Ini sebenarnya merupakan ‘studi kasus manajemen’ yang mestinya saya tanyakan ke Prof Syafrie, Pembina Blogor sekaligus Guru Besar SDM di IPB (Institut Pertanian Bogor). Sebuah pengalaman sekaligus bagian dari studi aktivitas sebagai mahasiswa magister manajemen. Tapi biarlah pemikiran awam saya dipost dulu disini.
Mengenai pertimbangan antara loyalitas dengan kapabilitas untuk menghasilkan suatu kinerja yang baik (good performance).
Kasusnya begini, apa yang harusnya dipilih oleh direksi dan manajemen terkait pertimbangan seseorang menduduki jabatan yang strategis? Loyalitas atau Kapabilitas.
Misal, perusahaan yang bergerak di bidang penjualan produk, mempunya semacam area sales manager, atau katakanlah cabang di beberapa tempat. Pertimbangan awal tentu wajar, loyalitas yang bersangkutan. Baru mereka ditempatkan. Nah, pertimbangan itu, menurut saya perlu juga ditambah dengan “right man on the right place”. Artinya bukan hanya memiliki kapabilitas untuk ditempatkan di bidang tersebut, tapi juga memiliki track record yang baik di bidang yang SAMA.
Lalu, pertimbangan lain adalah mengenai psikologis. Kemampuan dan kemauan yang bersangkutan untuk melakukan pekerjaan yang diamanahkan. Tak cuma menerima perintah, tapi juga menggali berbagai skenario untuk perubahan. Melakukan “capacity building” dirinya, terus menerus. Kalau tidak, maka apa yang diamanahkan tidak berjalan lancar. Teknisnya, paling tidak ada sesi tes psikologis, baru wawancara. Tak dibalik, dan tak salah satu saja.
Ada pengalaman, dengan kondisi yang tak mencerminkan seorang pemasar, misalnya, dan tak ‘mau’ maju menjadi pemasar, seseorang bisa saja tiba-tiba ‘diangkat’ pada kedudukan manajerial. Hal yang mungkin dari sisi keterampilan maupun sisi psikologis belum sampai pada dirinya. To say the least, karena loyalitas saja, karena “inside man” yang sami’na wa ato’na.
Benar, pemikiran awal adalah, loyalitas does matter. Kalau ‘pinter’ tapi ngeyel kan percuma. Namun tak pernah dilihat dari sisi si subyek. Apa benar minatnya di bidang itu dan sejauh mana ia mau belajar. Bukan malah yang didapat keluhan dan keluhan lagi. Mungkin bisa si orang ini berkata, “Hei, saya nggak minta kok untuk disini. Saya lakukan saja yang saya bisa.” That’s it. Nah baik tidaknya kinerja nanti urusan belakangan. Tapi yang dirugikan dalam hal ini, mungkin pasti adalah perusahaan. Learning curve nya terlalu tinggi untuk trial dan error masalah penempatan SDM. Apalagi jika dalam posisi strategis, misalnya ASM tadi yang merupakan “profit center” untuk perusahaan.
Lalu, risiko yang diambil perusahaan untuk mengambil orang baru atau mengangkat orang lama seperti apa ya? Atau, berapa sih rasio antara loyalitas dan kapabilitas itu? Bagaimana menilainya. Apakah via tools atau via “insting” dari direksi/owner/pejabat yang berwenang ? Karena menurut saya, penempatan ini akan berpengaruh BESAR terhadap maju mundurnya perusahaan, minimal dari cabang atau divisi yang dipimpinnya..
Ada pendapat?
kalau menurut saya, sebagai orang awam yang belum beajar ttg management. yg harus diutamakan adalah loyalitas, karena loyalitas itu sangat sulit dibentuk sedangkan kapabel bisa dibentuk. kasarnya ini soal hati dan pikiran.. klu mengasah hati itu jauh lebih sulit daripda mengasah pikiran 🙂 kita bisa belajar menjadi orang pintar, tapi belajar menjadi orang baik?? itu belum tentu mudah 🙂
mmm.. walaupun sudah banyak tools penilaiannya tapi lebih sering penilaian karyawan itu tetap insting atasan yang lebih besar..
…loyalitas vs kapabilitas?…kita tempatkan saja dahulu keduanya pada konteks kompetensi…loyalitas sebagai kompetensi lunak dan kapabilitas sebagai kompetensi keras…dalam prakteknya proses mengubah dua kompetensi itu ternyata ada perbedaan…kompetensi lunak lebih sulit ketimbang yg keras…dan kalau toh bisa namun makan waktu lama…berangkat dari situ maka yg diutamakan dalam kepemimpinan jabatan adalah loyalitas…sementara kalau kapabilitas lebih mudah dibentuk dengan cara pengembangan sdmnya dan waktu transformasinya relatif lebih pendek ketimbang membangun loyalitas…proposisinya adalah “menjadi orang yg loyal dengan tulus walau kurang kapabel adalah lebih baik ketimbang menjadi orang yg pintar (kapabel)namun kurang loyal”…silakan baca salah satu buku pop ENGAGEMENT (karya I.Finney…yaitu cara pintar membuat karyawan mencurahkan kemampuan terbaik untuk perusahaan…banyak tersedia di toko buku…salam sukses
Kyaknya aspek yang lebih dominan sehingga atasannya itu jadi atasan juga berpengaruh deh kang.. Kalo dia sekedar diangkat karena loyalitasnya ya mungkin dia akan melakukan hal yang sama dengan bawahannya, begitupula dengan aspek kapabilitas.
CMIIW, saya masih SMA, masih perlu belajar banyak banget 😛
saya ga punya basic tentang ini Pak,,
tetapi menurut pikiran awam saya, kalo judulnya ASM untuk profit center,, ya loyalitas, ya kapabilitas, sangat mutlak, tetapi harus dua arah,, ya, dari personalnya dan juga perusahaan,, kalo dianya udah bagus, tapi dari perusahaanya ga loyal,, lama2 semua kemampuannya juga ngadat,,
waduh, ribet. tapi saya sih akan mengedepankan kapabilitas. masalahnya adalah loyalitas itu sangat rentan akan perubahan bila situasi kerja berubah, sementara profesionalisme memang kadang ‘dingin’ terhadap perubahan emosi karyawan. oleh karena itu lebih logis memilih yang berkompeten karena dia mampu memberikan kinerja terbaik dalam situasi apa pun. kalau toh ternyata dia tidak loyal dan kemudian berhenti, paling tidak dia meninggalkan catatan kerja yang baik 😀