Selama ini, setiap simbol pada peta di Jepang yang menandakan sebuah kuil adalah lambang swastika. Kata ‘swastika’ adalah bahasa Sanskekerta Kuno ‘svasktika’ berarti “kehidupan yang baik’, ‘kesejahteraan, and ‘keselamatan’, ‘welas asih’. Di belahan dunia berbeda, juga mengandung arti lain dan nama lain seperti ‘Wan’ di Cina, ‘Manji’ di Jepang, ‘Fylfot’ di Inggris, ‘Hakenkreuz’ di Jerman dan ‘Tetraskelion’ atau ‘Tetragammadion’ di Yunani.
Nahas, masyarakat dewasa ini lebih mengenal swastika sebagai simbol Nazi daripada simbol keagamaan dan kepercayaan yang biasa digunakan pada kuil Hindu Budha maupun kepercayaan kuno pagan di berbagai antero dunia sejak lama.

Inilah yang membuat peta Kyoto, misalnya, menuai reaksi keinginan untuk diubah ketika survey digulirkan beberapa waktu lampu. Turis menganggap peta seperti itu mengingatkan kepada Nazi jerman.
Demi menjaga pariwisata dan juga sebagai bentuk tindak lanjut survey terhadap pelancong yang datang ke Jepang, maka pemerintah akan mengganti semua lambang simbol tersebut dengan simbol baru.

Padahal, sejatinya lambang swastika digunakan pada peta untuk menandai tempat-tempat suci, religius, berupa kuil (temple) Budha. Sama halnya denga Masjid menggunakan lambang bulan bintang atau Gereja dengan lambang salib sebagai penanda di peta.

Namun demikian, beberapa pendapat berbeda juga dikemukakan. Makoto Watanabe, pakar komunikasi dari Hokkaido Bunkyo University, seperti dikutip oleh Telegraph mengatakan bahwa Kita sudah menggunakan lambang ini selama ribuan tahun sebelum diadopsi sebagai Bendera Nazi, jadi menurut saya beliau seharusnya tetap menampilkannya pada peta sekaligus memberikan informasi ke orang lain mengenai arti sebenarnya.
Mungkin traveler, turis, pelancong, seperti kita, memang tak suka mempelajari sejarah dan kebudayaan. Hanya sekedar berjalan, dan pengetahuan populer saja yang diingat. Dengan demikian, pada akhirnya, sejarah dan budaya yang harus “mengalah” seperti halnya di Jepang.
Menurut kamu?