Komunitas ASEAN & ASEAN Blogger : Meretas Jalan Satu Bangsa

https://www.unggulcenter.org/komunitas-asean-blogger-satu-bangsa/

ASEAN : Sesuatu Banget!

Apa itu ASEAN? Mungkin banyak yang bisa jawab, karena pernah mendapatkan pengetahuan dijenjang SMP atau bahkan SD. Yang menarik, apabila kita dapat melihat ASEAN sebagai sebuah gabungan (masyarakat) negara. Bukan berkumpulnya negara. Berbeda nuansanya loh. Sebuah persatuan masyarakat satu wilayah, bukan hanya organisasi elit yang bertemu beberapa tahun sekali.

ASEAN, seyogyanya adalah komunitas masyarakat yang terintegrasi. Karena kesamaan latar belakang yang tak hanya geografis semata, namun juga kebudayaan, perekonomian agraris, termasuk isu-isu geopolitik yang sama, misalnya terorisme dan globalisasi.

ASEAN, menurut saya, bisa menjadi kekuatan penting dan wujud dari solidaritas antarbangsa di Asia Tenggara. ASEAN, pada berbagai konferensi internasional, usaha-usaha pelatihan dan pengembangan masyarakat (community development) di negara-negara ASEAN dan emerging countries lainnya sering disejajarkan dengan negara maju di Asia Timur dengan menyebut ASEAN+3. Ditambah Jepang, Korsel dan China. Ini adalah sebuah “wow” dan menurut bahasa gaul saat ini, “sesuatu banget”!

Intinya, ASEAN bisa menyamai kapasitas dan integrasi seperti Uni Eropa yang “sesuatu banget” itu. Eropa punya mata uang tunggal yang menjamin perekonomian negara-negaranya. Eropa juga punya Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) atau European Economic Community (EEC). Bahkan, untuk menjadi “jagoan” sepakbola pun Eropa menjadi tempat yang subur sebagai kawah candradimuka.

Turki ngotot mati-matian untuk memasukkan sepakbola mereka sebagai bagian dari kompetisi Eropa, bukan Asia karena memang iklim kompetisi yang sangat ketat justru akan memicu peningkatan kualitas persepakbolaan dan khususnya kompetensi pemain mereka dengan signifikan. Disisi politik, “pertemanan” negara-negara eropa ini bisa menjadi kekuatan besar dalam menggalang opini, dukungan dan persetujuan untuk satu dan lain hal terkait politik.

Mantab kan? kurang lebih inilah mengapa kita butuh Komunitas ASEAN! (lanjut ya bacanya)

 

Meretas Jalan di Visi ASEAN

Untuk membahas mengenai komunitas ASEAN, kita flashback dulu dalam kontinum waktu. Boleh ya, agak serius sedikit.

1967 adalah tahun bersejarah bagi negara-negara di Asia Tenggara, sebab ASEAN, Association of South East Asia Nations, terbentuk. Dengan berandai-andai, saya rasa pada saat pertemuan besar itu, semua kepala negara memiliki visi bahwa nanti kedepannya, Asia Tenggara adalah kekuatan besar perdamaian dan perekonomian dunia, dimana misi paling utama adalah peningkatan signifikan perekonomian antar bangsa ASEAN. Luhur, sangat visioner.

Tiga dasawarasa setelah itu, Desember 1997, disahkan sebuah deklarasi penting, yaitu Visi ASEAN 2020 dengan isi kurang lebih ASEAN akan menjadi kawasan yang mewujudkan wadah kerjasama negara-negara Asia Tenggara, yang hidup dalam perdamaian dan kemakmuran, menyatu dalam kemitraan yang dinamis dan komunitas yang saling peduli serta terintegrasi dalam pergaulan bangsa-bangsa didunia.

Nah, dari visi tersebut kita bisa simak kata kunci : perdamaian, kemakmuran (ekonomi), kemitraan (persahabatan), komunitas (masyarakat yang) saling peduli, (dan) terintegrasi!

