Pengalaman naik Kereta Api, dan membeli tiket kereta api dulu dan sekarang memang beragam. Kali ini, Saya ingin berbagi, sekedar baper kecil-kecilan hehe.. Saya perantauan dari Sumatera. Saat ini, saya bekerja freelance di Bogor. Rata-rata di dunia digital dengan senjata laptop dan gadget. Cerita ini kisah nyata, betapa Kereta Api itu memiliki empat episode di kehidupanku yang disadari atau tidak, turut menjadi saksi perjalanan hidupku.
Episode Pertama. Tak Ada Pilihan.
Tahun itu tahun pelik. Reformasi baru saja terjadi. Rada ngeri merantau naik kereta api ke Pulau Jawa, karena katanya situasi tak menentu. Saat itu, saya ingin merantau, ingin berdikari. Alhamdulillah, tak banyak rintangan berarti, karena niatnya masuk perguruan tinggi negeri, dan isunya, yang ujian di Jawa bisa prioritas untuk 4 Perguruan Tinggi Negeri terbaik di Indonesia. Nah, ceritanya panjang, tapi saya skip aja, intinya, ujian masuk saya lalui, Alhamdulillah, lolos di universitas negeri di Jakarta. Yang ternyata, kampusnya di Depok.
Ke Pulau Jawa, naik kereta api untuk pertama kali, saya naik Limex dari Stasiun Kertapati Palembang menuju Lampung. Membeli tiket kereta api waktu itu harus ke loket. Lanjut naik travel ke pelabuhan Bakauheni dan menyeberang ke Merak. Naik bis lagi. Beberapa kali saya naik, tak nyaman. Asap rokok dimana-mana, tidur tak nyenyak. Karena ada yang tidur dibawah kaki saya, disela-sela bangku. Perjalanan dari jam 9 malam sampai jam 7 pagi baik dari Palembang ke Lampung atau sebaliknya, selalu saya lakukan ketika mudik ke rumah. Tak ada uang naik pesawat.
Jadi, saya pasrah saja ketika tas saya diambil orang ketika tidur di dalam kereta. Aneh, orangnya bisa masuk sembarangan ke peron. Bisa menggaet tas dan kabur ke tengah hutan. Itu terjadi pas saya naik dari Palembang ke Lampung. Melapor ke Polsuska (Polisi Khusus Kereta) di stasiun pun hanya dicatat. Sedih.
Bayangan saya soal kereta api, adalah bayangan ketakutan. Tak pernah kemudian, saya tidur lelap. Menjaga barang bawaan. Dengan tempat duduk yang rombeng, kipas angin yang panas, dan asap rokok dimana-mana serta pedagang asongan yang setiap saat dapat menjadi maling ketika kita lengah. Nyerah deh. Tak ada pilihan. Ini moda yang paling terjangkau dan mudah. Apalagi, rumah saya bisa ditempuh naik angkot satu kali saja dari stasiun Kertapati, Palembang.
Episode Kedua. Komuter dan Sumpah Serapah.
Kuliah di salah satu universitas di Depok, mau tak mau saya naik kereta. Kehidupan berkereta penuh sesak, penumpang yang membludak hingga atap kereta, dan copet serta pelecehan seksual sudah jadi pengalaman. Mau naik salah, mau turun susah. Tangan saya sampe berotot karena bergelantungan di pintu kereta, pada jaman itu.
Tiket kereta api yang saya alami dulu masih di-cekrek oleh petugas. Ada nomer tempat duduk, seperti saya naik perjalanan Lampung Jakarta. Namun disini, ternyata duduknya “ngasal”. Ada bentuk kartu, namanya “abodemen”. Dulu saya ngga ngerti, ngga beli tiket, kalau ditanya, tinggal bilang “Abu”. Saya pikir Abu itu nama orang. Ngikut-ngikut aja haha.. ternyata ga bayar. Bahkan banyak orang yang ngga beli, dengan kalkulasi kalau ketangkap toh tinggal bayar. Ini bikin kereta makin sesak, hingga ke atas atap kereta.
Sampai saya “bersumpah serapah”, ngga mau seumur hidup naik kereta, ngga mau bekerja dengan bermoda kereta commuter line. Serba ngga enak. Was was. Pengalaman hilang tas di kereta Lampung-Palembang pun juga berulang. Dompet hilang sudah pernah saya rasakan. Melihat orang maling handphone pun sering terjadi. Tapi apa daya komplotan itu lebih banyak dari saya. Ini titik nadir persepsi saya tentang kereta api. Transportasi ngga nyaman, kumuh dan sarat kejahatan.
Episode Ketiga. Kagum. Mungkinkah?
Pengalaman naik kereta api ini tak selesai. Lulus, saya berputar-putar saja di Kota Bogor. Ngga mau sering ke Jakarta karena terbayang soal kereta yang sesak. Mencari pekerjaan pun saya cari yang bisa naik motor. Saya dulu bekerja di Depok, namun saya tinggal di Bogor. Naik motor bolak balik memang berisiko, juga capek. Tapi saya lakoni karena membayangkan kereta pun sudah ngga mau.
