Lebih Jauh Tentang Al Hujurat : 12

Setelah menulis tentang bagaimana husnudzon, saya semakin tertarik untuk tahu lebih lanjut.. akhirnya via om gugel, ketemu tafsir ibnu katsir yang dicopas oleh salah seorang Ibu blogger beralamat di multiply.

Ijin yach, bu mencopas lagi ke blog saya, semoga menjadi pembelajaran bagi saya sendiri, maupun orang-orang yang mampir.. amin.. maaf dimultiply ga bisa komen, mudah-mudahan link diatas boleh sebagai pengganti ijin.

Al Hujurat ayat 12 terjemahannya kurang lebih seperti ini :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa
jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

berikut diketik dari rangkuman Tafsir Ibnu Katsir, buku 4 halaman 431 …  :

Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya yang beriman banyak berprasangka, yaitu melakukan tuduhan dan sangkaan buruk terhadap keluarga, kerabat, dan orang lain tidak pada tempatnya, sebab sebagian dari prasangka itu adalah murni perbuatan dosa. Maka jauhilah banyak berprasangka itu
sebagai suatu kewaspadaan. Diriwayatkan kepada kami dari Amirul Mukminin Umar bin Khaththab bahwa beliau mengatakan, “Berprasangka baiklah terhadap tuturan yang keluar dari mulut saudaramu yang beriman, sedang kamu sendiri mendapati adanya kemungkinan tuturan itu
mengandung kebaikan.”

Imam Malik meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Jauhilah berprasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah kamu meneliti rahasia orang lain, mencuri dengar, bersaing yang tidak baik, saling mendengki, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian ini sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dan Muslim serta Abu Dawud dari al-Atbi dari Malik. Dan, dalam hadits Anas bin Malik dikatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“…Seorang muslim tidak boleh memboikot (memusuhi) saudaranya lebih dari tiga hari.”
Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi, lalu beliau menyahihkannya dari hadits Sufyan bin Uyainah.

Firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” Yakni, satu sama lain saling mencari-cari kesalahan masing-masing.

Firman Allah SWT selanjutnya, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” Ayat ini mengandung larangan berbuat ghibah. Dan telah ditafsirkan pula pengertiannya oleh Rasulullah saw., sebagaimana yang terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa Abu Hurairah r.a. berkata,
“Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksud dengan ghibah itu?” Rasulullah menjawab,” Kamu menceritakan perihal saudaramu yang tidak disukainya.”
Ditanyakan lagi, “Bagaimanakah bila keadaan saudaraku itu sesuai dengan yang aku katakan?” Rasulullah saw menjawab, “Bila keadaan saudaramu itu sesuai dengan yang kamu katakan, maka itulah ghibah terhadapnya. Bila tidak terdapat apa yang kamu katakan, maka kamu telah berbohong.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Tirmidzi yang mengatakan, “Hadits ini hasan dan shahih.” Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir.

Ghibah adalah haram berdasarkan ijma’. Tidak ada pengecualian mengenai perbuatan ini kecuali bila terdapat kemaslahatan yang lebih kuat, seperti penetapan kecacatan oleh perawi hadits, penilaian keadilan, dan pemberian nasihat. Demikian pula ghibah yang sejenis dengan ketiga hal ini. Sedangkan selain itu, tetap berada di dalam pengHARAMan yang sangat KERAS dan LARANGAN yang sangat KUAT.

Itulah sebabnya Allah SWT menyerupakan perbuatan ghibah dengan memakan daging manusia yang sudah menjadi bangkai. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah SWT, “Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?” Yaitu, sebagaimana kamu membenci hal ini secara naluriah, maka kamu pun harus membencinya berlandaskan syariat, karena hukumannya akan lebih hebat dari sekadar memakan bangkai manusia. Dan jalan pikiran ini merupakan cara untuk menjauhkan diri dari padanya dan bersikap HATI-HATI terhadapnya.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw. bersabda
“Setiap harta, kehormatan, dan darah seorang muslim adalah haram atas muslim lainnya. Cukup buruklah seseorang yang merendahkan saudaranya sesama muslim.”

Turut pula diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari Abu Burdah al-Balawi bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Hai orang-orang yang beriman dengan lidahnya dan keimanan itu belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim dan janganlah kalian mengikuti aib mereka. Karena, siapa saja yang diikuti aib mereka maka Allah SWT akan mencari-cari aibnya. Dan, barangsiapa yang dicari-cari aibnya oleh Allah, maka Allah akan mempermalukan dia di rumah-Nya.”

Diriwayatkan pula oleh Imam Abu Dawud dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah bersabda,

“Ketika aku diangkat ke langit, aku melewati suatu kaum yang berkuku tembaga yang mencakar wajah dan dada mereka.” Aku bertanya, “Siapakah mereka itu, hai Jibril?” Jibril menjawab, “Mereka itulah orang yang selalu memakan daging-daging orang lain dan tenggelam dalam menodai kehormatan mereka.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad.

