Menguak Kontroversi Pembalut dan Pantyliner Mengandung Zat Berbahaya

https://www.unggulcenter.org/menguak-kontroversi-pembalut-dan-pantyliner-mengandung-zat-berbahaya/

“Terus, Pakai Apa Dong yang Aman?” Share status dengan kebingungan, itulah salah satu ungkapan spontan perempuan yang menemukan berita mengenai 9 Pembalut dan 7 Pantyliner yang ternyata mengandung zat berbahaya. Tentu, karena pembalut urusan sensitif, merupakan urusan “hajat hidup perempuan” banyak.

Berita yang menghebohkan ini adalah  temuan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) bahwa ada daftar pembalut dan pantyliner yang mengandung klorin yang berbahaya bagi kesehatan. Detik Health melansir bahwa menurut  Ilyani S Adang, Anggota Pengurus Harian YLKI, “Dari 9 merek pembalut dan 7 merek pantyliner, semua mengandung klorin dengan rentang 5-55 ppm (part per million)”.

YLKI Pembalut Klorin Berbahaya Kanker

Benarkah?

Kementerian Kesehatan, langsung merespon agar tidak dianggap kecolongan. Ternyata, sebagaimana dimuat di SINDO, menurut Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Dra Maura Linda Sitanggang Phd, Apt, semua produk yang dikatakan YLKI mengandung klorin dan berbahaya, sudah lolos semua uji keamanan, mutu dan kemanfataan produk  dari laboratorium yang terakreditasi.  Dan uji ini dilakukan secara berkala melalui sampling dan pengujian ulang.

Ditegaskan pula, sebagaimana bahwa pembalut wanita termasuk alat kesehatan dengan resiko rendah yang mendapat izin. Sebelum berita Merdeka online,  semua merk yang beredar di pasaran, termasuk pembalut wanita harus teruji mutunya. Itu sudah sesuai dengan UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, di mana produk dengan resiko rendah hanya memberikan dampak minimal terhadap kesehatan pengguna.

Kementerian Kesehatan mengharuskan setiap pembalut wanita memenuhi persyaratan sesuai dengan SNI 16-6363-2000 tentang pembalut wanita terhadap daya serap minimal 10 kali dari bobot awal dan tidak berfluoresensi kuat.  Kadar yang rendah itu memang berisiko rendah sehingga mendapat ijin.

Intinya, Sembilan merek pembalut dan tujuh merk Pantyliner yang sudah memiliki uji edar, uji mutu dan dapat ijin tersebut sudah layak. Jadi Masyarakat, ditegaskan Maura, tak perlu heboh.

 Berikut ini daftar 9 merk pembalut dan 7 pantyliner tersebut :

Pembalut:
1. Charm, kandungan klorin 54,73 ppm
2. Nina Anio, kandungan klorin 39,2 ppm
3. My Lady, kandungan klorin 24,44 ppm
4. VClass Ultra, kandungan klorin 17,74 ppm
5. Kotex, kandungan klorin 8,23 ppm
6. Hers Protex, kandungan klorin 7,93 ppm
7. Laurier, kandungan klorin 7,77 ppm
8. Softex, kandungan klorin 7,3 ppm
9. Softness Standart Jumbo Pack, kandungan klorin 6,05 ppm

Pantyliner:
1. V Class, kandungan klorin 14,68 ppm
2. Pure style, kandungan klorin 10,22 ppm
3. My Lady, kandungan klorin 9,76 ppm
4. Kotex Fresh Liners, kandungan klorin 9,66 ppm
5. Softness Panty Shielder, kandungan klorin 9,00 ppm
6. CareFree Superdry, kandungan klorin 7,58 ppm
7. Laurier Active Fit, kandungan klorin 5,87 ppm

Bingung?

Mari kita telusuri lebih lanjut.

Motif apa?