Tibalah episode ketiga dalam hidup saya. Tiba-tiba saya mendapat beasiswa kuliah ke luar negeri. Di sebuah negara di eropa. Tidak serta merta sih, memang saya berjuang keras. Ini episode baru dalam hidup saya.
Belajar di Luar Negeri tentu tak hanya berkutat di kelas dan di depan laptop yang internetnya bikin mager (malas gerak) karena kencang dan tidak disensor (ah, ini tergantung niat kok. Mau buka apa, mau belajar atau apapun, itu terserah kita yang dewasa). Ya, tentu diisi dengan perjalanan travel di sela waktu luang, maupun ketika ada konferensi dan sejenisnya.


Naik transportasi publik, sudah jadi bagian hidup kami belajar di eropa dan luar negeri pada umumnya. Kesempatan menjajal kereta sangat terbuka. Di Jerman, Perancis, Skandinavia, bahkan ketika ke negeri Asia seperti Jepang,Thailand, dan Singapura, saya berkereta api. Judulnya subway, sky train apapun, macem-macem. Ada yang di-rel di jalanan, ada yang dibawah tanah, ada yang di “melayang di atas tanah”. Pokoknya ngga ada rodanya tapi mengandalkan rel hehe..
Tiket kereta api dibeli pada mesin-mesin yang ada. Berbeda dengan di Indonesia pada waktu itu. Ada tiket harian juga, ada tiket “Terusan” dan seterusnya. Membayangkannya, hemm tertib kalau di Indonesia seperti ini. Efisien pula. Tiap keluar stasiun, petugas ngga repot ngambilin tiket dan terbuang dijalanan.


Kagum dengan sistemnya, dengan modernnya dengan masyarakat yang menggunakannya. Selain fasilitas canggih, masyarakat yang disiplin, juga menjadi bagian dari gaya hidup modern. Yap, kalau kemana-mana bermobil itu masih kelas menengah bawah hehe.. Di Jepang apalagi, apa sih bedanya, kan sama-sama keretanya. Impor dari Jepang. Kereta yang sama. Namun “feel” nya terasa beda.

Kagum, dan cenderung sedih karena di Indonesia tak sebaik itu. Kadang, beberapa pelajar membandingkan akan kumuhnya kita dengan negara-negara ini. Tidak fair sih, tapi menyiratkan motivasi untuk kita bangkit. Kapan? Mungkinkah? Itu yang kita tidak tahu. Hanya memanfaatkan saja.
Episode Keempat. Transportasi Favorit!
Kembali ke Indonesia, ada yang berubah. Pengalaman naik Kereta Api saat ini menurut saya ternyata nyaris sebaik di eropa, atau beberapa negara asia yang kukunjungi, termasuk jepang dan thailand. Menuju kesana lah intinya modernisasinya. Supaya ngga kalah. Nyaman dan aman. Ini saya bicara kereta commuter line yang sudah modern. Pengembangan tentu perlu, misalnya pembuatan empat peron, atau jembatan penyeberangan underground dan jalur khusus diatas perlintasan agar tak banyak kemacetan terjadi ketika kereta lewat. Apalagi jika durasi kereta di perbanyak, akan menyulitkan pengendara mobil dan motor yang akan lewat di perlintasan. Macet pastinya kalau terlalu sering menumpuk akibat seringnya kereta commuter line lewat.
Tiket kereta api nya sudah canggih, ada mesin-mesin yang self service, dan juga kerjasama dengan bank untuk sistem cashless melalui kartu emoney dan sejenisnya. Bisa juga beli online dan ngga takut kehabisan karena pilihannya banyak. Keren!
Lalu, kereta antar kota. Yeay! Ini saya excited banget. Seumur-umur, merasa “ngeri” naik kereta antar kota. Ke beberapa kota di Jawa, saya ngga pernah naik kereta. Pesawat atau travel/bis. Namun, di satu kesempatan, yaitu ada presentasi studi di luar negeri oleh BEM Universitas Soedirman Purwokerto, saya dibelikan tiket kereta. Deg degan. Mengingat pengalaman pertama di episode kereta saya. Sangat tak nyaman.
Namun, semua berbeda. Mulai dari membeli tiket kereta api yang bisa dilakukan dimana saja, baik di toko online, situs kereta api, mini market. Tanpa calo lagi. Harga transparan. Kemudian, ketika tiba di stasiun, kita print sendiri tiketnya. Asyik banget.
Lagipula, ternyata Kereta sangat keren! bahkan saya yang takut di kelas ekonomi (waktu itu tiket gratis, panitia membelikan tiket gratis via kereta di kelas ekonomi) saya mau ganti saja dengan pesawat. Tapi, saya batalkan, karena ketika browsing, hmm kok beda ya. Benar, saya sangat suka. Nyaman, cepat!
