Yang Waras Ngalah. Yup, kalimat pamungkas itu terngiang ditelingaku. Kalimat yang diucapkan Pak Dodi Budiono, seorang instuktur keselamatan Indonesia Defensive Driving Center (IDDC) pada saat breakout session Ford Driving Skills for Life (DSFL) Indonesia pada Pesta Blogger 2009. Lengkap dengan mimik muka dan gerak tubuhnya, mengangkat kedua lengan dan mengatakan dengan serius : ”yang merasa waras.. pasti dia akan mengalah..”
Haiyaa! Event pesta blogger kali ini memang sangat mengesankan. Mulai dari games-games, joget ala ontohod, hingga senyum-senyuman dengan Mas Enda Nasution. Muter-muter sebelum acara dimulai, saya melihat-lihat kondisi sekitar, siapa tau ada artis, bisa saya ajak foto-foto, siapa tau ada Fans, bisa ngajak saya foto-foto hehe.. Hmm. Ada beberapa rooms yang disekat. Untuk presentasi parallel session sepertinya, begitu saya pikir. Salah satu yang menarik hati adalah ruang berlabel “Ford Driving Skills For Life”. Mengapa, sebab kok ada hal yang begitu “cemen” seakan-akan penting. Gejolak egoisme dan “pria sejati’” yang bermental ngebut-ngebut dijalanan menyeruak. Apa kira-kira yang akan disampaikan ya.. ternyata oh ternyata, pas benar-benar mengikuti sesi ini, saya akhirnya sadar kalau saya harus “waras”.
Blogger adalah intelektual. Dekat dengan teknologi dan kehidupan modern. Artinya kalau diminta “waras” lebih bijak untuk merespons ketimbang yang “hidup dijalanan”. Mungkin itu jalan pikiran rekan-rekan dari DSFL Indonesia yang disponsori Ford Foundation ini. Ini tepat sekali, sebab disajikan presentasi yang “memukau”, “sedih” hingga “berdarah-darah”, Pak Dodi, pemateri dengan kepiawaian presentasinya mengajak peserta ber-Defensive, Safety, dan Eco Driving. Tunggu dulu, apa itu?
DSFL berbicara tiga hal yaitu bagaimana Smart Driving, Protecting Lives, sekaligus Saving Fuel. Got it? Nah, Smart Driving seperti apa, itulah yang disebut di dalamnya diistilahkan sebagai Defensive driving, Safety driving dan Eco Driving. Defensive driving bukan berarti ngomongin masalah perang saling serang, tapi justru Perilaku yang dapat membuat kita terhindar dari masalah. Baik yang disebabkan oleh orang lain, atau diri kita sendiri. Disinilah slogan “Waras” berlaku. Sebab ini lebih kepada pendekatan “intelektual” bagaimana mengemudi yang aman, benar, efisien dan jangan lupa, bertanggungjawab. Term kedua adalah Safety driving, terkait dengan penggunaan standard keamanan dalam mengemudi yang benar, plus, mental positif dan kewaspadaan terus menerus. Ketiga, Eco Driving yang bermakna “go green”, tercapainya tujuan berkendara yang efisien (hemat BBM) dan mengurangi polusi (ramah lingkungan).
Solusi ini di-breakdown menjadi 10 Tips berkendara yang diramu oleh DSFL untuk kita ber-smart driving, yaitu memakai seatbelt, penggunaan kaca spion, pengemudi yang defensive, mengatasi berbagai gangguan dalam berkendara termasuk larangan menelepon dan ditelepon pada saat menyetir, menjaga jarak aman saat mengemudi, pengoperasian gigi transmisi yang ideal, mempergunakan momentum kendaraan, mematikan mesin kendaraan, serta menghindari beban berat kendaraan.
Nah, inti dari tips dan kegiatan ini kalau menurut pendapat saya pertama, hal bersifat teknis yaitu kebendaan dan teknik mengemudi. Ini semua bisa diatur sedemikian rupa sebagai bagian dari persiapan berkendara. Sedia payung sebelum hujan. Mulai dari seatbelt/safety belt hingga tekanan ban diatur dalam persiapan ini.
