PROLOG
“Assalamu’alaikum! Halo Bang, bisa nggak jadi pembicara di Seminar Kepemimpinan Nasional PPSDMS Sabtu besok? Maaf mendadak nih. Bang Unggul direkomendasikan oleh XXXX katanya jagoannya nehh masalah blog dan internet””
begitu kira-kira inti dari telepon yang saya angkat di Kamis pagi.
“Ah bisa aja.. nggak deh, perasaan. Nggak banget. Tapi aduh, gimana ya.. saya mau sekali membantu, apalagi dari PPSDMS. Tapi saya ada acara di Jogja bareng teman-teman blogger Bogor. Yang lain saja yang kompeten. Saya cuma blogger dan peminat sosial-media yang nyubie”
Sayang sekali, mendadak, padahal saya sudah bayar untuk sebuah event di Yogyakarta. Bareng Kang Akhdian, Mas WKF dan Mas Fajar Suyamto.
“Gimana ya, tadinya Pak Enda yang ngisi tentang komunitas online dan perannya, tapi mendadak ada acara lain. Kalau bisa digantiin”
Degg.. Enda Nasution. Pria yang ditasbihkan sebagai “bapak blogger Indonesia”. Mau digantiin Unggul Center. Namanya aja ngga ada yang kenal. Selain saya pernah salaman sama Bang Enda di ajang Teknopreneur Award 2009 dan senyam-senyum di Pesta Blogger 2010. Cuma “aktif” ngemeng di Blogor (Blogger Bogor) pula. Bukan siapa-siapa.
Tapi, wait. Justru sebuah tantangan dan kehormatan sekaligus. Udah ah, cancel saja acara di Yogya, terus begadang 2 hari untuk berikan slide presentasi terbaik, dan latihan public speaking. Audiensnya adalah anak-anak muda CERDAS dari UI, ITB, UGM dan UNAIR. Lima universitas negeri yang sangat beken. Terkenal dengan susah masuk susah keluarnya.
Mikir.. yap, kalau bang Enda alumnus ITB, saya alumnus UI kok, walau kuliah 6 tahun ampir Drop Out. Sama ajalah.. sama juga dengan Om Enda, sebab saya juga punya account facebook, twitter, linkedIn, juga nge-blog di The Unggul Center, saya rasa saya mampu kok.
“Oke, saya pikir-pikir dulu ya sembari cari orang lain yang gantiin. Sepertinya pak Nukman Lutfi, yang paling cocok. Tapi nanti saya SMS”
Tik tok tik tok..
masih berpikir-pikir, ijin dulu ah ke komunitas blogor lewat milis.. eh ternyata tanggapannya sama semua. GO FOR IT! Gudlak! Makin mantabh ni jadinya..
dan, SMS terkirim.
ADA REVOLUSI DI DUNIA MAYA
Akhirnya, Sabtu, 31 Juli, hari terakhir di bulan itu, dengan penuh percaya diri, tampillah seorang The Unggul Center, blogger nyubi, social media enthusiast (majang titel sendiri). Sebagai narasumber di ajang PEKAN KEPEMIMPINAN NASIONAL PPSDMS. Sebuah yayasan yang memberikan beasiswa pendidikan bagi mahasiswa berprestasi dan digodok sebagai calon-calon pemimpin masa depan.
Bersama dengan pak Iim Rusyamsi, Presiden TDA (Komunitas pengusaha, Tangan Di Atas) yang Alhamdulillah karena saya kenal, di milis dan komunitas yang sama, saya maju sebagai blogger. Disamping itu, ada juga Bang Goris Mustaqin. Alumnus PPSDMS yang sudah melanglang buana hingga salaman dengan Barack Obama di Washington, pendiri komunitas ASGAR (Asli Garut) dan pengusaha muda yang sukses. Biar keder sama kualifikasi pembicara-pembicara ini, yang penting tidak minder deh ehehe..
Saya memberikan judul yang sesuai dengan audiens pada hari itu. Sosok-sosok generasi muda yang akan mengubah bangsa menjadi lebih baik. Presentasi ini saya awali dengan judul “Ada Revolusi di Dunia Maya”. Wakakaka.. judulnya aja keren, padahal isinya.. biasa aja hehe.. gak papa. Saatnya jadi motivator dadakan, dan kalau perlu marah-marahin mahasiswa yang melempem dan gak peduli sama bangsa ini.
