Tak banyak restoran yang mengusung menu es gelato di Bogor. Salah satu dari yang sedikit itu, Tal’s Gelato. Lokasi Tals Gelato Bogor di Pandu Raya, dekat pertigaan taman corat coret. Karena jarang, dan gelato merupakan konsep bahan es yang berbeda dengan “ice cream” karena kandungan yang berbeda, maka saya dan keluarga beberapa kali mencoba “es krim kekinian” ini. Bedanya bisa dibaca disini.
Sayang, Senin, 2 Januari 2017 lalu, pelayanannya sangat mengecewakan. Terlebih, itu kali pertama saya mengajak tiga bocah, ponakan yang saya janjikan rasa gelato yang menggoda, dan berujung kecewa. Simpel saja, ini kronologisnya gar semua pihak tau pengalaman saya hari itu, dan respons pemilik Tal’s gelato yang “sombong”.
Pukul 11.30 kurang lebih, bersama istri dan tiga orang anak kecil (dua ponakan, satu anak sendiri), kami tiba di Tal’s Gelato. Ada dua orang yang “melayani”. Satu perempuan berjilbab, satu lelaki bertopi. Belakangan, saya ketahui perempuan ini adalah katanya “owner” dari Tal’s Gelato.
Oke, anak-anak langsung menyerbu dengan menunjuk ini itu, kebingungan sendiri karena banyaknya pilihan. Dilayani oleh si lelaki, ya hanya melihat saja dan sepertinya malah tak sabar dengan polah anak kecil yang bingung. Tak ada reaksi selain menginformasikan ke kami, apa saja itu yang ditunjuk. Ada bubble gum, ada Taro, ada Mango, ada Charcoal dan seterusnya. Cokelat Oreo favorit anak saya katanya habis.
Done, kami memilih kombinasi, dan karena ada rasa “buah naga” dan kami semua suka, maka empat scoupe kombinasi selalu ada buah naganya. Saya sendiri dan istri buah naga kombinasi Taro/Talas ungu.
Sejurus kemudian, si perempuan memberikan es tersebut. Baru dua suap, saya bilang ke istri kok ngga enak ya, yang Buah Naga. Rasa basi, anyep, pahit. Istri juga mengiyakan. Lidah makin gak enak, rasa makan sesuatu yang pahit dan ngga enak banget. Belum lagi Es ini teksturnya jauh dari Gelato. Ini mah, tekstur Es puter, bukan Gelato. Gelato menggunakan susu dibanding krim, jadi memiliki lemak yang sedikit dan “lebih sehat”. Taro yang saya cicip memang aga ga enak, walau kata istri sih, kalau Taro ya tergantung selera. Namun teksturnya dan rasanya itu bukan gelato banget deh. Beda sama beberapa kali saya icip, misalnya cokelat oreo dan bubble gum. Ini, aneh.
Baru beberapa detik, mengecap ngga enak, anak saya mendatangi kami dan bilang berbisik, ” Bunda, ngga enak yang ini”. Kami menoleh, semua anak-anak ngga sanggup makan. Well, kalau “es krim” yang manis dan biasanya anak-anak suka, ini mereka sama sekali ngga sanggup makan, maka saya bisa pastikan, something wrong dengan es gelato ini.

Tak semuanya ngga enak sih, Bubblegum masih enak, rasa gelato, tekstur gelato seperti terakhir kali saya membeli bareng anak. Kami sudah kali ke-empat loh kesini. Jadi bukan yang tak tau menahu soal rasa. Sayang sekali, standardnya ngga jelas.
Yang membuat miris, kami sampaikan ke si perempuan. Bahwa ada yang ngga beres dengan rasa “buah naga”. Surprisingly, yang kami dapatkan adalah defense dari perempuan itu. Beragam alasan mulai dari mencoba rasa baru, bahan berbeda hingga nanti akan ditanyakan ke si pembuat. Bahkan dia mencicipi dan seperti tak ada rasa ngga enak.

Sedihnya, ini yang membuat kami merasa perempuan ini bukan pemilik (padahal nantinya mengaku pemilik), adalah seperti ga ada rasa empati, pada saat itu. Masa, empat skup es yang hanya kami makan sedikit, tak ada hal yang membuat dia cemas. Kalau di tempat lain, owner biasanya sigap sekali. Mencicipi, mengganti, atau apapun. Bukan malah bertahan dan seakan tak mempercayai lidah pelanggan!
