Catatan Kopdar Blogger Nusantara 2011

Perhelatan akbar bertajuk Kopdar Blogger Nusantara (selanjutnya disebut Blognus) telah usai. Event selama 3 hari, mulai Jumat hingga Minggu, tanggal 28-30 Oktober 2011 ini menyisakan optimisme dan semangat ke-Indonesiaan dan Kemandirian. Hal yang sejak awal menjadi salahsatu isu besar dalam ‘kegilaan’ acara kopdar ini.

Sebagai salah seorang peserta yang seorang blogger (nanti ada penjelasan sedikit mengenai perlunya menuliskan peserta-blogger) saya ingin menyampaikan sebuah ceritera yang panjang, mengenai acara ini dan Insya Allah akan ber-seri. Agregatornya disini.

Selain panjang, tulisan yang Anda sedang baca ini saya niatkan sebagai ulasan dan upaya otokritik terhadap saya sendiri selaku peserta-blogger dan panitia, agar gelaran ini kedepannya makin baik dan makin ‘bersinar’. Juga sebagai pengantar tulisan-tulisan lain yang merupakan catatan ringannya.

Apa sebab saya susah payah tulis ini, sebab yang beredar diteman-teman rata-rata ‘hanya’ masalah positif saja, padahal agar jadi yang terbaik, kata James Collins, adalah melawan kata “lebih baik”. Baik, bagus, Good, adalah kata-kata manis yang menjadi ‘musuh’ dari Great. Good to Great katanya dalam buku best seller yang berjudul sama. Jadi, demi kita semua, tinggalkan kepuasan, dan saya mulai tulis ini semua.

Agar mudah dalam membaca, saya bagi saja kedalam dua bagian, yaitu hal-hal yang positif dan hal-hal yang kiranya peer bagi kita semua untuk diperbaiki dihelatan yang sama di tahun depan. Mudah-mudahan menjadi masukan dalam penyelenggaran kedepan.

Beberapa (banyak) Hal Positif

Ide. Sejak awal, banyak yang suka dan mendukung Kopdar blogger nusantara ini lantaran idenya yang tentu dipasarkan dengan cantik dengan tajuk ‘nusantara’. Saya tak tahu apakah memang ide 1000 blogger untuk datang kopdar gayung bersambut dengan “yang mau jadi panitia” sehingga yang katanya sebatas obrolan gila sambil minum kopi ini tiba-tiba jadi event yang tau-tau diadakan. Apapun itu, saya rasa, ide menjadikan paguyuban, merakyat, nginep ramai-ramai, berkegiatan, sosialiasi dst ini sangatlah positif. Kalau ada yang kontra saya lempar pake bata merah! Hehe..

Namun perlu dicatat, saya tak setuju jika ide nya seakan-akan ini ajang blogger mandiri, merakyat dan seterusnya yang menuju dikotomi dan membatasi antara A dengan Z. Hanya sebatas ide kopdar 1000 blogger, saya setuju sekali. Ide nusantara saya juga setuju. Ide anti-korporasi, wah kaos saya nggak merah dan bergambar Che Guevara. Karena saya haqul yaqin ada perusahaan dibalik semua kegiatan. Minimal sponsorship :)   ibukota dan satelitnya bukan jadi alasan orang yang berdomisili disana jadi ‘antek’ asing.. masih banyak ‘rakyat miskin kota’ dan ‘buruh migran’. Sebaliknya jauh dari pusat pemerintahan juga bukan jaminan aman-damai sejahtera dan pro wong cilik. Bukankah eksplorasi asing itu paling banyak di daerah? Apa yang bisa dikeruk di ibukota? Hanya orang-orang yang cari makan. Dan warteg paling banyak ya di Jakarta. Tentu linkage ke contact person daerah sangat menjadi bagan dari proyek korporasi besar. Siapa disana, ya orang daerah juga. Di era otonomi daerah, potensi patron-klien korporasi dengan “raja-raja kecil” ya ada di daerah. Dan isi kepanitiaan Blogger Nusantara dan pendukungnya, tentunya bukan BSH (barisan sakit hati), tapi memang jenuh dengan yang ada itu-itu saja dan membutuhkan suatu kegilaan, keluarbiasaan dan keanomalian. Jadi, ide itu yang  mencerahkan semua pihak.

Yak.. lanjuuuttt.. kita gak ngomongin politik tapi laporan dan catatan event hehehe..

Acara. Acaranya, karena judulnya Blogpreneur sih, saya sudah menebak untuk acara, paling tidak didominasi oleh monetizing, dan yang datang pun akan berharap ada hal sedikit teknis mengenal cari duit. Walau tak teknis, kehadiran google ditengah-tengah peserta mendapatkan apresiasi sangat luar biasa yang dipresentasikan dengan tepuk tangan meriah para hadirin dan hadirot. See? Entah, saya tak tahu apakah dengan tanpa memakai embel-embel blogpreneur, ajang kopdar jadi lebih sedikit, atau lebih ramai? Mungkin kepanitiaan tahun depan yang merumuskan.

Page 1 of 8 | Next page