Bongkar Saja Lab Sekolah!
Pecahkan saja gelas itu! Biar aduh-mengaduh. Pernah ingat kalimat dari film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) ini yang dulu sangat terkenal? Sepenggal kata itu lucu karena nggak nyambung. Namun juga memiliki arti yang dalam, sebagai bagian dari karya sastra, yaitu puisi yang dibacakan Cinta dalam suatu adegan.
Judul artikel ini juga sama. Bisa dalam arti sebenarnya, bisa dalam arti kiasan.
Betul, setiap sekolah sekarang telah mempunyai Laboratorium Komputer. Biasanya berisi sepuluh, dua puluh, hingga empat puluh PC yang terkoneksi dengan jaringan kabel. Sekolah yang mampu, lisensinya asli sedangkan sekolah tidak mampu, masa bodoh. Pakai bajakan walaupun tahu itu dilarang dan merasa tak tabu dalam pendidikan.
Usaha jasa instalasi dan pembangunan Lab pun sumringah, punya proposal pembangunan Lab dengan komputer-komputer jangkrik alias rakitan, dengan spesifikasi yang diutak-atik sesuai kemampuan sekolah “klien”. Pihak sekolah juga no-problem, yang penting gengsi sekolah sudah ada Lab sehingga meningkatkan “nilai jual” di mata orangtua calon siswa. Klop bukan?
Tapi apa hasilnya?
Seorang senior di usaha komputer yang sekarang menekuni dunia edukasi bilang ke saya, Capek. Sejak tahun 1980 beliau membangun Lab komputer di sekolah-sekolah. Bayangkan, kata beliau, selama tiga puluh tahun tidak ada kemajuan signifikan di kemampuan TIK civitas akademika sekolah, mulai dari guru, kepala sekolah, staf, tukang kebun, sekuriti, hingga ke siswa itu sendiri!
Artinya, yang pintar dengan adanya Lab komputer ini hanya sebagian kecil. Bandingkan dengan jumlah sumberdaya manusia yang harus melek IT yang menjadi beban bangsa ini. Menurut banyak analisa, disinilah mengapa bangsa ini ketinggalan. Selain mengandalkan Lab yang hanya satu dan dua, dengan sistem shift yang membuat siswa hanya mendapat ilmu TIK sedikit-sedikit. Kecuali siswa SMK dengan rumpun TIK ya. Saya disini ngebahas Lab secara wide-range dari SD sampai SMA 🙂
Oke, betul, sekarang ada namanya pelajaran TIK. Untuk semua siswa. Tapi selain itu juga tetap “terbatas”, juga “terlambat”, kalu tidak boleh kita sebut “tidak berguna”. Mengapa demikian? Jawabannya ada pada pokok bahasan berikutnya.
Pembelajaran Vertikal & Horisontal
Dengan belajar hanya mengandalkan Lab komputer dan mata pelajaran TIK apakah siswa dapat menjadi pintar? Tidak juga. Faktanya, siswa lebih banyak belajar melalui gadget-nya sendiri, Internet dan lingkungan (keluarga, pertemanan). Bukan dari mata pelajaran TIK. Segudang argumentasi bisa dibuat deh buat siswa bahwa pelajaran TIK di sekolah perlu. Namun, bagaimana dengan Guru NON TIK? Apakah juga teredukasi? Jawabnya pasti tidak. Yang “pintar” dari sistem ini hanyalah Guru-guru TIK. Mereka pintar, mereka belajar, dan setiap ada kegiatan terkait TIK untuk sekolah, selalu mereka yang mendapat ilmunya hehe.. No Offense loh pak, bu.
Kenyataannya, memang siswa-siswa banyak sih yang nilainya bagus dari pelajaran ini. Tapi banyak karena mereka memang “digital native”, merujuk pada Don Prensky (2001) yang populer dengan artikel “Digital natives, Digital immigrants” dimana anak-anak jaman sekarang hidup di dunia serba digital yang membuat mereka lebih mudah dalam memahami segala hal berbau TIK dengan mudah, cepat dibanding orangtua mereka yang “digital immigrant”.
Pembelajaran yang ada sekarang ini adalah pembelajaran Vertikal, dimana TIK dianggap harus menjadi satu pelajaran khusus. Bukan TIK menjadi pendukung dari semua pelajaran, alias semua pelajaran berbasis TIK!
