Mahakarya Indonesia dari “Karya” Hingga “Jiwa”

https://www.unggulcenter.org/mahakarya-indonesia-dari-karya-hingga-jiwa/

Masterpiece. Mahakarya. Adalah produk yang menjadi nilai paling utama dalam setiap karya seni. Mahakarya tak jarang hanya satu wujud saja dalam satu kehidupan si pembuat. Dia terbentuk dari pengalaman dan konsistensi bertahun-tahun.
Sebagai sebuah bangsa, ternyata, mahakarya bukan hanya hal yang dapat dibuat dari berbagai materi menjadi materi kembali dalam bentuk lain. Bukan hanya itu. Disini, mahakarya bagi kita adalah hal-hal luhur dan berdiam dalam sanubari bangsa sejak masa Nusantara dulu. Ia yang telah menjadi jiwa Indonesia sejak lama dan terpatri di setiap insan negeri, oleh leluhur dan tetua dan dilanjutkan –semestinya—oleh kita semua.
Seperti apa?
Ambil contoh SATU, berikan sebuah lukisan Karya Raden Saleh (Lengkapnya Raden Saleh Syarif Bustaman), Maestro pelukis Indonesia yang diakui dunia. Pada saat kita mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar, pasti ingat lukisan ditangkapnya Pangeran Diponegoro oleh Belanda dengan curang-nya ketika beliau bersedia bekerjasama untuk berunding tanpa membawa persenjataan dan pasukan? Lukisan berjudul  “Penangkapan Pangeran Diponegoro” itu dibuat tahun 1857, persis 27 tahun setelah Pangeran-Ulama itu ditangkap pada Maret 1830 melalui perundingan yang memalukan. Itu karya beliau.

Lukisan Raden Saleh yang Menggambarkan Penangkapan Pangeran Diponegoro. Dikembalikan ke Pemerintah Indonesia tahun 1979.

Atau, lukisan sang Pangeran yang berjudul “Pangeran Diponegoro Memimpin Pertempuran” oleh Basuki Abdullah tahun 1940. Menampilkan sosok panutan umat dan masyarakat dalam melawan kesewenangan penjajah. Di buat, pada saat negeri kita pun masih terjajah!

Lukisan Pangeran Diponegoro Memimpin Pertempuran ini dibuat tahun 1940 dan pernah menjadi koleksi Bung Karno. Biasanya pelukisan Pangeran Diponegoro diberbagai poster dan gambar buku pelajaran, berdasarkan lukisan ini

Mahakarya “fisik” yang nyata. Namun, ada mahakarya lain lagi di balik itu.

Yuk tebak?

Ada dua jenis. Pertama, lukisan itu menggambarkan bahwa nilai luhur bangsa ini ada. Kejujuran. Pangeran Diponegoro dengan jujur mengatakan “Oke, saya bersedia berunding” sesuai syarat, masing-masing tidak membawa senjata, dan keselamatan beliau dijamin.

Sang Pangeran juga bersedia berunding karena memikirkan kesengsaraan rakyat yang terus menerus dalam konflik perang dan menginginkan kedamaian. Jika egois, Pangeran Diponegoro bisa menang mutlak. Perang Jawa ini menghabiskan pundi-pundi anggaran Belanda, dan terbukti hingga membuat VOC bangkrut setelah itu. Lagipula, hingga penangkapan pengecut itu terjadi, pasukan Diponegoro belum pernah kalah dalam satu kali major battle sekalipun, dengan konsep gerilya nya.

Dalam lukisan kedua, tersirat skema ketabahan, perjuangan dan semangat pantang menyerah. Nilai yang ada sebagai urat nadi bangsa ini yang tak pernah berhenti melawan dan tak pernah mendapatkan kemerdekaan, tapi MEREBUT Kemerdekaan.

