Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2010
Menangislah Ki Hadjar!
Terbukanya kotak pandora bangsa ini, ambil korupsi dan perilaku koruptif, menyisakan pertanyaan: masihkah bangsa ini punya harga diri dan martabat?
Nation and character building, sebuah jargon magis tidak lagi punya muruah, tidak punya roh, tidak bermakna. Dunia nyata yang menjadi habitat praksis pendidikan tidak connect dengan apa yang diselenggarakan sekolah atau kampus. Lingkungan pendidikan ibarat enklave, terkucil dari hiruk-pikuknya dunia.
Kita setuju hasil ujian nasional sekolah menengah atas dengan kenyataan melorotnya persentase kelulusan dievaluasi. Perlu ditemukan akar masalahnya. Tidak hanya soal perlu tidaknya ujian nasional, tetapi terutama penyegaran tujuan menyelenggarakan pendidikan lewat sekolah. Berarti pula berani menempatkan lembaga pendidikan sebagai bagian utama dari upaya pembangunan negara dan karakter bangsa.
Praksis pendidikan dan hasil didik tidak seluruhnya tergantung dari sekolah. Di sana ada kesempatan strategis menghadapi rusaknya habitat. Ketika di sekolah tidak lagi dibiasakan kejujuran, tertanamlah benih koruptif — dan terjadilah seperti yang hari ini riuh di media.
Ki Hadjar Dewantara, salah satu bapak bangsa, Menteri Pendidikan pertama yang hari lahirnya ditabalkan sebagai Hari Pendidikan, 2 Mei, niscaya menangis. Tidak oleh semakin susutnya obor lembaga pendidikan Taman Siswa, tetapi terutama oleh pupusnya kebanggaan sebagai bangsa bermartabat. Pemerintah dan kita mengabaikan kesempatan membangun karakter dan martabat bangsa itu.
Tawar-menawar soal anggaran pendidikan sekadar contoh kekerdilan kita menaruh perhatian pada upaya pembudayaan bangsa. Kiat mengakali anggaran 20 persen bukti bahwa sektor pendidikan tidak masuk dalam sektor infrastruktur.
Culture matters, kata magis itu menunjuk pada muruah mutu suatu bangsa, tidak saja ditegaskan oleh banyak pakar, tetapi juga bukti nyata yang telah diraih Korea Selatan atau tetangga sebelah, Malaysia, misalnya. Tahun 1990 Ghana dan Korea Selatan sama persis dalam segala-galanya, 10 tahun kemudian Korea Selatan melejit 30 kali lipat.
Apa yang diraih Korea Selatan, juga diraih Malaysia, Jepang, dan belakangan disusul Vietnam, hanya membuat kita gigit jari. Keberhasilan mereka sebaiknya kita jadikan batu penjuru dan referensi. Namun, yang muncul adalah rasa iri dan sibuk berdalih, simbol manusia tidak bermartabat. Kita pun terbenam dalam kegemaran berakrobat politik dan perilaku koruptif yang ditutupi dengan kepura-puraan.
Evaluasi penyelenggaraan ujian nasional perlu kita perluas sebagai bagian dari upaya mengembalikan muruah pendidikan. Kita hapus bersama air mata Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan, tidak dengan semangat saling membela diri, tetapi semangat kolegial bertanggung jawab atas praksis pendidikan sebagai bagian dari upaya nation and character building. [Kompas, 1/05/10]
————
Semakin hari kita dikejar beberapa pertanyaan mendasar yang cukup menggelisahkan tentang eksistensi bangsa Indonesia saat ini dan ke depan. Benarkah modal karakter nasional anak bangsa, modal budaya, modal demokrasi, modal ekonomi, hukum, Iptek, hankam dan sebagainya dapat menjadi landasan kokoh bagi kemajuan bangsa Indonesia ke depan? Benarkah hal-hal di atas masih belum dipahami dan dilaksanakan dengan benar dan tepat? Serta belum dimaksimalkan secara efisien dan efektif.
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dilepaskan dari kiprah dan peran serta para pemimpin nasional dalam memimpin proses perjalanan perjuangan bangsa Indonesia terdahulu, dari masa perjuangan pra kemerdekaan, kemerdekaan, pasca kemerdekaan, hingga saat ini.
