Visit Tidore Island – Fola Barakati dan Keindahan Negeri Tidore yang Tak Lagi Tidur

Fola Barakati
http://www.unggulcenter.org/2017/03/13/fola-barakati-dan-negeri-tidore-yang-tak-lagi-tidur/

Suatu Hari Mengunjungi Fola Barakati

Fola Barakati! Artinya Rumah yang Diberkahi. Bahasa Tidore yang unik. Itulah rumah yang kami tuju pada suatu hari, setelah informasi dari mulut ke mulut yang saya terima tentang blogger gathering di sebuah tempat dengan tema Visit Tidore Island.

Juga kesempatan yang sangat langka, berhadiah gratis hampir sepekan “visit tidore island” beneran! Mengutip salah satu ungkapan dari publikasi gathering dan lomba yang saya baca, kesempatan ini seperti “jarum dalam tumpukan jerami”. So, tak boleh dilewatkan!

Tidore, selalu saya ingat berangkai dengan Ternate. Di Maluku (sebelah utara). Sejak jaman saya SD dan SMP, Ternate dan Tidore selalu jadi ingatan saya untuk maluku di kepulauan-kepulauannya, Kerajaan-kerajaan dengan Sultan Nuku (yang saya ingat) dan Ambon untuk Ibukota Maluku.

Maklum ingatan jaman SD. Itulah yang membuat saya antusias. Negeri yang namanya pun aneh, apalagi dibenak seorang anak SD di Sumatera sana.

Ibu Guru selalu merangkai Tidore dengan Ternate, menjadi “Ternate dan Tidore” tempat yang abadi dalam buku sejarah, walau saya tak tau dimana itu berada.

Padahal, fakta Tidore sungguh luar biasa. Mulai dari jaman keemasannya, hingga jaman revolusi kebangsaan dan penyatuan Indonesia menjadi satu NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Ini tak pelak menjadi tamparan keras bagi kita semua, yang mengaku ber-NKRI. Misal, siapa yang tau kalau Tidore pernah menjadi Ibukota Provinsi Papua Barat?

Ya, pada masa konfrontasi sebelum penentuan pendapat rakyat Papua barat, Soasio, Tidore, merupakan ibukota provinsi Papua loh. Pada masa itu, Zainal Abidin Syah, Sultan Tidore diangkat Bung Karno menjadi gubernur pertama Papua tahun 1956-1961 yang saat itu beribukota di Soasio atau Soasiu, pulau Tidore.

Itu semua, saya dapatkan dengan dua cara. Pertama dari Internet, kedua dari datang ke Fola Barakati! Nanti mungkin tahap ketiga, datang ke Tidore untuk melihat sendiri! ^^

Gadis Cilik di Fola Barakati

Sebelum menuliskan soal wisata dan sebagainya, kronologisnya ini nih. Ada gadis cilik pula yang saya bawa ke Fola Barakati. Selepas menerima undangan resmi melalui email, di hari Minggu, 12 Februari 2017 yang berbalut hujan dari Kota Bogor yang enaknya mager alias malas gerak kalau hari Minggu, saya semangat menuju Fola Barakati.

Fola Barakati

Berbekal GPS pake GoogleMap, saya sudah siap berangkat. Sempat agak ragu, karena kondisi gerimis dan gelap mau hujan. Apalagi, tadinya Minggu ini saya janji dirumah saja, bercengkrama dengan dua gadis berumur enam tahun dan enam bulan, melengkapi tiga wanita di rumah ini.

Pikir punya pikir, Istri minta ikut, dan janji tidak mengganggu. Saya sudah sempat diemail bahwa boleh mengajak anak kecil tapi tidak ikut naik ke lokasi di lantai dua. Okesip, akhirnya saya membawa tiga perempuan. Ini kali pertama. Yap, kali pertama tiga mahluk perintilan ini ngikut. Ah, biarlah, sekali ini biar memuaskan keinginan mereka aja.

Minimal bisa tau “kerjaan” bapaknya yang hobi jalan jalan nulis ngumpul. Walau akhirnya pulang duluan karena si bayi rewel, dan istri pegal mengendong (lupa bawa trolley), minimal mereka tau soal bloggers dan wisata.

