Coba Dengar Suara dari Nurani..Dia Bersumpah!

https://www.unggulcenter.org/dengar-suara-dari-nurani-bersumpah/

Kaos Bersejarah

Menarik sekali, melihat  sebuah kotak sampai ke rumahku di Bogor, walau dibukanya pun setelah acara soempah pemoeda 2.0 selesai sebab aku tidak pulang ke rumah untuk membuka bingkisan itu. Kotak itu berisi semacam surat kabar dengan model tempo doeloe, pernak pernik lain, dan sebuah kaos putih. Kaos ini unik, dan bukan hanya karena warnanya yang semriwing dan tulisan soempah pemoeda 2.0-nya yang mengundang tandatanga pembaca saja, tapi juga karena ini-lah kaos yang dipakai ketika deklarasi soempah pemoeda 2.0 berlangsung, bertepatan di tanggal 28 oktober 2010. Thanks to Panitia, walau ga bawa kaos, saya dikasih kaos dan kacu merah putih lagi biar bisa ikutan “main”. Yess!!

Artinya, ini kaos adalah kaos bersejarah bro.. mantabh pisan.. Lokasinya, di Museum Kebangkitan Nasional. Belakangan, di sore hari, peserta berkesempatan juga (komplit deh!) ke Museum Sumpah Pemuda, sebuah kost-kostan di bilangan di Kramat no 106. Tempat dimana Sumpah Pemuda benar-benar terjadi, pada sebuah Kongres Pemuda II, sesuatu yang mungkin sulit dibayangkan oleh generasi pada saat itu (generasi tua).

Heboh di Era 2.0?

Acara ini sebenarnya dari kalau kita lihat sisi kuantitas tidak banyak peserta, malah, kata seorang teman undangan,  cenderung kurang heboh dibanding aktivitas sejenisnya di pagi hari, kabarnya di Tugu Proklamasi. Disana lebih banyak orang berkumpul. Ada donor darah dan seterusnya. Begitulah informasi teman. Saya senyum-senyum saja. Belum tau dia.. Mungkin beliau kurang paham, bahwa aktivitas hari ini memang merupakan aktivitas yang mengarah ke model digital. Dunia Maya. Deklarasi yang ini akan dilakukan serentak via Facebook dan twitter. Ini pula mungkin yang membuat Museum Rekor Indonesia (MURI), yang melalui representatif utama-nya, Pak Jaya Suprana berkenan hadir sekaligus menganugerahkan rekor ala MURI.

Rekor ini menarik, karena soempah pemoeda 2.0 secara fisik memang tidak menampilkan kuantitas. Tapi yang dimaksudkan adalah kualitas. Ya, deklarasi ulang soempah pemoeda ini diberikan embel-embel 2.0 karena bersifat “digital”. Digital karena tidak nampak di mata telanjang. Tidak hadir didepan kita. Maya. Sebab, ya inilah yang namanya Digital. Kabarnya ribuan pemuda di belahan negeri bahkan dari luar negeri mendeklarasikan sumpah pemuda pada hari itu.  Bulan dan hari yang sama. Namun tahun 2010. Tepat 82 tahun yang lalu. Saya tidak tahu persis tapi jumlahnya banyak sekali. Inilah power of social media! inilah maksud dari era 2.0!

..dan ini SANGAT HEBOH Kawan!!

Suara Nurani 2.0

Seorang teman nge-twit.. HADIRR!!! tapi tak kita lihat dirinya. Seratus teman juga bilang Satu Negeri!!!  tapi tak kedengaran teriakannya. Ribuan teman berkata “kami, putera dan puteri Indonesia..!” namun koor tersebut tak dilihat darimana datangnya. Nah, itu, itu kalau kita melihat dengan mata telanjang. Lihat dengan mata hati, satukan nurani. Gerakkan jari jemari. Bukan nge-sms, bukan tak beretika. Namun pada saat ini lah, momen ini, adalah hari, dimana semua –kembali– bersatu untuk satu. Satu, untuk Satu. Tiga butir deklarasi dideklarasikan. Tiga sumpah diikrarkan kembali. Tanpa banyak suara, hanya utusan perwakilan blogger di depan panggung dengan slayer merah putih dan kaos sumpah pemudanya. Khidmat.

