Cangkul vs sepatu Pantofel: Simbol Dinamika Para Pria Pekerja

http://www.unggulcenter.org/2018/02/26/sepatu-pantofel-pria-bekerja/

Sepatu Pantofel. Hmm, pembaca UC, mungkin ingat, akhir-akhir ini, di media sosial sempat viral sebuah postingan dari akun konsultan keuangan. Ada seseorang berpenghasilan 27juta/bulan tapi tidak memiliki tabungan. Apa sebab? Nah, setelah diaudit, dari kartu kredit ternyata orang tersebut bisa menghabiskan sebagian besar uangnya di kedai kopi ternama. Wah, hal ini menjadi bukti bahwa budaya konsumtif melekat begitu kuat pada masyarakat tanpa pandang bulu, dari mulai masyarakat bawah hingga kelas atas. Kondisi ini berbanding terbalik dengan era penjajahan dulu pastinya yang makan aja sulit nabung aja dibawah tiker.

Nasib pengguna sepatu pantofel di masa penjajahan

Soal masa penjajahan, terutama era pendudukan Jepang di Indonesia sekitar tahun 1942-1945, kehidupan rakyat Indonesia sangat menyedihkan. Laki-laki pada masa itu diwajibkan untuk mengikuti kerja paksa atau dikenal dengan romusha. Mereka diperlakukan dengan kejam dan tidak manusiawi. Hayo baca lagi buku sejarah ya!

Selain itu, makanan, pakaian, obat-obatan dan kebutuhan lain menghilang dari pasaran. Sehingga masyarakat harus berebut makanan untuk tetap hidup. Pakaian yang dipakai oleh para lelaki pun hanya sebatas kain goni. Jangankan berpikir untuk memakai alas kaki layak seperti sandal atau sepatu pantofel, mereka rela hanya bertelanjang kaki. Miris memang, tapi begitulah keadaan pada saat itu.

Kebiasaan bertelanjang kaki merupakan kebiasaan masyarakat bawah hingga para bangsawan. Sampai akhirnya pada akhir abad 19 atau awal abad 20, masyarakat kalangan atas mulai tersentuh modernisasi dari Barat. Mulai dari gaya hidup, pendidikan juga fashion yaitu salah satunya adalah budaya menggunakan alas kaki. Sepatu berbahan kulit atau pantofel saat itu terbilang mewah. Pantofel hanya dipakai oleh para bangsawan.

Kehadiran sepatu dalam kehidupan masyarakat masa itu memunculkan pekerjaan baru yaitu pembuat sepatu ataupun orang yang mereparasi sepatu. Saat ini mungkin kita mengenal tukang sol sepatu. Tukang sol sepatu sebenarnya sudah lama loh, sebuah pekerjaan yg telah ada sejak masa lampau yang menandai perkembangan budaya masyarakat.  Namun kini siapapun bisa memiliki dan menggunakan pantofel.

Beda jaman. Saat ini sepatu pantofel bak hama yang ada di setiap toko alas kaki

Saat ini sepatu pantofel akan mudah kita jumpai di pertokoan, mall hingga toko online. Umumnya alas kaki ini berbahan dasar kulit dengan model formal sehingga biasa dipakai untuk keperluan menghadiri acara resmi. Sepatu ini umumnya dikenakan oleh pegawai kantoran atau guru. Sehingga pasarnya tidak terlalu luas. Peminat sepatu pantofel memang cenderung stabil, tidak menurun drastis ataupun kenaikan signifikan. Barangkali karena modelnya begitu-begitu aja, sehingga penjual harus lebih berinovasi dari segi modelnya agar lebih variatif.

Kisaran harga pantofel memang lumayan mahal, terutama produk berbahan kulit asli. Tentu saja harganya sesuai dengan kualitas yang dimiliki. Namun, bukan rahasia lagi kalau masyarakat Indonesia selalu menjadi sasaran empuk para produsen barang imitasi. Alasannya bisa sangat beragam, salah satunya karena pertimbangan harga. Banyak konsumen lebih memilih barang tiruan dengan harga lebih murah karena ingin gaya saja biar kekinian dan mengikuti trend, betul gak?

Fenomena produk tiruan sudah amat memprihatinkan

Fenomena maraknya penggunaan produk tiruan ini sudah sampai di tahap memprihatinkan. Memang sih melihat penghasilan rata-rata masyarakat, ditambah kebutuhan yang semakin meningkat, barang tiruan ini punya harga yg lebih bersahabat. Sayangnya kesadaran pengguna barang tiruan tidak sampai pada pertimbangan kualitas. Barang-barang tiruan akan cepat sekali rusak, artinya pembeli harus mengeluarkan kembali uang untuk produk yang sama dalam waktu singkat.