Saya, jadi tau soal koneksi antara gambar-gambar foto di ruang bawah, dengan mata-mata indah anak kecil yang digendong satu dan bergelayut satu, yang diam-diam saya perhatikan, dan foto. Mengingatkan kalau kelak, si gadis-gadis ini ingat Fola Barakati, ingat Tidore, dan cinta Indonesia.

Dimana Tidore (di Dunia Maya)

Di Fola Barakati, fakta-fakta itu saya temukan kembali. Setelah saya mencari-tahu dengan jari di era teknologi informasi. Ya, pencarian populer di mesin pencari google, yang artinya merupakan kata-kata yang sering diketikkan orang untuk mencari tahu sesuatu, cukup unik.

 

Hasil pencarian Tidore di Internet melalui search engine, kata “tidore”, “tidur”, “tidore dan ternate” dan “tidore dimana” merupakan pencarian populer. Pencarian populer dimunculkang Google sebagai “saran”.

Dimana Tidore. Itu adalah salah satu pencarian populer. Bahkan, kita disarankan mengetik “tidur” alih-alih tidore karena itu kata yang lebih generik ketimbang kata tidore itu sendiri. Dengan kata lain, Tidore tak populer, lebih populer tidur dan lebih banyak orang mencari dimana itu tidore?

Hasil dari pencarian untuk “tidore dimana”. Selain itu, penelusuran terkait juga disarankan Google. Namun demikian, tak banyak sumber informasi di Internet terkait saran pencarian tersebut. Konten-konten ini harus diperbanyak nih, oleh semua masyarakat “intelektual” Tidore yang familiar dengan blog dan internet, juga kita semua!

Namun demikian, ini signal yang bagus. Justru, ini peluang emas kita memberikan banyak informasi untuk mereka yang mencari. Konten-konten positif tentang Tidore seyogyanya semakin banyak diproduksi dan ditulis di ranah maya, karena ini adalah “playground” bagi setiap orang yang ingin mencari tahu di dunia Milenial.

Bagi saya,  dengan catatan jejak di Internet, maka keunggulan sebuah tempat akan terpromosi dengan baiknya. Apalagi, sesuai dengan hastag pada saat di Fola Barakati, yaitu #TidoreUntukIndonesia dan bahkan, sumberdaya #TidoreUntukDunia yang sangat signifikan, maka salah satunya adalah dengan membuat banyak orang tahu, peran Tidore, kekayaan dan keunggulan Tidore dan warisannya dari masa lampau.

Ini nih peta Tidore. Pulau yang lebih besar sedikit dari Ternate.

Salah satu sumber tentang Tidore yang menarik saya temukan dari situs keren Colonial Voyage, yang merupakan cerita-cerita perjalanan penjelajahan kolonialisme di berbagai belahan dunia. Dikelola oleh Marco Ramerini, situs ini sudah ada panduan translasi ke beragam bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Lumayanlah, walaupun namanya “google translate” maka transliterasinya rada kebolak balik hehe. Disini dikabarkan adanya konflik spanyol, portugis dan belanda di Tidore pada khususnya dan Maluku pada umumnya. Misalnya tulisan INI dan INI.

Tidore Menurut Marco Ramerini, salah satu dari sedikit sumber mengenai sejarah kejayaan Tidore di masa lampau dan koneksinya dengan era kolonial (bangsa barat seperti spanyol, portugis, belanda, inggris)

Pada masa lampau, ternyata Tidore menjadi rebutan karena posisinya yang strategis dan memiliki sesuatu yang sangat diinginkan oleh orang-orang Eropa yang memiliki empat musim dan selalu lembab dan dingin.

Benteng Torre, Peninggalan Portugis di Tidore (foto: detiktravel)
Benteng Tahula, Peninggalan Spanyol (foto : hipwee.com)

Bagi penyuka sejarah dan kebudayaan (Seperti saya) pasti deh bakal memikat banget nih menjelajah peninggalan kolonial berupa benteng ini.

