Saya mendekatkan kepala ke mulutnya, ketika dia berkata satu patah kata..
“Apa?” saya bilang.
“Ajak”
“Ajak-ajak..”
Saya tersenyum. Dan saya lihat, dia berusaha tersenyum. Ya, khas kata-katanya seperti itu, kalau kami mengobrol di kampus, duluu sekali. Dan Itulah kata-katanya di hari Senin, 6 Agustus 2012 di RSCM. Ketika Alhamdulillah, saya dan istri sempat bertatap muka dan ngobrol dengan Wahyu Ishardino Satries. Dosen Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi, sekaligus sahabat kami waktu sama-sama berkuliah di program studi administrasi negara, Ilmu Administrasi FISIP UI.
Sepertinya dia semangat sekali, ketika saya mengajak ngobrol tentang melanjutkan kuliah. Ya, saat ini saya mau kuliah di Estonia, master di bidang Technology Governance. Dia berbinar-binar. Mukanya yang bersih dan damai itu kelihatan antusias. Saya lanjutkan, “Doktoralnya gratis disana. Ada teman juga yang ngambil, beasiswa Dikti. Lumayan kan untuk biaya hidup. Ente kan sama, dosen, jadi bisa tuh.” Beliau sudah duluan mendapatkan magister di UI, dan selalu bilang ke saya dan istri, “ah gue aja bisa, lu pasti bisa. Semangat nggul.” Selalu memotivasi orang lain dan senang apabila ada orang lain senang.
Sebelumnya, ketika saya dan istri masuk ke ruangan kamarnya. Kami bertemu teman-teman dosen dari UNISMA. Wahyu langsung berkata dengan sepatah. “Kaka ngga diajak kan?” Istri saya terhenyak. “Oh nggak kok nggak”. Wahyu, disaat kayak begitu dia masih ingat anak kami, Kaka, yang masih kecil jangan diajak ke Rumah Sakit.
Waktu itu istri beliau sedang tak ada ditempat, karena sudah lebih dari sepekan tidak ngantor, jadi hari itu pas kebetulan istrinya ngantor sebagai PNS di Kab Bekasi. Saat itu ada teman-teman dari UNISMA sedang menjenguk juga.
Saya seperti memahami sakitnya, sudah bertahun beliau begitu. Berjuang dan juga berdakwah di jalan-Nya. Religiusitasnya tak main-main. Namun dia juga pria yang tak pandang bulu dalam berteman. Kami sangat akrab. Selain karena di program studi ini hanya ber-24 orang, hanya tujuh orang yang cowok. Saya, dan Wahyu, Husni bertiga lumayan erat. Kami pernah jalan kaki keliling Depok Bogor dan memenangkan penghargaan Juara Umum Lintas Batas Depok oleh Walikota, tahun 2004 lalu. Piala bergilirnya belum lagi ditaroh ke rumah Wahyu.
Nama panggilannya juga unik. “Kisut” alias Key Shoot, tendangan kunci. Suka bermain bola, dan jago juga. Juga pecinta alam. Belum sempat kami diajak beliau untuk menikmati pemandangan alam, gunung, ciptaan dunia oleh Allah, yang dari kuliah dia sering utarakan untuk mengajak saya dan Husni, dia sudah duluan dipanggil menghadap-Nya. Masih ingat ketika datang ke pernikahannya, masih ingat candaannya. Di RSCM itu, sehari sebelum berpulang, waktu ngobrol dengan teman-teman UNISMA, Wahyu mengenalkan saya dan istri sebagai teman kuliah S1. “Hanya satu perbedaannya” kata dia. “Apa tuh?” kata kami hampir serentak. “IP nya..” dengan suara lirih dia menjawab. Sontak kami, saya dan istri dan teman-teman dosen UNISMA tak mampu menahan senyum. Wahyu sepertinya senang hari itu.
Berbicara tentang penyakitnya, Auto Immune yang hingga merenggut nyawanya, saya juga belum mengetahui pasti apa sebab kematian beliau. Hal yang saya tanyakan, dan ditanyakan orang juga sama, sakit “auto immune”. Salah satunya Hyper IGE. Beliau mengiyakan. Saya sempat 3 minggu ditahun 2009 dirawat di RSCM, dan setelah berhari-hari, saya paksa dokter mengatakan saya sakit apa. HyperIGE katanya. Immune. Dan itu bawaan, jadi memang seperti itu adanya. Saya bilang ke Wahyu “yuk, harus sembuh, masih banyak yang kita bisa sharing”. Saya juga bisa sembuh. Dia kembali melihat dengan pandangan optimis. Tapi tak lama, setelah itu matanya kembali sayu. Memang, saya “hanya” 900-an IGE nya, tak ribu-ribuan seperti Wahyu, walau normalnya dibawah 300. Vaskulitis di kaki saya (ruam-ruam) dan ngilu, hanya ruam yang ada di Wahyu. Dan Lemas. Tidak ngilu seperti saya waktu dulu. Namun memang penyakit Wahyu sudah lama menggerogoti, dan dia sepertinya sadar kondisinya, sehingga dalam berbuat selalu maksimal. Selalu berbuat yang terbaik. Dan dia berada di lingkungan yang Insya Allah sangat membantu Wahyu untuk berbuat banyak untuk masyarakat. Dunia pendidikan, dunia amal yang tak ada habisnya.
