Bhinneka Tunggal Internet

Sebuah Negeri Bernama Online

Mengaitkan dunia digital dengan berbagai aktivitas keseharian di dalamnya, mau tak mau saya mesti singgung sedikit yang namanya ‘tren’ dan sedikit teori mengapa saat ini semakin banyak orang yang migrasi dan menjadi warga negara baru, warga negara internet dengan julukan umum biasanya disebut ‘netizen’ atau ‘onliners’.

Mengenai trennya, sudah diprediksi oleh para futurolog dan pakar IT. Mengenai teorinya, tentu terkait dengan perkembangan teknologi di bidang TIK / ICT terutama dengan berkembang pesatnya gadget-gadget dan smartphone seperti iPad, BlackBerry, Android, Netbook dan seterusnya yang secara paralel sejalan dengan teknologi software-software yang mengikutinya.

Juga berbagai aplikasi berbasis web (internet/online) yang ‘bercerita’ mengenai komunitas, koneksitas komunikasi antar manusia dan jejaring pertemanan maya. Hasilnya luar biasa. Disini ‘racikan-racikan’ itu menimbulkan gejala baru, dunia baru dimana setiap orang menjadi bagian di dalamnya. Inilah era baru yang tak terbayang. Hari ini, dunia animasi, robot dan teknologi futuristik menjadi semakin nyata, bukan sekedar mimpi gila para ilmuwan.

Jadi, hari ini, Anda harus sudah tahu bahwa ada sebuah negeri bernama ‘online’ dan warga negara yang disebut ‘onliners’ atau ‘netizen’ atau ‘bloggers’. Dan sangat mungkin sekali Anda sudah berada di dalamnya. Dalam konektivitas yang selalu ‘online’ apalagi dengan gadget-gadget berfasilitas internet dan chat. Welcome!

Tren : Media Sosial dan Belanja Online

Bukan sekedar teori, bahwa di tahun 2011 adalah tahun dimana Marketing 3.0 sudah menggejala luas. Digagas bersama oleh begawan pemasaran asal Indonesia, Hermawan Kartajaya, bersama Philip Kotler, salah satu mahaguru pemasaran modern, saat ini era horisontalisasi dalam praktik bisnis ke pelanggan yang sudah berevolusi sedemikian rupa. Sehingga, dalam berbagai kesempatan dalam bisnis selalu ditunjang aktivitas Online dan Offline dan CONNECT antara keduanya. Belum lagi kita bicara konsumen Indonesia di tahun 2011 yang disebut Yuswohady, another marketing expert from Indonesia sebagai era “Consumer 3000″. Era dimana konsumsi belanja masyarakat Indonesia semakin tinggi karena peningkatan signifikan GDP (Gross Domestic Bruto). Fenomena itu membuat marketing 3000 di negeri ‘penuh gengsi’ ini.

Oke, oke, saya sadar, banyak yang tak paham. Dan tak mesti paham banget, yang penting tahu. Nah untuk itu, cukuplah Anda klik istilah-istilah aneh tersebut untuk mengetahui maksudnya hehe.. via shortlink ke definisi dan informasi mengenai kata tersebut. Simple but sure. Nah tren ini pasti Anda setuju, bahwa Kita bisa cari segala sesuatu di Internet via Mbah Gugel kan?

Kita lanjut dikit ya, di era yang disebut-sebut di paragraf-paragraf atas, ada fenomena menarik. Perputaran uang di internet lambat tapi pasti, perlahan berkembang. Siklus kepercayaan mulai meningkat seiring dengan eksposure pasar “netizen” yang besar. Tercatat sudah 30 juta pengguna internet di Indonesia. Belum kita hitung bagaimana saluran komunikasi internet yang tak berbatas geografis. Jadi sangat-sangat besar.