Wisata Kuliner dan Wisata Alam

Sebenarnya apa lagi sih yang menarik di Pulau ini? Kok sampai diincer terus menerus oleh Spanyol, Portugis bahkan Belanda dan Inggris, sebagaimana kita liat di cerita-cerita yang saya temukan diatas?

Tak lain dan tak bukan, kekayaan alamnya. Di Fola Barakati pula saya menemukan beragam keindahan khas Tidore. Terutama wisata sejarah, wisata alam dan wisata kuliner.  Soal sejarah, sudah saya sampaikan diatas, dan wisata sejarah tentu jadi tujuan utama saya si pencinta sejarah sejak SD ini.

Sekedar memuaskan hati ini, dan secara imajiner, bilang kepada ibu guru, “Bu, aku sudah ke Tidore, melihat kekayaan alamnya yang diperebutkan bangsa kolonial yang dulu ibu diceritakan.”

Kekayaan alam Tidore, sungguh indah. Melihat foto dan video yang ditayangkan di Fola Barakati waktu itu, membuat mata ini tak berkedip. Indahnya bawah laut Tidore laksana aquarium tanpa batas, indah sekali.

Negeri yang berpusat di Soasio yang luhur, dengan kearifan lokalnya dan beragam kulinernya pun disajikan di acara “ngofa tidore” di Fola Barakati kemarin itu. Menu-menu inilah, yang memanjakan lidah, khas kepulauan. Kue dengan bahan rempah yang bercitarasa tinggi.

Camilan khas Tidore disajikan untuk semua yang hadir di Fola Barakati.
Makan siangnya, beramai-ramai dan penuh kekeluargaan. Menunya, Kuliner Tidore yang sarat makna, tak hanya soal rasa.

Cengkeh dan Pala merupakan hasil bumi yang hanya ada di Kepulauan Maluku terutama Tidore dan Ternate. Bahkan, melebihi harga emas. Di Sungai Efrat, pusat peradaban Mesir Kuno, Giorgio Buccellati menemukan wadah yang berisi benda seperti cengkeh, dan itu hanya ada di kepulauan Maluku.

The Island of Spices (pulau rempah-rempah), ini lah yang membuat perjalanan Columbus, Vasco da Gama dan navigator Eropa lainnya menembus samudra demi menemukan “Maluku” sumber utama dari rempah yang ada di India. Negeri yang membuat Columbus mengira Amerika adalah “India” dan Vasco da Gama yang terlambat mengetahui kalau India bukanlah tempat rempah bermula, tapi di negeri lebih jauh di timur.

Selain kekayaan hasil bumi, Tidore juga surga pemandangan alam yang memanjakan mata maupun bawah air. Ibarat aquarium tanpa batas, kita dapat melihat keanekaragaman hayati di laut dengan beragam spot snorkeling dan diving. Pemandangan alam pegunungan, air terjun dan hijaunya hutan, membuat kombinasi Hijau dan Biru yang harmoni.

Fola Barakati
Peta wisata di Pulau Tidore dan Sekitarnya. Bikin Mupeng kan? (Foto by Ngofa Tidore)

Selain itu, spot sejarah seperti museum, benteng, kedaton kesultanan, dan juga beragam corak budaya lokal yang pasti sangat menarik diabadikan dan dijadikan pengalaman kearifan lokal yang kaya. Ini, gue banget, dan pasti, kamu banget kan?

Kekayaan dan keindahan alam Tidore juga dipotret dalam kesan yang mendalam, yaitu pada selembar uang kertas Rp 1000 loh. Coba cek, disana ada Maitara dan Tidore! Ikon keindahan alam Tidore yang diakui dunia dan telah menjadi kebanggan kita semua.

Ini dia, pemandangan asli dari gambar pada uang seribu rupiah! Insya Allah bakal siapkan satu lembar uang seribu, khusus untuk foto disini kalau ada rejeki kemari! (foto : mas barry kusuma/kompas travel)

Hmm, kalau ke Tidore, pastinya mau berfoto dengan Uang Seribu Rupiah tersebut. Jadi, sekarang saya sudah menyimpan rapi uang seribu rupiah hehe, sebagai doa juga, dan nanti mau foto dengan uang kertas ini ah. Wajib! dan menantang juga, karena sudah ada uang kertas edisi baru, jadi berfoto dengan uang kertas seribu rupiah ini kayaknya bakal memorial banget deh!