Hal kedua, adalah sosok Raden Saleh dan Basuki Abdullah sendiri sebagai pelukis maestro dan memiliki nama besar di seluruh pelosok dunia. Membuat satu karya jadi tersebut, berapa juta peluh menetes, mata yang fokus, pikiran yang tenang kadang beriak imajinasi, dan kesabaran dan ketekunan yang dikeluarkan. Tak gampang hasilkan masterpiece. Dan proses-nya pun, adalah sebuah mahakarya yang indah.

Jiwa-jiwa yang tekun, sabar merupakan jiwa Indonesia dan satu mahakarya tak terlukiskan.

Petani yang setiap hari mencangkul dan bersawah, Nelayan yang pergi ke laut menangkap ikan, dan pedagang yang berjalan pagi buta menuju ke pasar. Bahkan tema klasik lukisan anak-anak yang menggambarkan padi sawah dan matahari diapit dua gunung. Semuanya adalah representasi dari jiwa Indonesia yang luhur. Sebuah mahakarya. Yang kemudian “sedikit” esensinya digarap dalam sebuah dokumentasi lukisan dan foto, menggambarkan hiruk pikuk, human interest, dan aura tekun dan sabar.

Aktivitas Mahakarya “Jiwa Indonesia” dalam tempaan Mahakarya Seni Lukis

 

Mungkin lucu, karena tidak kreatif. Tapi unsur padi, gunung, matahari, awan, burung merupakan “jiwa indonesia” dalam suatu “desa” yang dipahami secara sederhana oleh anak.

Ambil contoh DUA. Seni Beladiri Pencak Silat. Tak hanya gerakan was-wis-wus yang biasanya diberikan sorak sorai dan tepuk tangan dikala didemonstrasikan, namun penuh filosofi mendalam yang khas Indonesia. Jiwa Indonesia.

Pencak Silat diperkirakan telah menyebar di kepulauan Nusantara sejak abad ke-7 masehi dan kemungkinan berkembang dari Pulau Sumatra dan Jawa. Ada yang berpendapat muncul sejak era silek di Minangkabau, yang dikatakan turun-temurun dicipatak oleh Datuk Suri Diraja. Ada pula penelitian, misal dari Donald F. Draeger yang mengatakan sudah ada relief beladiri, di candi Prambanan dan Borobudur sehingga runutan pencak silat sebelumnya hingga ke era klasik Hindu-Budha. Yang pasti, setiap daerah memiliki “jagoan silat” atau “pendekar” legenda masing-masing. Jadi, ini sangat “khas” Indonesia.

Perkembangan selanjutnya, sejak abad-14 Pencak Silat menjadi beladiri yang diajarkan bersama-sam dengan pelajaran agama. Di Pesantren, skema hubungan Silat dan Pesantren seperti layaknya Biara Shaolin dengan Kung Fu Shaolin-nya. Silat menjadi “spiritual” dan berkembang pula menjadi seni beladiri rakyat dan menjadi pula beladiri melawan penjajah asing.

Pencak Silat, dalam gerak-tubuh jurus-jurusnya, memiliki ciri khas dan menyimbolkan persaudaraan serta kecilnya manusia di hadapan Tuhan dan denganbantuan-Nya lah pertarungan bisa dimenangkan oleh orang dengan “niat baik” di banding penjahat.

Tangan yang tidak mengepal tapi membuka, memberi arti pencak silat adalah upaya agar penyerang dibukakan mata hatinya melalui diri si pendekar pencak silat. Juga tak ada intensi menyakiti, tapi hanya “memberi pelajaran” secara ksatria. Bentangan yang disebut “kembangan” dalam berbagai jurus silat merupakan keterbukaan dan penghambaan kepada Tuhan. Pola berputar, duduk dan berdiri dengan keseimbangan merupakan sebuah makna bahwa kita menyembah-Nya dan kita membangun diri dengan keseimbangan dunia-akhirat.