Contoh, guru-guru Non TIK apakah cocok belajar Ms Excel? Kita patut tanya dengan guru bersangkutan. Mungkin Guru Agama perlunya bagaimana mengajar dengan menggunakan aplikasi konversi tulisan bahasa Indonesia dan inggris ke bahasa arab secara langsung ketika diketik. Atau guru-guru Kesenian memberikan materi Seni Musik melalui aplikasi atau minimal mengombinasikan presentasi PowerPoint dengan klip suara dan gambar yang merupakan contoh-contoh suara drum, gitar, biola dan seterusnya yang harus ditebak oleh siswa SD.
Bagaimana dengan guru olahraga? Sepertinya menghitung kalori yang terbuang setelah lari keliling lapangan dan menghitung denyut setelah berolahraga jauh lebih menarik dan masuk akal. Sehingga siswa dapat mencapai target kalori, bukan target berapa kali keliling lapangan. Jika punya alat TIK seperti itu, tentu guru olahraga lebih bersemangat dan siswa lebih cepat menangkap pelajaran. Itulah TIK dalam arti sebenarnya.
Mereka belajar TIK bersama dengan mata pelajaran “standard” yang ada dalam filosofi pendidikan, bukan belajar TIK khusus dan berbondong-bondong menuju Lab. Semua disesuaikan dengan apa yang ada, bahkan bisa dikombinasikan dengan minat juga! Apalagi yang bapak-ibu guru inginkan agar kedua-belah pihak, guru dan siswa sama-sama teredukasi TIK? Tentu bapak ibu yang tahu.
Hal yang selama ini terjadi misalnya, setiap ada undangan pelatihan TIK, mengenai TIK dan terkait TIK, selalu Guru TIK yang datang. Walaupun yang diundang guru non TIK hehe. Sedangkan guru Non TIK akan bilang “ah saya mah sudah tua gatek, biar guru TIK aja ama siswa yang urusan utak-atik IT” so, makin lama kita makin tertinggal dari negara lain. Tak ada yang mau seperti itu kan?
Dan sekali lagi, Guru TIK punya beban yang sepertinya tak mungkin beliau tuntaskan untuk semua siswa Melek TIK dan dapat memanfaatkan TIK untuk produktivitas. Kecuali nantinya siswa tersebut masuk dunia IT melalui jenjang perguruan tinggi. Boleh jadi banyak yang mengatakan “so what gitu loh”. Nah, kapan kita mau beralih seperti Korea dengan produk gadget dan elektroniknya menyerbu pasar Indonesia. Mengimbangi China dan Jepang dalam hal teknologi untuk konsumerisme? Mau menjadi konsumen sampai kapan bangsa ini? Mau dilihat seperti Kue yang besar dan dibagi-bagi terus? Hmm.. saya tidak mau.
Model Pembelajaran Horisontal adalah pembelajaran di lingkungan pendidikan dimana penerapan TIK terjadi di semua mata pelajaran, dilakukan oleh guru-guru mata pelajaran non TIK dengan baik kepada semua siswanya. Jadi guru TIK dalam hal ini sebenarnya harus mendukung teman-teman guru non TIK lain dalam menguasai TIK agar bisa mengajarkan model pembelajaran dengan basis teknologi kepada siswa. Bukan judulnya “menguasai” Lab dan mentereng dengan berbagai sertifikasi IT yang diperoleh.
Kalau ada guru TIK yang dalam satu sekolah dia sendiri yang “melek IT”, hmm menurut saya, ada yang salah dalam kurikulum pendidikan kita. Apalagi siswa (kalau bukan SMK rumpun teknologi) yang memang pintar dalam mata pelajaran TIK lebih banyak dapat ilmu dari “luar” alias internet dan utak-atik teknologi sendiri misalnya gadget. Bukan hal yang langka lagi hal ini terjadi. Sebagai pengajar yang juga beraktivitas di pendidikan non formal, saya sering kok mendapati siswa SMA/SMK mendaftar kelas-kelas pemrograman maupun jaringan!
Jadi dalam konteks ini, harusnya para guru non TIK bisa berdemonstrasi menuntut pembubaran Lab komputer sekolah! hehe.. bisa dilihat, sepertinya tahun 2020 kita sudah menganut pendidikan TIK yang “horisontal”, menyusul pemasaran yang horisontal, SDM yang horisontal dan pasar yang horisontal.. pemimpin juga nanti ke depannya adalah pemimpin yang horisontal.. #prediksi
Tanpa Lab?
