Bukan hal yang kebetulan, tulisan ini dibuat di saat bulan puasa. Saya merasa ini memang momen yang tepat untuk menulis sebuah inspirasi mengenai makna (ibadah) berpuasa di bulan suci ini dan kaitannya dengan kepribadian bangsa ini.
Ya, ramadhan memang bulan penuh ampunan. Di bulan ini, kita belajar bagaimana mengendalikan diri, bagaimana bersimpuh lebih khusu dihadapan-Nya. Sebuah makna spiritual yang berbuah pahala untuk bekal di hari akhir nanti.
Sebelum kedatangan agama-agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan juga Konghucu, bumi Nusantara sudah mengenal konsep teologi ketuhanan. Berwujud sesembahan terhadap pencipta alam, dewa-dewa dan leluhur. Kita, mengenal Tuhan dalam berbagai bentuknya.
Selain kesadaran bahwa ada yang Maha Besar, leluhur kita juga menerima dengan senang hati secara terbuka berbagai pengaruh dari luar, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Disini, jiwa Indonesia pun sudah ada, terbuka dan ramah terhadap pendatang. Mulai dari pemuka agama Hindu-Budha hingga Nusantara pernah menjadi tempat istimewa dalam kultur agama Hindu Kuno sejak lampau, hingga ke Mahakarya Candi Borobudur, juga Mahakarya Sriwijaya sebagai pusat berguru ilmu Budhisme di Asia Tenggara.
Kedatangan bangsa Eropa pun juga langsung mengenali Nusantara sebagai tempat yang walau berbagai suku bangsa dan belum mengenal istilah “indonesia”, namun memiliki kesamaan perilaku dan adab yaitu ramah dan terbuka. Kerja tekun rajin dan mau membuka diri kepada kemajuan.
Pedagang Arab membawa kemaslahatan untuk kita, berupa perdagangan ekonomi dan juga penyebaran Islam. Penjajah Belanda, dengan segala keburukannya, juga tetap memiliki nurani melalui para pendeta dan pastur yang mengayomi.
Di situ, satu bentuk Jiwa Indonesia terlihat. Dia sudah ada, dan diperkuat oleh kedatangan penyempurna yaitu religiusitas. Dalam hal ini, agama membawa kedamaian dan keyakinan akan menjadi orang baik dan mengikuti ajaran yang benar, akan membawa ke dunia kesejahteraan baik di dunia maupun di akherat.
Islam misalnya, menyempurnakan Jiwa Indonesia yang sudah ada tadi. Sifat ramah-tamah, murah senyum, bekerja tekun dan selalu merasa “cukup” menjadi salah satunya. Konsepnya bertambah baik dan bertambah paripurna. Dari asupan jiwa Indonesia dengan vitamin kaidah Islam, terbentuklah kebudayaan yang semakin baik. Bukan sinkretis tapi menjadi penambah kearifan lokal yang ada.
Tengok kubah Masjid Agung Demak, sangat tradisional sekali, unsur pengaruh lokal Hindu-Buddha dan rumah-rumah lokal Nusantara ada disana. Bentuk seperti persegi tiga bukan kubah bulat. Ornamen-ornamen lokal dipadu dengan pahatan Kaligrafi Islami. Masjid di jaman penyebaran Islami ini biasanya berbentuk Kubus dengan Kiblat yang disesuaikan, dengan atap masjid yang beratap “tumpang” yang bertingkat dengan jumlah ganjil, tiga, atau lima yang merupakan lazimnya bangunan pemujaan lokal.

Inilah Mahakarya Indonesia dengan sentuhan religi. Menara tempat jaman dahulu Muazzin mengumandangkan panggilan Sholat, yaitu Masjid Kudus. Juga Masjid Banten. Ini contoh ekstrimnya, kentara sekali Jiwa Indonesia pada masjid ini. Menara Masjid Kudus berbentuk candi gaya Jawa Timur dan atapnya berbentuk tumpang. Menara Masjid Banten bergaya Eropa dan mirip mercusuar. Tak hanya di Jawa, Masjid Tua Palopo atau Masjid di Buton pun memiliki keragamaan yang bercampur lokal hingga kini.



Tak bertentangan dengan tuntutan Islam, walau bentuk tak seperti masjid pada umumnya. Saya teringat Masjid di Polandia, misalnya. Pernah suatu ketika saya berwisata ala mahasiswa hingg ake daerah ini. Masjid Tatar yang dibangun sejak tahun malah sama sekali seperti gereja. Lipka Tatar adalah keturunan Tatar Muslim dari Lithuania dan Polandia. Sejak dulu mereka menghuni disana. Kondisi serupa saya dapatkan ketika ada di Estonia, dimana Rusia menyimpan khasanah bangsa Tatar, terutama di Kazan, Ibukota Republik Tatarstan, Rusia yang muslim dengan bentuk masjid berbeda dengan di Polandia, lebih seperti masjid pada umumnya namun juga menarik-unik dengan ornamen seperti “Kremlin”.
Bukan, ini bukan sinkretisme. Memang referensi bentuk masjid tak mereka dapatkan dari leluhur. Hanya memahami bahwa tempat ibadah ya seperti itu dan di dalamnya, memiliki unsur khas tempat ibadah sholat (Mushola). Jika di Masjid pasti tak ada bangku berjejer untuk berdoa karena lesehan, maka sebaliknya, di Gereja deretan bangku menjadi penanda bahwa itu Gereja. Tentu, selain ornamen-ornamen khas keagamaan seperti adanya Salib di gereja atau Kaligrafi ayat dari Al Quran di Masjid/Mushola.


