Event Glass Is Life yang saya datangi beberapa waktu silam sungguh menarik. Bahkan sebelum saya datangi. Siapa yang tak merasa tergelitik dari judulnya itu sendiri, yaitu “Glass Is Life”. Kaca adalah kehidupan. Tentu filosofis. Juga praktis. Karena di event ini, para undangan akan menyaksikan bagaimana konsep kaca dan mengapa kaca, terkait pula dengan berbagai kegiatan sosial dan ekonomi terkait kaca.
Hari Selasa, 09 Juni 2015 malam, saya hadir di Coworkinc. Space Kemang, WIMO Building 3rd Floor, Jl. Kemang 1 No. 7, Jakarta 12730 untuk ikut serta dalam acara yang menarik ini.

GLASS IS LIFE ternyata selain ‘gerakan’, juga sebuah komunitas yang mencintai kaca dan peduli pada pemakaian kemasan kaca dalam kehidupan manusia. Karena kaca (Glass) terbuat dari bahan alami yaitu pasir sehingga 100% dapat didaur ulang berulang-ulang kali. Kaca, dengan demikian, ramah lingkungan. Selain itu, kemasan kaca menjamin kemurnian cairan/air di dalamnya.
Di tempat ini juga, kita dapat melihat berbagai display produk kreatif berbasis bahan dasar kaca. Produk-produk tersebut sebagian besar dari hasil re-use oleh Ffrash, dari Agung Pecunk (Desainer Produk Lampu dari Botol Bekas) dan lainnya.

Dan tentu saja, selain itu juga akan ada bincang-bincang bersama komunitas Glass Is Life ID, produsen Sarang Burung Walet dan Sue Ora Jamu yang memakai bahan gelas kaca untuk produknya. Juga dengan Frash, yaitu gerakan dari botol kaca bekas menjadi produk yang berkualitas. Menarik sekali, bahwa produk kaca ini menjadi karya seni yang indah dan juga membantu kaum dhuafa yang mengumpulkan pecahan botol dan kaca.
Tantangan dari penggunaan botol kaca ini adalah masalah harganya yang mahal serta berat. Sehingga perlu inovasi lagi, selain jaman dulu ditemukannya kaca sebagai hasil invensi mahakarya modern. Kita tetap memerlukan kemasan kaca, untuk kesehatan dan lingkungan yang bersih.

Gelas kaca bisa hilang melebur bersama jaman, ngga kayak plastik. Juga kaca tidak merusak rasa. Beda dengan plastik. Makanya, kata salah satu pembicara, Teh Botol memiliki rasa yang pasti berbeda dengan teh instant kemasan lain.
Penemuan kaca merupakan karya besar dan menggunakannya dalam kehidupan pun menjadi hal “next big thing”. Kehidupan ini haruslah bening, sebening kaca. Memandang kedepan dengan positif, namun bisa bercermin ke belakang. Selain itu, bersihnya kaca dan beningnya kaca merefleksikan kehidupan. Kehidupan memang luas, namun di dalam botol kaca, kesehatan diri dapat terjaga melalui asupan yang tak terkontaminasi.
Kaca menjadi karya seni, cocok untuk menggantikan berbagai produk plastik dan ramah lingkungan. Dipadu-padan dengan unsur kayu dan alami, kaca membuat kehidupan dan suasana ruang begitu hidup dan alami.

Itulah, Kaca adalah Kehidupan dan bagaimana memaknai kehidupan, mari berefleksi dengan beningnya dan protektif nya kaca tanpa reduksi terhadap segala bentuk cairan dan benda yang ada di dalamnya. Bertahan lama dan sehat.
Di akhir acara, diumumkan pemenang twit competition. Alhamdulillah saya menjadi salah satu pemenang yang berkesempatan dapat tiket plus akomodasi ke Bali, serta voucher MAP. Monggo dicek twit saya @unggulcenter untuk info-info lengkap tentang Glas Is Life, atau langsung aja like page nya dan follow twitternya Glass Is Life ID.