Tadinya, saya tak emosi. Karena ya sudah, ini orang mungkin hanya pelayan, biar manajemen yang saya akan infokan yang memutuskan. Soalnya, Tals Gelato Bogor berani memasang sosial media akun sehingga asumsi kita bahwa eksposure seperti ini akan jadi pembelajaran. Berani membuka diri, tentu berani dengan kritik di dunia sosmed yang tajam.
Nah, pas istri saya mau bayar, terhadap es yang kami makan sedikit banget dan terbuang itu, ada dua pelanggan masuk. Perempuan. Gila, ternyata mereka ditawari mencicip es yang ada untuk merasakan. Sesuatu hal yang kami TIDAK DITAWARI sehingga kami memakan Es krim gelato yang sangat tidak enak dan rugi membayarnya.
Emosi saya langsung meledak. Saya ngedumel, langsung ke dua orang tersebut di depan pelanggan baru karena menurut saya, mereka berhak tahu. Pertama soal saya “IJIN” akan menulis pengalaman ngga enak ini. Kedua, mengapa mereka menawari mencicip padahal kami tidak, padahal kami lebih BINGUNG soal rasa daripada dua orang yang baru datang ini. Ketiga, Es Rasa Buah Naga yang menurut perempuan pelayan itu bla bla bla tidak ada masalah, terimakasih masukannya saja, eh di-take out dari dalam kulkas es krim. Malah diganti dengan es warna pink yang sepertinya strawberry, baru. Sepertinya enak dan tentu bisa jadi pilihan anak-anak saya tadi.

Semua ini terjadi di depan mata kami. Jadi saya lumayan emosi agar semua tahu. Agar ngga pilih kasih dalam pelayanan. Apa karena segmennya abege-abege cihuy yang demen selfie, bukan anak kecil yang “harusnya” makan Es Krim bukan Es Gelato, maka kami keluarga tidak dilayani dengan baik. Membuat akun Instagram Tals Gelato Bogor untuk apa? Mengharap semua isinya foto selfie di dinding yang ada ornamen-ornamennya saja? Kritik pedas, harus terima kali ya.
Yup, termasuk saya akan tuliskan kejadian ini di sosmed dan blog, karena saya blogger, dan lebih spesifik, blogger bogor. Pertama, rasa yang ngga jelas, bahkan saya takut anak kami bakal sakit perut. Pahit dan kayak kadaluarsa. Kedua, pelayanan ngga standard, kami merasa “tertipu” dengan rasa karena kok ternyata BOLEH DICICIP padahal kami tak ditawari. Ketiga, Gelato yang ngga berasa di es, berasa Es puter dengan tekstur kasar dan hancur, keempat, kesombongan Tals Gelato Bogor yang membuat kami emosi. Bayangkan, ngga merasa salah, tapi diem-diem menarik rasa buah naga dan bermanis-manis dengan pelanggan yang baru masuk.
Kami bergegas keluar, dan si perempuan memang mendengar saya emosi dan ngedumel langsung membuat satu skup es krim yang kecil. Es yang pada saat masuk saya perhatikan memang dia juga makan dengan bebas. Ketika kami sampai di mobil dan akan pergi, beliau mengetuk dan memberikan es ini. Saya tanya ke anak-anak, mau diterima atau tidak, mereka mau (ya iya anak-anak). Yang diberikan ya yang Bubblegum yang memang enak gelato. Rasa yang lain? Selain ngga enak seperti buah naga, juga rasa es krim es puter kaki lima saja. Sesuatu yang tak seharusnya si perempuan sombong.
Yap, waktu saya bilang oke saya bilang terserah manajemen or owner mau seperti apa reaksinya setelah melihat tulisan dan apdet saya di Instagram. Eh, dia bilang, saya OWNER nya. Wah, parah. Masa owner kelakuan kayak pelayan, ngga tau mesti gimana hadapi kritik. Masih pula terselip sisa kesombongan dengan bilang, ya terserah soal pengalaman mau ditulis atau tidak. Ya iyalah, tapi kesannya memang sombong. Okesip, meluncur juga tulisan ini.
So, kalau Tals Gelato Bogor masih mau mendengarkan lidah konsumen, tunjukkan reaksi yang profesional!
