Hari Nusantara : Sebab Di Laut Kita (Pernah) Jaya!

Atlantis

Menyebut “Nusantara”, sebenarnya ada hal tersirat, yaitu jajaran pulau-pulau membentang, dengan geografis wilayah laut Indonesia mencapai 75,3% dari total luas wilayah negeri katulistiwa yang keindahannya, sering disamakan dengan “Atlantis yang Hilang”.

Atlantis adalah benua yang hilang, yang digambarkan sebagai surga dunia keindahan alam flora fauna dari mitologi Yunani kuno. Beberapa penelitian haqul yakin menunjuk Nusantara, sebagai benua Atlantis tersebut. Misalnya Profesor Arysio Santos. Geolog dan fisikawan nuklir asal Brasil yang melakukan penelitian keberadaan Atlantis selama puluhan tahun. Melalui karya fenomenalnya, “Atlantis: The Lost Continent Finally Found”, Santos menelusur lokasi Atlantis berdasarkan pendekatan multi-disipliner antara lain mulai ilmu geologi, astronomi, paleontologi, arkeologi, linguistik, etnologi, dan bahkan comparative mythology dan akhirnya berpendapat bahwa Atlantis, jika benar ada, itu adalah Nusantara!

 Direktur Indonesia Maritime Institute, Dr Yulian Paonganan, pernah menyebutkan menginformasikan pada forum Konservasi Kelautan Indonesia, bahwa potensi maritim Indonesia senilai Rp 7 ribu trilyun pertahun dan tiga besar Coral Triangle, yakni Negara dengan potensi maritim terbesar di dunia. Amazon di Amerika, wilayah Congo Basir di Afrika, dan Coral Triangle di Indonesia. Dari keseluruhan total, sebanyak 60% terumbu karang Indonesia ada di wilayah timur, dengan jumlah lebih dari 500 spesies. Sungguh hal yang menakjubkan yang hanya dimiliki oleh Indonesia, dan menambah keyakinan kita akan cerita legenda “Atlantis”!

Hari Nusantara

Tak banyak yang tahu, sejak tahun 1999 Indonesia mencanangkan Hari Nusantara. Sebuah tonggak penting rasa kebangsaan dan wawasan nusantara agar negeri ini dapat berwibawa, tangguh dan sadar bahwasanya merupakan negeri yang sangat kuat, apalagi jika mampu secara optimal mengelola sisi ekonomi bahari.

Hari Nusantara ini pun bukan sembarang hari. Sebab sejarahnya begitu penting. Peringatan Hari Nusantara dimulai pada Pemerintahan KH. Abdurahman Wahid dengan menjadikan hari dimana Deklarasi Djuanda, pada 13 Desember 1957 sebagai tonggak peringatan Hari Nusantara. Deklarasi yang dicetuskan oleh Perdana Menteri Indoenesia, Djuanda Kartawidjaja itu menegaskan kepada dunia, bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itulah tanggal 13 Desember dijadikan Hari Nusantara.

Deklarasi Djuanda itu menyatakan tiga hal. Pertama, bahwa Indonesia menyatakan diri sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak tersendiri. Kedua, bahwa sejak dahulu kala kepulauan nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan. Ketiga, ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi, dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia.

Apa sebab, karena wilayah negara Indonesia mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939, yaitu Teritoriale Zeeën en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). Dalam peraturan kolonial Belanda ini, pulau-pulau di wilayah Nusantara dipisahkan oleh laut di sekelilingnya dan setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh tiga mil dari garis pantai. Artinya kapal asing bebas-bebas saja melayari laut yang memisahkan pulau-pulau tersebut. Laut, menjadi pemisah antar pulau, bukan perekat seperti yang saya tulis diawal.

Deklarasi ini-pun pada awalnya ditentang. Terutama oleh negara-negara dengan konsep daratan seperti Amerika Serikat dan Australia. Alhamdulillah, dengan jalan diplomasi yang gigih, maka konsepsi negara kepulauan (Archipelago) ditetapkan oleh PBB melalui Konvensi Hukum Laut PBB, United Nation Convention on Law of the Sea (UNCLOS) pada tahun 1982. Prinsip-prinsip negara kepulauan (konsepsi “Nusantara”) berdampak pada keutuhan wilayah Nusantara, tak tersekat-sekat dan menjadi utuh berdaulat dari Sabang sampai Merauke!

(Dulu) Di Laut Kita Jaya

Dulu, Nusantara dipunggawai oleh Sriwijaya dan Majapahit yang merupakan kerajaan besar berbasis maritim. Bangsa Nusantara (Indonesia) adalah penguasa lautan membentang mulai dari Lautan Hindia hingga Laut Cina. Sekaligus pusat peradaban pada masanya. Dahulu kala, lalu-lintas di Nusantara adalah jalur laut yang sangat ramai. Sebagai penguasa samudera, Armada Angkatan Laut dan Armada Perdagangan Sriwijaya, Aceh, Majapahit, hingga Banten menjadi pengendali jalur perdagangan laut yang membahana. Kultur melayu begitu membekas dan menjadi lingua franca pada masa itu. Bahasa yang pada saat ini diserap dan dibakukan menjadi “Bahasa Indonesia”.

