Ketika ada kejadian bencana alam, terutama di lokasi destinasi wisata yang banyak wisatawan baik domestik dan utamanya mancanegara sedang berada disana, apa yang akan terjadi? Sama. Pasti Panik. Tapi ketika semua masyarakat berbondong menengok rumah dan keluarga, para pelancong pasti melakukan dan merasakan hal ini. Masalah akomodasi.
Bagaimana dengan calon pelancong di lokasi kejadian bencana? Juga perlu ditangani dengan baik. Apabila ada bencana Gunung Meletus, misalnya, yang perlu diinformasikan kepada para wisatawan atau traveler adalah mengenai keberangkatan pesawat biasanya.
Apabila ada delay, seperti apa sampai kapan. Apabila akomodasi batal, seperti apa prosesnya. Dan terakhir, paling penting ni, demi Pariwisata kita, kalau di tujuan wisata tidak bisa diakses, harus diarahkan kemana mereka? Sayang dong tak kita arahkan. Mereka sendiri juga kecewa dan kita tak mendapat manfaat devisa.
Nah, atas dasar pemikiran itu, rupanya sejak Juli 2015 lalu sudah berdiri crisis center Kementerian Pariwisata.
Ada 3 hal yang telah dan akan terus dilakukan oleh Crisis Center ini, yakni Riset (kajian krisis) dan diseminasi informasi, pendampingan wisatawan pada saat krisis (emergency response) dan rehabilitasi (pasca krisis).
Riset digunakan dalam hal identifikasi dan pemetaan potensi krisis yang bedampak bagi sektor pariwisata, pemetaan stakeholder serta kebutuhan pelayanan dalam pengelolaan krisis guna meminimalisasi dampak krisis terhadap sektor pariwisata. Na, pentuk pertama ini ngga hanya dilakukan pada saat terjadi bencana. Tapi dilakukan simultan guna antisipasi awal. So, dengan adanya fungsi ini dan sudah di-manage oleh Crisis Center, mudah-mudahan ketika beneran, #amit-amit kejadian maka kita semua para pelancong sudah dapat dilayani dengan efektif dan efisien. Amin..
Dalam hal pendampingan, biasanya didirikan Posko. Posko Crisis Center Pariwisata sudah perna dilakukan di Bandara Ngurah-Rai dan Bandara Juanda-Surabaya. Hal ini dilakukan pada saat terjadi erupsi Gunung Raung, Juli lalu. Dengan bekerjasama dengan pihak-pihak terkait seperti Angkasa Pura, Perusahaan penerbangan, Hotel dan jasa tour dan travel yang tergabung dalam ASITA, maka informasi dan perkembangan status darurat bencana dapat di-update dengan cepat. Terkait pula dengan akomodasi, enundaan penerbangan dan sebagainya.
Dampak erupsi pun dimonitor oleh Crisis Center Pariwisata. Misal pada erupsi Gunung Barujari-Lomok di awal November lalu yangs ebabkan terganggunya penerbangan bandara di Bali dan Lombok, wisatawan sudah tak perlu khawatir, karena selain “Hari H” dilayani, juga dampaknya dimonitor terus sehingga segala yang terkait dengan erupsi akan dikabarkan dengan jelas. Pun media nasional dan internasional di-assist dengan baik oleh tim Crisis Center Pariwisata yang terjun ke Lombok langsung.
Tak sendirian, Kementerian Pariwisata didukung oleh banyak pihak. Bahkan Siswa-siswi SMK Pariwisata pun turut membantu di Posko dan mendapat pelatihan singkat informasi. Pemerintah daerah dan stakeholders lain seperti badan-badan pemerintah dan non pemerintah yang aktivitasnya terkait penanggulangan bencana, bahu membahu memberi sumbangsih semisal penyediaan lokasi Posko dan akses informasi ke berbagai status darurat.

Ke depan, akan ada sistem informasi yang dikembangkan. Saat ini sudah sih, dengan data yang terintegrasi dari BMKG sehingga potensi bencana bisa kita lihat dalam app yang sudah ada di Google Play ini. Walau masih belum sempurna dan belum grand launch. Data akan diintegrasikan dengan berbagai lembaga terkait bencana dan juga data penerbangan sehingga kita nggak perlu datang langsung ke Posko, bisa apdet info dari gadget. Alhamdulillah ya!
Eniwei, bencan nggak hanya bencana alam. Misalnya potensi adanya kerusuhan dan unjuk rasa di suatu tempat, dapat pula mengganggu akses maupun layanan wisata. Untuk itu, Crisis Center Pariwisata antisipasi pula dengan data misalnya daerah rawan konflik da daerah mana yang mesti diindari pasa saat tertentu untuk dikunjungi.
Seperti kata Pak Iqbal Alamsyah, Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata, pada saat UC diundang menghadiri sosialisasi-nya, bahwa jika potensi krisis tidak diantisipasi dan dikelola dengn baik, maka akan berdampak menurunnya jumlah wisatawan. Hal ini akan pula berimbas pada turunnya daya saing pariwisata nasional dan kontribusi sektor pariwisata terhadap pemasukan ekonomi nasional. Saat ini, Indonesia berada pada ranking 50 dunia dan pada tahun 2019 itargetkan bisa mencapai 30 dunia untuk lingkungan pariwisata terbaik.
Jadi, adanya Crisis Center Pariwisata ini akan memastikan target tercapai, dan lebih penting, menjadikan layanan yang kita para traveller, pelancong akan nikmati dengan baik. Inovasi layanan (Service Innovation) ini seharusnya, sesuai dengan keinginan Kemenpar pula, diadopsi oleh banyak Dinas Pariwisata khususnya di daerah yang menjadi destinasi wisata di Indonesia. Sehingga Pariwisata tetap mendorong perekonomian dengan layanan yang baik dari pemerintah dan masyarakat. Semoga!
semoga pariwisata di indonesia semakin maju dan semakin baik serta dikenal di seluruh indonesia dan mancanegara
kedepan kita berharap pariwisata di indoneisa bisa lebih maju lagi