Helatan Digipreneurday di SMESCO UKM selama dua hari, 19-20 April 2016 ini merupakan salah satu momen menarik memotret langkah kolaboratif pemerintah dengan pelaku Usaha Kecil Menengah(UKM).
Acara ini pada hari pertama selain menghadirkan display produk-produk UKM unggulan dari Nusantara di Galeri Indonesia WOW juga memberikan pengetahuan mengenai fotografi produk. Hal ini terkait dengan geliat UKM yang harus dapat bersaing di tataran global, minimal regional dengan melakukan upaya branding produk melalui dunia digital.
Produk-produk UKM unggulan dari 34 paviliun daerah di Galeri Indonesia WOW juga disebarluaskan sebagai wujud “live workshop” dari peserta melalui konten foto dan video ke Facebook, Twitter, dan Instagram.

Peran internet sebagai media untuk memasarkan produk disadari betul oleh banyak bangsa di dunia. Tak terkecuali sektor bisnis rumahan seperti UKM. Produk berkualitas Indonesia sudah selayaknya dapat dipromosikan secara online dan dibeli pula secara online oleh pasar yang lebih luas. Acara ini juga berupaya meningkatkan keterampilan digitalpreneur di bidang pembuatan konten dan fotografi.
Untuk itulah, memotret produk menjadi salah satu teknik yang penting. Sehingga produk dapat tersampaikan pesannya ke khalayak calon konsumen.
Urusan potret, Ferry Ardiyanto ahlinya. Beliau sudah 30 tahun di dunia fotografi komersil. Sehingga paparan beliau soal memotret yang BAGUS dan BAIK menjadi bermanfaat, khususnya bagi pelaku UKM. Foto yang bagus artinya memenuhi syarat teknis seperti pencahayaan, komposisi dan fokus produk.
Lain halnya, foto yang baik adalah foto yang mampu mengkomunikasikan pesan. Terkait erat disini soal konsep, momen, dan rasa. Bagaimana rasa setelah dan saat memfoto itu memberikan nilai untuk produk yang difoto.



Setelah soal foto, ada lagi soal viralitas foto. Sebab, menurut hukum Pareto, dari 100 persen yang tersampaikan produk promosi, hanya 20 persen yang membeli. 80 persennya terinformasikan saja. Jadi, bagaimana membuat foto produk tersebut viral jadi krusial. Jika ingin 20 pembeli, produk harus terpapar di 100 orang.
Soal viralitas dan membuat produk tersampaikan lebih banyak, Farchan N Rahman yang memiliki akun twitter @efenerr juga memiliki travel blog www.efenerr.com memotret dari sisi produk travel dan brand yang dia pegang. Sedangkan Putra Agung yang memiliki IG TheFoodExplorer memaparkan soal produk kuliner dan aktivitasya untuk membuat foto-foto instagram menjadi viral dan disukai banyak orang.

Media seperti Instagram, Facebook dan Twitter menjadi channel-channel bermanfaat untuk membuat produk kita terkenal. Membuat perbincangan, memberikan caption foto yang baik, serta tip trik seputar produk placement menjadi bahasan di sesi siang hingga sore.
Sebelum kedua panelis diatas, sesi siang juga di-isi oleh Pak Ahmad Zabadi, Direktur Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (LLP KUKM) yang memaparkan bagaimana Smesco dan Pemerintah mendukung KUKM (Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah).
Dari sesi tanya jawab yang antusias, juga live twit para peserta, UKM Center di berbagai kampus, dapat menjadi mitra, serta Smesco mendukung UKMK dengan bekerjasama dengan retail-retail besar yang selama ini sulit ditembus produk UKM. Berbagai masalah juga dibahas, soal kuantitas produk dan kualitas produk UKM Indonesia.



Dengan Digipreneurday ini, dan beragam upaya selanjutnya, diharapkan, UKM dapat “naik kelas”. Dari berjualan apa adanya dan hanya seputar tetangga dan kiriman luar kota, melalui media internet dan “going digital” maka produk UKM Indonesia dapat dikenal di mancanegara dan dapat melakukan pengiriman untuk konsumen global.


Semoga UKM Indonesia yang jumlahnya sangat banyak ini bisa semua naik kelas, semua naik level ke tingkat global dan regional, selain melayani konsumen lokal yang bisa dilakukan melalui internet. Baik promosi sendiri melalui berbagai sosial media, dibantu Smesco dan kalangan otoritas lain di daerah, juga pihak swasta dengan berjualan di market place yang semakin banyak menjadi rujukan masyarakat untuk berbelanja.
