Tumpukan cinta itu adalah puisi-puisi seorang pujangga sejak SMA.. Puisi dan sajak asal-asalan yang membuatnya disebut “norak” dan “edan”.. serta mengorbankan ratusan lembar kertas, meja kursi, bahkan dinding (maaf) toilet disebuah SMA nun jauh di sumatera.
Tak terasa, lama sudah dia menghilangkan dengan paksa derita cintanya untuk diungkapkan lewat kata-kata bermakna ganda. Namun dirinya tergoda untuk mencari tumpukan cinta itu kembali. Untuk dibaca ulang, ditertawakan dan diberikan juga ke seorang teman, penikmat sajak yang akan segera melepas masa lajangnya. Sang Sahaja. Achoey El Haris, menginspirasi gairah sang legenda, Damiano Unggulo, dari Italia, yang kan kembali, menggali kembali bayang-bayang melayang tentang cinta..
Baik kang, untuk kado mu, kuberikan catatan-catatan lampau. Mungkin hanya beberapa yang terselamat dari badai galau yang meluluhlantakkan dan menghancurkan lembaran-lembaran itu… sejak 1996 kutulis, namun kubuang begitu saja di lautan dalam tak bertepi..
Baik Kang, untuk kadomu dan inspirasiku, ‘kan kumulai hidup sang legenda, dari italia kembali, dengan naskah-naskah penuh cinta. Untuk anakku kali ini, kupejam mata, namun kubuka mata hati agar ia bisa juga mengapresiasi dan memiliki perasaan yang halus, lembut, menghargai apa-apa yang tersurat maupun tersirat dengan bersahaja. Seperti dirimu.
Mulai hari ini, dengan puisi lampau yang terselamatkan, Apakah Aku Sampai, Setiap dua hari akan kutulis hingga tanggal 3 Juni pas pernikahanmu. Kebetulan karya itu hanya selamat 4 puisi diantara puluhan..
Kado dariku, mungkin hanya ini, dan terimakasih, masih kutemukan setumpuk cinta di belakang sana, ku kais-kais dan mendapatkan beberapa yang layak untuk diabadikan di dunia baru ini. Dunia paperless, dan tumpukan cintaku akan abadi di dunia maya, tak perlu dibuang, dibuat tua, dibuat kuning kecoklatan ditelan jaman..
Selamat atas pernikahanmu. Barakallah..