Perkembangan selanjutnya, adalah deklarasi Cebu di KTT 12 ASEAN di Filipina, yang mempercepat pembentukan komunitas ASEAN dari Visi 2020 menjadi 2015, alias empat tahun lagi sodara-sodara!

Milestone penting sebelumnya, sudah terlebih dahulu terdapat deklarasi mengenai pembentukan ASEAN COMMUNITY pada KTT ASEAN di Bali tahun 2003 yang sering disebut Deklarasi Bali Concord II yaitu :

  1. Masyarakat Keamanan ASEAN (ASEAN Security Community),
  2. Masyarakat Sosial Budaya ASEAN (ASEAN Socio-cultural Community),
  3. Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community).

Wah sejalan ‘kan dengan yang saya sebut di awal tulisan ini?

Sedikit mengulas, tiga pilar ini adalah tiga komunitas ASEAN yang memang sangat cocok dan urgent untuk diterapkan. Misal masalah Keamanan ASEAN sangat terkait dengan kejahatan antar negara, ekstradisi, preventif dan pre-emptif terkait terorisme. Tentu ini menjadi concern kita semua di kawasan ASEAN. Bagaimana leap-frogging ala teroris berkelana menebar kebencian di berbagai pulau di belahan negara-negara di ASEAN, tentu jadi masalah. Arus kejahatan perdagangan manusia dan penyelundupan narkotika di lintas ASEAN harusnya bisa dikurangi dengan drastis melalui Komunitas Keamanan ini.

Jadi memang perlu kerjasama kemitraan dan saling peduli (baca lagi visi ASEAN yang saya tulis diatas) Sebab pilar keamanan ini adalah penunjang untuk pilar ketiga yaitu masalah ekonomi alias kemakmuran dan perdamaian (ada juga loh di visi ASEAN).

Kedua, Masyarakat Sosial Budaya ASEAN. Tentu kita mahfum akar budaya Asia tenggara yang diwarnai dengan kultur yang hampir sama yang kata orang “kultur timur”. Warisan budaya ASEAN yang indah dan penuh nilai spiritual-estetika yang tinggi harus dilestarikan sebagai budaya kawasan. Mungkin nanti tak ada lagi permasalah terkait klaim budaya antar negara karena saling menghargai dan saling mengakui sebagai budaya khas ASEAN.

Interaksi antar penggiat sosial dan budaya di kawasan ASEAN tentu akan menambah khazanah budaya dan mempererat promosi budaya regional ASEAN maupun nasional negara-negara di ASEAN. Masalah sosial juga lekat dengan penanggulangan masalah kesehatan bersama misal penyebaran SARS, Flu burung dan seterusnya secara efisien dan terintegrasi.

Selain itu, semenjak dulu kala, Indonesia adalah pemimpin bangsa-bangsa di ASEAN. Betul, kekuasaan Majapahit, Sriwijaya bertahta hingga Asia tenggara. Belum masalah perdagangan yang negara-negara Asia tenggara sangat bergantung pada Indonesia. Jadi Indonesia menurut saya adalah “natural leader” dari ASEAN. Setuju nggak?

Ketiga, Masyarakat Ekonomi ASEAN. Nah, ini poin penting seperti yang saya inginkan diawal paragraf. ASEAN diharapkan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi yang di negara-negaranya. Kerjasama ekonomi yang solid, saling membantu, dan kuat tentu menjadikan stabilitas ekonomi yang stabil dan mampu menjadi salah satu kekuatan ekonomi besar di dunia, pasca milenium kedua. Ini cita-cita yang sangat penting, sebab perekonomian alias urusan perut adalah urusan lahir-batin yang menjadi kriteria kesejahteraan paling utama terutama di negara-negara berkembang.

Diharapkan, masyarakat ekonomi ini bisa membawa kebersamaan, mengurangi kesenjangan perekonomian serta saling membantu dalam menghadapi permasalahan ekonomi regional, sehingga indikator-indikator kesejahteraan masyarakat bisa meningkat. Pengangguran ditekan, kemiskinan berkurang dan seterusnya.

