Gaya Hidup Hijau dalam Praktik
Sewaktu seorang teman memberikan informasi mengenai gaya hidup hijau atau terkenalnya dengan green lifestyle melalui salah satu post di blognya, aku belum mengerti benar apa itu green lifestyle. Untuk itu, kucoba browsing ke greenlifestyle untuk mencari tahu, pada PRAKTIK nya, apa itu gaya hidup hijau. Baiklah, banyak yang biar “gaul” memakai apa-apa yang berbau go green. Mulai dari kantong kresek sebuah supermarket yang berlabel Go Green (tapi dikantong kresek yang gak bakal musnah ribuan tahun kalau dibuang), hingga bis kuningnya UI, almamaterku yang sekarang dibody-nya ditulis Eco, Green, Whatever yang aku sendiri ga tau maksudnya apa. Mungkin pakai BBG (Bahan Bakar Gas).. Gaul? Iya. Namun prakteknya bagaimana. Khususnya lagi, praktek Green Lifestyle yang bukan kamuflase. Yang jujur. Yang bukan ikut-ikutan. Ini jadi pertanyaan. Nah, berhubung tulisan ini bukan teori, aku ngga panjang lebar, cuma mikir mikir.. apa yang harus kulakukan utk mendukung green lifestyle ini? Atau, apakah aku memang sudah melakukannya?
Hmm.. dari web sih lumayan mengerti sedikit tentang gaya hidup hijau tersebut. Lalu, apakah gaya hidup ini sudah dipraktikan atau belum ya? Oke, mikir, mikir.. ceklist dulu lagi deh kriteria green. Contohnya, mulai dari ramah lingkungan, transportasi tanpa BBM, hemat listrik, hemat energi, menghindari plastik, menghindari freon dst dari barang elektronik. Sepertinya go nature.
Wah ternyata, setidaknya menurut pendapatku, aku sudah menerapkan gaya hidup hijau! Horee! Yea, that’s me (sambil ngaca). Aku ceritakan saja ya, dikantor maupun dirumah, aku melaksanakan gaya hidup hijau loh..
Pertama, ingat green (hijau), ingat rumahku.
Yup hingga detik ini, rumahku mendukung go green dengan cantik. Sejak lahir hingga merantau dan
sering pulang kampung (pulang kota hehe..) dirumahku di Palembang, walau berada ditengah kota, kami hampir selalu memasak dengan kayubakar. Kami selalu memancing di kolam, dan kami selalu hemat listrik. Setiap Jam 9 malam, televisi sudah Off. Listrik yang tidak perlu sudah dimatikan. Sengaja nggak sengaja sih. Yang namanya tidak ada orang sedang duduk, ruang tamu dimatiin lampunya. Kamar mandi always off kalau keluar darisana. Eit, pintu jangan lupa ditutup juga yach hihi.. Dan kebiasaan kami, Jam 9 malam pada tidur. Kecuali Kakek (Alm) dulu suka nonton “Dunia Dalam Berita” sehingga televisi dimatikan pukul 9.30 Malam. Setelah beliau wafat, keadaan sama. Jam 9 suasana lengang. Pada kemana? Kalau saya biasanya belajar dikamar. Kami belajar pukul 9 sampai malam. Kadang sampai ketiduran. Kalau yang “tua” pada ngapain yach? Ngobrol. Biasanya sambil makan penganan kecil.
Selanjutnya, masak dan makan. Hampir setiap hari kami berkebun. Disamping rumah ada lahan yang lumayan luas utk kami tanami singkong dan tanaman merambat lain. Kemudian kolam ikan kecil tanpa semen. Masak memasak kami lakoni disana. Ya, ada sebuah saung kecil utk kami sekeluarga makan. Suasana yang sejuk dan angin sepoi-sepoi menambah nikmat acara “ritual” ini. Praktis, pagi siang kami makan disana. Kalau tidak, pagi beli sarapan kue kue kecil. Nah, kalau malam, baru kami makan didalam rumah. Biasanya hanya memanaskan lauk. Itupun jarang karena, seperti ceritaku, malam-malam rutinitasnya nonton, ngobrol, belajar dan makan penganan. Jarang yang makan nasi, kecuali ayah dan ibuku. Selesai kegiatan “green” lain, aktivitas “green” lain kami laksanakan. Hemat listrik.