Nah, pengen kan melihat dengan mata kepala sendiri? Yuk nabung! (foto : brilio.net)

Kalau saya tak sempat berkunjung kesana, karena sesuatu hal, intinya belum ada rejeki, minimal, si kecil, gadis pertama saya yang saya bawa ke Fola Barakati waktu itu, dapat berkata sama. Ayah, aku sudah ke Tidore!  Dan dengan bangga kusodorkan foto dia di Fola Barakati, Minggu, …. sekitar 20 tahun silam.

 

Membangun dan Membangunkan Tidore

Tulisan ini mungkin berbeda dengan tulisan saya sebelumnya mengenai wisata dan kuliner, karena tulisan ini masih berupa tulisan “event review” dan “teaser” alam wisata dan budaya Tidore yang keren.  Sudah jadi ciri khas, kalau kita melakukan perjalanan wisata, hasilnya yang akan kita bagi.

Selama saya belum ke Tidore, saya simpan dulu janji saya tiga tulisan berbeda soal Wisata Tidore dalam bentuk wisata sejarah/budaya, wisata alam, dan wisata kulinernya. So, doain saja ya mata ini bisa melihat tidore dan kaki ini bisa menjejaknya.

Ya, Membangun Tidore  memang tak bisa dalam satu dua tahun. Butuh waktu lama dan lintas generasi. Namun membangunkan potensi Tidore, bisa kita lakukan dengan cepat. Melalui tulisan, ulasan, perjalanan kesana, dan membaginya di Internet dengan beragam tulisan rekomendasi. Karena disinilah brosur promosi itu. Melalu media sosial, tulisan blog, dan foto-foto yang menakjubkan, kita bagi ke Dunia.

Seorang pemuda Tidore. Mengajak kita untuk @visit.tidoreisland karena banyak kekayaan luhur #tidoreuntukindonesia .. merdeka! #ngofatidore

Sebuah kiriman dibagikan oleh Unggul “R” Sagena (@unggulcenter) pada

Bahwa Tidore berperan dalam kancah internasional sejak lama, sudah diakui dunia. Karena itu, anak-anak Tidore harus bangga dan bangkit, tidak minder dan dapat berkarya sebaik mungkin dengan membawa nama sebagai “putera Tidore”. Kita pun, sebagai orang Indonesia, bukan hanya harus tahu Dimana Tidore, tapi juga harus bangga dengan peradabannya! Coba tengok gambar dibawah ini. Ini pengakuan dunia loh!

Yup! Ini contohnya “bukti pengakuan sejarah Tidore”. Game laris Europa Universalis IV, salahsatu kerajaan yang ada digame penjelajahan abad lampau itu adalah Kerajaan Tidore! lengkap dengan “perkiraan” sumberdayanya. (PS : lambang kesultanan Tidore itu aslinya bendera warna kuning, walaupun di game ini malah merah, seperti pada laman konten. Karena setting games yang dimulai pada masa pra-kesultana, plus tak ada data detil tentang Tidore. Jadi, biar seru saya tambahkan saja).

Mungkin, selain menuntut ilmu setinggi mungkin dan kembali membangun Tidore, juga dengan beragam promosi kebudayaan Tidore kepada khalayak. Lagi-lagi, media sosial dan internet dapat menjadi media promosi yang layak.

Misalnya, helatan musik dan tarian Tidore dengan memanfaatkan anjungan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai “below the line” dan membuat konten-konten menarik soal Tidore, mulai wisata sejarah budaya serta keindahannya di blog, instagram, videoblog dan sejenisnya sebagai “above the line” agar Tidore dikenal lebih luas.

Fola Barakati
Contoh kontribusi anak-anak muda Tidore dan semua pihak yang turut membantu, melalui acara-acara dan konten positif untuk memajukan pariwisata Tidore maupun menjaga budaya luhur Tidore. Keren!

