Kematian Balita dan Gizi Buruk di Papua FRI-WP Serukan Ketegasan!

http://www.unggulcenter.org/2018/01/30/kematian-balita-dan-gizi-buruk-di-papua-fri-wp-serukan-ketegasan/

Gizi Buruk di Papua, kembali menyeruak, dengan kasus kematian balita dan gizi buruk di Asmat, Papua dalam kurun waktu  4 bulan terakhir. Dalam konferensi Pers di Gedung LBH Jakarta, 30 Januari 2018, salah satu organisasi yang peduli akan nasib Papua, yaitu Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) menyatakan tegas, bahwa pada kematian balita dan gizi buruk di Papua sebagaimana yang terjadi di Asmat ini bukan lah “fenomena”.

Menurut Humas FRI-WP, Surya Anta, kasus kematian hampir 70 balita di Asmat karena penyakit campak dan gizi buruk merupakan bagian dari deretan kasus yang sering terjadi di Papua. 85 anak balita di asmat dengan kondisi gizi buruk mendapatkan perawatan intensif. Ada lima distrik di pedalaman yang terserang campak dan gizi buruk, yakni Swator, Fayit, Pulau Tiga, Jetsy, dan Siret.

Apalagi, dalam hampir lima tahun terakhir mencuat berbagai kasus kematian balita dan persoalan di beberapa daerah di Papua. Sejak november 2012 hingga februari 2013 sekitar 95 orang meninggal karena gizi buruk dan penyakit gatal-gatal, di kabupaten Tambrauw. Pada november 2015, sebanyak 41 orang balita meninggal di kabupaten Nduga.

Kemudian, dalam kurun pertengahan april hingga pertengahan juli 2017, 50 orang balita meninggal di kabupaten Tigi Barat, karena penyakit ISPA, campak, diare, dan disentri. Pada pertengahan juli 2017 sekitar 20 bayi meninggal karena berbagai penyakit dan gizi buruk di kabupaten Deiyai. Kemudian pada dua bulan terakhir, 23 balita meninggal di Pegunungan Bintan disebabkan gizi buruk.

Tentang gizi buruk di Papua, menurut Surya Anta, sebenarnya persoalan di Asmat sudah terjadi dalam kurun waktu 4 bulan terakhir,. Akan tetapi pemerintah Indonesia tidak sigap dalam menangani persoalan ini. Sementara, persoalan kematian balita dan gizi buruk sebenarnya sudah lama diberitakan sebagai salah satu persoalan kesehatan di Papua. Unicef, misalnya, pada tahun 2015, sudah mencatat angka kematian balita di Papua tiga kali lipat angka kematian balita di Jakarta atau sekitar 81 balita per seribu kelahiran. Dan pada tahun 2005, Oxfam, mencatat terdapat sekitar 69,883 jiwa yang menderita gizi buruk di Papua, dimana 58 orang diantaranya meninggal dunia.

Dalam sesi tersebut, FRI-WP menyayangkan sikap pemerintah Indonesia yang masih mengedepankan proyek-proyek investasi internasional yang tak mengedepankan kepentingan rakyat di Papua. Bahkan, berdampak pemaksaan perubahan pola hidup masyarakat adat hingga akhirnya berpengaruh terhadap daya tahan tubuh masyarakat akibat perubahan pola hidup dan perubahan lingkungan. Di beberapa kasus memunculkan macam-macam penyakit seperti Ispa, gatal-gatal, dsb.

Untuk itu, dengan tegas FRI-WP mendesak Pemerintah Indonesia untuk bersikap dan berbuat dalam kasus kematian balita dan gizi buruk di Papua ini untuk:

  1. Bentuk tim penyelidikan independen yang melibatkan lembaga-lembaga kesehatan internasional dibawah PBB terkait penyebab menyebarnya berbagai penyakit dan gizi buruk di berbagai daerah di Papua.
  2. Mengirimkan tenaga medis dan obat-obatan.
  3. Membangun infrastruktur kesehatan.
  4. Membangun sekolah-sekolah kesehatan (Kedokteran, Keperawatan, Kebidanan, dsb) serta laboratorium-laboratorium pengembangan obat-obatan.

Problem gizi buruk dan kematian balita, merupakan fakta sejarah yang tak bisa dipisahkan dari faktor penjajahan dan kepentingan modal internasional. Selain itu, secara politis, FRI-WP memang mengemukakan persoalan hak menentukan nasib sendiri sebagai bagian dari kampanye organisasi tersebut secara khusus.

Apalagi, “Pemerintah Indonesia telah mengambil sedemikian banyak dari kekayaan alam rakyat dan bangsa Papua dan memberi lebih sedikit”, demikian pernyataan Surya Anta mewakili FRI-WP.

Bagi kita, apapun itu, mari dorong pemerintah untuk berbuat lebih, tidak hanya memanfaatkan kekayaan alam Papua. Kita, solidaritas untuk Papua, Saudara kita, Pasti!

Comments

comments

19 thoughts on “Kematian Balita dan Gizi Buruk di Papua FRI-WP Serukan Ketegasan!