Hah? kau bisa lihat? Ya. Mereka dikeliling ribuan spirit (roh, semangat). Perlahan kau lihat, makin lama makin besar, makin membumbung tinggi, menggelembung, membesar. Seperti bola semangat yang dihimpun Son Go Kou di kisah legendaris Dragon Ball (bacaan saya masa kecil). Bola semangat yang sanggup menjadi kekuatan mengalahkan penjahat, jahat, dan kejahatan. Bagi bangsa ini. Bagi “Bangsa bodoh yang selalu ku bela sampai mati”,  kata tulisan di kaos pada sebuah film yang akan beredar per-november, yang kebetulan trailernya ditayangkan, dan sutradaranya ikut sharing di acara sumpah pemuda 2.0 beberapa hari lalu. Menarik! sekali lagi menarik!

Tak kau dengar? Suara itu? ya. Ternyata kau dengar bukan?. Lihatlah juga dikanan kiri panggung ada layar besar yang menampilkan Facebook dan twitter Indonesia Berprestasi, “rumah” dimana semua orang berteriak bersama-sama, dengan bahasa yang sama, tanpa perlu menghabiskan suara. Sahut-menyahut twit dan update status muncul di kedua layar tersebut. Live! Wahai teman, Inilah era 2.0! Sumpah Pemuda 2.0!

Pemuda 2.0 dan Orang Tua 2.0

Ada lagi yang menarik dari acara ini. Ada Talkshownya. Menghadirkan Anhar Gonggong, sejarawan tulen yang konsisten. Mas Imam  Prasodjo, Sosiolog kondang yang selalu bergizi apa yang diucapnya. Promotor nyentrik, Adri Subono, yang ternyata banyak fansnya diantara blogger yang hadir. Dua lagi adalah penerima penghargaan dari XL, Sudiyanto, dan aktivis kaliber sosial media, Mas Iman Brotoseno. Menarik, antara orang-orang tua, ada anak muda yang berinteraksi dengan sosial media. Dunia orangtua, melansir pendapat Imam Prasodjo, adalah orang migran, melakukan sebuah proses migrasi, apabila dia mau, menuju dunia social media, dunia digital. Sekali lagi, kalau dia mau.

Tak pelak, “tuduhan” peserta sedang ber-SMS ria oleh salah dua narasumber tentu tak masuk “logika digital”. Anak-anak sekarang, lahir dengan dunia maya sebagai bagian dari dirinya. Bahasa sosiologinya “natif”. Jadi sekaliber Imam prasodjo dan Anhar Gonggong hanya bisa menjadi “Orangtua 1.0.” Yang masih berada di dunia konvensional, dan, walau sadar, seperti Imam, tidak mau juga serius ‘beralih dunia”.

Nah, orangtua 2.0 adalah orangtua yang juga catch up, mengejar dan bermigrasi dalam rangka komunikasi. Baik sebagai lahan bisnis baru, sebagaimana Adri Subono, dan menguntungkan dari sisi materi, juga sebagai wadah baru komunikasi. Walau tidak selalu dapat menjadi perekat komunikasi. Benar, karena orangtua 2.0 belum tentu nyambung dengan anak 2.0. Misalnya, adanya fenomena facebook, dan fenomena terbaru dari facebook, yaitu fenomena registrar baru yang berumur 30 tahun sampai 60 tahun, alias kalangan mami papi, ya anak dan ibu memiliki jejaring masing-masing, tidak juga nyambung.  Itu terjadi.