Ya, itu salah satu pesan-pesan yang saya catat. Sebab, pada kesempatan Blogger Gathering di Fola Barakati pada waktu itu, Sultan ke-37 Tidore, Haji Husain Sjah, memberikan informasi mengenai sejarah Tidore yang terpatri di ingatan sejarah dunia sebagai tempat terbaik dunia untuk hasil rempah-rempah, dan perjuangan melawan kolonialisme yang gigih.

Sultan memotivasi kita semua, menyambut gelaran lomba visit tidore

Misalnya oleh Sultan Nuku (1780-1805 M). Sultan Nuku mampu menyatukan Ternate dan Tidore untuk bersama-sama melawan Belanda yang dibantu Inggris. Belanda kalah serta terusir dari Tidore dan Ternate dan pada masa itu, berbuah kesejahteraan masyarakat. Juga, memotivasi generasi muda Tidore agar bangkit dan membangun Tidore berbekal ilmu dan intelektualitas bersendikan keagamaan yang kuat “negeri seribu kearifan” sebagaimana tradisi Tidore.

Hadir pula dari tokoh-tokoh Tidore yaitu Walikota Tidore Kepulauan, Capt. Ali Ibrahim, “Jojau” atau Perdana Menteri Kesultanan Tidore, Amin Faruq dan Sastrawan dan Budayawan Tidore, Sofyan Daud. Dikupas mengenai sejarah, tradisi serta pariwisata Tidore yang sungguh aduhai. Sekda Kota Tidore Kepulauan, M. Thamrin Fabanyo dan Kadis Pariwisata dan Industri Kreatif Kota Tidore Kepulauan, Yakub Husain melengkapi unsur pemerintah Tidore.

Sedangkan saya, dengan tulisan blog ini mengabarkan pengalaman “awal” bersentuhan dengan budaya Tidore di Fola Barakati, Depok, beberapa waktu lalu, dan, nanti jika saya diberi kesempatan kesana. Di Fola Barakati ini, kembali bermula ingatan masa kecil tentang negeri unik nun jauh disana dengan sejarah panjangnya.

Sekarang, ingatan itu kembali, namun dengan gambaran pengetahuan pariwisata yang baru, dimana kita wajib memberitahukan kembali pada dunia! Ini, negeri Tidore, di Tanah Nusantara, Indonesia! #TidoreUntukIndonesia #TidoreUntukDunia !

Atau, nanti lagi, dengan seorang gadis kecil bungsu Ayah yang berkata, “Ayah, Aku sudah lihat gambar-gambar ini, dan masih indah, seindah waktu dulu ayah foto aku di gendongan sambil melihat foto-foto ini!”

 

Lagi asik melihat spot-spot diving indah di Tidore, diganggu, marah! Hihi ga mau kalah sama bapaknya antusias untuk @visit.tidoreisland #TidoreUntukIndonesia #ngofatidore

Sebuah kiriman dibagikan oleh Unggul “R” Sagena (@unggulcenter) pada

Tulisan ini selain dalam rangka review kegiatan di Fola Barakati, juga menginformasikan wisata Tidore, dan diikutsertakan dalam lomba blog Visit Tidore Island.

Comments

comments

29 thoughts on “Visit Tidore Island – Fola Barakati dan Keindahan Negeri Tidore yang Tak Lagi Tidur

  1. Asli ketawa sendiri baca Google suggest ttg menyarankan pencarian kata “tidur” saat mencari kata “Tidore” ….. Mbah Google gak belajar geografi sih he he ..
    Tapi postingannya bagus mas … setidaknya membuka wawasan dan pengetahuan ttg Tidore .. pengin jln2 juga kesana… tapi inget ongkos kyknya berat nehh ….

  2. wuaaaa. baru nyampai ternate. sayang sekali waktu itu tak sempat berkunjung ke tidore. kece banget. Memang pemandangan laut di timur jauh itu keren2 ya mas. Baru tahu kalau foto yang diuang seribu itu ada di tidore. Kirain itu gunung gamalama. aihh kudet. Musti beneran datang nih ke sana. semoga one day terwujud.