  1. Sedih bgt kmrin dengernya, di hari gizi nasional, tp masyarakat Indonesia justru banyak yg kekurangan gizi. Pemerintah musti kerja keras memperhatikan soal gizi masyarakat gini ya

  2. Sedih kang bacanya, tapi semoga ini menjadi pembelajaran dan mencetuskan pembangunan infrastruktur dan pendukungnya di kawasan Papua. Semoga nanti tidak ada yang daerah yang tertinggal di kemudian hari.

  3. Butuh keseriusan untuk pembangunan daerah..
    Pemerintah juga harus jeli melihat masyarakat..dan bisa membantu mereka..seperti orang pilih janji.

  4. Sedih deh sama keadaan di Papua 🙁 keadaan di sana benar-benar memprihatinkan.
    Semoga bantuan segera secepatnya datang. Akses di sana juga gak mudah.
    Semoga tenaga kesehatan diberi kekuatan untuk membantu masyarakat papua di sana.

  5. rasanya memang benar miris banget ya mas, ketika sumber daya alam di papua sana di gerus habis-habisan tapi justru masyaraktnya gak dapat apa-apa malah banyak yang kekurangan gizi seperti ini

  6. Cukup sedih sih sebenarnya melihat permasalahan yang ada di Papua itu. Tapi, mau bagaimana lagi, ada dokter yang mau bekerja di sana, malah dibohongi juga, ini aku dengar dari sebuah insider yang juga pernah kerja di Papua. Padahal, katanya mereka diimingi dengan gaji yang besar. Tentu, jika ada dokter yang benar-benar ingin bekerja di sana, mereka pasti akan berpikir-pikir lagi dalam beberapa hal. Susah sih, apalagi gizi buruk ini tentu perannya segala macam tenaga kesehatan, baik itu dokter, perawat ataupun kader kesehatan juga.

  7. Sebagai orang yang bekerja di ranah kesehatan, aku juga cukup sedih mendengar fakta bahwa gizi buruk masih menjadi masalah besar buat Papua sekarang ini. Tapi, baru-baru ini, aku juga dengar bahwa ternyata tenaga kesehatan di Papua sendiri, kayak dokter di sana justru terkesan “dibohongi” sama mereka. Katanya, dijanjikan akan dapat gaji mahal, taunya ada yang bahkan 2 bulan aja belum dibayar sama pemerintah Papua. Entah, siapa yang harus disalahkan dari peristiwa ini, tapi perlu ada diskusi duduk manis antara semua yang bertanggung jawab.

  8. Informasinya cepat menyebar ya. Emang miris sih tapi emang karena lokasinya susah dijangkau sih ya. Tapi karena memang jadintanggung jawab pemerintah mau ngga mau harus bisa diselesaikan sebaik mungkin dan sesegeranya

  9. Aku liat berita ini di TV
    Sedih jg dengernya krn msh byk anak yg kena gizi buruk. Semoga pemerintah segera ngasih solusi ya hingga anak2 bs tetap tumbuh dg baik

  10. Sayang sekali, pemerintah kurang cepat menanggapi permasalahan yang terjadi di Papua, sehingga banyak anak-anak yang menjadi korbannya.
    Padahal negara ini sudah mengambil banyak keuntungan dari daerah Papua, kenapa masyarakatnya masih kekurangan gizi?? Hiks…miris, ya…

  11. Sedih memang, pembangunan di perkotaan gencar sekali sementara di daerah seperti agak kurang diperhatikan. Alhasil masih banyak anak-anak yang harus menderita karena terkena gizi buruk. Papua contohnya. Padahal papua kan kaya banget ya alamnya, tapi masyarakatnya justru banyak yang enggak sejahtera kehidupannya 🙁

    Semoga pemerintah lebih sigap lagi dalam menangani permasalahan yang terjadi, khususnya gizi buruk ini karena sudah ada korban yang berjatuhan

  12. Sedih rasanya kalau dengar atau baca berita mengenai kasus gizi buruk di Papua. Semoga para tim medis dan sukarelawan bisa efektif terjun langsung untuk mengurangi dampak gizi buruk di sana.

  13. Iya neh setuju banget pemerintah kurang sigap, pembangunan hanya di kota besar saja biar kelihatan indonesia itu wah, padahal banyak banget yang harus dibenahi, penting pemerataan pemvangunan di segala bidang jadi enggak ada lg bayi kurang gizi

  14. Rasanya ikut sedih karena fasilitas sama sekali belum merata apalagi ke saudara kita yang jauh di sana. Kesehatan harusnya menjadi perhatian yang utama. Kemarin banyak sih organisasi atau komunitas yg menginisiasi bantuan untuk Papua, semoga dengan mereka sedikit terbantu daripada menunggu.

  15. Astagrfirullah

    Sedih mas baca berita ini, jujur hampir mewek. Tapi aku gagal paham, ini kasus berarti terjadi sudah dari lama kok seperti tidak ada tindakan dari mayarakat papua dan pemerintah. Apa yang salah?

  16. Terus terang, sedih baca berita ini. Bagaimana dengan puskesmas di sana? klinik? Nggak kebayang deh. Gizi buruk memang harus ditangani dengan serius, pengobatan nya pun nggak cepat. apalagi kalau berbicara tentang sanitasi terkait diare dll… hiks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.