. Kalau sudah seperti itu, ayam-ayam jantan dari timur pasti akan banyak lagi. Mengalahkan tokoh-tokoh nasional asal Sulsel di Jakarta. Atau, bagi saya, harus mengalahkan bapak saya yang tak pernah hilang semangat juang dalam hidup.

Kalau lambang negara kita, Garuda, menengok ke kiri, Pulau Sulawesi berdiri tegak dan menengok ke kanan, ke arah timur. Seakan menunjukkan “Hai, inilah Surga di Indonesia yang sejati, Indonesia Timur menyimpan potensi tak terbatas. Potensi membuat dunia mengakuinya, Sekali lagi!”

Di sudut pandang. Saya hanya bisa teringat, di-Ujung Pandang. Matahari merah di senja pantai Losari. Merah se-merah Lukisan Sultan Hasanuddin. Semerah amarah. Tapi bukan amarah. Hanya kecewa. Tak menghargai intelektual. Mungkin sebuah puisi yang saya tulis bisa menjadi “sudut pandang” lain. Bahwa inilah kegundahan masyarakat (yang mungkin sama dengan di Makassar sana).  Jadi kalau merah, ya merah. Merah berani. Tegar. Lantang. Bukan darah. Merah seragam timnas di piala AFF, mungkin juga IYA!

Nah, kutunggu juga kiprah Juku Eja –yang bisa dianggap sebagai salah satu corong potensi SDM itu,  paling tidak, juara di liga super.. dominasi Sriwijaya FC, Persija dan Persipura harus dipatahkan hehe.. sanggup? kapan? Itu tantangan SDM nya! Jadi, Kapan menurut Anda?

Apa Pendapatmu?

8 Comments

  1. yagam1 says:

    saya senang bisa datang ke blog anda sambil baca baca , kalo saya copas boleh ya ?? ixixixiixix

  2. imam says:

    berkendara di makassar, harus sering urut2 dada..
    saya lahir d tangerang, dua tahun disini (makassar)..
    pernah liat bagaimana org sini konvoi mengiringi ambulance orang meninggal?? nganter org mati kok kayak mau mati?!! hehehehe..

    tp mengenai potensi itu saya setuju

    • hehehe.. iya, benar, Waktu itu kita mau jalan2 beli oleh2 eh itu terpaksa mobil agak2 minggir karena “yang punya jalan” motor-motor itu pada jalan ngga pernah mau lurus pasti belok kanan belok kiri :(

      ngga tau kalau ini darimana budaya begini.

  3. unggulcenter says:

    @indobrad : haha.. Benarr.. Mana tulisanmu opa Brad? Ditunggu loo…

    @Mifta : eeeits baca dulu yg komplit! Justru sy Ga bahas SDA, tapi SDM!

  4. Miftahgeek says:

    Tapi kok yang diliat hanya potensi SDA nya aja kang, kalo SDA bisa dengan udah rusak lagi lho –”

  5. indobrad says:

    Makassar memang serba “terbuka.” Gak perlu pake basa-basi. Makanan pun juga begitu. Cotto makassar itu gak tanggung-tanggung kalo ngasih rempah-rempah. hehehe.

    jadi pengen ke sana. thanks for sharing :D

  6. kusanag1 says:

    saya suka baca artikle anda , senang bisa berkunjung ke blog anda , salam hangat dari http://bikinkaget.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Intellectuals Networked

Iseng Dijual by UC

Fast & Most Reliable Domain Hosting Services!
Toko Online Gratis

My Books

Intellectual Visits

free counters

free web counter

Tweet with UC

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Switch to our mobile site