“Kembangan” yang merupakan simbol keterbukaan dan persahabatan serta hubungan vertikal sekaligus horisontal dalam jurus Pencak Silat
Kepalan tangan terbuka dan jurus “mengembang”
Beladiri Khas Indonesia, Jiwa Indonesia

Jika beladiri lain misal asal negeri matahari terbit yang mengedepankan penghormatan dengan membungkuk badan atau bahkan saling “tos” meninju diawal seperti olahraga tinju, Indonesia lebih khas. Kedua-nya mendekat, membentuk simbol penghormatan melalui kedua tangan dan mendekat, kadang hingga menyentuhkan kedua punggung tangan dan pergelangan sambil bertatap muka.

Itu adalah konsep silaturahmi, saling menyentuh berarti saling bersaudara, tolong-menolong dan gotong-royong. Bukan kompetisi semata. Tujuan berlaga di tengah lingkaran adalah tujuan “keseimbangan” hidup untuk menempa diri tidak cengeng terhadap kehidupan.

Persahabatan dan Persaudaraan dibalik Pencak Silat

Gerakan beladiri pun tak kaku dan sifatnya secepat mungkin melumpuhkan lawan, namun memberikan “pelajaran” mengenai saling tangkis, menghindar dan membalik serangan. Sebuah pelajaran dari guru-murid atau partner yang membuahkan kemampuan yang lebih meningkat dan keserasian gerak dan keindahan.

Dalam versi “jalanan”nya pun, keindahan gerakan ini tak semerta keras saja, tapi juga lembut, tapi juga berkarakter dalam menghadapi lawan. Tidak mencari dan mengeksploitasi kelemahan, tapi menunjukkan kekurangan dari pertahanan musuh. Gerakan bukaan-tutupan dan bersila pada Pencak Silat pun tak lepas dengan unsur “vertikal”, nilai-nilai luhur religius, meng-hamba kepada Yang memiliki alam semesta.

Sebuah konsep yang sejak dulu di Nusantara ini hadir dalam berbagai bentuk pemujaan kepada yang Maha Kuasa dengan simbol-simbol agama dan kepercayaan yang beragam. Dan merupakan warisan yang terjaga dan harus terus dijaga hingga saat ini.

Jurus Pencak Silat, sejak jaman dulu menjadi kebanggan bangsa
Pencak Silat tetap menjadi Jiwa Indonesia sejak dulu, juga jaman penjajahan Belanda tetap menjadi olah-tubuh dan olah-spiritual yang paripurna

Pada sebuah sesi event Mahakarya Indonesia, beberapa waktu lalu, wajar kiranya Pencak Silat dibawa sebagai salah satu bentuk representasi Jiwa Indonesia di acara tersebut, dengan menampilkan sosok Yayan Ruhiyan yang seniman beladiri pencak silat Indonesia.

Event Mahakarya Indonesia, salah satunya hadirkan praktisi Beladiri Indonesia dan Membahas Sisi Sejarah dan Filosofinya. Tak lupa demo Silat yang kali ini jurus “Kipas”

Dengan demikian, jiwa-jiwa Indonesia ini adalah sebuah kontinum rantai tak terpisahkan. Sebuah input-proses-output dari setiap produk Mahakarya yang dihasilkan, dan merupakan sebuah Mahakarya itu sendiri.

Jika dikemudian hari, kita menemukan banyak karya sastra dan seni anak bangsa, karya inovasi teknologi anak bangsa, sesungguhnya, dibalik itu ada mahakarya lain yang bisa dirasakan walau mungkin tak banyak bisa dilihat, yaitu proses ketekunan, kesabaran, relijiusitas, gotong-royong dan semangat yang memungkinkan sebuah mahakarya yang diakui itu tercipta dengan indahnya.

Mari kita gali kembali nilai-nilai luhur bangsa ini, dan mengejawantahkannya dalam setiap proses kehidupan dan setiap proses menghasilkan karya. Sehingga karya kita ada ruh-nya, ruh Indonesia yang kental dan bangga kita sajikan ke khalayak internasional.

Ini Indonesia, Ini Jiwa Kami dan Ini Mahakarya Kami!

 

 ps : selain disebutkan berbeda, semua foto-foto masih di url aslinya dan menjadi hak milik situs tersebut

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.