Kebudayaan dan Karya Sastra seperti Hikayat, Suluk, Syair, dan Babad kemudian bernafaskan religi. Wayang yang merupakan budaya khas Indonesia, seperti menurut J.L.A. Brandes yang meyakini bahwa di India, bukanlah nenek moyang Wayang walau secara cerita sama. India tak ada wayang tapi permainan dengan alat boneka. Ceritera Wayang yang merupakan kisah Hindu kemudian mendapatkan unsur Islam dan menambah kekayaan fitur dan kontennya.

Peninggalan non fisik dari penyempurnaan nilai luhur ini misalnya upacara Sekaten. Adat istiadat yang turun temurun dilaksanakan dalam kehidupan. Dalam bahasa lain, disebut juga Gerebek Maulud (perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW). Kegiatan ini dilakukan di Demak, Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Banten, Aceh semua berciri khas sama.
Kedua, makam-makam para Ulama maupun ulama-bangsawan misalnya Raja dan Sultan di Indonesia. Merupakan makam-makam yang dirawat dan senantiasa dikunjungi masyarakat. Ziarah kubur memang merupakan tuntunan Islam, untuk mengingat mati. Namun waktu-waktu tertentunya, dan rangkaian bunga yang dibawanya, merupakan adat istiadat dahulu kala, dalam rangka menghormati roh nenek moyang.
Di beberapa daerah, nilai luhur kearifan ditambah oleh nilai kebenaran relijiusitas menjadi jalan menuju ridho ilahi. Aceh, Minang semakin kaya budaya dalam balutan Islam. Nusa Tenggara, Timor dan Batak menambah kaya diri dengan Kristen dan Katolik, serta Bali yang bernafaskan Hindu menjadi aktivitas yang inheren dengan kebudayaan masyarakatnya.

Jiwa-jiwa Indonesia yang telah ada, ditambah suplemen Jiwa baru, Indonesia juga, dengan makna yang vertikal dan wujud yang luhur. Apabila saat ini, banyak anak muda yang melupakan agama, berarti juga melupakan darimana ia berasal. Darimana ia lahir. Dia menegasikan Jiwa Indonesia sesungguhnya. Sudah tercerabut dan bingung tak tahu arah. Karena keimanan dan ketakwaan adalah panduan dalam berjalan menuju satu arah dan satu titik ketika kita berjumpa kembali dengan Sang pencipta.
Demikian, Jiwa Indonesia merupakan sebuah Mahakarya. Berbagai bangunan ibadah, pedoman beraktivitas berdasarkan kitab suci, merupakan mahakarya Indonesia. Di balik kemegahan Mahakarya yang kita bisa saksikan saat ini, terbentang luas Mahakarya lain, yaitu Jiwa Indonesia.
Jiwa yang ramah, sopan-santun, terbuka. Jiwa yang kemudian disempurnakan oleh nilai-nilai luhur keimanan dan ketakwaan, sebuah negeri berbasis Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila Pertama pandangan hidup bangsa. Jiwa yang memiliki tujuan, yaitu sebuah “Final Destination”, menuju dan kembali kepada-Nya.


Ramadhan, merupakan momen untuk menyelami kembali itu semua. Bahwa kita memiliki Jiwa Indonesia, memiliki Mahakarya melegenda dan menjadikan nilai-nilai ke-Islaman sebagai penyempurna nilai-nilai luhur dari leluhur nenek moyang kita. Menjadikan Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang terbaik dari tahun sebelumnya dan semakin lebih baik di Ramadhan berikutnya.
Mahakarya Indonesia ini sangatlah menarik bagi saya untuk dikunjungi dan ditelusuri. Memori tempat-tempat ini tak hanya di kota besar saja. Mengunjungi Masjid bersejarah, makam bersejarah, aktivitas perayaan yang terkait agama, dan tempat-tempat berpadunya keluhuran adat istiadat lokal dengan nilai agama sangat menarik.

Pasar ramadhan di berbagai lokasi di Indonesia, tradisi berbuka di berbagai wilayah nusantara dan saling menjaga perayaan hari-hari besar di Indonesia misalnya tradisi jalan salib di NTT dan Sulawesi Utara, merupakan hal yang menambah khasanah budaya bangsa. Sekaten, Gerebek Maulid, bahkan Serentaun merupakan unsur adat istiadat yang berpadu dengan keagamaan. Menambah Mahakarya Indonesia.
Eid Ramadhan, Selamat Berpuasa di bulan Ramadhan dan temukan makna hakiki keluhuran bangsa ini sebagai bagian dari kontemplasi penting bulan suci.
Mari Jelajah negeri untuk menemukan Mahakarya Indonesia seutuhnya.
ps : semua foto masih pada url aslinya dan merupakan hak cipta dari situs tersebut