Oleh-oleh mudik lebaran sebenarnya masih banyak, namun berhubung waktu menulis sulit, ya, boleh dikata banyak yang terlewat. Namun, salah satu fenomena yang sayang dilewatkan adalah adanya Busway di kota legendaris, kota dimana pernah menjadi pusat tahta kerajaan besar di Asia, Sriwijaya. Tengoklah hasil foto sekilas dari dalam bis dibawah ini.


Dari beberapa twit, saya pernah live report menaiki busway ini. Dari sisi interior dan eksterior, sudah bagus, sama seperti trans Jakarta, trans Jogja maupun belakangan yang saya tau tapi belum begitu “menggigit’ adalah trans pakuan. Adanya AC, Petugas berseragam dan sopir klimis sudah menjadi hal yang standard ala busway.
Hanya saja, yang berbeda antara lain metode pembayaran. Di Trans Musi, demikian nama bis ini, Anda tidak perlu tiket dulu sebelum masuk. Jump in, dan didalam bis, akan ditagih karcis. Saya aja hampir ngga bayar karena sang kondektur lupa nagih hihi.. untung sudah tobat sejak merantau ke Pulau Jawa belasan tahun lalu.. jadi saya berikan saja ongkosnya. Harganya Rp 3000, ada kupon undian lagi hehe.. Potongan karcis (sebagai kupon) dimasukkan ke kotak yang ada didekat pintu masuk, sedangkan potongan satunnya dikantongin.

Selain itu, sebenarnya Bus Trans ini nyaman loh. Namun dari kondisi, saya perhatikan hanya penumpang yang terdiri dari Bapak-bapak, Lansia, dan Ibu-ibu yang gendong balita yang sering memanfaatkan. Apa sebab? Nah, kita beralih ke sisi psikologis dan kemasyarakatan..
Tarif Rp 3000 berbeda cuma Rp 500 dari tarif bus biasa di Palembang. Dengan berbeda hanya lima ratus rupiah, tentu bagi yang mau “cepat” tidak mau naik trans. Mengapa? Karena jumlahnya yang masih sedikit. Kemudian, jumlah demikian menyebabkan penantian yang melelahkan di Shelter. Paling banyak menumpuk di halte TRANSIT. Banyak yang berubah pikiran, naik Bis biasa, ketimbang nungguin bus trans demi hemat sampai tujuan (1 kali bayar).
Perilaku ingin cepat dan tidak sabaran mungkin menjadi salah satu faktor mengapa sepinya Bus Trans ini dari penumpang “anak muda”. Kedua, adanya semacam ego dimana naik Bus biasa itu lebih “ngebut” dan “koboy” sedangkan bus trans selain nunggu nya lama, jalannya lambat. Tidak sebanding dengan menambah uang 500 rupiah, tapi lebih cepat sampai.
Selain itu, faktor psikologis yang ditemukan adalah masalah keamanan. Kata teman-teman di twitter, boleh aja namanya bus trans, tapi caranya masih “cara preman”. Ya, image palembang, terutama masyarakat daerah seberang ulu dan kertapati yang “preman” kalau tidak, disebut saja “bermental preman” yang merusak. Oleh karena itu, katanya sih, Bus trans musi belum akan melewati daerah Kertapati. Sebab, pernah di-demo massa sopir bus dan kenek. Di Palembang, memang angkutan Bis semacam kopaja dan metromini di jakarta berseliweran ditengah-tengah Angkot.
Mental suka merusak juga disinyalir yang menyebabkan, sistem bayar di dalam bus. Sebab palang pintu mungkin belum bisa diterapkan. Dan personel pun masih terbatas. Tapi memang, saat saya konfirmasi ke salah satu petugas, program Bus Trans ini baru, dan baru tahap ujicoba.
Mudah2an nanti di setiap halte/shelter akan banyak personel sehingga menambah nyaman ibukota Sumatera Selatan ini. Sudah sewajarnya, perilaku modern ditumbuhkan dan sarana transportasi modern dan nyaman aman pun diterapkan. Tinggal tunggu waktu sepertinya. Sementara, aparat dan tokoh masyarakat juga perlu mengedukasi masyarakat setempat untuk berbudaya disiplin, santun dan modern. Penulis tidak sempat mengambil foto tatkala melihat kondisi halte yang sudah mulai dicorat coret. Jadi, sebuah peer untuk edukasi di kota tepian musi ini..
Asik klo tar klo jalan-jalan ke sana coba trans Musi ah, hihi..tapi nggak sampai berdesak desakan kayak trans Jakarta kan ya 😀
Maksudnya lebih murah bis mif. Dan lebih cepat ga nunggu lama. Jd lu pasti maksudnya pilih bis or angkot kan?
bagi mahasiswa kere macam saya, bedanya itu udah 25%, nominal yang besar, so lebih mantep pake trans kayaknya 😀
Bedanya Rp 500 bu.. bukan ongkosnya. Rp 2500 ongkosnya
Emang ongkos bus/angkot di Plmbg masih 500rp? masa masih murah bgttt??…jadi penasaran secara kemaren pas pulang ga ngerasain naek angkutan umum 🙂
wah makin banyak aja trans-trans-an di Indonesia ya… hihihi… semoga nasib Transmusi ga seburuk transpakuan… *keluh kesah dari yg sering naek transpakuan*
begimana klo ke pb2010 nya naik trans musi? biar agak jauhan dikit gitu ;D
Saya pernanh nyicip Trans Musi kang.. Bagus kok, jauh sama transPakuan yg makin kemari makin parah…
*idebagus tuh, kita sama2 naik KRL trus sambung dgn TransJakarta…
Naaahhh.. nanti kita rame2 ke PB2010 naek busway aja kang ! hehe..
Jujur, naek Trans Jakarta atau pun Trans Pakuan aja belum euy 😀