Siapa tak kenal Taman Mini Indonesia Indah? Taman yang merepresentasikan keragaman budaya dan berbagai wahana khas negeri Indonesia ini saya pastikan pasti dikenal, dengan sebutan “Taman Mini” atau “TMII” sebagai singkatannya.
Tapi tahukah, kalau saat ini, Taman yang diprakarsai oleh Ibu Tien ini sudah berdiri sejak tiga puluh sembilan tahun yang lalu loh. Wow, 39 tahun, sudah sepantasnya tak ada insan negeri Indonesia yang tak kenal dengan tempat ini.
Untuk itulah, dalam memperingati momentum 39 tahun TMII ini, saya mengawali tulisan ini dengan judul taman dinamis dengan nilai “maksi”. Ya, sebab dari taman yang “mini” ini, ternyata banyak nilai yang luar biasa besar dan bermanfaat bagi kita semua. Ini sangat erat dengan “dinamis”nya taman ini. Mari kita lihat.
Dinamis Untuk Persatuan
TMII, adalah satu-satunya tempat yang menjadi pererat persatuan dan kesatuan bangsa sejak dulu sebagai simbolisasi persatuan berbagai ragam etnik menjadi satu bangsa baru yaitu Bangsa Indonesia. Sebuah simbol keluhuran dan kontrak senasib sepenanggungan dan perwujudan historikal sejak Kongres Pemuda hingga realisasi Kemerdekaan semangat 45.
Betapa tidak, tempat yang terkenal dengan anjungan-anjungan berupa rumah adat berbagai provinsi di Indonesia ini menyimpan nilai historis dan filosofis yang tinggi. Anda tentu rela berlama-lama disetiap anjungan untuk melihat nuansa khas berbagai provinsi yang beragam dan menjadi bagian tak terpisahkan dari Indonesia.
Bagi kamu yang “orang daerah” melepas kerinduan kampung halaman pun bisa dilakukan disini, ya kan? Inilah nilai “maksi” lain dari TMII. Kaum urban ibukota yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dapat merasakan atmosfer kampung halaman, serta kadang dapat melakukan berbagai kegiatan seperti sendratari khas daerahnya dan seterusnya yang menghibur.
Kita juga perlu angkat topi dengan berbagai upaya TMII hingga di tahun 39-nya, semakin dinamis dan semakin berarti di masyarakat. Mengapa demikian? Karena bertambahnya jumlah provinsi, membuat TMII memiliki lebih banyak anjungan! Terakhir berkunjung, sekitar sebulan yang lalu, saya mendapati sedang dibangun anjungan baru Kalimantan Utara, selain beberapa anjungan provinsi baru semisal Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Banten, Gorontalo dan Papua Barat. Dinamis sekali bukan?

Hal ini penting menjadi poin “maksi”. Selain itu, nilai persatuan dan kesatuan menjadi terasah. Ini penting, mengingat seringkali kita dihadapkan pada persoalan konflik horisontal, yang ditiupkan masalah SARA padahal jika dilihat lebih jauh, masalah ekonomi dan politik sebenarnya yang menjadi sengketa. Ketimpangan penghidupan dan ketidak merataan pembangunan, sering menjadi kambing hitam konflik. Oleh karena itu, pelajaran dari TMII perlu kita petik. Bersandingan sebagai bangsa, “sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesa”, kata sebuah lirik lagu nasional yang kita hafal.
Artinya, disintegrasi bangsa dapat kita cegah, jika kita menanamkan bahwa berbangsa Indonesia adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri, dipererat dan direkatkan dalam bingkai ke-bhinneka-an. Niscaya, semua masalah dapat terselesaikan, dan tak satupun dari masyarakat yang berpikir untuk separatis.
Lagi pula, hikmah reformasi telah membawa kita semua ke era otonomi daerah yang membuat setiap daerah mampu melakukan akselerasi pembangunan lebih baik. Jadi, saat ini adalah bagaimana mengisi pembangunan, bersaing sehat untuk kesejahteraan dan saling mendukung sebagai sebuah bangsa. Lagi-lagi, TMII menjadi simbol bagaimana bangsa Indonesia rekat, erat dan kuat!
Interaktif dan Edukatif
Tak hanya itu, ada nilai maksi lain yang kita bisa dapatkan, selain keragaman yang menjadi karakter dan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Misalnya dalam hal edukasi. Di TMII, bisa kita temukan berbagai wahana yang sarat nuansa edukatif dan cocok untuk keluarga menanamkan nilai-nilai persatuan sekaligus nilai pendidikan kepada anak.
Mari kita eksplor berbagai wahana yang edukatif sehingga cocok untuk keluarga.
Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi alias PP IPTEK menjadi rujukan utama dalam hal edukasi. Disini, kita bisa membawa anak dan keluarga lain (tak hanya anak-anak) untuk mengeksplorasi kurang lebih 250 alat peraga yang bisa disentuh, dan dimainkan. Sepeda layang , roket air, generator dan simulator gempa bumi menjadi contoh dan asyiknya, kegiatan yang ditawarkan kepada pengunjung beragam dan disesuaikan dengan sasaran. Yaitu, untuk tingkat taman kanak – kanak, sekolah dasar ( SD ), sekolah menengah pertama ( SMP ), sekolah menengah umum ( SMU ), dan keluarga.
Museum-museum, tentu sangat edukatif! Ada museum transportasi, museum telekomunikasi, keprajuritan, olahraga, listrik dan energi hingga serangga, komodo dan pusaka. Ada 16 museum yang bisa kita eksplorasi dan memberikan nuansa edukasi untuk anak dan keluarga, apa saja isi museum, bagaimana sejarahnya serta keunikannya pasti membuahkan pengetahuan yang tak terhingga.
Teater Imax an Teater Film 4Dimensi menyuguhkan keluarga nuansa edukatif yang berbeda. Menonton film menjadi sarana modern dalam memperkenalkan berbagai motivasi, petualangan sekaligus relaksasi di tengah TMII. Setelah menyaksikan film, asyik sekali, TMII juga menyediakan wahana petualangan outbound wonder adventure di belakang gedung teater. Aneka permainan alam terbuka yang edukatif, menantang, seru, menegangkan, dan mengasyikan menjadikan kita dan keluarga kreatif, mandiri, sportif dan mampu manajemen dan kerjasama dalam tim.
Apalagi kalau anak-anak sudah menikmati Snowbay dan Istana Anak-anak, pastilah riang gembira mengakhiri hari yang penuh petualangan. Untuk berkeliling, Kereta gantung menjadi sarana terbaik untuk melihat-lihat “nusantara” dengan berbagai anjungannya yang membentuk kesatuan sabang sampai merauke. Wuih semakin bangga dengan Indonesia. Kereta Aeromovel bertenaga angin juga menjadi alternatif lain yang sama edukatifnya. Tentu keluarga yang berwisata kereta dapat memberikan berbagai informasi kepada anak mengenai keragaman Indonesia dan keindahan alam maupun budayanya.
Secara pribadi, saya bersama putri yang berumur 4 tahun, Jessica sengaja ke TMII beberapa waktu lalu untuk mengenalkan keragaman bangsa dari berbagai anjungan dan juga mengenalkan edukasi serta sejarah kepada putri saya, Jessica. Hasilnya, sangat menggembirakan. Untuk itulah saya menulis opini mengenai TMII ini dengan antusias, dan meyakini bahwa inilah salah satu taman yang unik, dan berkarakter serta patut dijaga dan dilestarikan sebagai wahana dan tempat rekreasi yang asyik namun memiliki nilai yang “maksi”.