Mindset pasar Indonesia terhadap nilai karya memang harus diubah, menurut UC,  daripada membeli barang tiruan, lebih baik beli karya original lokal. Produk lokal sering dipandang sebelah mata karena kualitasnya sering diragukan. Padahal ada banyak brand lokal yang telah merambah pasar internasional. Sebut saja brand Sabbatha, Peter Says Denim, Nilou, atau Bagteria yang sudah menembus pasar luar. Bahkan produk mereka lebih diakui dan dikenal oleh orang luar daripada di negeri sendiri. Beberapa di antaranya bahkan jadi brand favorit selebritis dunia. Keren kan?

Lagi pula, ada banyak keuntungan ketika kita menjadikan produk lokal sebagai pilihan loh. Diantaranya, kita akan mendapatkan kualitas produk yg sudah tidak diragukan lagi. Selain itu, kita juga ikut membangun perekonomian dengan mendukung pengrajin handmade lokal.

Jaman sudah merdeka. Para pria berhak memilih sepatu pantofel sesuai selera!

Yes! Makna merdeka untuk saat ini bukan hanya merdeka secara institusi. Kini, para pria berhak memilih sepatu pantofel sesuai selera. Pria saat ini juga bisa tampil unik, independen dan beda dari yang lain dengan memilih barang handmade. Itulah sebabnya barang handmade punya tempat sendiri di hati penggemarnya. Karena produk handmade dibuat satu persatu oleh pengrajinnya sehingga setiap produknya unik dan tak ada tiruannya.

Nah, kalau kamu juga ingin ikutan tampil unik dengan sepatu pantofel handmade, ada banyak brand lokal yang menjual produk di Qlapa.com. Misalnya, brand Hello Viola asal kota kembang atau Ostha Indonesia yang mendesain sepatu pantofel formal sekaligus kasual. Coba juga brand Gig Shoes yang membuat keseluruhan komponennya secara handmade hingga ke bagian sole. Bagi penyuka pantofel berdesain unik, merek KYO adalah pilihan tepat.

sepatu pantofel
Sepatu Pantofel yang berkualitas baik bisa kamu temukan disini. Kamu juga bisa filter kebutuhan di-ceklist aja bagian kiri. Mayan, saya juga ketemu apa yang saya inginkan nih di qlapa.com !

Tunggu apa lagi? Inilah saatnya memerdekakan dirimu untuk memilih barang terbaik dalam melengkapi style-mu, dan kita dukung dong produk lokal yang memang berkualitas!

Comments

comments

19 thoughts on “Cangkul vs sepatu Pantofel: Simbol Dinamika Para Pria Pekerja

  1. Saya suka laki-laki bersepatu pantofel, sangat berkharisma,menghargai diri sendiri dan pekerjaannya. Sayangnya suamiku ga bisa diajak dandan rapih… Hehehe

  2. Mending gitu deh.. Daripada pake produk imitasi, mending pake produk dalam negeri,kualitasnya udh bgs kok.. Dan ogah ya.. Yg imitas imitasi heheheh…

  3. dulu pantofel identik sama sepatu bapak bapak… tapi sekarang anak anak muda bisa bergaya pake pantofel

  4. Wah hrs infoin ke suami nih klo ada brand lokal yang oke utk pantofel. Krn selama ini suami cm percaya sm brand pantofel dari luar.

  5. Ooo ada ya ecommerce khusus penjual sepatu fantofel. Pantofel lebih mahal emang dari jenjs sepatu lainnya, apalagi pantofel kulit. Sebenernya fantofel itu dari bahasa mana yak 🙄

  6. Ooo ada ya ecommerce khusus penjual sepatu fantofel. Fantofel lebih mahal emang dari jenjs sepatu lainnya, apalagi pantofel. Sebenernya fantofel itu dari bahasa mana yak 🙄

  7. Sepatu pantofel adalah sepatu yg paling dihindari oleh suamiku. Gak tau tuh kenapa, dia paling gak suka. Padahal aku suka bgt liat cowo pakai pantofel.

  8. Sekarang banyak brand lokal dengan kualitas bagus dan harga lebih miring. Beberapa kali, aku beliin suami, sepatu brand lokal dan awet bertahun-tahun….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.