Nah, apakah sudah berhenti sejak aku pindah ke Bogor? Tidak. Ada lagi Kegiatan “natural” lain yang mungkin bagi sebagian orang merupakan kegiatan “kampung” tapi ini kulakoni setiap hari dengan senang hati tanpa peduli. Apa itu? Kami tidak memasang PDAM. Setiap hari, aku mandi air tanah yang segar nan bening karena air pegunungan. Ada pompa “dragon” di belakang. Itulah yang kami pakai menimba air untuk cuci masak. Hahaha.. hari gini? Ya benar. Hari gini aktivitas seperti ini kalau dijalankan terus, berguna loh. Apalagi orang kantoran seperti aku yang jarang olahraga. Menimba air dari pompa dragon (pompa ungkit) sama seperti berolahraga di gym hihi.. green enough guys?
Dan sudah dari kecil kami diajari seperti itu. Ya, terlepas dari “green life style” yang mungkin kami, orang-orang jadul tidak paham bahasa itu. So, I’am living in green lifestyle selama ini! Bahkan termasuk yang “ekstrim” masak dan makan aja diluar hehe..
Tidak percaya? Ini buktinya. Foto dibawah ini adalah Ibuku, Kakak perempuanku, Istriku dan Adik perempuanku. Ya, ceria memasak diluar. Dengan komor tanpa Minyak tanah, apalagi dengan gas hehe.. gapapa biar lama masaknya, obrolan mengalir dan suasana kekeluargaan.


Oke, kalau ada yang bilang ini bo’ongan, bukan rumahku, silakan atur waktu, tak ajak dateng kerumah deh hehe.. Liat aja istriku senang dan bahagia hihi..
Ya, Setelah menikah dan diajak ke rumahku di Palembang, istriku surprised dan senang hehe.. tidak pernah dia dapatkan kegiatan ala saung sunda ditengah kota palembang. Dan itu hampir setiap hari! Lihat saja di fotonya denganku. Ingat pembaca, ini bukan di saung sunda, bukan di desa, bukan pula di rumah makan yang dibuat seperti di kampung. Ini real life. Saat ini, ayah dan ibuku masih asik2 saja masak seperti ini. Ya, apalagi sejak semua anaknya menikah, dan adik bungsuku ikut denganku di Bogor, justru kegiatan go green ini membuat mereka selalu bahagia. Amin..
Kedua, ingat green, ingat kantorku.
Sekarang, kita balik ke Kota hehe.. masalah hemat listrik sudah dibahas. Nah, kantorku ternyata punya visi yang sama. Entah tujuannya apa, tapi kami appreciate. Sebagai lembaga pelatihan dan pendidikan, kami menerapkan sistem “letter U” dalam memasang komputer. Hal ini, demi menjaga kesehatan dari radiasi monitor CRT (cembung) yang bisa merusak otak dengan gelombangnya. Kasihan peserta pelatihan yan berada dibelakang. Ada empat alasan. Selain perlu ekstra keras untuk melihat papan tulis, kesempatan nyontek layar monitor di depan sehingga menurunkan kualitas pembelajaran, agar para instruktur mudah melihat pekerjaan dan layar masing2 peserta sehingga bimbingan lebih mudah dan tidak sulit utk bergerak dari ujung ke ujung, dan terakhir, mengantisipasi monitor CRT yang memancarkan gelombang tidak sehat ke otak. Wuih, keren juga filosofi kantorku ini.
Nah, sekarang ada dua aktivitas lain berkenaan dengan go green, dan green computing (aku pikir tujuannyanya green lifestyle toh?) yang menjadi kebijakan kantor.
Pertama, penggantian semua monitor CRT menjadi monitor LCD. Nah, ini demi kesehatan peserta pelatihan dan demi kenyamanan. Efeknya sangat positif. Tentu, pola “letter U” atau “letter L” dalam penempatan PC di kelas pelatihan tetap dipertahankan. Contohnya di foto dibawah ini :
Kedua, kami, staf dan pengajar memakai laptop untuk bekerja. Di meja-meja sudah bukan lagi PC. Hal ini selain untuk menghemat energi, juga selaras dengan kebutuhan para instruktur dan staf yang “mobile”.
Ya, baik komputer di meja maupun pengajar/instruktur memakai laptop yang hemat daya dan itu di-encourage oleh kantor. Walaupun “hanya” kursus, yang tidak punya anggaran besar utk pelatihan, rasa-rasanya, filosofi kantor memang perlu ditiru. Selain utk kenyamanan pelanggan, juga mendukung green computing. Terlepas dari apa itu definisi green computing, saya hanya melihat dari sudut pandang “green lifestyle” saja. Maaf apabila salah.