Fakta sejarah juga membuktikan, eksistensi negara maritim di Nusantara bertahan paling lama dan paling memberikan warisan sosial-budaya yang bertahan. Hingga ratusan tahun. Kerajaan Sriwijaya mampu bertahan hingga 500 tahun, kerajaan Majapahit berusia 234 tahun. Berbeda dengan kerajaan berbasis agraris yang umurnya kurang dari seratus tahun, misalnya Mataram Hindu, Singasari dan seterusnya. Eksistensi ini didorong oleh luasnya interaksi antar manusia yang terjadi di lautan dan kota-kota persinggahan. Juga budaya yang berkembang di pesisir. Inilah modal besar Nusantara, yang tentu menjadi modal besar kita, Indonesia, di masa sekarang untuk kembali menjadi pemimpin dan negara yang selain eksistensinya diakui, juga kepemimpinannya diteladani. Seperti semboyan Angkatan Laut yang diambil dari bahasa Sanskerta, bahasa dan aksara utama Nusantara, Jalesveva Jayamahe! Di Laut Kita (Pernah dan akan Kembali) Jaya!

Hari Nusantara Ke-12

Peringatan (sekaligus perayaan) Hari Nusantara yang akan dipusatkan di Dumai, Provinsi Kepulauan Riau, Desember nanti adalah perayaan ke-12. Sejak pembukaan rangkaian kegiatan Hari Nusantara 2011 yang jatuh pada 13 Desember ini, sejak pada 15 Juni 2011 yang lalu, sudah pula dilaksanakan Pelayaran Kebangsaan Lintas Nusantara Remaja Pecinta Bahari dengan memilih rute Jakarta-Pontianak-Batam-Dumai- Jakarta pada 15 Juni-16 Juli, Lomba Olahraga Perairan Bahari pada 9-16 Juli di Pantai Mandalika, Mataram, Nusa Tenggara Barat Juga berbagai Seminar Nasional dan Diskusi Panel dengan tema Persatuan Kesatuan serta Hari Laut Sedunia, Pameran Blue Revolution, hingga kegiatan Fun semisal lomba masak serba ikan tingkat nasional dan lomba bakar ikan terpanjang tingkat nasional di Dumai pada acara puncak, 13 Desember 2011.

Salah satu skenario lain pada peringatan ini adalah masalah peningkatan kewaspadaan nasional. Terutama dalam hal penjagaan lingkungan bahari dari pelbagai permasalahan. Untuk itu, pada acara puncak Hari Nusantara, 13 Desember 2011 nanti, juga terdapat kegiatan integrasi taruna wreda nusantara (Latsitardanus) XXXII yang rencananya dibuka oleh Presiden RI, dengan 1500 personel gabungan dari Taruna Akademi, Kepolisian, hingga mahasiswa dan dosen IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri).

Selain itu, latihan gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI pada tanggal 5-12 Desember, dan Pameran Industri Pertahanan dan Industri Lokal pada 12-14 Desember, juga merupakan salah satu upaya memperkenalkan Alutsista TNI buatan dalam negeri dari PT DI, PT Pindad, PT PAL dan industri strategis lainnya. Kegiatan ini digelar sebagai wujud nyata bahwa bangsa ini siap menjaga setiap jengkal tanah airnya dari berbagai ancaman.

Harapan

Nah, diluar hiruk pikuk penyelenggaraan tersebut, kendala meraih optimalisasi negeri maritim adalah di bidang penelitian dan pengembangan yang kadang, selain faktor keterbatasan dana riset, juga parsial dan tidak berkelanjutan. Hal ini harus diubah agar potensi bahari yang ada bisa benar-benar dimaksimalisasi. Sebenarnya Indonesia beruntung, di era reformasi ini adanya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertahanan dan lembaga dan institut sejenis yang bekerjasama lebih intens dalam melakukan berbagai upaya pemanfaatan potensi dengan maksimal dan koordinatif dibanding masa lalu. Lebih beruntung lagi, misalnya, adanya Hari Nusantara di era reformasi yang berkesempatan lebih jauh untuk mengenalkan rasa kebangsaan dan kebanggaan yang tinggi kepada kita semua.

Diharapkan, dengan Hari Nusantara, warga masyarakat semakin mengenal negeri tumpah darah, tanah airnya ini. Sekaligus menumbuhkan rasa cinta dan memiliki serta membela negeri yang susah-payah diperjuangkan dan dipertahankan oleh para pendiri bangsa sejak dulu kala. Untuk itu, peer besar bagi penyelenggara Hari Nusantara, tentunya agar semua komponen masyarakat mengetahui adanya hari ini, serta melakukan berbagai kegiatan bertema kebangsaan dan ke-nusantara-an sehingga gaung peringatan hari ini semakin luas, sehingga tujuan dari peringatan hari besar ini bisa tercapai, tak cuma jadi seremonial kementerian terkait, atau hasrat show-off pemerintah semata.

 Terutama untuk anak bangsa ini, yaitu generasi muda. Sebab generasi muda, berperan penting dalam menjaga kedaulatan Nusantara, menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan dalam wadah NKRI, tidak terpecah belah, dan merefleksikan semangat Deklarasi Djuanda sebagai tonggak Hari Nusantara. Niscaya, kita semua optimis, peran serta semua komponen bangsa, akan turut mempercepat akselerasi bangsa ini menjadi bangsa yang kuat, mandiri, makmur sejahtera. Kita yakin, kita pasti bisa! Karena, (di Laut) kita pernah berjaya, dan sangat mungkin hal itu kita ulangi, sekarang juga!

president of the Unggul Center — [email protected]  (c) 2011

Apa Pendapatmu?

One Comments

  1. bundanyakaka says:

    wahh saya juga baru ngeh! *kalau ada hari nusantara
    walopun dah tau dari lama kalo ada kegiatan pelayaran kebangsaan (PK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Intellectuals Networked

Iseng Dijual by UC

Fast & Most Reliable Domain Hosting Services!
Toko Online Gratis

My Books

Intellectual Visits

free counters

free web counter

Tweet with UC

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Switch to our mobile site