Terakhir, ada yang perlu kita apresiasi lagi dari TMII. Sejak tahun 2012, TMII sudah mempunyai website yang mempunyai peta interaktif. Hmm, ini nilai maksi baru dari taman indah ini. Ya, disana ada peta interaktif loh. Jadi sebelum melakukan rencana keliling, kita bisa mencoba menjalankan aplikasi ini di handphone sehingga berbagai wahana dapat dieksplorasi dengan bantuan peta interaktif. Jadi, kita bisa memanfaatkan waktu dalam satu hari berkeliling Indonesia dengan menetapkan sendiri berapa lama waktu yang dihabiskan di sebuah wahana agar berbagai target pengelilingan tercapai sempurna!

Selain itu, daftar Anjungan, Museum, Wahana Rekreasi, unit Flora dan Fauna serta fasilitas lain terkait dapat ditemukan di menu yang strategis dan mudah dilihat. Navigasi yang mudah, dengan shortcut menu interaktif dan link bagaimana cara menuju TMII sungguh bagus untuk memudahkan pengunjung.
Template latar belakang situs TMII yang bergambar perwayangan dengan nuansa cokelat juga menjadi suguhan yang menyajikan etnisitas dan seni dalam baluran kemodernan.
Program-program dan acara yang sedang digelar beserta tanggal pelaksanaanya, membuat tampilan website juga informatif. Dalam satu list, kita bisa mengetahui berbagai acara dan tanggal serta tempat pelaksanaan, misal sendra tari dan budaya di anjungan Jawa Tengah, Kalimantan Selatan dan seterusnya sehingga kita bisa merencanakan waktu yang tepat.

Dengan segala keseruannya, TMII juga menyediakan paket-paket tur loh. Ada paket korporat, paket edukasi dan paket event dan travel. Jadi, bagi peserta rombongan, jangan khawatir, full service dan Insya Allah manfaatnya akan sangat terasa bagi semua peserta yang datang. Yup, paket-paket ini akan segera di-update juga di websitenya.
Namun, tampilan animasi dari situs dan peta interaktif yang ada memiliki konsekuensi perlunya kecepatan akses, sehingga calon pengunjung memerlukan koneksi yang memadai dalam mengakses. Ini mungkin perlu menjadi pertimbangan ke-depan dalam hal pemilihan theme dan manajemen konten (content management system) situs TMII.
Jadi, tepat ‘kan kalau saya menyimpulkan bahwa di saat ini, sudah tiga puluh sembilan tahun Taman Mini berdiri, Dia semakin menjadi barometer mini Indonesia yang dinamis, memiliki nilai yang maksi, sebab selain memang ini sebuah “taman” yang menjual relaksasi dan fun, namun juga dengan dilengkapi nilai-nilai filosofis, kebangsaan serta edukasi yang mungkin tak ada di tempat rekreasi sejenis, bahkan di dunia.
Walau demikian, tentu TMII tak luput dari kritik saran. Memang pasca reformasi, sepertinya TMII perlu banyak pembenahan, terutama karena “tua” nya tempat rekreasi ini sehingga dibutuhkan banyak peremajaan dalam berbagai wahana, sekaligus juga pengelolaan yang lebih profesional dan modern. Mungkin pengelola membutuhkan suntikan modal lagi dari pemerintah agar taman ini semakin maju dan turis mancanegara lebih banyak untuk datang. Wahana-wahana yang kurang terawat bisa dirawat lebih baik lagi dan fungsi edukatif melalui berbagai program perlu digalakkan lebih jauh.
Selamat Ulang Tahun TMII ke-39 tetaplah dinamis dan mempertahankan nilai-nilai “maksi” dengan segala ke-mini-annya, dan menjadi pelestari budaya bangsa dan perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Sepakat!