Terakhir, Office Boy, Customer Service dan Satpam di kantor dalam jobdescnya termasuk untuk selalu mematikan AC, Komputer, dan perangkat listrik yang tidak terpakai apabila tidak ada kelas. Secara rutin, Lab dimatikan AC dan komputernya. Bahkan, tidak hanya itu, apabila pemakaian Lab hanya untuk 4 peserta misalnya, sisa 6 komputer lainnya harus dimatikan oleh staf yang bertugas. Bahu membahu dan saling mengingatkan.
Bahkan, kadang kala kalau aku lembur, biasanya jam 8 malam, ada satpam atau office boy yang masuk ke ruangan dan mengatakan, “pak, boleh saya matikan satu AC dan satu lampunya?” apabila ternyata ruangan sudah kosong dan banyak yang pulang. Setelah itu mereka akan cek toilet apakah lampunya menyala dan keran terbuka atau tidak. Hmm.. Green enough?
Dikantor, dirumah, perlu kita galakkan Green Lifestyle. Galakkan ini bahasa indonesia hehe.. Kalau bahasa jakarta/betawi, galak artinya buas. Kalau bahasa palembang, artinya MAU dan SUKA. Nah, Anda MAU Sehat, Bumi terjaga, dan berpikir apakah kita TIDAK akan mewariskan bumi yang semakin rusak ini ke anak cucu dan membayangkan mereka memakai masker hanya untuk pergi ke sekolah?

Mantap. Jadi inget kampung halaman. Meski di sana dah masuk gas, tungku atau pawon masih dipakai.
@komuter : nggak tau, juga pak.. cuma itu yang saya tau. Selain ga pakai kantong kresek 🙂 mungkin sama halnya bekerja komuter naik motor dengan naik kereta mana yang go green ya pak 🙂
@pak syafri mancing2 di kolam itu terus ikannya dimasak, kayak di kolam pak syafri itu termasuk gaya hidup green ya pak.. apalagi lingkungan sekitar kolam masih alami.. dan mudah2an ga tergerus jaman..
ayoooo
kita smua cinta hijauuuu
dan stop global mwarming ehehhehe
😀
heheheh
kek ibuku klo lagi kehabisan gas dan minyak tanah ntu
masak pake kayu bakar hahahhaa
😀
Kalo mandi cuma sekali dalam sehari, trus jarang nulis dikertas, bisa disebut go green ga kang 😀
@miftah kurang tau juga.. tapi klo nulis dikertas sih kalau kertasnya daur ulang justru go green deh.. itu tanya ama pabrik kertas kayaknya..
kalau mandi.. hmm go green itu kayaknya mandi kembang hihi.. *kabuur
maaf…kalimat “suburban terus ke urban” semestinya “suburban terus ke daerah perdesaan”
..sangat inspiratif…gaya hidup “hijau” sebenarnya sama saja kembali ke gaya hidup yg ramah dgn alam…hijau pertanda segar..yg seharusnya jauh dari polusi…segar alam akan mempengauhi timbulnya kesegaran sosial…namun dgn alasan modernisasi maka unsur-unsur kearifan lokal semakin tergusur oleh keangkuhan pembangunan fisik semata..dan ini lambat laun akan semakin merambah ke daerah sub urban terus ke urban…karena itu gaya seperti itu memang perlu digalakkan agar kita menghargai alam apa adanya sbg milik Allah…
Lihat foto Unggul dan istri
Ow romantisnya 🙂
masak pakai kayu…… go green kah ??
sangat menarik
Gila! Postingan yang mantab!
Saya suka tuh bagian yang acara masak dengan kayu.. Rasa masakannya lebih mantap loh kalo dimasak pake bahan alami gitu..
Trus di bagian pompa ‘dragon’ itu.. Gud idea tuh, olahraga gratis dan bermanpaat.. Terutama untu Mr Big kek Om Unggul ini.. 😛
*Lakukan hal baik dari diri sendiri, meskipun hal kecil sekalipun*
Betul kang. Dulu kami, anak2 yg kemudian pakai kompor gas. Cuma ortu ama Kakek Nenek dari dulu ya gitu aja masaknya hihi.. kadang seru juga. Ampe sekarang loh. Apalagi bapak saya suka makan Ikan Bakar. pasti deh bakar ikan tuh dikebon buat lauk makan siang..
ps : entah kenapa, blum jadi2 juga tuh otot dilengan saya kang hihi.. skrg saya udah pasang mesin pompa, yang kecil, namun tanpa bak penampungan jadi kami cuma 1x ngidupin mesin perhari. Tidak boleh lebih. Nah itu hanya utk menuhin bak kamar mandi dan air minum. Jadi, yg mo mandi dan ngga mau nimba aer, langsung buru-buru mandi mumpung mesin pompa diidupin. Once a Day saja diidupinnya. hemat listrik soalnya watt nya (katanya) besar.