Kedepan, ASEAN akan menjadi kekuatan ekonomi baru yang menantang “kekuatan ekonomi tua”, meminjam istilah Bung Karno dulu, walau beliau salah kaprah dalam penerapannya, NEFO (New Emerging Forces) sangat mungkin adalah ASEAN!

Saya rasa kali ini sudah semakin mantab ASEAN menjadi salah satu masyarakat integral yang erat hubungannya, dan makin menuju apa yang saya akan sebut “oh GUE masyarakat ASEAN”. Itu harapannya, dan tantangannya, masalah perlombaan dengan waktu untuk menuju kesana melalui implementasi pilar-pilar tersebut!

 

Komunitas ASEAN = Jalan ASEAN Blogger

Mei 2011 yang lalu, Indonesia tuan rumah KTT ke-18 ASEAN loh. Pada KTT ini, para negarawan kembali berkumpul. Sebagai tuan rumah, tak hanya menyelenggarakan saja (sebagai host) tapi juga sebagai pemimpin ASEAN. Pemimpin formal, sebab tahun ini Indonesia adalah Ketua ASEAN, juga natural, sebagaimana saya sudah singgung diatas, bahwa Indonesia adalah pemimpin dari “ASEAN” sejak abad pertengahan.

Jalan menuju “satu bangsa” Komunitas ASEAN (ASEAN Community) sudah sangat dekat. Untuk mencapai komunitas yang satu, maka diperlukan langkah-langkah yang konkrit. Oleh karenanya selain dengan berbagai upaya terkait menuju 2015, ASEAN Blogger chapter Indonesia langsung dideklarasikan sekaligus dengan segudang kegiatan untuk menunjang komunitas ASEAN 2015. Iya dong, sebagai pemimpin natural dan formal, Indonesia harus proaktif dalam menuju komunitas ASEAN 2015.

Mengapa blogger? Pertama, sejak awal, blogger tak terkena sekat-sekat primordial. Dia tak mempan isu SARA. Dia melintas batas dan melintas ruang waktu. Secara umum, satu-satunya kendala integrasi dan persahabatan blogger adalah masalah waktu dan biaya untuk Kopdar alias kopi darat hehe.. Oya sebenarnya ada lagi, yaitu masalah penggunaan “bahasa” pada penulisan blog. Tapi saya rasa, bukan kendala besar, karena ASEAN Blogger chapter Indonesia tentu didominasi berbahasa Indonesia. Sedangkan untuk artikel yang lebih “me-regional”, akan ditulis dalam bahasa Inggris dan bisa dipost di situs ASEAN Blogger langsung sebagai gateway antar chapter.

Kedua, blogger dapat melakukan diseminasi pengetahuan mengenai ASEAN dan khususnya Komunitas ASEAN 2015 ke banyak pembaca blog dan jejaringnya. Kontribusi blogger sangat penting, karena waktu empat tahun menuju 2015 bukan hal yang singkat dan bantuan diseminasi melalui proyek-proyek offline seperti workshop dan roadshow sangat terbatas dan terbentur juga masalah waktu dan sumberdaya.

Diharapkan, blogger bisa mewabahkan Komunitas ASEAN 2015 dengan efektif dan efisien. Tanpa kontribusi para blogger, melalui kontribusi pribadi dunia maya (artikel) dan dunia nyata (berbagai event sosialisasi) saya tak yakin komunitas ASEAN 2015 bisa berjalan mulus. Blogger lintas negara dalam hal ini adalah masyarakat itu sendiri. Dia bukan komoditi. Tapi adalah isi dari komunitas, paling tidak, dalam tiga pilar, sosial budaya adalah basis-nya. Anda tentu masih ingat visi ASEAN yang saya tulis dan kata kuncinya? Yup 100% kata kunci tersebut ada pada blogger antar negara.

Menurut saya, kurang memungkinkan apabila hasrat membentuk komunitas antar-wilayah tanpa adanya integritas dan teknologi yang menunjangnya. Dunia internet (online) dimana ASEAN blogger dengan tulisan-tulisan bernas mengenai ASEAN, mulai dari pengetahuan ASEAN hingga kehidupan sosial di berbagai negara ASEAN yang dialami langsung, merupakan informasi yang tak terbatas, dibaca di dunia dimana hampir 100% generasi muda di berbagai negara ASEAN dapat mengaksesnya.