Kedua, adalah hal yang bersifat spiritual-moral. Ini merupakan sarana vertikal (masalah takdir hidup dan mati) sekaligus masalah horisontal (terkait hubungan sesama manusia, bagaimana utk tidak menyebabkan orang lain menderita). Kurang lebih, masalah spiritual-moral ini teknis di lapangannya adalah selalu “berdoa” dan “memahami perasaan orang lain”. Mengemudi dengan 4-A yaitu Awareness(kesadaran), Alertness (kewaspadaan), Attitude (sikap mental), dan Anticipation (reaksi). Dalam mode inilah “tingkat kewarasan” kita diuji.
Sekarang dengan berpikir dewasa, matang dan kontemplasi, kita renungkan data-data dari Asian Development Bank (ADB) bahwa tahun 2003 SAJA, seluruh kecelakaan lalu lintas di Indonesia sebanyak 24,5 juta, dengan komposisi 97 persen diakibatkan faktor manusia (human error). Yup. Machine is a machine. It has no brain. Setuju ‘kan? Lebih serem lagi, perbandingannya, 16 persen mobil dan 73 persen motor. Dari jumlah ini, “kesimpulannya” 1 juta korban luka-luka dan 30.000 meninggal dunia.
Fakta lebih anyar, Kepala AIP (Asia Injury Prevention) Foundation, Greig Craft, mengatakan kalau data statistik dari WHO (World Health Organization), mulai dari 2000 sampai 2015 kecelakaan di jalan raya kira-kira akan merenggut nyawa 20 juta dan lebih dari 2 milyar orang luka-luka, atau dirawat sebagai korban kecelakaan –dimana banyak terjadi di negara-negara berkembang. Yup, ini termasuk Indonesia. Siap?
Untuk itulah, langkah Ford Motor Company bekerjasama dengan AIP Foundation menyebarkan “virus” safety, defensive (smart) dan eco melalui program Driving Skill for Life ke beberapa negara di ASEAN (negara berkembang) agar pemahaman ini semakin baik dan semakin meningkat. Langkah ini patut kita dukung. Salah satu metode diseminasi dan sosialisasi adalah dengan break out session kemarin, serta banyaknya event-event rutin DSFL Field Training menjadi salah satu poin yang perlu dikembangkan lebih jauh. Pemerintah RI melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang menerbitkan sertifikasi kompetensi profesi, Departemen Perhubungan dan Direktorat Lalu Lintas Polri juga mendukung total program sejenis Corporate Social Responsibility (CSR) yang sangat bermanfaat untuk masa depan ini.
Lalu bagaimana dengan peran individual dalam hal ini? Apa action kita. Beberapa teman mungkin akan berpikir seperti ini, Ngerti sih ngerti, tapi bagaimana mewujudkannya di jalanan yang katanya “liar” dan “belantara kota”. Kalau kita kalah atau ngalah ‘kan kita akan ditindas. Bahkan kalau kita “cuma” parkir aja bisa saja kena kecelakaan. Dengan kondisi jalan raya padat merayap, jalan sempit-sempit banyak mobil yang parkir, belum lagi ulah ugal-ugalan bis kota, Metromini, Bajaj dan sejenisnya, plus bonus Asap timbal dari knalpot. Lengkaplah penderitaan. Wajar kalau dijalanan kita emosian. Liat aja contoh gambar diatas, penuh sama metromini. Jadi bagaimana tuh?
Simpel aja deh.. Ehm–ehm, begini.. (sambil pasang kacamata dan merapikan kerah kemeja), memang, menurut konsep demokrasi maupun teori sosiologi-antropologi, entah sayup-sayup saya lupa pernah dengar dimana waktu kuliah di FISIP UI sekian taun yang lalu, dikatakan kalau identitas pribadi akan luntur menjadi identitas komunal dan kerumunan (crowd) sehingga pada saat 9 dari 10 orang bilang “lari..!” maka orang kesepuluh ikut lari. Atau dalam perspektif demokrasi dimana suara terbanyak adalah pemenang, terdapat adagium bahwa “jika 9 dari 10 orang tidak waras, maka 1 orang yang waras-lah yang dibilang gila”.
Saya ingin mengatakan, it’s okay dibilang cemen, gila atau pengecut. Jangan terpengaruh emosional “pria sejati”, sebab pria sejati – sejatinya memikirkan penuh masa depan. Menghindari konflik yang tidak berarti dan menguras energi untuk tujuan yang tidak berpengaruh besar di masa depan. Bukan berarti menghindari konflik, tapi ini adalah konflik yang tidak berarti.
