Postingan ini adalah Proyek tulisan Blogor benama Chain Posting, dengan tema “CINTA”, dimana untuk tim tema cinta ini sepertinya memiliki berbagai perspektif dan mata sendiri dalam memandang sebuah keadaan, keluarga cinta.
*mengambil mic dan mengumumkan :
Sandiwara Radio Eh Cerita Sebelumnya :
1. Miftah Abdillah Achmad di Bagian 1 dengan peran dan sudut pandang sebagai “Adik” tapi ditulisan ini kujadikan si Aa’ ya hehe..
2. Bunda Desi Hartanto di Bagian 2 dengan peran dan sudut pandang sebagai “Ibu”
3. Pak Hartanto Sanjaya di Bagian 3 dengan peran dan sudut pandang sebagai “Ayah”
4. mas Fajar Suyamto di Bagian 4 dengan peran dan sudut pandang sebagai “Penulis cerita”
5. Unggul Sagena di Bagian 5 menutup, dan Bismillah, karena semua karakter sudah diambil.. maka daku akan berperan dan mengambil sudut pandang sebagai… “Tetangga”. Hehehehe…
—-
Pagi itu, adalah pagi yang biasa.
Lambaian tangan ala Miss Universe oleh Ontohod yang cubby ndut kusambut dengan lambaian tangan juga. Ketawa nan lebar ekspresifnya menggelayut setiap hari dalam aktivitasku dikantor. Apalagi bundanya. Kalau ada waktu iseng, si bunda pasti deh, buka-buka hp dan melihat fotonya, memutar video-nya yang kami abadikan.
Motor cina, yang baru lunas kreditannya menderu. Aku membonceng istri, setiap pagi menuju kantor kelurahan tempatnya menjadi karyawan honor, sudah 4 tahun, kulanjutkan “touring” setiap hari ke Jakarta. Langsung bablas menuju jalan raya Jakarta-Bogor. An Everyday Life. It is happy enough, asal ngga bawa-bawa masalah “keuangan” hehehe..
Setiap pagi pula, pandangan mataku tertumpu kepada keluarga di seberang rumah. Aku merasa, bahagaia sekali keluarga itu. Ibu yang baik hati, ramah dan ehm, juga jago masak. Panutan istriku nih, selain Bu Siska Suwitomo. Bukan Si Mbak “ratu” yang itu yaa yang ditipi slalu dipotret siluet dan jalan-jalannya dulu dengan pakaian ketat demi mengajak kaum adam duduk didepan televisi dan meningkatkan exposure dunia kuliner ke target market yang baru. Lelaki. Aduh, maaf pemirsa, bahasanya menjadi rada marketing, maklum beberapa bagian aktivitas ada diranah ini. Jadi kebawa-bawa deh.
Disana kulihat juga ayah yang penyabar dan penyayang. Dengan segala kelebihan dan kekurangan keluarganya, mampu untuk menjadi imam dan tauladan. Menjadikan anak-anak sebagai “buah hati’ dan “jantung hati”. Tak peduli, kasih sayang selalu abadi. Tak pernah kulihat sang Ayah pergi berangkat kerja, karena sejak subuh beliau sudah tidak dirumah. Mengejar jemputan, bekerja sebagai ilmuwan, profesi yang perlu intelektualitas tinggi, namun minim penghargaan. Mengkaji teknologi, mencari solusi untuk bangsa. Begitu kira-kira. Pulangnya, tak pernah lupa sang Ayah membawa buah tangan. Martabak, sekedar gorengan atau membawa cinta, yang tak kulihat fisiknya tapi terlihat dari parasnya. Selalu ceria walaupun pulang sudah malam.
Dua anaknya sangat ideal. Hmm ideal menurutmu? ya walau anak sulung mereka, si Aa’ memiliki gangguan mental, saya sangat salut dengan kerja keras keluarga ini, sehingga sang anak sulung dapat berkuliah di sebuah perguruan tinggi negeri bergengsi di kota Bogor. Adiknya tak kalah cerdas, walau masih dibangku sekolah, prestasinya sudah gemilang.
