Apa manfaat buku digital (e-book) bagi pembaca dan penulis? Bagaimana perkembangan terbaru dunia buku digital di Indonesia? Buku digital dan kelestarian alam? Bagaimana kesiapan konsumen pasar buku digital di Indonesia? Bagaimana sinergitas penulis, pembaca, penerbit dan toko buku digital di Indonesia?
Itu adalah beberapa pertanyaan yang disampaikan pada undangan Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) “Manfaat Buku Digital bagi Pembaca dan Penulis” yang akhirnya saya hadiri beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 29 Juni 2013 di Pusat Studi Jepang (PSJ) UI.
Entah, apakah semua pertanyaan itu terjawab atau tidak, yang pasti event yang digelar oleh Forum Lingkar Pena (FLP) bekerjasama dengan Qbaca Telkom yaitu aplikasi di handphone/tablet Android or iPhone/iPad untuk mengunduh (membeli tepatnya) dan membaca buku-buku digital e-book Indonesia ini menargetkan hasil FGD sebagai masukan bagi pengembangan Qbaca itu sendiri sebagai sponsor, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan secara grup.
Sesi seminar di pagi hari hingga siang menghadirkan Moamar Emka, penulis yang terkenal dengan Jakarta Undercovernya, dan ternyata beliau adalah bosnya GagasMedia, penerbit yang mulai diperhitungkan dikancah publikasi buku. Kemudian ketua FLP, Intan Savitri, pengamat budaya cyber dari UGM dan seorang perwakilan pencinta membaca buku. Moderator dari pihak Qbaca.

Dari obrolan mereka dan beberapa pertanyaan peserta yang berasal dari beragam komunitas terkait dengan kegiatan tulis-menulis dan membaca, misalnya dari Taman Baca, dari FLP, Blogger, serta Kaskus dsj. Banyak hal yang bisa didapat. Antara lain bahwa budaya membaca buku perlu ditingkatkan dan buku digital bisa menjadi solusi, walaupun perlu effort lebih utk memasyarakatkannya.
Pastinya, ada kendala terutama gadget yang ada dan dukungan operator dan internet di daerah tertentu yang masih kurang. Namun, sebenarnya itu bukan hal yang ditakutkan, karena dari sudut pandang penerbit dan penulis, sesuai tema, semua ada “pasar”nya jadi masing-masing tak perlu dipertentangkan. Ada juga pelbagai “resistensi” terkait minat baca dan jelemahan buku digital terutama dari sisi gadget yang harganya mahal sehingga tak bisa sembarangan ditaroh, namun juga keuntungan seperti ratusan buku bisa “muat” dan tak berat.
Dari FGD siang hingga sore harinya, pun juga berbagai masalah disampaikan ke pihak Qbaca Telkom. Sayangnya, listing pertanyaan yang harus dijawab oleh kelompok-kelompok FGD terlalu umum. Masalah go green (mengurangi kertas), masalah genre kepenulisan dan lainnya. Qbaca terlalu malu untuk bilang “Hei, kamu FGD berikan masukan bagi kami karena kami mau JUAL aplikasi ini dan butuh masukan utk ebook apa yang perlu, dan bagaimana marketingnya”.
Sebelum sesi “laporan” FGD, peserta dihibur oleh penampilan band asal bandung yang spesialis dalam musikalisasi puisi, alias membuat lirik dari puisi menjadi sebuah lagu. Cukup menghibur, walau saya ngga sreg dengan logo band tersebut yang jika dibalik, hanya 90 derajat, persis menyerupai bendera Israel 🙂 entah disengaja atau tidak.

Dari seminar dan FGD ini sebenarnya memang masih blur. Wajar, dengan FGD cuma 1 jam dan seminar hanya sekedar talkshow, kita tak merumuskan apa-apa sebenarnya. Hanya memaparkan pendapat dan pengalaman untuk dibagi ke panitia (dalam hal ini tentu yang berkepentingan adalah pihak sponsor, QBaca telkom).
Jadi, saya sendiri sebagai perwakilan salah satu kelompok langsung saja memberi masukan hehe.. ngga bertele-tele kayak yang lain, menjawab pertanyaan saja. Apalagi, ini temanya untuk Pembaca dan Penulis, jadi kita beri masukan sebagai pembaca dan sebagai penulis. Ya, siapa tau Qbaca ini bisa maju, walaupun terus terang saya ngga yakin karena memang masih sulit untuk mencari pasar pembaca ebook yang “hard core”. Maksudnya yang mau beli n baca di gadget dan tidak bisa dicopy hehe.. biasanya, kalau pun baca ebook, kita hanya ngopi saja via hardisk to hardisk. Dan kalau baca yang berat-berat, model ebook hanya jurnal dan sejenisnya. Novel dan kawan-kawan, masih membaca versi buku kan? Makanya saya sarankan waktu itu, targeting aja anak-anak. Buku berwarna yang seperti dongeng-dongeng sebelum tidur, itu lebih masuk akal utk “dibeli” or subscribe oleh orangtuanya dan si anak bisa baca dan dibacakan di tablet.
Oke deh, malah ini tulisan bukan reportase tapi ajang opini saya hihi.. anyway, acara sampai sore ini memang ajang mencari masukan sepertinya, dan kembali lagi, untuk buku digital, sejauh mana bisa menggantikan buku kertas, masih belum jelas arahnya di Indonesia. Kita masih berkutat masalah kurangnya buku untuk Indonesia timur, tidak adanya akses ke buku-buku bermutu dan seterusnya. Sebenarnya, buku digital bisa solutif, asal dibarengi infrastruktur memadai misal internet. Jadi, semua berbarengan. Bagi penulis dan pembaca, model bisnis yang cocok secara ekonomis yang ditawarkan penerbit juga perlu dipikirkan lebih lanjut.
Selamat membaca, mau digital atau tidak, terserah Anda 🙂