Di Luar negeri, katanya sih pelajaran TIK dan Lab Khusus untuk belajar TIK nggak ada. Kecuali memang kebutihan “riset” sekolah. Ah, ngapain melihat Luar Negeri, lihat diri sendiri saja, tak perlu niru-niru produk LN. Cintailah produk-produk Indonesia. Hehehe.. Selain Jaka Sembung, Nggak Nyambung, Kalau sudah begitu, perlu juga saya sampaikan di artikel ini kalau –maaf kalau saya salah, tapi kalau melihat Roadmap Sistem Edukasi Nasional yang katanya “meniru” atau “merujuk”, apapun istilahnya dari sistem pendidikan Edunet dari Korea.

Anda bisa lihat, kalau Sistem Edunet Korea yang dijalankan sekitar belasan tahun lalu sudah menuai hasil memuaskan. Bahkan contoh serupa bisa kita croscek ke Malaysia yang pada dekade 1960-1970an belajar dengan kuliah ke Indonesia dan sekarang lihat, bukan main bangganya kalau orang Indonesia kuliah ke Malaysia. Produk-produk terkait teknologi semua diciptakan dan dikomersilkan dengan dukungan pemerintah melalui regulasi dan investasi. Bagaimana dengan Indonesia?

Pada gambar diatas, dapat dilihat, buku sekolah elektronik (BSE) pun merupakan kebijakan yang meloncat dari sistem edukasi kalau di Korea (EduNet). Sebab kultur belum berubah di Indonesia. Walaupun judulnya BSE, alias elektronik, tetap saja guru mendownload, mengcopy dan kemudian mencetak ke dalam bentuk kertas baru kemudian dibaca oleh SISWA. Bahkan oleh guru bersangkutan. Ini diprediksi terjadi, kalau kulturnya belum “TIK” hanya terpaksa ber-TIK ria.
Guru-guru sekarang Alhamdulillah sudah sadar betapa TIK itu penting, sehingga banyak program Laptop untuk Guru semacam Sagusala (Satu guru satu laptop) dan seterusnya. Produsen laptop pun dengan senang hati menambah berbagai fitur yang cocok dengan kegiatan pendidikan agar guru-guru dapat memakai sesuai dengan kompetensinya. Ini sinergi yang bagus.
Namun lebih bagus lagi apabila pembelajaran di sekolah juga menggunakan laptop dan perangkat “alat peraga” lain yang menunjang TIK. Dengan Pen Tablet, dengan Alat hitung elektronik, dengan bantuan Internet untuk memvisualisasikan topik pelajaran melalui video dan seterusnya. Misalnya bahan ajar bisa bapak-ibu sebarluaskan dan rekam dengan Pen Tablet. Jika ada bapak ibu yang belum tahu mengenai Khan Academy, silakan coba buka dengan internet ke Khan Academy nah kira-kira seperti itulah peran guru. Mengajar, Mendidik. Berbagi!
Sekolah & Relawan TIK
Salah satu upaya agar terjadi pembelajaran horisontal ini adalah gerakan Relawan TIK (ICT Volunteer) yang langsung mengajak bareng para guru belajar TIK sama-sama. Khususnya guru non TIK. Relawan TIK go to school (REGOS) adalah salah satu program yang menurut saya sangat bagus, roadshow ke berbagai sekolah untuk memfasilitasi guru menggunakan teknologi dan memproduksi bahan ajar mata pelajaran yang diasuhnya.
Kegiatan Relawan TIK ini adalah kegiatan yang positif dan sudah dilakukan beberapa negara misalnya PBB (UN) dengan Internet Volunteernya, dan Korea (selatan) dengan Korean IT Volunteer yang keliling dunia dalam kegiatan sosial mengajari TIK ke banyak penduduk. Semakin banyak penduduk yang ngerti IT semakin Korea dikenal sebagai produsen alat-alat elektronik dan komunikasi modern berbasis TIK. Nah!
Seperti yang saya sebutkan di beberapa paragraf awal, tentu hal yang positif adanya sinergi antara vendor dengan program “CSR” nya terkait pendidikan di Indonesia, utamanya meningkatkan motivasi dan kompetensi para guru agar dapat beraktivitas dengan produk-produk IT dan juga dapat memanfaatkannya untuk kegiatan pendidikan di sekolah, karena ini yang dilakukan oleh negara lain.
