Hii.. Parno ah..
Jangan salah sangka dulu.. ini judulnya membuka baju bukan asal baju. Saya ingin menyampaikan kalau dalam berkomunikasi, kita perlu untuk melepaskan baju, atau sebaliknya, perlu memakai baju.
Dalam keseharian, jika sedang asyik pules tidur siang bertelanjang dada.. keringetan pula, sedang mimpi pula,eh tau-tau ada yang ngetuk pintu. Mau bertamu. Apa yang Anda lakukan? Bangun, terus memakai baju. Baru menyambut tamu. Berkomunikasi. Sebaliknya, jika pada suatu waktu, saat sedang rapi-rapinya, kita mau bantuin orang yang sedang bersawah, kita lepas baju seragam, kemeja dan seterusnya. Ganti baju yang jelek dan ikut berpeluh mencangkul. Jika di sebuah Kolam Renang, Anda juga akan aneh kalau memakai baju sendirian. Walaupun rada minder dengan perut buncit dan gelambir (ngaca hehe..) tentu masih lebih nyaman membuka baju baru nyemplung.
Bagaimana kalau kondisinya berbeda namun kegiatannya salah? Ini yang mau saya curcol-kan. Halah.. Ingat Kasus terbaru di ajag sepakbola, dimana KAPOLDA JATENG minta Wasit diganti di tengah-tengah pertandingan? Ya, Dengan lantang pak Pulisi turun kelapangan dan protes.Beliau Lupa kalau memakai seragam kepolisian. Juga lupa kalau omongannya, dengan sedang memakai seragam, adalah juga atas nama institusinya. Tidak bisa kemudian dia ralat itu atas nama pribadi.
Sebaliknya, bagaimana jika ada seorang kawan baik, namun tidak mampu menempatkan diri dalam sesuatu yang formal. Mencampur adukkan masalah privat dan publik, juga mencampur adukkan gaya bahasa formal dan nonformal–as a friend? tentu kurang baik dan bisa memicu konflik. Apalagi, seperti kasus pak Polisi, dilakukan ditengah keramaian penonton. Jangankan wasit, pelatih pun bingung pak Polisi ini ngapain masuk ke Lapangan. Pengamat bola juga jelas menyatakan, hormati ranah masing-masing, kedudukan masing-masing dan berlakulah sewajarnya. Kata T2, grup band cewek yang lagi naik daun.. Pliss deh.. Jangan lebay.. tentu pengamat manajemen dan SDM juga mengatakan yang sama. Meniru sebuah iklan, mereka akan bilang Pengin Eksis, Jangan Lebay Pliz..
Di sebuah perusahaan, tentu yang baca milis–misalnya terjadi “salah pakai baju” di milis dan malangnya, berdampak negatif bagi si komunikator bersangkutan. Nah kalau dilapangan terjadi ketidakhormatan akan ranah masing2, di perusahaan juga sering terjadi. Ini fatal. Membuat keki, walau tidak sampai benci. Tapi jelas, kurang nyaman. Apalagi kalau levelnya disaksikan banyak orang (misal berantem di milis atau di cc ke para direktur) jelas tindakan kurang bijaksana.
Komunikasi, baik formal maupun nonformal memang dilandasi hak dan kewajiban. Pak Kapolda memang tegas dan jelas merasa benar, based on Peraturan FIFA. Benar, memang. Namun etika perlu diperhatikan kode etik antara lapangan menjadi milik wasit adalah hal yang wajar. Sebagai contoh, Wasit Webb di Final Piala Dunia 2010 menghamburkan 14 kartu kuning dan 1 kartu merah, tanpa intervensi dari polisi apalagi penonton. Semua perlu trust dan wasit yang pegang di lapangan.
Di kantor? Cukup tempatkan diri dengan baik. JIka diranah publik, bicaralah elegan. Jika diranah pertemanan, diluar itu, boleh berbicara agak ngawur. Tidak cukup adil bagi si penerima pesan apabila ada salah-salah kata (dengan sengaja) dan menyinggung perasaan.
Masalah yang kedua, hal tersebut selain memicu konflik juga berdampak kurang baik. Misalnya, si komunikator tentu sebagai insan institusi membutuhkan pertolongan rekan kerjanya, yang, siapatahu, merasa tersinggung oleh ulah “tidak pada tempatnya” tersebut.
Lalu, bukankah perlu semacam pencairan suasana dan suasana dibuat se-informal dan senyaman mungkin? Ya memang perlu. Tapi untuk kondisi tertentu. Jika memang setting-an wajah dan mimik serta kelakuan Anda “formal”, sulit untuk berupaya nonformal. Apalagi kalau Anda tidak sadar, banyak yang memperhatikan dan menjadi hal yang tidak baik untuk kedepannya. Tidak baik dalam hal hubungan dimana interelasi dibina sebagai sahabat yang trust-worthed dan I’ll do the best for you. Jika tidak, celaka. Anda hanya akan terjebak dengan senyum manis palsu dan berhubungan kaku. Di luar itu, wadehel…
Jadi, jangan salah pakai baju. Jangan juga salah lepas baju. Kadang kita perlu ketelanjangan untuk memahami satu sama lain. Namun telanjang bukan hal yang bagus bila yang berkomunikasi adalah orang yang berjenis kelamin beda (di dalam institusi kantor, anggap saja kedudukan dan atau divisi yang berbeda). Bisa miskomunikasi dan bisa.. mis.. mimisan! (ditonjok maksudnya)..
Salam komunikasi..
Saya termasuk yang ngakak pas denger berita Polisi masuk Lapangan trus menta wasitnya diganti gitu gan. ada yang comment malah karena polisinya takut kalah taruhan 😀