Perbedaan Jeruk Ponkam dan Jeruk Lukan/Lokam

Haiyaaa!!  Gong Xi Fat Choi!!!

Masih bersama pusat review kehidupan, UC hehehe.. kali ini UC mau review dua jenis jeruk impor asal negeri tiongkok yang membanjiri produk jeruk dalam negeri. Apalagi saat ini nih, sedang mau Imlek, makin ramai aja tiap mall dan hypermarket memajang jeruk2 ini.

Ya, jeruk kuning yang disupermarket selalu jadi rebutan ini memang gila-gilaan impornya. Eittss tapi UC gak akan bahas jeruk impor vs jeruk lokal ya. UC mau bahas bedanya dua jenis jeruk impor cina ini itupun tak batasin 2 jenis aja yaitu ponkam dan lokam yang berukuran M (medium). Ada banyak tipe lain soalnya, misal yang kecil-kecil alias Shantang pun ada berbagai jenis dan tingkat kemanisan berbeda. Ada yg warna agak oranye, ada dominasi kuning dengan daun, ada yang agak “besar” tapi masih kategori jeruk “mini”. Dan seterusnya.

Oke kita mulai dari nama. Ada ponkam/ponkan dan lokam/lokan/lukan. Dua-duanya asal negeri tirai bambu. Dua-duanya dikemas dengan kotak merah bergambar naga :)   dan dua-duanya punya bentuk dan ukuran yang relatif sama. Bedanya? Kalau Ponkam biasanya jeruk tersebut dikemas satu-satu dengan plastik bening bertuliskan “ponkam”. Sedangkan yang tipe Lokan/Lukan plastiknya warna merah pudar dan lebih halus/soft.  See the difference kan?

Harga? Hmm. sebenarnya sama.Tapi di beberapa hypermarket, ada harga awal Ponkam lebih mahal sebelum diskon. Akan tetapi, setelah diskon, semua harga sama. Saya kurang tau skema hypermarket seperti apa. Tapi setelah diskon, label menjadi –biasanya Rp 655 per-100 gr alias Rp 6550 per kilo. Beli satu kotak (10 kilogram) lebih murah. Rp 59xxxx alias tak sampai genap Rp 60.000 per-box.  Di pasar-pasar tradisional, stasiun KA dan terminal. Harga 1 pcs jeruk di banderol Rp 1000 sudah cukup menyenangkan pedagang. Bagi saya yg suka beli satu-an, duit Rp 1000 per jeruk yg dibeli juga masuk akal. Mengingat capeknya penjual dan nilai kandungan gizi dari 1 jeruk itu, wah seribu rupiah mah murah. Di toko buah mungkin tak telalu jauh beda. Jika Anda mendapati harga, setelah diitung2 ya jadinya per-buah lebih dari seribu rupiah. Nah, itu kemahalan.

Lalu mengapa ada perbedaan nih jeruk? Dari asalnya. Saya lupa nyatet tapi daerah asal si jeruk sepertinya berbeda. Misalnya di Indonesia, itu jeruk medan sama jeruk pontianak kali ya. Walaupun ngimpornya sama aja. Jatuhnya harga sama aja.

Bagaimana memilih jeruk yang baik? ya yang manis lah. #TepokJidat. Oke oke, lalu milih yang manis? ya diciciplah. #TepokJidatOrangYangNanya  Baiklah.. lihat kondisi jeruk. Pori-pori yang agak besar dan warna yang lebih oranye jadi pilihan. Jangan lupa agak tekan untuk melihat kondisi apakah sudah ada bonyok (mungkin tergencet, sudah lama dan seterusnya). Yang kulitnya tebal juga jadi pilihan. Nah setelah itu masukkan ke kantong, timbang, bayar. Hehehe..

Ini jeruk Ponkam yg beredar di Indonesia

Ini Jeruk Lukan. Beda pengemasan satuan jeruknya

Tapi mau ponkam atau lokam? Kalau menurut pengalaman UC yang sudah mencoba 1 box besar Ponkam dan 1 box besar Lokam, cara selain mencicip dan memasukkan satu persatu, jeruk SUPER lebih manis dari ORIGINAL (atau tidak ditulis). Alamak, apalagi tuh? Ya kalau beli kotak-kotakan, lihat merknya dikotak, disebut Super atau Original. Kalau cuma ditulisnya Lukan atau Ponkam saja, itu original.

Selain itu, menurut UC, Lukan/Lokam lebih punya peluang semua isi kotaknya manis dibanding Ponkam. Masih ingat dengan ciri-ciri Lukan? Ya, yang pembungkus butir2 jeruknya dengan plastik lembut merah pudar/transparan ya, bukan yang plastik kaku bermerk Ponkam.  Kalau yang Ponkam, setelah dibuka, beberapa agak asam, dan memang Ponkam menurut pengalaman ada beberapa asam dan memang karakter Ponkam seperti itu. Manis Asem. Bagi yang suka “sensasi” rasa asem, silakan. Sedangkan yang Lukan, ada juga sih yang masam tapi gak sebanyak si Ponkam. Sebagai catatan, ini kalau beli satu dus ya. Artinya memang probabilita yang manis-asam sama yang manis-thok ada. Dua-duanya saya temukan beberapa asam kok. Intinya beda-beda tipis sih heheeh.. tapi saya lebih suka yg Lukan sebab lebih sedikit yg asam (ini kebetulan dari 1 dus yang saya beli yaaa..).

Oya sebenarnya gak saklek juga dua jenis tersebut perbedaan pengemasan plastiknya. Ini yang saya ketahui aja ya di Indonesia :)   Misalnya ada juga yang kemasan plastiknya agak lain dan warna jeruknya lebih ke kekuning-kuningan dan itu diklaim lukan juga.  Seperti contoh dibawah ini :

Ini ekspor juga, tapi bukan ke Indonesia :)

Oke, itu saja review UC.  Silakan berbelanja jeruk mandarin! Maaf kalau ada yang salah, review ini murni dari pengalaman penulis hehe..

Apa Pendapatmu?

12 Comments

  1. ozzy says:

    sori bos, ngoreksi aja, rp 650 /100 gram artinya Rp 6500 perkilo bukan 65 rb/ kg hehee..

    yang kedua, ponkam itu lebih mahal dari pada lokam..

    lokam yg biasanya di jual di bawah 10 rb, ponkam relatife lbh mahal..

  2. Asop says:

    Hmmmm… saya mau jeruk mandarin aja, yang kecil itu lho, ada? :D

  3. berburu jeruk, mumpung lagi murah

  4. Goiq says:

    yang manapun jeruk yang manis, pasti saya suka… :)

  5. ekoikhyar says:

    wah sampe detil amat jeruknya, milih yang mana jadi bingung sayah =))

  6. asepsaiba says:

    Kadang saya suka sedih melihat perbadningan jeruk yang dijajakan antara lokal vs impor itu berbeda jauh.. mungkin hanya 25%-nya produk lokal.. Sisanya, ya dari kotak merah gambar naga itu..

  7. adam says:

    Gong Xi Fat Choi!!! mas :-p

  8. saya suka jeruk
    karena saya bukan jeruk :)

  9. indobrad says:

    saya gak suka yg manis-asem, jadi pilihannya sudah pasti lokam :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Intellectuals Networked

Iseng Dijual by UC

Fast & Most Reliable Domain Hosting Services!
Toko Online Gratis

My Books

Intellectual Visits

free counters

free web counter

Tweet with UC

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Switch to our mobile site