Sekali waktu, ketika bersilaturahmi ke rumahnya, satu lemari penuh piala dan penghargaan memukau perhatianku. Tak dipajang di ruang tamu, tapi di kamarnya sendiri. Terlihat sekilas saat ku menuju dapur mengambil makan. Ha? Kok? Ya, sudah hal yang biasa bagi keluarga ini menjamu tamu-tamunya. Tidak ada yang spesial, kata sang Ibu. Hanya lauk ini saja. Tapi semua tamu adalah Spesial. Setiap acara-acara, mereka bersedia menjadi tempat kami berkumpul, bersilaturahmi.
Apalagi, si Adik, menurut Ibu nya, sangat ingin menjadi wiraswasta. Wah, cita-cita yang mulia, membuat lapangan pekerjaan, dan memberikan nafkah untuk orang lain! Anak yang istimewa. Si Ibu juga bilang, karena hobi sang adik makan mie ayam, sepertinya nanti akan mendirikan perusahaan bakmi. Hmm.. mantabh sekali keluarga ini. Kecil-kecil cabe rawit! sudah punya jalan hidup!
Aku sangat tahu kerja keras keluarga setiap malam, Ayah dan Ibu ini mendidik anaknya. Belajar menulis, membaca, mengaji. Lampu temaram di ruang tamu, maaf, perumahan kami tidak ada ruang tengah biasanya, boro-boro ruang belajar, jadi harap maklum.. selalu menyala, hingga larut malam. Ritual belajar dan diskusi bersama dimulai pukul 20.00 malam. Ba’da Isya. Ketika Ayah pulang, membawa penganan, dan mereka bersama-sama anak makan malam dirumah, lalu setelah itu mengaji. Setelah itu belajar. Tak terdengar suara televisi.
Aku juga maklum, bahwa mengajar anak seperti si sulung, Aa’ dengan segala keterbatasannya sangat sulit. Apalagi kalau mereka bersekolah di sekolah umum. Tak mudah memang. Namun, sang Ibu dengan segala dedikasinya, menambahkan pendidikan dengan mengajar sendiri Aa’ di rumah. Adik juga. Sering saya dengar pelajaran demi pelajaran oleh sang Ibu. Komplit dengan logat sundanya. Walaupun sang Ayah jawa medok-nya masih terasa. Aha, contoh satu lagi dari keluarga ini, multikultural dan bisa bersatu bareng!
Tapi keluarga ini luar biasa. Aku saksinya, kerja keras mereka hingga si Anak bisa masuk kuliah dengan sempurna. Ya kubilang sempurna, karena tak mengemis. Tak mengemis karena mentalnya, tak mengemis karena biayanya. Beasiswa didapat setelah dia masuk, berdasarkan intelektualitasnya. Bukan karena menjual keterbatasan. Intelek tapi terbelakang? Kok Bisa. Bisa. Asalkan, Anda tahu bagaimana membuka pemikiranya. Ada satu sisi yang mereka jenius, diatas kita yang rata-rata. Ada satu disisi lain yang mereka kelihatan “abnormal” hanya karena mereka terlalu pintar dan cerdas! namun metode yang berbeda harus ditempuh untuk memberikan sebuah hasil yang SAMA untuk anak yang BERBEDA. itu kesimpulanku.
Kedua anak ini sejak dulu memang diasuh oleh ibunya. Bukan orang lain. Tak kulihat sanak keluarga. Pernah kudengar, mereka ditolak dalam keluarga besarnya, karena ada si Sulung yang “tidak normal” sehingga mereka pindah ke komplek ini. Pernah juga kudengar kabar perihal “kawin lari” nya keluarga ini. Tapi itu dulu, waktu aku masih SMP. Ah sudahlah, sebab aku percaya, karena pernah Sang Ibu bilang, kalau “waktu bersama anak-anak lah yang bisa kuberikan”. Ayahnya juga pernah berkata, “mencari nafkah itu wajib, untuk keluarga. Dan juga wajib untuk selalu berada bagi mereka, tidak ngoyo cari duit. Toh, duit juga buat mereka.” Hm, itu paling masuk akal.
Ah, kok tahu banyak ya aku tentang mereka. Tentu saja, sebab aku besar di perumahan ini. Besar dengan tetangga yang sama. Yang punya semangat yang sama, sama seperti kulihat hampir dua puluh tahun yang lalu, ketika si Aa’ yang sulung menjadi bahan omongan tetangga, karena keterbatasan mentalnya. Saat itu, aku masih SMP. Memang ternyata hidup bertetangga pasti akan banyak “bisik-bisik tetangga”. Aku tak sadar itu, hingga akhirnya membuat sebuah keluarga sendiri, ketika aku dewasa saat ini.