Ada satu keunggulan bloggers ketimbang “hanya” onliners yang cuit-cuit di-twitter dan jejaring sosial lainnya. Adanya konten yang bernas, bernilai manfaat dan permanen pada blog yang seiring dengan berjalannya waktu tetap dibaca dan dimanfaatkan untuk pengetahuan terutama mengenai ASEAN. Berbeda dengan jejaring sosial yang ‘umur’ ocehan/statusnya tak panjang dan biasanya juga berputar dikalangan tertentu saja yang—mungkin- menurut saya belum siap untuk berkontribusi terhadap ASEAN secara konkret.

ASEAN Blogger Community adalah bagian besar dari unsur vital pembentukan ASEAN Community itu sendiri, terkait tiga pilar komunitas yang dicita-citakan kita semua sebagai bagian dari ASEAN. ASEAN Blogger adalah komunitas dalam komunitas, yang paling punya keunggulan utk memulai langkah nyata.

Kontribusi ASEAN Blogger kepada Komunitas ASEAN, merupakan salah satu unsur penting bagaimana sosial-budaya berlintas negara, pemahaman antar blogger antar negara secara akar rumput bisa dijalankan, tak cuma sebatas diatas kertas antar pemimpin negara, sebab komunitas adalah masyarakat dan masyarakat bukan pemimpin negara. Nah, jalan untuk meretas arah satu bangsa ASEAN adalah pemahaman, persaudaraan, dan keterikatan antar masyarakatnya, bukan negaranya. Ini peer bagi kita semua masyarakat (di negara-negara) ASEAN.

Menurut saya, tiga pilar komunitas niscaya tak banyak berhasil apabila tak diisi dengan kontribusi dan peran aktif masyarakat negara-negara ASEAN. Komunitas ASEAN perlu strategi bottom-up juga selain top-down sekelibat tandatangan dan konferensi tingkat atas. Blogger, adalah masyarakat. Pembaca blog, adalah masyarakat juga, dan inilah fondasi dari pilar tersebut. Diluar blogger dan dunia online, ada masyarakat juga.

Blogger bisa memfasilitasi interaksi masyarakat itu, sebagai “non-pemerintah”, bagian integral masyarakat lokal, dan bagian tak terpisahkan untuk meneruskan pesan perdamaian dan Visi ASEAN ke dunia luar. Setuju kan, kalau tanpa fondasi kokoh, (tiga) pilar (ASEAN) bisa hancur dan atap bisa rubuh!

 

 

 

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

6 Comments

  1. wah, tulisannya lengkap, detil dan sesuatu banget, hehe

    begini. saya membayangkan komunitas blogger asean terbentuk di kesepuluh negara anggota asean. masing-masing negara mempunyai chapeter sendiri. yang mana adakalanya masing-masing chapter bisa kopdar di negara-negara yang berbeda-beda.

    saya membayangkan lagi ada semacam pertukaran blogger di antara negara-negara asean. dimana tiap blogger menuliskan cerita perjalannya di blog, kalau perlu live blogging. dalam bingkai asean blogger.

    misalnya blogger tiap negara stay selama 6 bulan di suatu negara dan berpindah-pindah sampai merata ke 10 negara anggota asean, hehehe

  2. Tulisan mas sindhu juga oke banget 🙂

    Ya, bagaimana menempatkan diri sebagaimana filosofi blogger itu sendiri. Saya rasa kita semua sebagai blogger bisa mengambil manfaat positif dari mendukung ASEAN ini. Mengapa tidak, karena Indonesia, HARUS menjadi pemimpin ASEAN sebagai basis gerakan utk memimpin dunia. Kita punya mimpi, dalam 100 tahun Indonesia merdeka (2045) Indonesia sudah menjadi pemimpin Asia dan dihormati dunia. Ujungnya tentu masalah peningkatana kesejahteraan rakyat. Amin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.