Tangannya yang sulit bergerak pun, masih mampu dikuatkan beliau untuk melambai. Tangan kirinya mengangkat dan mengepal, ketika kami pamit. “Semangat bro!” katanya walau dengan suara tertahan. Subhanallah.. kadang saya berpikir, coba kalau saya tahu jauh2 hari, saya akan sering kunjungi dan motivasi beliau.. namun apa daya, memang ajal tak bisa dimajukan maupun dimundurkan, barang sedetikpun.. esok harinya, pukul 18.00 WIB, Hari Selasa, 7 Agustus 2012, beliau menutup mata untuk selamanya.
Pak Dosen, Sahabatku, Wahyu, amal ibadahmu, perjuanganmu, dan kegiatanmu di bidang pendidikan ini sungguh menginspirasi…
Bogor, 9 Agustus 2012
Usagena@.. Trimakasih amel adek qu tersayang ! Mas maf saya ga tw nama nya, saya sangat bertrimkasih mas atas info nya, saya sangat bersyukur bisa berkomunikasi dgn mas, smga IGE nya mas tetap stabil, mudah2an saya mampu bangkit & kembali normal, آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين. Ya trimakasih, mas nama nya siapa !?
makasi banyak infonya..
kk saya IgE sempat 2 ribuan. klo diberhentiin tiba2 IgE malah nyerang tubuh sendiri. mungkin kk saya nyoba olahraga klo IgE uda 800an. itu mnrt saya. kakak saya ketika badannya uda enakan nyoba olahraga naik sepeda saat itu msh minum obat dokter dosis rendah, bsknya kakinya lgs ngilu dan ruam2 shingga dosis obatnya dinaikkin dokternya. kakak saya disaranin dokter jgn olahraga berat dl. mungkin saat itu kadar IgE kk saya msh tinggi dan olahraganya tlalu berat mkna jd kambuh kembali.
klo boleh minta emailnya, saya mau nanya banyak ttg pengobatanya dan minum obat apa saja?
terima kasih…
@amel : silakan kirim ke unggulux at gmail dot com ya Saya juga punya anak usia hampir 3 tahun dan waktu sakit, saya belum menikah. Semoga kakaknya semangat. Saya yakin orang yg semangat pasti sembuh. Saya hanya kecewa kenapa saya baru tau Wahyu dirawat ketika hari terakhir beliau.. coba sebelum-sebelumnya. saya yakin beliau akan kembali termotivasi utk sembuh dan berjuang lagi.. tapi memang usia di tangan Allah kita tak bisa memajukan dan memundurkannya barang satu detik pun..
assalamualaikum
perjuangan wahyu sunngu hebat, saya tau bgmn susahnya. karena kakak saya jg sakit hiperIgE dari 2 tahun yg lalu hingga skrg masih meminum obat. dokter blg blum boleh memberhentikan obatna krn ketika kakak saya berhenti minum obatnnya nyeri dan ruam dikakinya langsung timbul kembali. saya ingin sekali kakak saya sembuh. apa yg kami harus lakukan? apakah ada pengobatan yg bener2 bisa menyembuhkan sakit kakak saya jika ada mohon berikan informasinya tempatnya.. saya sgt sedih melihat kakak saya dengan sakitnya apalagi kk saya msh muda dan baru punya anak pertamanya berusia 4 bulan.
Usagena.. Mas saya ingin bertanya, dulu wktu d RSCM dokter yg mengobati mas siapa ? Trims .
@ajat dr shuffrie mas. Beliau bilang saya harus kontrol. Dan ketika saya tanya, kapan saya sembuh? Dia bilang kalau igE sudah dibawah 300, saya baru “happy”. Dan caranya bagaimana? turunkan berat badan, olahraga. Karena penyakit ini sbnrnya bawaan, ga bisa sembuh dalam arti sembuh dari penyakit. Perlu dinormalkan. Akhirnya dari situ saya putuskan, saya nggak kesana dulu (mahal juga hehe) dan kalau saya siap, saya akan kesana. Ya sekalian medical checkup dst sih.