Kami para delegasi mahasiswa yang studi di Luar Negeri merasa senang, dan merasa kalau Indonesia sudah lebih baik. Andai, orang-orang Indonesia pun menggunakan kereta sebagai transportasi utama (selain bersepeda) seperti di negara kami studi (khususnya eropa). Pergi naik kereta, pulang naik kereta.
Apalagi, eksplorasi banyumas, purwokerto, ke baturraden dan mencicipi kuliner lokal seperti sroto banyumas, mendoan dan tape goreng membuat kami semakin bangga dengan Indonesia. Para delegasi ini, termasuk saya, bukan yang tak pernah melanglang ke berbagai tempat wisata di dunia. Semuanya menarik, tapi saya rasa, kami rasa, eksplorasi alam Indonesia lebih menarik karena kita semua punya disini! Tak sabar ingin berkeliling Indonesia. Kalau bisa dengan kereta, dengan kereta tentu!

Energi Baru demi Episode Kelima
Setelah itu, saya seakan mendapatkan energi baru. Kesempatan berikutnya, Saya ke Yogyakarta naik kereta eksekutif untuk mengetahui rasa naik kereta lagi. Seperti sebelumnya, saya membeli tiket kereta api online saja. Komplit, semua asyik. Kalau siang hari, saya cenderung ekonomi saja. Santai, bisa mengobrol. Turun di Stasiun Senen, bisa naik apa aja. Kalau malam, saya eksekutif karena tujuan Gambir lebih mudah menyambung Commuter Line yang juga nyaman ke Bogor. Barusan, kembali saya antusias ke Pemalang, naik kereta api lagi. Kombinasi eksekutif pulangnya, namun perginya ekonomi. Biar merasakan semua.
Semoga semakin canggih, aman, nyaman dan menjadi moda transportasi pilihan terbaik masyarakat Indonesia!
Barusan suka banget sama foto stasiun KA nya…(baik yang di Eropa maupun di Jepang) dan disiplin adalah bagian dari gaya hidup yaa..
Dulu saya tahu kereta indonesia dr novel2 yg isinya pencopet, rusuh dll. Skrg kliatannya memang lbh baik ya
Blm berkesempatan naik kereta, pdhal pengen bgt. Kereta Indonesia semoga tambah baik pelayanannya
Wuah, mantap! Ada beragam episode dlm pengalaman naik kereta. Saya sendiri tinggal di Kalimantan, pengalaman naik kereta sangat minim.
Jadi inget dulu kalau mau ke rumah simbah pake kereta api. Iya, dulu kurang nyaman. Banyak orang yang tidur di kaki kita, banyak pedagang asongan yang masuk, banyak orang yang merokok, ah..pokoknya susah bernapas. Jadi kami lebih memilih naik mobil kalau mau mudik.
Tapi sekarang beda, kami meninggalkan kebiasaan naik mobil, lebih memilih naik kereta. Selain sekarang udah nyaman, naik keereta gak perlu capek-capek nyetir juga. he he he
Semoga makin ke depan transportasi yang satu ini, bisa semakin nyaman dan semakin banyak diminati orang. Supaya gak ada kemacetan ya…
Beda emang kereta dulu dan sekarang, jelas sekarang lebih bersih dan rapi bikin nyaman lama dikereta
iya skrg enak yak. nyaman!
Semuanya sudah berubah dan terus maju. Berkembang dan nyaman termasuk dengan segala kemudahannya. Kereta api Indonesia sudah berubah ya
yup, harus, karena kayaknya emang dibutuhkan oleh negara dengan penduduk banyak seperti Indonesia.
Masya Allah mas, emang naik kereta itu mengasyikkan. Pengalaman pertama aku naik kereta itu tahun 2010 waktu ada pelatihan di Semarang. Pas aku pulang ke Jakarta naik kereta, seolah-olah ada energi yang memaksaku untuk naik kereta. Apalagi, sekarang mau kelas apapun, kereta tetaplah mengasyikkan. Apalagi ditambah dengan segala pengalaman dan tentu saja ada colokan. Hahahahah
ah iya! skrg ada colokan! menarik n semakin mengasyikkan, ngga mati gaya kalau hp lobet hehe
Masya Allah mas udah Naik kereta di mana mana. Memang asik ya naik kereta, saya pun kalau pulang atau bepergian ke Jakarta selalu menggunakan kereta API… Yang di jepang itu sama gerbong beda rasa ya.hihi
yang pasti di gerbong yang di jepang, bisa norak mas hihi.. kalau di sini kan kalau norak diliatin. kalau disana gapapa namanya “turis”
naik kereta api memang menyenangkan.. AKu juga suka pake kereta.. Hanya beda banget sama KRL di Jepang apalagi di Eropa hahah
lama-lama nanti sama.. amin.!
Yang nomer 2 pasti engga enak tuh. Desek desekan naik keretanya. Terus commuter line di jepang feelingnya gmna tuh mas? Bedanya dengan disini? Hehe
beda wkwkwk.. rasa-rasa nonton .. ah ngga usah diterusin wkwkwk..