Saya tidak tahu persis mengapa waktu itu Indonesia sudah merdeka 52 tahun baru dipimpin oleh 2 orang tokoh nasional sebagai presiden… dan bersyukur 12 tahun terakhir kemudian berkembang progresif, sudah menjadi 6 tokoh nasional menjadi presiden republik Indonesia – ternyata ada perkembangan yang cukup signifikan. Rupanya dilihat dari lamanya periode memimpin, maka dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar, yang 3 (tiga) tokoh panjang-panjang, yang 3 (tiga) tokoh lagi pendek-pendek waktunya. Tentu kalau diceritakan semua akan panjang sekali, lebar dan luas… seluas Indonesia!
Namun demikian menurut saya secara singkat dapat dikatakan sebagai berikut: Presiden pertama Soekarno, telah mampu dan berhasil membangun tegaknya bangunan karakter nasional bangsa Indonesia (nation and character building) dengan kokoh… mulai sejak hari kemerdekaan, saat bangsa Indonesia baru bisa merangkak, berdiri hingga dapat berjalan lancar… Sayang capaian bangunan ekonomi waktu itu agak kedodoran… mungkin karena selalu mendua hati.. Walau akhirnya pun terbukti bahwa karakter yang kuat itu di kemudian hari dapat diwariskan kepada generasi penerusnya.
Presiden kedua Soeharto, telah berhasil membangun ekonomi secara menakjubkan dengan didukung modal panen minyak dan gas bumi melimpah ruah – dalam kurun yang panjang, ditambah hutang luar negeri yang segar dan besar… kemudian bisa membangun sana sini, itu ini dan sini sini. Saking sibuknya dengan berbagai proyek, lupa membangun karakter dan moral sebagian pejabat publik, terabaikan. Rupanya para pejabat pada beraksi dibelakang kursi, mengabaikan nurani mengelabuhi rakyat negeri ini dengan berbagai bentuk tindak korupsi, kkn dan keturunannya. Melewati kurun waktu yang panjang, melakukan aksi korupsi dengan menghilangkan bukti-bukti. Tanpa sadar telah membangun tembok mental kepura-puraan, abs, gengsi, generasi piktor/piktif (pikiran kotor/negatif), munafik, produktifitas dan kualitas bangsa merosot, karena hanya berfikir bagaimana bisa korupsi dan manipulasi. Yang benar kadang disalahkan, yang salah sering dibenarkan, tanpa lagi memikirkan prestasi apalagi kualitas, jati diri dan character bangsa – sadar-sadar, siuman setelah sekian lama sudah tenggelam dalam kubangan, kotor, bau, gelepotan, dan kedodoran bila dibandingkan dengan prestasi negara-negara lain. Memang ada juga yang menikmati, karena memang sudah menjadi habitatnya, namun ada pula yang risih. Muncullah generasi yang kurang senang perjuangan, tidak mau berkorban, kurang kerja keras, kurang disiplin, dedikasi, pendidikan, kejujuran, dan kemuliaan diabaikan. Bila mungkin, semuanya bisa didapatkannya dengan cara intrik, rekayasa, meng-halang2i dan instan. Justru di sinilah letak sialnya, karena berefek sangat panjang, lintas generasi. Namun demikian juga sudah terbukti, ternyata hanya bisa mewariskan ekonomi, satu hati, dua hati atau bahkan hati hampa peduli nilai luhur budaya demokrasi.
Presiden ketiga, BJ Habibie sangat pintar, berhasil membangun hukum, komunikasi dan teknologi. Presiden keempat, Abdurrahman Wahid berhasil membangun kemanusiaan, keadilan dan kemuliaan masyarakat berkeyakinan/beragama di Indonesia. Presiden kelima, Megawati Soekarnoputri berhasil membumikan dan membangun demokrasi dalam berpolitik di Indonesia.
Nah, untuk presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono pada periode pertama pemerintahannya yang lalu; merupakan pasangan riil dan sangat ideal untuk membangun Indonesia di masa kini. Dengan prestasi yang sangat mengesankan, telah berhasil membangun dan membuktikan dengan baik dan benar kepada masyarakat Indonesia tentang apa dan bagaimana citra diri itu dibangun. Disertai dengan keberhasilan bersama wakil presiden Jusuf Kalla dalam membangun ekonomi dan perdamaian antar masyarakat di berbagai daerah. Kemudian di periode kedua, karena cukup berjasa dalam membil-out kampanye bank century maka dapat ditarik menjadi modal untuk berpasangan dan bertanggung jawab dalam.. melanjutkan pembangunan Indonesia. Dengan dicanangkan pembangunan prioritas 10ribu trilyun, selama lima tahun. Walaupun jalan agak terseok-seok, digelayuti century [maaf karena ini binatang besar, berat dan berbuntut/berekor panjang], markus, korupsi, dan sebagainya. Serta begitu urgennya pemulihan moral dan karakter bangsa saat ini. Maka diperlukan tindakan langkah pemimpin dan birokrat yang sigap, cerdas dan tegas di berbagai bidang..