Toko Online berkembang (lagi) dengan mengambil wujud yang lebih simpel. Via blog engine seperti WordPress, Blogspot atau CMS Joomla yang populer. Lagi-lagi simpel. Dan semua orang bisa menjadi bagian dari identitas dunia maya. Punya blog, website, email, akun di berbagai jejaring sosial. Komunitas-komunitas maya terbentuk, tak hanya kongkow-kongkow ala ‘ngariung’ klub motor, pengguna jejaring di internet pun juga bisa kopdar dan berbuat sesuatu yang ‘besar’ semisal Koin untuk Prita, Bibit Chandra dan seterusnya. Di Dunia, bahkan ada revolusi maya!

Aplikasi-aplikasi terkait pun ikut populer. Termasuk beberapa jenius lokal yang membidani lahirnya berbagai aplikasi pendukung di internet. Mulai dari jejaring sosial seperti Koprol, hingga fitur add-on browser Mozilla Firefox yang didesain. Startup Lokal juga sangat berperan. To say the least, The Industry is Growing Fast.

Jejaring pertemanan semacam Facebook dan Twitter memang mengubah dunia maya menjadi sebuah jalanan yang ramai. Saling sapa dan saling lihat. Juga ada lapak-lapak berjualan dipinggir jalan. Forum interaksi seperti Kaskus ramai dengan aktivitas bisnis. Bisnis Domain dan Hosting sebagai bisnis pendukung pun berkembang.


Gaya hidup berinternet sudah menjadi ragam hidup baru. Disana sebagian besar dihuni aktivitas sosial media dan jejaring sosial untuk mengobrol santai dan ‘hang out’ di dunia maya. Warga negara internet ini menjadi sebuah fenomena yang membuat konektivitas online dan offline menjadi sambung-menyambung. Gadget telah dilengkapi fasilitas internet, chatting, dan Wifi. Tiap detik orang berinteraksi dengan internet. Kira-kira, kita umpamakan sebuah dunia, maka dunia maya dengan warga negara (netizen, onliners) ini hampir sama dengan dunia nyata.

Lalu, aktivitas bisnis pun berubah.

Ya. Serupa dengan aktivitas sehari-hari yang memerlukan barang kebutuhan, belanja di Pasar dan hang out di Mal, Maka di era sekarang ini, belanja produk-produk tertentu, sudah sangat banyak melalui internet. Apalagi terkait produk IT dan gadget. Sudah banyak yang memakai pola online. Hal yang wajar, mengingat dunia internet lekat dengan dunia IT dan penggiat IT tentu akan berbelanja produk IT juga di Interner. Sebuah logika yang masuk akal.

Ragam gaya hidup ini sejatinya adalah refleksi cermin dari dunia nyata (offline). Nah, ragam gaya hidup ini juga sejatinya tak seragam. Cerminan dunia nyata kan? Kalau di dunia nyata semua orang mempunya kepribadian berbeda dan karakter berbeda, demikian juga di internet. Macam-macam orang. Namun belanja di internet agak berbeda dengan di dunia nyata. Disana unsur TRUST sangat-sangat penting. Sebab, interaksi sosial disana tak bertatap muka langsung. Jadilah bias. Alter ego, Penipuan, hingga kasus “Janda ngaku Gadis” atau “Hidung belang mengaku bujang”. Hehe..

Ragam Gaya Ber-bhinneka

Dalam konteks Indonesia, kita punya yang namanya “Bhinneka Tunggal Ika”. Motto bahwa berbeda-beda tetap satu jua. Di Internet, perbedaan kebutuhan-lah yang menjadi ukurannya. Bukan fisik. Tak penting apakah seseorang bule, negro, muda, tua, lelaki, perempuan, Suku A atau Suku B. Semuanya dilayani. Semuanya boleh berbelanja. Dan pada berbagai kesempatan, juga boleh berjualan (makanya kadang ada sub-forum jual beli di berbagai situs toko yang menjual ‘barang baru’).

Bhinneka tunggal Ika artinya di Internet kita mencari sebuah kesatuan dan sesuatu. Saya mengartikan kalau bhinneka sebagai “sagala aya” (semua ada) dan dari semua itu, kita mencari satu saja yang kita butuhkan. Untuk kita beli.