Diawali dengan pengenalan tentang media sosial dan jejaring sosial (singkat, sebab masa sih pada tidak tahu dan tidak punya!) saya lanjutkan langsung dengan Manfaat-manfaat yang bisa diperoleh dari berinternet dan ber-media sosial. Mulai dari sarana mencari jaringan sebanyak-banyaknya, personal branding, hingga sebagai penyambung tali antara “rakyat biasa” dengan “rakyat tidak biasa”. Lalu, bagaimana menyikapinya, juga dibahas dibeberapa slide. Dibahas juga bagaimana Eksis tidak sama dengan Narsis. Narsis dalam dunia internet yang “benar” adalah membangun kompetensi dan kepercayaan publik (pembaca dan netizen lainnya terhadap dirinya).
Blog, salah satu revolusi paling mendasar yang merubah tatanan pilar demokrasi. Di era partisipasi dan horisontalisme ini, penulis blog mendapatkan tempat terhormat. Berkembangnya jurnalis warga (citizen journalist) dari waktu ke waktu memperkuat bahwa pelaporan “terpercaya” adalah justru subyektivitas si jurnalis warga itu sendiri. Live report, atas apa yang terjadi, opini, atas apa yang terjadi dengan sudutpandang orang pertama. Hal yang kadang luput dari media massa mainstream.
Ada juga microblogging, sebagai sarana nge-blog singkat. Media ini juga mengukir sejarah. Kisah revolusi 140 karakternya twitter, yang di Moldova, Iran, Venezuela, China, juga AS dan Israel yang mendapatkan banyak pemilih melalui media jejaring sosial, merupakan bukti bahwa revolusi bisa digalang dari dunia maya. Tentu jangan “No Action Tweet Only”. Kisah dimana pengiriman twit oleh seorang Natalia Morar, perempuan aktivis dan wartawan investigasi yang baru berusia 25 tahun. Semula, Morar hanya berharap pesan yang dikirimnya melalui Twitter akan mengumpulkan ratusan orang saja, terdiri dari teman dan kenalannya. Tapi hukum “MLM” yang ada di jejaring sosial membuat 20 orang menjadi 20 ribu orang di alun-alun. Jumlah yang sangat besar untuk mempertanyakan mengenai kecurangan Pemilu. Hampir terjadi revolusi “nyata” namun apa daya pemerintah dan militer lebih kuat. Namun, itu bukti betapa powerful-nya jejaring sosial.
Lalu di Indonesia?
Ketika keadilan dicederai, tidak tahu entah kemana untuk mengadu, maka Gerakan Sosial dimulai di internet. Dulu, sudah ada petisi online. Saat ini, cause dan group di Facebook menjadi bukti kekuatan. Kasus Cicak Buaya dan Bibit Chandra di-push dari Facebook. Oleh “Facebookers”. Lalu, koin keadilan untuk kasus Prita, digalang di dunia maya. Tanpa komando perintah. Tanpa pikir banyak. Tanpa takut.
Muncul juga berbagai gerakan lain bertema kecintaan terhadap Indonesia. Mulai Indonesia Unite, dan lain-lain yang makin banyak. Karakternya sama. Inginkan perubahan, namun tidak MENUNTUT perubahan. Mengapa? Karena perubahan dimulai dari diri sendiri, dan ajak orang lain kemudian. Se-simpel itu. Itulah yang menjadi nilai utama “Revolusi” ini.
REVOLUSI DAN PERUBAHAN DARI DIRI
Di akhir cerita (slide yang panjannya 70 slide hehe..) ada pertanyaan, Why Me? Dan saya jawab di slide itu, ya Anda yang diberikan kesempatan untuk memimpin, diberikan beasiswa untuk jadi pemimpin. Dimudahkan dalam menuntut ilmu biar gak pusing mikirin biaya, pikirin aja bangsa ini mau dibawa kemana. Dan diminta dengan sangat oleh para donatur beasiswa untuk merubah negeri. Bukan cuma merubah diri dan lingkungan saja, dan jelas, itu Anda, Bukan saya! Hehe..
Semoga mencerahkan semua peserta yang hadir, dan Alhamdulillah, diskusi tidak selesai cuma disitu. Setelah acara selesai, banyak mahasiswa yang ngobrol dengan saya mengenai internet, komunitas online dan gerakan-gerakan sosial. Presentasinya ada juga dislideshare yaitu Blog, Internet dan Generasi Muda
Slide yang panjang itu juga diisi dengan kegiatan-kegiatan komunitas online yang berbuat NYATA bagi masyarakat daerahnya. Dan itu adalah bagian dari saya, dan bagian dari Anda, pembaca. Betul kan? Slide ini bisa diunduh, jika mau disini. Filenya cukup besar, 4 mb tapi memang isinya colorful dan Insya Allah, mudah-mudahan memberikan pencerahan bagi teman-teman semua, generasi muda negeri ini, bahwa, revolusi di mulai.. dari diri sendiri!

Dashyat Kang
Ini dia jagoanku 🙂
Wah, sayang sekali y kang, coba Kang Unggul bisa “bunshin”, 🙂