  3. waaa. baru nyampai ternate. sayang sekali waktu itu tak sempat berkunjung ke tidore. kece banget. Memang pemandangan laut di timur jauh itu keren2 ya mas. Baru tahu kalau foto yang diuang seribu itu ada di tidore. Kirain itu gunung gamalama. aihh kudet. Musti beneran datang nih ke sana. semoga one day terwujud.

  4. Pasti berbagai keindahan alam dan kenikmatan kuliner akan ada di kota ini. Beruntunglah yang memang dan berhasil menikmati keindahannya selama seminggu. Selalu ada banyak kejutan indah di kota kota yang ada di Indonesia

  5. Ternyata waktu itu datang ke Fola Barakati jg to mas?
    Aku waktu itu mau bawa suami dan anak2 eh hujan, yada maknya berangkat dewe ngojek hehe
    Semoga beresempatan ke Tidore ya 😀

  6. #TidoreUntukIndonesia

    Setuju!
    Indonesia yang kaya ini haruslah menjadi tuan di rumahnya sendiri.
    Jauh-jauh penjajahan.

    Saya baru tahu keindahan alam Tidore.
    Mashaallah.
    Pingin jugaaa ke Maluku.

  7. Ternate dan Tidore, bagi saya yang anak generasi 90an jelas sangat lekat dalam ingatan, apalagi di masa SD sampe SMP selalu dijelaskan dan diceritakan dalam mata pelajaran sejarah, soal perjuangan Sultan Nuku dan Sultan Baabulah dalam mengusir penjajah portugis..

    Jadi jangan heran, jika sisa-sisa bangunan masa portugis masih banyak yg berdiri kokoh dan menjadi cagar budaya bagi masyarakat tidore dan sekitarnya, sekiranya ini bisa menjadi semacam perjalanan melintas waktu, mengungkap sejarah, semacam wisata sejarah, untuk mengenalkan sejarah Tidore kepada dunia, khususnya anak muda Indonesia… Dan tidak hanya fokus pada keindahan alamnya..

    Jadi catatan penting, jika seandainya tulisan ini bisa dilampirkan ke gubernur maluku Utara, ya minimal pemkab Tidore utk lebih mempromosikan dan mensosialisasikan kpd dunia, utk berkunjung ke Tidore, semacam #visitIndonesia kan bisa diganti #VisitTidore atau minimal, pemprov malut bisa berkolaborasi dgn #VisitIndonesia agar nantinya Tidore dijadikan slh satu destinasi wisata Indonesia wilayah Timur selain Raja ampat :)))

    1. betul.. makanya saya juga memilih angle lain selain wisata alam saja. Tapi juga budaya dan sejarahnya. Juga motivasi untuk anak-anak Tidore tidak minder karena mereka juga punya sejarah gemilang.

  8. Woa, diakui sampai Eropa. Memang sih dulu jadi rebutan soal cengkeh dan alamnya. Semoga bs ke sana. Sukses buat lombanya

  9. Ternate Tidore, digandeng tapi beda. Alam Tidore indah banget yaaa. Jd mau mengenang Tidore lewat sejarah masa lalu. Utk ke sana nabung dulu deh

  10. Kenal Ternate dan Tidore sudah jelas bagiku sih ternginang buku sejarah zaman masih sekolah dulu. Sampai-sampai tidak pernah memperhatikan jika lembar uang seribuan yang mahahumanis itu adalah ilustrasi dari Tidore. Dan juga ada yang googling ‘Tidore di mana’ ini kok agak gemericik gitu ya. Hahahak. Semangat, Mbak. Semoga peserta lain kalah!

  11. Wah, banyak yang menarik ya ternyata di Tidore, saya belum sempet ke sana. Baru sampai Ternate, nyebrang ke Ekor, di Halmahera.

    Tapi, benteng, apalah itu namanya, di Ternate juga gak kalah klasik, loh.

    1. Iya emang dua pulau ini penuh benteng yang “keren” karena emang jadi basis dua kekuatan saling berebut pengaruh. Spanyol dan Portugis. Belakangan, Inggris dan Belanda tapi sempat ditendang jauh2 oleh Sultan Nuku.

  12. Saya sendiri masih sangat asing dg pulau kecil nan cantik ini. Terima kasih telah menulis tentang info tentangnya Mas Unggul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.