Mungkin filosofi inilah yang dipakai oleh salah satu online IT store yang terkemuka sejak dulu, yaitu Bhinneka. Offline (ada fisik tokonya) dan Online (toko online) sudah menjadi tradisi mereka untuk meng-CONNECT kannya. Sehingga, untuk jenis toko online, Bhinneka.com sudah menjadi Top of Mind (TOM).


Memang, sebuah industri online, apalagi berbasis layanan produk-produk dengan skalabilitas pelanggan adalah yang ‘melek IT‘, tentu sebuah bisnis perlu dikelola dengan profesional dan memanjakan komunitas pelanggannya.

Dari sisi pemasar, ber-bhinneka berarti melakukan pelayanan dengan memperhatikan etnografi pelanggannya. Memerhatikan kualitas barang dan layanan, memperhatikan kecepatan (respons), ketepatan (waktu) dan kerapian (packaging). Me-refer sebuah situs belanja online berjudul yang sama, disana ada unsur kenyamanan layanan, kemudahan transaksi dan user friendly nya tampilan web, produknya dan sistem belanjanya.

Dari sisi pelanggan, ber-bhinneka berarti every person is unique. Mulai dari jenis barang yang dibutuhkan, harga barang, layanan purna jual, paket barang, promosi barang, semuanya dinilai berbeda. Juga keperluan akan sebuah barang baru atau barang bekas. Jadi, sudah pantas kiranya forum-forum jual beli antar anggota menjadi salah satu fitur pada sebuah situs belanja online yang megah. Juga berbagai pilihan fasilitas. Mulai fasilitas cicilan, bentuk pembayaran, dan harga yang kompetitif namun bergaransi kualitas. Tanpa itu, mungkin hanya jadi sekedar perbandingan produk semata.

Terakhir, dari sisi sebuah brand, ber-bhinneka berarti berbelanja di bhinneka. Hehehe.. it’s true. It’s a brand dan brand itu melekat pada situs yang sama. Anda mau tempat lain, bagi si brand, wah, Anda “tak ber-bhinneka tuh!” hehe..


Bhinneka Tunggal Internet

Berbagai ragam, berbagai gaya, berbagai rupa. Berbagai pula pola hubungan antar relasi di internet.

Memang, ada penipuan, tapi juga ada pertemanan dan kejujuran.

Memang, ada caci-maki, juga ada puja dan puji.

Memang, ada nyubi (diplesetkan dari “newbie”), tapi ada juga senior (biasanya ngaku nyubi juga)

Lalu, ke-bhineka-an itu menjadi tunggal Ika (tetap satu jua), kalau di dunia nyata.

Kalau di internet, saya kok ketemu istilah, Bhinneka Tunggal Internet! Ya, tetap satu jua di Internet! Hitam atau putih, Anda lah yang tentukan. Dengan pola penggunaan internet sehat, berbelanja cerdas dan mencari informasi dengan efisien. Pastinya, dunia internet memang menjadi rujukan untuk berbagai informasi. Memangnya, hari gini masih ada yang bilang “Coba telepon 116 deh” daripada “Coba search di gugel” hehehe..

Jadi, Anda sudah siap ber-bhinneka tunggal internet, ber-bhinneka di dunia maya?


Apa Pendapatmu?

5 Comments

  1. hihihihihi…..semboyannya negara internet ya mas? :)

  2. Alris says:

    Posting keren. Terus terang saya orang awam, belum begitu paham istilah diatas. Tapi gpp, posting sampeyan bikin saya penasaran untuk belajar terus.
    Salam

  3. Hahahaha..istilahnya keren..!!
    tapi make sense banget..

    **mau ikutan bikin tulisan buat lomba juga ahh**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Intellectuals Networked

Iseng Dijual by UC

Fast & Most Reliable Domain Hosting Services!
Toko Online Gratis

My Books

Intellectual Visits

free counters

free web counter

Tweet with UC

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Switch to our mobile site