@amel saya TIDAK MINUM OBAT APAPUN 🙂 saya hanya hentikan minum obat karena membuat tubuh saya gemuk, muka saya gemuk. Sedikit demi sedikit saya coba utk berolahraga. pertama kali, berdiri 15 menit minta ampun pegalnya seperti berdiri seharian. Kemudian setengah jam. beberapa bulan kemudian sekitar 2 jam. Kadang, memang muncul ruam, dan itu tandanya harus istirahat 🙂 Hindari SODA. Berolahraga, BERDOA. Kadang saya masih sering ngilu di buku-buku jari tangan, kemudian menyut di kaki tp saya cuek aja. Saya kasih counterpain dan setiap olahraga saya kasih counterpain ditempat pegal-pegal. Kadang muncul jerawat di bagian2 tubuh tertentu. Menandakan memang belum normal 100%. Tapi Alhamdulillah sampai skrg saya merasa sehat. Mudah2an terus seperti ini 🙂 Hindari makanan yg bikin alergi misal sea food (tergantung jg) asal jangan berlebihan. Memang saya merasa, sejak didiagnosa berpenyakit IgE ini daya tahan tubuh saya agak kurang. Masa, klo dingin kadang menyut, kadang muncul ruam. Dan saya yakin saya keturunan pelaut (bapak saya bugis) ngga mungkin banget saya ga bisa makan makanan laut.. Dan saya juga Juara I Lomba Lintas Alam berjalan Kaki bersama wahyu. Masa ends up ga bisa jalan jauh dan agak lama dikit? Yang semangat .. Semoga kakaknya bisa sembuh ya. Saya ngga tau juga mungkin KADAR IgE nya sudah sangat tinggi jadi beliau ga boleh stop dulu obatnya. 🙂 Kalau saya sih diem2 aja nyetop obat dan ngecek efeknya gimana kalau saya stop 🙂 dan saya pegang kata2 dokter, intinya IgE turun, bukan minum obat apa. Kalau cek ke dokter lagi, saya dikasih resep obat, makanya saya malas..
Mas mohon maaf klw bole saya minta email nya atau lebih gampang facebook nya mas, trims
Trimakasih banyak mas udah mw menjawab saya,mas klw tidak kberatan saya mw sharing lebih bnyak tentang pengobatan hyper ige, kebetulan saya juga pernah berobat k RSCM dimana mas disembuhkan, mudah2an saya bisa sembuh seperti mas !?
Inalillahiwainalillahitojiun, saya turut berduka cita skaligus sedih mngikuti certa nya, sayang saya tidaak bsa sharing dgn yg membuat cerita,karna saya juga penderita hyper IGE. Klw. Baca comen saya tolong d balas ya, klw ga k beratan bisa sms k 087876988367,trims!
Innalillahi wa Inna’ilaihi Roji’un..
Selamat jalan ya akhi…
Ya Allah, tempatkanlah ia di tempat yg terbaik di sisiMu.. ampunilah setiap khilaf dan khalaf beliau.. kuatkan, ikhlaskan, dan tabahkanlah seluruh keluarga yg ia tinggalkan..
Allahummaghfirlahu warhamhu wa afini wa’ fu’anhu..
Turut berduka cita …..
Semoga yang ditinggal bisa mengambil hikmah dari yang meninggal. Innalillah. Beliau sudah menunjukkan bagaimana sepatutnya semangat dalam hidup, dan kang Unggul sudah menujukkan bagaimana layaknya rekan.
Semoga semua mendapat apa yang telah dan akan dilakukan, amin.
Inna lillah… turut berduka cita ya bro…
🙁 terharu bacanya, Nggul. smg pribadi nan baiknya damai dan bahagia kekal disisi Illahi skr.
turut berduka cita. 🙁
eh mau ke Estonia? Semangat ya mas bro 🙂
Yang paling berkesan dari Wahyu adalah ketika dia menolak memenuhi permintaan saya untuk diantar ke depan jalan raya dari BEM setelah kami rapat karena pada waktu itu sudah malam dan gerimis. Dalam hati saya menyimpulkan Wahyu “sampai hati” berbuat demikian. Namun seiring bertambahnya pengetahuan agama, baru saya sadar kalau sikapnya itu menunjukkan Wahyu tidak hanya paham agama tapi juga teguh menerapkannya.
Ketika mendapat kabar dari Nita perihal sakitnya almarhum, kenangan saya kembali tiba saat masa kuliah di UI. Betapa Wahyu adalah sosok yang sangat bersemangat. Eksistensinya tidak hanya pada kegiatan kuliah tapi dipertegas juga dengan keterlibatan aktifnya di Senat FISIP dan BEM.
Sebagai mahasiswa jurusan Administrasi Negara pun, saya, Wahyu, Nita, Unggul dan Husni relatif kerap berinteraksi. Dari awal saya yakin sahabat saya ini bukan sembarang mahasiswa. Nita yang menjadi mahasiswa berprestasi, Wahyu yang aktivis, Unggul dan Husni yang cinta informasi-teknologi. Namun harus diakui interaksi kami berkurang setelah lulus dan bekerja, masing-masing telah memiliki prioritas yang lain.
Kini Wahyu telah mendahului kami. Selamat jalan sahabat, selamat berjumpa dengan Robb Sang Pencipta, doa kami tulus menyertaimu.
@ajat.. wah mas Ajat, bagaimana kabarnya? Semoga bertambah baik. Saya sendiri sudah hampir 2 tahun ga pernah cek ige saya. Skrg saya di Estonia lanjut kuliah S2 dan ngga pernah tau lagi mengenai ige saya krn ga pernah cek. Mudah2an lingkungan baru ini membuat penyakit saya hilang. Kata dokter hyper ige itu aja. Obatnya? Turunkan menjadi normal.. kalau berat badan turun, biasanya otomatis itu juga turun. Ini bkn penyakit sih sebenarnya. Dia bilang gt.