Update : Ini reaksi dari akun instagram Tals Gelato :
- talsgelatoTerimakasih atas review atas kinerja dan hasil produksi kami …kami selalu menerima kritikan…. Pertama saya minta maaf atas kekurangan pelayanan yg tidak memuaskan bapak beserta keluarga… Kedua kami tidak bermaksud untuk membedakan cust, (Bapak kan katanya sudah 4 KALI ketempat kami ☺️) setidaknya sudah mengerti hal hal di tempat kami…. Ketiga gelato itu ada beberapa jenis yg perlu bapak tau, dan kami memakai cream nabati dan itu lebih Sehat..tidak memakai gelatin yg masih diragukan ke HALAL annya… dan untuk rasa sesuai selera, bila tidak suka dengan gelato atau ice cream puter yg dimaksudkan bapak ,kami tidak memaksakan bapak untuk menyukai itu..karena resep kami yg buat…untuk tekstur buah di tempat kami merupakan sorbet gelato..salah satu jenis gelato kalo bapak belum tau..kami pakai buah asli… Keempat kami akan selalu intropeksi disetiap harinya terimakasih….?
Ini tanggapan di komen dibawah :
“Selamat Pagi,
Perkenalkan saya sebagai salah satu Owner talsgelato, dan teman saya yang berkerudung juga sebagai sharing Owner nya. Saya meminta maaf selaku Owner atas ketidakpuasan bapak di tempat kami.
Mungkin ini baru pertama kalinya kami mendapatkan komplain masalah rasa dan dibawa berlarut sampai dibuat BLOG ini.”
tanggapan saya : Lalu kenapa? Mungkin mereka ngga ngeblog. Mungkin yang lain puas. Tapi saya kemarin, nggak. Justru saya berani komplain karena saya sudah sering loh. Kalau yang baru datang, lum tentu. Mungkin hanya melengos pergi aja ngga berani ngomong. Typical Indonesia kan begitu? Walk away saja tapi gak balik. Kalau ngga gini ya ngga belajar. Namanya orang kecewa pelampiasan beda-beda bro. Kalau blogger ya ngeblog. Oh pelanggan saya banyak kok. Ya sudah EGP. Saya hanya nulis pengalaman. Mau ditanggapi or ngga terserah. Silakan dengan kebanggaan Anda dengan pelanggan2 yang banyak itu. I don’t care.
Saya mendapatkan kabar ini sebetulnya kaget dan heran , menurut pengakuan teman saya bapak mengatakan sudah 4 X datang ketempat kami, seharusnya tidak dengan alasan tidak diberi icip dan perlakuan yang berbeda dengan pelanggan yang lain ya pak.
🙂 dan bapak semestinya sudah tahu bahwa di tempat kami sesuai selera pelaggan untuk memilih. apalagi sudah langganan, malah kami sebetulnya memberikan perlakuan khusus dengan pelanggan tetap kami.
Tanggapan saya : Sebenarnya baca dengan teliti ngga sih? Jawaban saya ada dibawah, No 1 dan No 2.
Untuk rasa buah naga memang baru dikeluarkan sebagai varian baru bersama pistasio di tempat kami, kami melihat respon kedepan, untuk masalah rasa kami selalu terima kritikan dari pelanggan lain, karena rasa ditempat kami selalu disesuaikan dengan lidah pelanggan. Apabila tidak sesuai ya kami stop dan mungkin akan review rasa dan sebagainya. terbukti kami sudah mengeluarkan kurang lebih 15 rasa yg disukai oleh pelanggan tetap kami dan itu akan selalu bertambah dan di Rolling setiap waktunya. Dan jangan khawatir untuk sakit perut dan kadaluarsa, bahan bahan dari kami FRESH dan berkualitas. Selama kami opening hingga saat ini alhamdulillah orang yang awam gelato jadi tau mengenai gelato dan membandingkan gelato kami tidak kalah mengenai rasa di tempat lain.
Dan untuk perempuan yang langsung mengganti, ya itu tindakan kami agar di konsultasikan ke chef dan saya . (menerima masukan mengenai rasa bapak) dan tidak dijual sampai ada konfirmasi dari chef dan saya.
Tanggapan saya : Bukti Anda saya ngga butuh sih. Saya punya pengalaman tersendiri. Mau promosi di artikel ini juga silakan, siapa tau banyak yang datang, tapi jangan menyombongkan diri. Nanti kena tulah.
Untuk Tekstur , mungkin kami memang belum berpengalaman seperti gelato yang bapak inginkan, dan kami selalu berusaha yang terbaik dengani alat alat yang terbatas yang kami punya. Setau pembelajaran saya mengenai gelato, gelato tidak selalu memakai Gelatin (karena diindonesia masih tabu mengenai ke HALAL an) dan itu termasuk buah yg kami modifikasi menjadi sorbet gelato, bukan sorbet ice cream . dan sebetulnya gelato juga merupakan ICE CRAM. bila ingin berbincang mengenai gelato boleh bapak email dan hubungi saya .