Apalah artinya ngotot dijalanan saling menyalahkan ketika kendaraan saling bersenggolan? Tau nggak sih. Kalau kita merasakan sendiri bahwa Jalan Raya adalah jalan MILIK BERSAMA, tentu kalau ada yang “macet” sedikit apalagi gara-gara “urusan pribadi” yang rugi, selain kedua orang tersebut, adalah orang lain! Ya, jadi macet, terhambat semua dan mulailah sumpah serapah dan klakson tanpa henti. Makin banyak dah “mudorat” berurusan dijalanan. Menurut pengalaman, biasanya kasus-kasus dijalanan ini paling minimal butuh lima menit utk penyelesaian. Itu pun lima menit untuk adu mulut dulu hehe.. apa jadinya jalanan yang punya umum kita jadikan arena untuk saling menyalahkan? Yang rugi banyak pihak. Yach begitulah, kita perlu hati-hati dan meminimalisir risiko sejak dini sebelum terjadi, betul?
Itulah contoh mengapa saya sangat setuju kalau “Yang Waras Ngalah”. Benar sekali, sebagai karyawan swasta dan harus melalui banyak “jalan tikus” biar ngepas waktunya sampai dikantor (dan pulang kembali ke rumah), sengaja mobil merupakan alat transportasi yang “haram”dipakai kalau untuk ngantor. Kalau weekend dan jalan-jalan ke mall it’s okay. Apalagi rumah di bilangan Bogor.
Nah, pas ketika berkendara dengan tunggangan yang menurut istilah DSFL pada waktu presentasi break out yang lalu sebagai “besi diselimuti daging” alias motor (bebek pula) ada kejadian yang membuat saya menjadi “manusia kembali” dan ternyata, saya bisa juga “waras” horee!
Kejadiannya persis didepan kantor. Dan baru pagi ini (5 Nov 2009) saya diuji dengan “kewarasan” tersebut. Bagi yang hidup komuter, tentu tak asing dengan Depok dan trademark macetnya, margonda raya, sehingga ada “green way” ala Polisi setiap jam 16.00 sore hingga jam 20.00 malam (kadang lebih) selalu berlaku hingga saat ini. Kantor saya kebetulan tidak jauh-jauh amat, adanya di Jalan Margonda. Macet luar biasa mengakibatkan beberapa motor tau-tau ngambil jalan ditrotoar. Nah, pas didepan kantor, tentu saya mau masuk ke parkiran alias belok kiri dan udah masang lampu sen kiri. Eh pas belok, dari belakang, diatas trotoar sebuah motor Tiger datang agak kencang. Hampir nabrak. Dekat sekali, untung tidak menyenggol. Tapi si pengendara yang mungkin karena motornya keren, mulus, gede, badan beliau juga gede dan pakai helm fullface (jadi kesannya angker) bentak-bentak harusnya liat-liat kalau belok. Hah? Ngga salah ya.. (tau-tau inget kalimat pak Dodi, yang waras ngalah, urusan selesai). Oke, baiklah.. no emosi.. tapi mungkin perlu diberitahu dulu kondisinya dan berdialog lalu terjadilah komunikasi di pinggir jalan.
Pengendara Bebek (makhluk kecil tak berdaya):“Pak. Justu saya mau belok dan Anda kok motor lewat trotoar.”
Pengendara Tiger (makhluk buas) :”Liat-liat dong saya mo jalan lurus kok kamu belok-belok sembarangan”.
Si bebek :”Pak. Saya belok karena mo ngantor. Noh kantor saya disebelah kiri. Saya juga pake lampu sen nih pak masih nyala. Bapak ngapain di trotoar. Kalau ada polisi bisa kena loh pak. Biasanya banyak disini.”
Si Macan :(nada makin tinggi dan tidak mau ngalah dan ngomongnya masih yang itu-itu aja. Jelaslah, soalnya memang tidak ada argumen lain) “Ya kamu liat-liat dong kalau mau belok!”
Si bebek :”Oke oke pak. Maaf, Silakan lewat, ga ada yg lecet kan, untung gak kesenggol (sambil mengangkat tangan dan mempersilakan lewat).”
Si Macan : (masih marah-marah dan merasa menang berlalu sambil ngomel).
