Sotoji, Inovasi Soto Instan Bukan Bihun Instan Rasa Soto

https://www.unggulcenter.org/sotoji-inovasi-soto-instan-bukan-bihun-instan-rasa-soto/

Pernah terpikir makan soto instan? Seperti apa bentuknya dan bagaimana mengemasnya? Mungkin itu yang ada dipikiran pertama kali produsen soto instant dalam kemasan “Sotoji”. Lebih dari itu, timbul pertanyaan, masyarakat suka nggak ya. Nah inilah sotoji, soto instant pertama di Indonesia, muncul di hadapan Anda.

Soto yang diramu dalam kemasan ini memang bernama unik, yaitu Sotoji. Nama unik ini bukan tanpa sebab. Dan sebabnya pun bukan karena pemilik soto adalah orang Makassar yang sering berkata “ji” sebagai logat penduduk pulau Sulawesi tersebut.

Sotoji ini ternyata soto Jamur.  Jadi, Sotoji adalah Soto jamur instant. Ini tertulis dikemasannya yang saya terima beberapa hari lalu sebagai sampel. Memang, sotoji sedang melakukan promo ici-icip sotoji dengan mengirimkan sampel sotoji ini ke seluruh Indonesia. Sampel bisa di-request via situs deblogger ini.

Hal pertama yang saya, UC sebagai pusat review akan ulas adalah masalah kemasan dan pengemasan.

Kemasan berwarna hijau ini sekilas menarik. Ukurannya besar dan tulisannya juga eye-catching. Namun produsen perlu memperhatikan dari sisi kualitas ketajaman warna dan tulisan. Bisa dilihat dari gambar produk yang ditampilkan, print kemasannya masih kurang tajam. Serta unsur promosi masih kurang terkomunikasikan.

Dari sisi estetika sudah bagus, ada suggested-serving (saran penyajian) dan peletakan tulisan sudah bagus. Namun karena kombinasi warna yang menurut saya kurang “tajam” maka sotoji ini seperti sudah “pias” terkena sinar matahari terus menerus sehingga warnanya pudar. Anda bisa melihat tulisan kecil disamping tulisan “Sotoji” yang tak begitu kelihatan bukan? Ya, selain pewarnaan yang kurang tajam, hijau background ketemu tulisan putih, tulisan lainpun kerasa pudar. Selain saran penyajian yang memang menarik mata.

Untuk material yang dituliskan pada kemasan, selain sertifikasi Halal dan daftar di POM, bisa dilihat kalau ini memang masih IRT (Industri Rumah Tangga). Langkah yang luar biasa menurut saya, karena Sotoji berani menciptakan pasar baru di industri makanan instant tanpa bersaing dengan perusahan mapan. Kecuali, mungkin, dengan produk bihun instant yang telah lebih dulu dipasarkan. Lebih lanjut kita akan bahas disesi terakhir ya tentang bihun vs sohun ini 🙂

sotoji, inovasi soto dalam kemasan

Berikutnya kita coba membuka isinya.

Dari “jembrengan isi” sotoji, bisa kita lihat adanya bumbu yang lumayan komplit. Termasuk bumbu kering berupa Jamur Goreng yang dikemas. Ini konsepnya hampir sama dengan mie instant lain yang biasanya menyertakan sayuran kering.Uniknya, menurut pengalaman saya, sotoji justru menggunakan jamur goreng yang sebenarnya “kriuk” tapi dimasukkan ke dalam air rebusan (sesuai petunjuk).

Yang perlu diperbaiki dari sisi kelengkapan ini adalah kemasan bumbu. Untuk memudahkan pembeli, bumbu ini lebih baik diberikan gerigi atau petunjuk untuk merobek dengan lebih mudah. Pengalaman saya, merobek bumbu ini jadinya memerlukan gunting, which is saya tak terlalu suka. Cukup merepotkan. Akhirnya gigi yang jadi andalan hehe..

Dari empat bumbu ini, kelihatan memang tak serapi produk serupa. Saya rasa wajar, karena industri besar vs pabrik rumah tangga. Namun menjadi keunggulan lain apabila pengemasan bumbu ini lebih rapi. Komplit, plus Jamur goreng.

Kedua, masalah ukuran soun yang ada. sepertinya ukuran kemasan jadi kebesaran karena isi sohun ini tak begitu besar. Ketika sudah dimasak dan tersaji, hasilnya jadi banyak dan mengenyangkan untuk sekali makan, sih benar. Namun itu setelah dimasak. Sebelum dimasak kecil sekali. Saran saya sih ukuran lebih dipadatkan seperti produk mie instant pada umumnya.

Review berikutnya yang paling penting nih.. tentang rasa dan tentang inovasi.

Saya akui, sotoji memang enak banget. Sebagai produk baru, bumbunya tak mengecewakan. Memang, ide untuk mencampur Jamur ke dalam produk soto sebenarnya masih agak diluar pemikiran saya. Jika dilihat sehari-hari, memang soto jamur sepertinya agak “aneh”. Pada pikiran awal, mungkin konsumen mengira didalamnya adalah produk soto dengan sayuran kering sayur kol dan tauge yang biasa menemani soto secara umum, misal soto madura, soto lamongan dan surabaya. Karena soto yang dimaksud ini adalah soto bening, bukan yang santan.

Di website sotoji, disebutkan berbagai manfaat jamur dan seterusnya. Disana jelas upaya produsen untuk memasyarakatkan Jamur yang bergizi ini. Dalam hal jamur goreng, jamur crispy, saya rasa memang sedang booming. Terlihat dari maraknya booth-booth jamur “kaki lima”. Tapi mungkin saya tak begitu melihat keunggulan jamur-jamuran ini, tapi saya lihat memang upaya produsen menghadirkan soto yang instant, siap saji, sehingga terpikir sama jamur. Kalau saya sih, kepikirnya malah sama “ayam sawiran di goreng” hehe.. jadi  Soto + Jamur hmm.. gimana bentuknya, baru saya rasakan di sotoji ini.