Adanya kerjasama dengan produsen perangkat TIK untuk digunakan disekolah. Dengan misalnya setiap siswa diberikan Tablet PC bekerjasama dengan vendor IT dengan spesifikasi khusus yang diletakkan di sekolah layaknya Buku-buku terbitan Depdikbud dulu yang dipinjamkan ke siswa. Jadi BSE yang diterbitkan itu memang benar-benar difungsikan sesuai dengan kegunaannya, yaitu dibaca secara digital! Bahkan beberapa negara menargetkan di semua sekolah akan paperless (tanpa kertas) di tahun-tahun berikut yang tak jauh dari tahun ini, 2012!
Guru (Era Baru) dan Lab Komputer Sekolah (Era Lama)!
Nah karena tema tulisan ini Lab komputer dan Guru, maka boleh kiranya saya sebutkan kalau Guru Era Baru (Guraru) adalah guru yang kompeten dalam menggunakan perangkat berbasis TIK dan guru yang melek TIK dan itu berlaku semua guru, bukan guru TIK saja. Guru TIK lah yang membantu bersama dengan Relawan TIK dalam edukasi ini.
Jika perlu, kata seorang tokoh pendidikan, pelajaran TIK itu dihapuskan saja, karena peran TIK adalah sebagai pendukung (support) implementasi bukan sebuah pelajaran khusus yang mungkin membosankan, mungkin menarik, tapi yang pasti berkenalan dan menguasai TIK bisa dipelajari sendiri oleh siswa. Itu sesuai dengan visi 2020 nya pendidikan Indonesia loh.. Hmm..
Lab komputer memang era lama. Warnet (warung internet) saja era lama. Semua orang sudah ber-gadget untuk berinternet. Guru-guru sudah mempunyai program ber-laptop. Siswa-siswa mulai dapat mencicil netbook yang harganya bahkan kurang dari dua juta, dan Android (smartphone, pad atau tablet) yang kurang dari satu juta.
Antara guru dan lab memang hanya nyambung dengan guru TIK. Guru era baru pun saya yakin tak mendapatkan korelasi langsung dengan adanya Lab di sekolah mereka. Tidak. Dengan adanya laptop dan koneksi internet? Baru Iya. Guru era baru bisa memformulasikan presentasi ke siswa, mencari bahan di internet (dan intranet), nge-blog sebagai wadah sharing pengetahuan dan kegiatan produktif lainnya.
Antara Lab dengan siswa? pun hanya nyambung ketika pelajaran TIK dan bergiliran masuk ruang “lab multimedia” ini. Hal yang sama bertahun-tahun lalu ketika Lab Bahasa marak di berbagai sekolah menengah atas, semua berbasis “giliran” padahal TIK berkembang sangat cepat, tak secepat software aplikasi di Lab dan spesifikasi PC di Lab.
Maka kita perlu berkaca, sejauh mana penerapan TIK di sekolah. Sekedar ada lab dan pelajaran TIK? Atau benar-benar semua guru dan semua siswa mendapatkan limpahan berkat dari adanya Lab ini? Kalau tidak, ya bongkar saja hehe.. maksudnya bisa diganti dengan Lab berisi Tablet-tablet yang bisa dipakai oleh siswa, dan utilitas penggunaan kelas Lab tersebut lebih sering dan lebih intens. Jadi semacam ruang penelitian siswa terkait Teknologi Informasi dan Komunikasi. Benar-benar cocok dengan namanya, “Laboratorium” atau diganti dengan “Pusat kajian komputer” dan sejenisnya.
Bagaimana menurut Anda? Wahai guru era baru?


Ya setuju sekali jika Lab itu diperuntukan memang untuk lab, siswa dipaksa ke lab itu harus agar “setidaknya” pernah bersenggolan dengan namanya mouse, keyboard, dan komputer, ujian pun sah2 aja sih. Tapi menurutku yang lebih penting adalah membuka seluas-luasnya ruang lab ini bagi siapa saja murid yang berniat mendalami. Jadi ada semacam ekskul riset sendiri.
Volunteers dari Korea ngajar dimana dimana tuh. Bagus juga nih anak2 muda menularkan ilmu, salut.
Bro apakah tukang kebun juga belajar TIK, hehehe 🙂
@Alris : agak hiperbola memang, tapi ada benarnya pak. misalnya nih.. tukang kebun bisa bantu men-shutdown PC apabila ternyata ketika lewat ternyata PC belum mati hehe.. dan sekaligus mematikan lampu biar hemat energi. Bisa juga memakai handphone untuk keperluan sekolah misalnya.
Itu Korea di Serang. Banten. Mereka ke SMK Informatika dan ke Unsera (Univ Serang)