Masalah lapindo, koja, gki dekat taman yasmin bogor, batam, cisarua dan sebagainya adalah bentuk akumulasi wujud output sebagian pendidikan karakter bangsa. Kepedulian dan keberpihakkan pemerintah tidak boleh setengah-setengah. Harus tegas, kalau memang tidak ingin dikatakan membangun bangsa barbar/preman. Karena itulah bagian tugas pembinaan pemerintah terhadap masyarakat. Setelah diteliti cermat, yang mengalami kerugian segera dibantu, dipulihkan dan diganti. Tegas saja, yang salah diperiksa dan dihukum, karena ini negara hukum, yang berazazkan keadilan dan kemanusiaan.
Membangun rumah sembahyang di negara pancasila apa ya masih perlu ijin? Ya kalau memang perlu, jangan tebang pilih. Masak yang satu memandang perlu diwajibkan, tetapi yang lain menilai itu tidak perlu. Bagaimana aturan itu bisa memenuhi rasa kemanusiaan dan keadilan. Mengapa ada kelompok yang merusak kelompok lain dengan semena-mena, padahal dalam ibadah atau sembahyangnya tidak mengganggu, kecuali mereka berdoa/sembahyang dan menyanyi dengan pasang toa keras-keras di luar atau di menara, tentu sedikit banyak ada yang terganggu. Memangnya berdoa itu kepada siapa?
Namun apabila itu pun terjadi sedemikian rupa, toh di berbagai tempat di sekitar kita juga tidak pernah ada masalah atau tidak ada yang merasa terganggu/mengganggu, apalagi terus sampai diingatkan misalnya; ‘mbok ya jangan keras-keras suaranya’ [saya kira belum pernah mendengar berita seperti itu]. Karena semua orang Indonesia sudah maklum dan sudah paham akan kehidupan bertoleransi, dan beragama itu untuk saling menghargai pihak lain.
Kita prihatin, apalagi ini sedang punya kerja membangun tempat untuk sembahyang kepada Allah. Sebab biasanya Allah pun tidak pernah ingin dibela oleh orang, umat atau bahkan oleh siapapun. Namun justru Allah selalu penuh cinta, berlimpah kasih sayang, peduli dan berbelarasa kepada seluruh umat manusia, hingga nanti tiba pada saatNya.
Aksi-aksi, tindakan serta praktik kehidupan seperti inilah jelas menjadi bagian cermin dan indikator penting dari tingkat kemajuan pendidikan karakter dan moral suatu bangsa. Baik itu di dalam masyarakat, di ruang publik, lembaga2 pemerintah/negara, tidak terkecuali bagi kemajuan kehidupan dan kerukunan umat beragama di Indonesia saat ini, dan ke depan. Maka warisan falsafah kepemimpinan Ki Hadjar Dewantoro, “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” – di depan memberikan teladan, di tengah giat membangun karsa, di belakang mendorong dan memberi semangat – masih sangat relevan, berharga, perlu dan sangat edukatif. Kemudian agar dapat dipraktikkan dengan baik untuk menjadi warisan luhur budaya bangsa yang tak ternilai, terus digali, dipraktikkan dan dikembangkan di dalam proses pendidikan generasi muda dan para pengemban mandat rakyat di segala kalangan, dan segala bidang bagi kemajuan bangsa Indonesia saat ini dan ke depan.
Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat.
Best Regards,
Retno Kintoko
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center]
[Spiritualism, Nationalism, Resources, Democration & Pluralism Indonesia Quotient]
Moga pendidikan di negeri kita makin bagus
makin diperbaiki
Lagi kopdar kan hari ini
Salam buat mereka 🙂
No comment ah >> mahasiswa doyan nyontek 😀
Vietnam.. the rising.. kalah dah indonesia klo masih kayak gini2 aja.. skrg dah ketar ketir pula dengan China AFTA .. duh buyuang.. 🙂
Ayo berani bangkit maju(BBM)!