Orangtua 2.0 mestinya selain berkomunikasi ala 2.0 (baca bersosmed ria, berdigitalisasi) juga menjadi pendengar yang baik untuk anak, penasihat yang tauladan. Dan tidak tersinggung apabila anak asyik dengan smartphone-nya ketika orangtua mau menasehati (baca : ngomel). Tentu orangtua 2.0 punya tip trik ngobrol dengan anak, bisa sesama gadget, bisa juga gadget era baheulak, yaitu : ngobrol pada saat makan malam. Konvensional tapi esensial!

Kritik 2.0 dan Sumpah 2.0

Jika periode lama kritik dan saran selalu ditanggapi dengan sepi, dianggap tidak ada, atau sebaliknya, dengan amarah dan tidak terima, kritik era baru penuh pertimbangan, non-emosional, dan berasal dari berbagai media. Tidak harus lisan, juga dalam tulisan. Tidak perlu berteriak, tapi memanggil dan memberikan masukan secara personal. Bisa personal, langsung lewat perangkat internet. Lewat twitter, directly to the account. Lewat status facebook, celoteh di komunitas maya, dan diskusi di forum-forum. Semua bisa bersuara. Bisa kritik, otokritik, maupun dikritik orang lain. Dunia menjadi datar.

Akhirnya, perlu kita sadari, sebagai insan 2.0, bahwa semua kegiatan pun pasti tidak sempurna. Karena ketidaksempurnaan lekat dengan manusia. Begitupun acara Sumpah Pemuda 2.0. Beberapa catatan, mungkin bisa menjadi masukan bagi kegiatan serupa. Juga bagi semua pemuda yang terlibat.

Oke, benar, berarti dari seluruh dunia. Dunia nyata dan Dunia Maya. Dari seluruh sisi, sisi negatif maupun positif. Dari sisi teknis penyelenggaraan acara, maupun non teknis yaitu isi acara dan kontennya. Semua evaluatif. Yang pasti, dengan model digital, semua suara terwakili. Ketika dia bersumpah pemuda, dia bersumpah setia dengan bangsa, tanah air, dan bahasa ini. Tanpa perlu melihat SIAPA dia. Hanya nama pengguna, fotonya –kalau ada, dan kita tetap melihat sumpah setianya, bukan orangnya.

Ini paling mendasar dari sebuah perilaku luhur : “Jangan lihat SIAPA yang berbicara, tapi APA yang dia bicarakan”. Ketika dia bersumpah (serapah, kadang), dia bersumpah dengan komponen bangsa, keluh-kesah, kekecewaan dan juga bersumpah sebagai anak bangsa, dia yang akan memperbaiki ini semua! ini beban dia. Dan ini tugas dia. Dengarkan.

Dia adalah Anda. Kamu. Saya.

Dia adalah Nurani-mu. Nurani-saya.

Dan dia sudah Bersumpah!

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

14 Comments

  1. hai..hai..:-)
    selamat ya, tulisan yang pantas diganjar blackberry..:D

    eh sudah dihubungi panitia kan ? saya kebetulan sudah..

    sekali lagi selamat ya..
    mari terus berkarya dan berkreasi..

  2. Ah, masih kalah sama tulisan situ, jelas lebih bagus karena kamu juara dua nya kan 🙂 netbook jelas lebih mahal dari pada handphone ya toh hehehe…

    coba twit @indberprestasi deh. 🙂 kalau saya sih, nunggu dulu barang 2 pekan kalau tidak ada yang call or ngimel or ngetwit or tulis pesan di blog baru action lagi.

  3. Two thumbs up for the closing statement!!!
    (I like it *Rianti mode on ^^)

  4. Hebat abis..! apalagi trangkaian kalimat penutupnya.. Mudah diprediksi: tulisan ini layak masuk nominasi (LAGI).. dan Menang (LAGI)…

    Ini menginspirasi saya untuk ikutan… Thx kang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.