“Papih! yuk Jalan!” suara itu membuyarkan lamunanku.
Istriku sudah mau berangkat. Sekali lompat, ia duduk diboncengan motor. Sebelumnya, peluk cium untuk ontohod, yang digendong teteh, panggilan kami untuk pengasuh yang pulang jam 4 sore setiap harinya.
Ontohod tertawa-tawa lagi. Nak, lucu nian kau. Ku ingin membesarkan kamu seperti tetangga kita di depan. Penuh cinta, kerja keras, untuk keluarga. Juga tak lupa dengan kehidupan sosial. Ramah menyapa, tersenyum dan mengundang untuk bersilaturahmi.

Jam menunjukkan jam 06.30 pagi. Dengan motor yang sama, setiap harinya, akan kususuri jalan. Dengan jiwa yang sama, setiap harinya akan kubaktikan hidupku untuk keluarga ini, keluarga baru yang kuterima dari Allah sebagai anugerah.
Sambil mengganti akselerasi motor, sejenak kutengok ke sebelah kanan, sang ibu mengantar kedua anaknya ke depan pintu. Betapa bahagia mereka. Kuyakin, kedua anak itu tak akan pernah mencederai kepercayaan orangtua. Mereka akan bekerja keras, cerdas dan ikhlas dalam menuju masa depan. Kelak, nanti akan membahagiakan kedua orangtua.
Anakku, ikutlah kisah mereka, jadikan jalan panjang dalam hidupmu adalah perjuangan, untuk mencapai masa depan. Untukmu sendiri, dan dengan bekal kepercayaan dan tanggungjawab dari orangtuamu. Tetaplah tertawa lepas!
Oleh Sang Tetangga. Pada pagi yang biasa saja, namun setiap hari penuh cinta.
Disclaimer :
1. Cerita ini adalah fiktif semata, beberapa tokoh dan kejadian memiliki unsur fakta maupun fiktif, dengan campuran kadarnya tak tentu. Misalnya Miftah adalah Abnormal, itu fakta atau fiktif Anda yang tentukan 🙂
2. Cerita ini merupakan penghabisan dari sistem chain posting tematik oleh Blogor (komunitas blogger bogor).
3. Cerita ini diharapkan menjadi motivasi dalam hidup, dan tidak ada kaitannya dengan kehidupan tokoh-tokohnya.
4. Pemain cerita ini adalah pribadi masing-masing yang diperankan secara profesional. Jangan lantas menjadikan salah satu tokoh menjadi baik dan salah satu tokoh menjadi jahat, apalagi disebut abnormal (maaf ya miftah hihi..).
5. Jika ada kesamaan dengan tokoh nyata dan kejadian nyata, anggap saja angin lalu…
hehehehe
Kang Unggul 😀
i like jessica alroji (ngikuting kang WKF)
.. bukan dengan karakter istri yaa hahaha
kang, aku jatuh hati
Mantap surantap 🙂
kenapa jadi terharu banget baca penutup cerita ini….
nggak nyangka tetangga pengamat ini lakinya jessica alroji 😳
@MT tapi jadi aneh wkwkwkwkwk… jadinya tak ‘se-novel’ yang lain. Ternyata saya memang tdk bisa membuat novel 🙁
wahhh.. sangat harmonis banget ya keluarga itu 🙂
hehehe lengkap sudah tema cinta dikemas dalam cerita yang memikat. dari chain posting tentang cinta ini, justru kita dapat menyerap makna cinta yang lebih dari sekedar cerita asmara para remaja 🙂
wakakaka.. soalnya seharusnya 1 orang cerita, dengan kata ‘aku’ jadinya banyak, Nah, sekalian tuh! jadinya kan ramai 🙂
Kang Unggul seriusan suaminya Jessica-Alba… Bujugbuneng… kok bisa nyasar ke Bogor kang.. :))
yang grup tema CINTA ini, jd lucu ceritanya… 🙂
hihi.. kang iman langsung mampir aja deh.. padahal masih diedit-edit :p
mantab kang 🙂 cerita seperti ini keren banget, menggunakan point of view yang berbeda 🙂