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa Sa’id al-Khudri berkata (219), “Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, ceritakanlah kepada kami apa saja yang telah engkau lihat pada malam engkau diperjalankah Allah.’
Rasulullah saw. menjawab, ‘… Kemudian Jibril membawaku pergi menuju sekelompok makhluk Allah yang sangat BANYAK, terdiri atas laki-laki dan wanita. Ada sejumlah orang yang menunggui mereka dan bersandar pada lambung salah seorang di antara mereka. Kemudian orang itu memotong lambung mereka sekerat sebesar sandal, lalu meletakkannya di
mulut salah seorang di antara mereka. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Makanlah sebagaimana dulu kamu telah memakannya.’ Dan dia mengetahui daging yang harus dimakannya itu berupa bangkai.
Hai Muhammad, kalau dia mengetahuinya sebagai bangkai, tentu dia sendiri sangat membencinya. Kemudian aku bertanya, ‘Hai Jibril, siapakah mereka itu?’ Jibril menjawab, ‘Orang-orang yang mencela dengan perbuatan dan ucapan. Mereka adalah orang-orang yang suka mengadu domba.’ Kemudian dikatakanlah, ‘Apakah salah seorang di antara
kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai, tentu kalian akan membencinya.’ Sedangkan, dia dipaksa untuk memakan dagingnya itu.”

Demikian yang dituturkan perawi dalam hadits ini. Dan kami telah menampilkannya, bahkan mencantumkannya secara keseluruhan di awal surat al-Isra’. Puji dan syukur bagi Allah semata.

Al-Hafizh Abu Ya’la meriwayatkan dalam kisahnya yang menceritakan perajaman Ma’iz r.a., sampai dia mengatakan (218), “… Nabi saw. mendengar dua orang; yang satu berkata kepada yang lainnya, ‘Tidakkah kamu melihat, sesungguhnya seseorang yang aibnya telah ditutupi oleh Allah ini, akan tetapi dia tidak membiarkannya tertutup sehingga dia dirajam seperti anjing?’ Kemudian Nabi melanjutkan perjalanan sehingga
tatkala melewati bangkai keledai, beliau mengatakan, ‘Di manakah si fulan dan si fulan itu. Turunlah dan makanlah bangkai keledai ini.’
Mereka berdua mengatakan, ‘Semoga Allah mengampuni engkau, ya Rasulullah. Mana mungkin hewan ini dimakan?’ Rasulullah saw., ‘Kalau begitu, apa yang telah kalian peroleh dari saudaramu yang dipercakapkan tadi adalah lebih buruk untuk dimakan daripada bangkai ini. Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya saudaramu itu sekarang berada di sungai-sungai surga. Dia berenang di sana.”

Sanad hadits ini shahih.

Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dari Jabir bin Abdillah r.a.,
“Ketika kami sedang bersama Nabi tiba-tiba semerbaklah bau bangkai yang tengik. Kemudian Rasulullah saw. bertanya, ‘Tahukah kamu, bau apakah ini? Inilah bau orang-orang yang menggunjing orang lain.'”

Firman Allah SWT, “Dan bertakwalah kepada Allah.” Yaitu, pada perkara yang telah Dia perintahkan dan Dia larang kepada kamu. Dan jadikanlah Dia sebagai pengawas kamu dalam hal itu dan takutlah kepada-Nya.
“Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” Yaitu Allah itu Maha Penerima tobat kepada siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan Maha Pengasih kepada siapa saja yang kembali dan bersandar kepada-Nya.

Jumhur ulama mengatakan, “Cara yang mesti ditempuh oleh orang-orang yang bertobat karena menceritakan saudaranya ialah hendaknya dia menghentikan perbuatan itu dan bertekad tidak akan mengulanginya.” Dan apakah menjadi syarat pula menyesali perbuatan yang telah lalu itu dan meminta maaf kepada orang yang telah digunjingkannya itu?

Maka diantara ulama ada yang berpendapat demikian. Adapun yang lainnya mengatakan, “Tidak menjadi syarat baginya meminta maaf kepada orang itu. Karena, bila dia memberitahukan kepada orang itu tentang gunjingannya, barangkali ia akan merasa lebih sakit daripada dia tidak
mengetahui apa yang telah dipergunjingkan orang terhadap dirinya itu. Bila demikian halnya, maka cara yang mesti ditempuh adalah memberikan sanjungan kepada orang yang telah digunjinginya itu di tempat dimana ia telah menggunjing orang tersebut. Dan, agar dia menghindari gunjingan orang lain terhadap orang itu sesuai dengan kemampuannya.
Umpatan dibayar dengan pujian.”

Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Mu’adz bin Anas al-Juhani r.a. bahwa Nabi saw bersabda,

“Barangsiapa yang membela seorang mukmin dari seorang munafik yang menggunjingkan dirinya, maka Allah SWT akan menurunkan kepadanya satu malaikat yang akan memelihara dagingnya di hari kiamat nanti dari jilatan api neraka. Dan barangsiapa yang melemparkan kepada seseorang
mukmin sesuatu yang dimaksudkan untuk mencelanya, maka Allah SWT akan menahannya di jembatan Jahannam sehingga dia menarik kembali apa yang telah diucapkannya itu.” Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud.

 

Nah,, ternyata benar2 panjang tafsirnya.. Saya berdoa semoga bisa menjaga lisan dan prasangka menjadi baik-baik.. sebab kadang kala, entah kenapa, ucapan saya beberapa kali menjadi si pahit lidah. Sangat tidak enak sebenarnya..

 

Wallahu’alam..

Apa Pendapatmu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Intellectuals Networked

Iseng Dijual by UC

Fast & Most Reliable Domain Hosting Services!
Toko Online Gratis

My Books

Intellectual Visits

free counters

free web counter

Tweet with UC

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Switch to our mobile site