Judulnya agak lebay, tapi ini kesimpulan UC setelah melihat beberapa kali kegiatan “makan bersama” yang terpaksa seperti ini. Makan bersama-sama ala pelayan toko. Ada cerita dan hikmah dibalik ini untuk kita semua.
Ritual ini bukan sekali dua kali saya lihat. Sepertinya jadi agenda umum para pelayan dan penjaga. Pertama kali, suatu malam yang dingin karena angin kencang, di sebuah FO (Factory Outlet) di Kota Bogor, tanpa sengaja saya masuk lewat jalan belakang FO tersebut, dari sebuah rumah makan yang menyediakan kue brownies. Terlihat para “kru” toko sedang mengumpulkan nasi bungkus dinampan besar, kemudian tiga lelaku penjaga toko yang masih belia itu dengan lahap bersenda gurau sambil menyantap menu makan malam mereka. Mereka agak malu-malu berhenti dan berdiri, mempersilakan saya masuk. Di dalam, penjaga toko lain masih ada yang standby. Mereka memang bergantian sepertinya.
Apa alasannya, tak lain demi penghematan. Dengan dua bungkus nasi digabung, bisa dimakan berempat. Ada yang bawa dari rumah, lauk ala kadarnya namun cukup meriah. Saya pernah tanya, kurang lebih itu jawabannya. Jadi bukan apa-apa, karena terpaksa. Walaupun sebenarnya cmiiw umat Islam dianjurkan untuk makan bersama dalam satu nampan, untuk kebersamaan karena banyak hikmahnya dan konon, malah jadi lebih kenyang. Saya beberapa kali pernah menikmati seperti ini, tapi biasanya di kampus dengan berbagai aktivitas luar ruang kuliah dan organisasi yang membuat makan ber-nampan dengan lebih dari lima orang terasa lebih nikmat. Hmm.. kadang2 pengen lagi seperti itu hehe..
Kali berikutnya tak makan bersama yang saya liat di beberapa toko. Tapi hanya semangkok indomie lengkap dengan telur dan sayur. Ya mungkin untuk “penyeimbang” gizi dari mie tersebut. Nah kalau indomie biasanya tak makan bersama sebab tujuan makan bersama itu sama. Penghematan. Kalau indomie, ketoprak atau mie ayam biasanya sih sudah hemat.
Kemudian saya lihat lagi di sebuah toko sepatu di sebuah pusat perbelanjaan di Sentul. Kali ini sempat saya abadikan, dengan tujuan menjadi pengingatan bagi kita semua untuk menghargai apa rejeki yang kita dapat. Ritual makan bersama ini terjadi pada jam dua-an sore. Entah apa yang mereka bagi, umumnya sih masalah lauk pauk.

Mbak berseragam ini berdua asyik makan dengan lauk seadanya, barengan. Saya perhatikan dari setiap kejadian ini biasanya Nasi yang banyak. Karena memang nasi “agak” lebih murah dibanding laukpauk, jadi tujuan berbagi adalah berbagi lauk.
Demi masa depan, berhemat karena gaji mereka pastinya kecil. Apalagi sistem shift. Dan jika mau ada tambahan gaji, harus siap lembur di shift weekend dan seterusnya.
Hikmah dari ini semua, kita perlu bersyukur atas rejeki yang ada. Saya sendiri termasuk yang berpenghasilan terbilang kecil, apalagi jika berkaca pada teman-teman seangkatan, seumuran dan dari universitas yang sama dengan saya. Tapi inilah hidup. Saya masih berjuang, dan harus kreatif. Ya kalau tak kreatif, akhir bulan dapur tidak ngebul hehe.. dan inilah jalan yang harus saya tempuh, karena sudah saya pilih.
Selamat bekerja para pembaca, syukuri apa yang ada, berusaha untuk menabung, yakinlah masa depan ada ditangan kita untuk perubahan.. sebab keadaan pasti berubah jika kita mau berusaha.
jadi lebih banyak bersyukur. terima kasih utk sharingnya Kang 😀
Wahhh…
baca cerita ini jadi inget di pesantren, saya klo makan 1 nampan bareng2 bisa sampe ber 13 dan itu sangat nikmat dan menyenangkan,
betul juga… karna cukup kenyang
Jadi pengen mengulang masa2 itu…
Iya kang, sama, keingetan SMA dan Kul yang ada model makan nampan hehehe
Wah memang seru banget kalau makan bareng dalam satu nampan. jadi ingat masa2 di SMU dan kuliah dulu 🙂
@nurhamida : benar sekali. Puasa, sebenarnya mengingatkan akan masalah ini. Saya sendiri kadang menunda utk makan siang, diganti sore, namun perlu hati2 jangan sampai timbul masalah baru, misal sakit maag. Kalau saya ketika pagi ada makanan yg lumayan mengenyangkan, makan siang suka saya tunda sore agar malamnya minum2 saja karena makan besar masih kenyang.
@bundakaka : ya, nanti ketika satu sama lain sukses atau salah seorangnya, mudah2an mereka mengingat kebersamaan dan tak lupa dengan “kulitnya”. Amin.
Yup bener banget..walaupun sedih melihatnya tapi dari raut muka mereka senang dan tidak merasa prihatin sama sekali karena mereka menikmatinya..
Intinya bersyukur dan terus bersyukur agar kurang tetap menjadi cukup dan yang lebih bisa dibagi..
Tertarik membaca karena melihat judul. Ada hikmah. saya suka dengan hikmah. Terima kasih sudah share pengamatan. Seringkali hal ini luput dari pengamatan. Saya juga pernah menghadapi teman yang berhemat makan karena minimnya uang saku. Ia mengorbankan rasa lapar pada saat makan siang dan baru makan pada jam 4 sore sekligus untuk menutupi lapar malam hari. DAri teman ini saya belajar bersyukur dengan rizki yang saya dapat.