Tanggapan saya : Informasi yang tak ada, dan owner yang ada pada saat itu juga tak ada product knowledge seperti ini. Hanya merasa itu enak dan kita SALAH. Itu aja.
Mohon Maaf sekali lagi dan terimakasih ., semoga menjawab ketidaknyamanan bapak .”
Tanggapan Saya : Dimaafkan. Saya juga minta maaf. Kemarin ijin si mba kok mau nulis ini 🙂 Rejeki mah masing-masing, tapi saya juga berhak nulis di blog saya sendiri. Jangan heran dan merasa gimana gitu selama ini gak pernah ada yang “membawa berlarut sampai di blog”, sombong kali ya statement ini. Jangan sombong mas.
Overall Tanggapan saya :
- Tidak bermaksud membedakan customer tapi kami tidak ditawari sample untuk dicicip, sedangkan orang yang barusan masuk ditawari. Padahal kalau seandainya kami mencicip BUAH NAGA yang ngga enak itu, kami tentu TIDAK MEMBELI dan MEMILIH YANG LAIN yang ENAK 🙂 Itu Fakta.
- Tidak ada hubungan dengan empat kali saya datang dan beli es gelato dengan saya memahami kalau Tals Gelato tidak membeda-bedakan. Nyatanya kemarin kami tidak mendapat hak kami mencicipi sehingga membeli menu yang salah.
- Informasi produk entah gelato, cream, sorbet, sherbet, atau granita, frozen yogurt whatever kan tak pernah diinformasikan ke publik. Bahkan pada hari, jam, dan tanggal saat kejadian tak ada tuh informasi soal itu. Hanya bertahan merasa paling benar. Termasuk dengan menginformasikan bla bla bla ini melalui akun instagram @talsgelato HARI INI tak membuat kejadian kemarin TIDAK TERJADI.
- Saya tidak membahas sudut pandang religius, tapi sudut pandang SERVICES. Jadi soal diragukan ke-halal-annya atau tidak, biar Label HALAL MUI yang menunjukkannya.
PS : Ini Pengalaman Pribadi, Pada Tanggal, Tempat, dan Menu yang Kami Pesan. Silakan Setiap Orang Berhak Beropini Berdasarkan Pengalaman Pribadinya Masing-Masing. Bukan Berarti Saya Berhenti Membeli, Karena kami Masih Berharap dengan Oreo Coklat dan Bubblegum ^^ Namun Jelas, Pelayanan Perlu Dievaluasi. Tapi Serius, Kalau Ada nanti Kedai yang sejenis, dengan layanan lebih baik, Mungkin kami ngga kesini lagi.
Aku bacanya emosi maaaaasss,hahaha. Mau kugaruk si pemilik rasanya klo demikian sombongnya. Aku juga gampang ilfil sm resto atau toko yg servicenya parah begitu, gile ga customer oriented banget sik. Grrrr..
Walaaaah…. semangat Mas Unggul 🙂
Hadeh … mungkin mereka ngak sadar kekuatan sosialmedia yaaa. Sekarang ini apapun yg di jual ujung2 nya jasa pelayanan, seenak apapun makanan mu kalo pelayanan nya kurang manja juga bakal di tinggalin
aku belum pernah makan gelato…aku cedih :”(
Membuat saya penasaran dan ingin mencoba sendiri. . . *garuk dagu*
Saya sih punya pengalaman yang hampir sama juga, tapi hotel bukan makanan. Harga lumayan (sekitaran botani) tapi mengecewakan, dan pas saya review gm nya malah jawab jutek. Padahal saya review dengan sopan lengkap beserta alasan dan tujuannya supaya lebih baik.
iya, coba aja mba. especially Taro dan Buah Naga yang aneh rasanya. Kemudian cek juga itu gelato bukan sih?
Wow…. Jadi inget waktu aku mau coba zuppa soup di salah satu kedai di Palembang, btw pembeli itu adalah raja dan terkadang mereka lupa, semoga pemiliknya segera sadar ya
iya, amin.. di disclaimer saya juga tuliskan, kami masih favorit yang bubblegum dan oreo coklat, tapi kalau masih begini layanannya.. ya jangan salahkan kalau kita kabur ke tempat lain (kalau nanti ada pesaing, soalnya sepertinya mereka masih satu-satunya home made di Bogor).
Waduh, koq bisa begitu ya pelayanannya. Menyedihkan sekali
bahkan akun instagrammnya pun masih menjawab dengan “bersikeras” 🙂