YLKI, ternyata menyarankan perempuan di Indonesia memakai pembalut kain. Yang bisa dicuci berulang-ulang. Hmm.. “Zat klorin tidak ditemukan dalam pembalut kain. Selain itu, pembalut kain juga bisa dipakai ulang dan dicuci kembali. Tingkat keamanannya jangka panjang,” ungkap Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI, sebagaimana dilansir SINDO.

hoax-pmblt-3

Selain itu, masih menurut Tulus, penggunaan pembalut tidak ramah lingkungan karena menjadi sampah.  Oke, jadi ada isu lingkungan. Masuk akal, timbunan pembalut yang sulit terurai? atau, memampetkan toilet umum restoran? bisa jadi ya. Eniwei, ini saya sebagai lelaki dan pencinta lingkungan sih, sepertinya sepakat. Tapi tidak juga menjadi pembenaran apabila urusan klorin ini bohong.

Lalu, Apakah Klorin dilarang? Ternyata tidak. Digunakan sebagai pemutih. Pembalut, sebagaimana umumnya, memang berwarna demikian. SNI (Standard Nasional Indonesia)  juga memang tidak mengatur produk-produk itu bebas klorin atau tidak, tapi kualitas produknya dalam pasaran nasional dan internasional untuk ekspor.

Untuk itulah, kemudian YLKI memberikan alasan lain. “Kita mendorong SNI agar memasukkan klorin sebagai salah satu persyaratan,” kata Tulis Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI seperti kutipan Detik. Mengapa tiba-tiba ke SNI? karena SNI memang tidak menilai tentang lingkungan. Tapi kualitas sebuah produk. Tidak mudah rusak, aman dan seterusnya. Hal ini cocok juga dengan hasil uji produk ke Kementerian Kesehatan. So, SNI dalam hemat saya, tidak ada masalah di produk-produk “terkenal” yang ada di list tersebut. Pastinya sudah SNI dong.

Mengapa tidak dilarang? Karena Permenkes RI No 472/1996. Ini yang jadi dasar YLKI melakukan pengujian. Padahal, peraturan tersebut mengatur pelarangan penggunaan zat klorin untuk makanan dan obat-obatan. Pembalut apakah termasuk dua kategori tersebut?

Butuh alasan lain?

Salah satu alasan lain yang mengenai klorin adalah, menurut Ilyani S Adang, “Kandungan ini, dalam jangka pendek bisa memicu iritasi pada kulit di sekitar kemaluan. Sedangkan dalam jangka panjang, akumulasi dampaknya bisa memicu kanker rahim dan gangguan fertilitas atau kesuburan.”

Wah, sepertinya dalam jangka pendek, tidak pernah ada info mengenai klorin membuat iritasi. Ada juga pemakaian alias behavior pengguna. Menurut dokter Laksmi via Detik health, tips pemakaian pembalut seperti sering diganti dan menaruh tissue bisa membantu hilangkan kendala ini.

Dalam jangka panjang? Mungkin saja. Tapi kembali lagi, Kementerian Kesehatan menyatakan semua lolos uji. Kekhawatiran terhadap klorin pada pembalut yang menyebabkan kanker tidak beralasan, karena semua pembalut yang beredar di pasaran memenuhi syarat keamanan, mutu, dan kemanfaatan serta dilakukan pengawasan rutin.

Hasil pengawasan Kemenkes dilakukan sejak 2012 hingga saat ini 2015. Sedangkan YLKI melakukan uji sejak desember 2014. Begitu infonya. Kemenkes bahkan menantang YLKI untuk membuktikan dan klarifikasi penelitian mereka.

klarifikasi kementerian kesehatan tentang pembalut berbahaya klorin
klarifikasi kementerian kesehatan tentang pembalut berbahaya klorin

Setelah ditanggapi, muncul pula alasan lain. Tak hanya soal klorin. Yaitu beberapa merk pembalut tidak mencantumkan tanggal kedaluarsa. Beberapa menggunakan kode registrasi dari Dinas Kesehatan, yang merupakan kode lama yang tak dipakai lagi. Ini keterangan dari Arum Dinta, peneliti YLKI yang melakukan riset tentang pembalut dan pantyliner sejak Desember 2014.

Bahkan ketika rilis pemberitaan ini, media daring detikcom yang mencoba mengonfirmasi kepada produsen perihal rilis YLKI ini menemui hal yang berbeda. Misalnya,  PT Softex Indonesia melakukan uji ulang pada produk Softex Deluxe Maxi Wing dan Softex Ultra Maxi Wing, keduanya memberikan hasil negatif.

Lalu, mengapa masuk dalam list? dan mengapa baru sekarang, di momen ramadhan? mengapa alasannya banyak, tak hanya klorin?