Hmm.. sebenarnya kalau mau diterusin dan cari siapa yang salah dan menang, saya diatas angin sebab sudah sesuai prosedur. Dan berdiri di kondisi yang benar. Akan tetapi apa sih yang didapat. Biar seram gitu, si Macan juga punya atasan, punya kantor yang nun jauh di Jakarta sana. Pergi ke kantor subuh-subuh. Kasihan kalau lima menit berantem, dia telat, bisa kena SP, bisa ga dapat “uang transport” tepat waktu dst. Kalau saya kan sudah didepan kantor hehe.. tersenyum dan let it go. Coba kalau itu terjadi pada saya, kasian kan. Lagipula, agar “berwibawa”, biar salah, tidak boleh mengalah. Itu mungkin dipikiran beliau itu. jadi berikan kesempatan. Saya yakin dilubuk hati pasti deh dia merasa menyesal dan mengaku salah.
Jadi teringat, dulu sering emosian juga. Hehe.. Sekarang, See the positive way saja. Lebih caring, lebih berwibawa kita, dan sekali lagi, kualitas hidup meningkat. Saya buktikan sendiri, niscaya kalau adem. Tenang, personality traits nya bagus, dirumah kebawa-bawa loh. Istri bahagia, anak senang, keluarga happy, iklim rumah tangga sakinah mawaddah dan warohmah..mantabh.. inilah “pria sejati” idaman wanita (halah).. lanjut, gan..hehe
Sampai dikantor, kita juga bisa tersenyum. Hari ini, dapat pahala dan tidak menyulitkan orang. Biarlah orang ngomel-ngomel kan ada yang melihat diatas sana serta ada yang mencatat baik buruk perbuatan kita. Yup, saya sudah “waras” sekarang hehe..
Jadi Awas! Ada yang waras juga dijalan raya. Mudah-mudahan makin banyak yang waras sehingga tidak membahayakan orang lain. Biar 9 dari 10 orang dijalanan waras, sehingga yang gila bisa ikutan waras. Dan angka kematian dan kecelakaan menurun, kualitas hidup lebih baik, performa prima. Pulang kerumah istri dan anak menunggu dengan gembira. Simpan emosi dijalan untuk kualitas yang lebih baik dan untuk Indonesia yang lebih baik.
Yang Waras Ngalah. Good Drivers Just Drive. Tinggalkan yang buruk-buruk dijalan raya, marilah berkendara aman dan nyaman di jalan raya milik kita bersama. Be “Waras”! Thank you DSFL!
Kalau Anda baca ulang artikel ini, ada makna defensive driving dan safety driving. Ada makna antara menaati peraturan dengan (unsur paksaan) dan memahami orang lain (unsur pribadi). Dua-duanya harus ada. Dan kata Aa Gym sih.. Mulai dari diri sendiri, dan mulai dari yang kecil.
Tidak cukup kita berbicara keras tanpa berbuat, lama-lama Anda akan sama dengan yang tidak waras dan artinya anda memilih menjadi tidak waras. Kenapa menyesalkan kalimat itu? "Mengalah berarti menjadi pemenang". Jika Mahatma Gandhi masih hidup, dia sangat kecewa dengan Anda. Terbukti kok perjuaangan dengan tanpa kekerasan (di jalan) dan mengalah untuk menang bisa dijalankan. Hanya prosentasi yang waras musti bertambah. dan itu bukan tugas anda, tapi tugas nurani masing2 plus adanya PENEGAKAN HUKUM di jalan raya.
Itu aja komentar saya. Saya komuter juga kok kalau dibilang soalnya bogor kota-depok. So, mau menjadi waras atau ikut2an nggak waras? terserah Anda saja pak.
saya komuter,
keganasan jalan raya sudah menjadi pemandangan sehari-hari. yang saya sesalkan adalah pernyataan "yang waras ngalah".
kapan negara ini mau maju dengan masyarakat yang berlaku tertib, kalau yang menguasai jalan adalah "yang tidak waras" ???????????
saya termsuk orang yang 'sumbunya pendek' kalo di jalan raya…untungnya pas udah menikah dan punya anak semuanya udah mulai berubah… 😀
Simpan emosi dijalan utk diluapkan dirumah hehe.. diluapkannya dalam bentuk positif jugak misal makan yang banyak hehe
bener kudu waras ya, see the positive way jadi pria sejati.. best quote… 😀
makasih ingatannya kang. aku mau jalan ke jkt, dan akan ingat agar tetap waras