Well lagipula, kalau bukan dengan Jamur, ya bukan sotoji mungkin namanya. Tapi saya tetap menunggu produk sotoji dengan varian “rasa” yang berbeda, dengan sayuran kering mungkin, yang biasa dimakan orang.

Hal kedua yang memerlukan perhatian mengenai produk ini adalah SOHUN/SOUN, sebagaimana yang tercantum dikemasan sotoji.  Yep, sotoji bukan BIHUN loh. Nah ini menarik, mungkin untuk membedakan dengan bihun instant yang sudah lama dipasaran, dan kabar buruknya, tak begitu laku ketimbang mie instan. Bahkan saya tebak, tak sampai 5% produk bihun instant yang laku sedangkan 95% nya mie instant.

Terus terang saya tak bisa membedakan soun sotoji dan bihun instant. Mungkin kedepannya, penyampaian pesan bahwa ini SOTO bukan Bihun Instant perlu lebih banyak. Khawatir masyarakat setelah mencicip sotoji, berkesimpulan, bahwa ini Bihun Instant rasa soto. Bukan soto instant. Hmm ini tentu hal yang menurut produsen sotoji berbeda. Sebab bihun instant, dari dulu tak pernah merangkak naik dari lidah orang Indonesia yang terlanjur “lidah mie”. Dan bisa jadi sotoji akan menjadi bagian dari persaingan di dunia bihun instan.

Contoh produk Bihun Instan rasa soto

Jadi memang peer bagi sotoji melalui program-programnya untuk menjadikan sotoji sebagai makanan yang disukai masyarakat, terlebih adanya ketidaksukaan masyarakat akan bihun instant sedangkan sotoji juga memanfaatkan bahan dasar sejenis. Jadi, perlu edukasi pasar bahwa sotoji bukan bihun instant rasa soto hehehe..  ini juga karena konsep makan soto di Indonesia selalu bersandingan dengan yang namanya NASI jadi apakah sotoji ini bisa menjadi santapan bersama nasi, atau sebagai pengganti nasi sebagaimana mie instant dan bihun instant, produsen harus lebih jeli dalam hal ini.

Bagaimana masalah harga? duh, ini yang saya belum dapatkan, sebab dapat sampel gratis dan ngga nanya juga harga jual berapa hehe.. nanti saya lengkapi deh mengenai harga ini.

Overall, Sotoji memang maknyus.  Bumbunya tepat dan cocok kalau menurut saya. Untuk memasaknya juga gampang. Tak perlu lah ditulis disini step-by-step memasak sotoji. Ya sama persis dengan produk mie instant, bahkan, menurut kemasan, malah lebih cepat. Jika Mie instant selalu menulis 3 menit, dikemasan sotoji ditulis hanya 2 menit.

Sebagai produk baru, saya rasa bisa bersaing, tapi ada asalnya hehe.. asalkan mampu memecahkan masalah bihun rasa soto atau soto dikemas instant. Ini masalah mind-set juga dan bagaimana delivery sotoji ke masyarakat. Perlu elaborasi berbagai fakta terkait misal, segmentasi mie instant vs bakmi goreng apakah bisa juga menjadi sotoji vs soto kaki lima yang murah meriah itu. Tentu, strategi pemasaran ini mencakup juga desain dan produksi kemasan yang lebih baik. Misal dengan kreasi-kreasi desain kemasan yang baik dan juga pencetakan kemasan yang lebih bagus. Termasuk pencetakan bumbu2 yang lebih mudah buat konsumen utk membukanya.

Apalagi kalau sudah disajikan, dan dicampur berbagai macam garnish tomat dan daun seledri, juga tambahan ayam, telor puyuh, telor rebus, sayur kol dan kerupuk seperti contoh yang saya sajikan dengan bahan dasar  tiga bungkus sampel sotoji dibawah ini. Ngiler kan? hehehe.. oya CMIIW ya, untuk mereview produk makanan, menurut saya tak boleh banyak kreasi yang “merusak” bentuk, maupun citarasa. Sebab dia harus tetap jadi “soto” dong hehe..  Jadi saya hanya tambahkan kol, tomat, sayur, dan telur serta potongan ayam. Semoga tetap mencerminkan bahwa “oh ini sotoji ya. Enak banget.. dst”. Soalnya ini buat review yach hehe..

penyajian sotoji ala Unggul Center (untuk dimakan sendiri hehehe)

Anyway, Anak saya saja yang umur 2 tahun dilarang berapa kali tapi kalau udah mie pasti mau makan 🙁 terpaksa kasih sesendok, campur nasi baru dia mau makan. Omong-omong mengenai anak saya, wow dia suka sotoji. Mudah-mudahan kadar pengawet dari sotoji tak separah produk mie instant lain. Saya terpaksa kasih anak saya sotoji dengan pola 1 sendok sotoji dicampur satu mangkok nasi putih biar dia mau makan. Tak lupa bujuk rayu kalau ini mie nya ada baru dia mau buka mulut hehehe..

Inilah penampakan anak yang suka makan sotoji itu.. mohon jangan dijadikan iklan sotoji tanpa ijin ya hehehe..

sotoji ini punyaku!

 

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

5 Comments

  1. Wah review yang mantap, pesaing berat pastinya tapi demi iPhone4S eh SOTOJI maksudnya review besar-besaran tidak akan rugi. Tunggu mas UC aku akan segera menyusulmu 🙂

    Sotoji eh iPhone4S, here I come!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.