Saya melihat ada sebuah upaya untuk mengajak meninggalkan penggunaan pembalut yang ada di pasaran saat ini. Karena berbagai alasan. Pertama, dari berita iu sendiri, faktor lingkungan. YLKI mungkin banyak aktivis lingkungan kali ya. Kedua, faktor penganjuran untuk memakai pembalut kain yang dicuci. YLKI sendiri dalam kesempatan mengajak konsumen memakai pembalut model ini sehingga tidak membeli. Ketiga, mungkin, faktor relijiusitas. Dari komentar-komentar pun bisa kita terka, rada “Islami” kalau ngga pakai pembalut. Karena jaman Rasulullah, ngga ada pembalut, oke fine, ini personal sekali. Jadi momennya pun tepat. Keempat, ada merk lain yang bermain. Tentu, kita akan menebak merk yang tak masuk ke dalam list.

Apabila YLKI benar, maka Kementerian Kesehatan perlu menindak tegas produsen. Ada tindakan korektif. Bukan solusi apabila pembalut harus ditinggalkan beramai-ramai. Dan malah bikin chaos, apabila di-lead oleh pemerintah terkait. Dan agak sulit saya rasa. Juga, banyak konsumen yang keberatan. Itulah mengapa, perlu kontrol dan perlu klarifikasi seperti apa masalahnya dan apa solusinya yang terbaik.

pembalut mengandung klorin

pembalut kain

Siapa yang perlu diikuti?

Terserah anda. Jika merasa nyaman dengan pemakaian pembalut kain go ahead. Jika di satu sisi lain, wanita pekerja kantoran misalnya, khawatir dengan pembalut kain dan merasa nyaman dengan pembalut biasa yang bisa dibuang dan nggak “takut bocor” silakan juga.

Yang dipermasalahkan adalah, kandungan klorin pada pembalut, apakah ada apakah tidak, nanti dibuktikan. Jika ada, apakah pada taraf berbahaya. Kemenkes pun meminta YLKI dapat melakukan pengujian kadar klorin pada pembalut wanita secara detail wujud dan senyawa kimia yang ditemukan. Karena mereka mungkin heran juga, sudah dari 2012 fine-fine aja kok ada rilis kayak gini. Menurut berita daring Merdeka, pada saat jumpa pers, Kemenkes menegaskan klorin di pembalut itu aman, rendah dan tidak berisiko tinggi terhadap kesehatan.

pembalut klorin aman

Yang pasti, klorin jika untuk pemutih memang benar adanya. Di produk pembalut dan pantyliner dalam list YLKI, bisa jadi memang ada. Namun kadar rendah itu tak berisiko panjang menjadi penyebab kanker seperti digembar-gemborkan di media massa. Dan pelarangan klorin, memang hanya untuk obatan dan bahan makanan. Disitu peraturan kita yang tidak ada. Kalau YLKI memprotes SNI dan Peraturan Permenkes, dan bisa jadi kalau itu benar, benar berbahaya maksud saya, kita pun dukung.

Dengan adanya standard baru dan pengawasan dari Kemenkes, produk-produk dalam list bisa berbenah diri hasilkan kualitas baru, bukan untuk ditinggalkan oleh konsumen dan beralih ke menspad dan lain-lain yang kain. Kita toh belum lihat penelitian bahwa pakai pembalut kain yang berulang-ulang dicuci, apakah ada dampak kesehatan atau tidak. Who knows. Yang pasti, apapun itu, mungkin ada cara lain, bukan membuat keruh masyarakat. Ada mekanismenya ada koordinasinya. Jangan berantem saling klaim karena itu merugikan banyak pihak dan membingungkan masyarakat.

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

1 Comment

  1. Iya, mas.. Setelah ada pemberitaan spt itu, saya lgsg cari2 infonya. Alhamdulillah c, selama pakai salah satu produk diatas yg ktnya ga aman krn mengandung klorin, ga pernah iritasi. Tergantung kita menjaga kebersihan sbnrnya. Pembalut sering diganti 2-4jam sekali. Atau klo sudah merasa lembab, cepat2 diganti. Makanya saya heran, kok baru sekarang ya beredar topik tsb?? – _-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.