Wisata di Jakarta dan sekitarnya. Pasti terpikirkan beragam lokasi wisata seperti Dufan, Ancol, Monas maupun Taman Mini. Memang tempat-tempat tersebut adalah lokasi favorit warga jabodetabek menghabiskan pekan maupun liburan bersama keluarga.
Belakangan ini, geliat wisata sejarah juga mulai banyak menjadi favorit. Tentu hal menggembirakan, mengingat Jakarta menyimpan banyak cerita maupun peninggalan sejarah yang bernilai tinggi, dan seharusnya diketahui banyak anak muda generasi penerus bangsa.
Kawasan Kota Tua misalnya menjadi tempat favorit baru. Menelusuri gedung-gedung tua dan sejarahnya, berfoto di depan Meriam si Jagur dan pesepeda ontel yang berpakaian tahun 1945 kadang bisa kita jadikan alasan untuk menikmati panasnya jakarta dengan senyum gembira ria.
Selain kota tua, banyak lagi. Berbagai museum, gedung bersejarah, tugu dan prasasti. Misalnya, gedung Sumpah Pemuda yang menjadi tempat deklarasi bersejarah yang menyatukan bangsa ini, atau Tugu Tani yang sebenarnya bukan bernama tugu “tani”. Baru tau kan?
Kereta Api, juga tak dapat dilepaskan dari sejarah bangsa ini. Gerbong Kereta Api tua bersejarah yang ada di Musem Transportasi TMII Jakarta, merupakan saksi-saksi bisu teknologi transportasi dan peningkatan perekonomian. Juga saksi bisu beragam pergolakan perjuangan. Termasuk “kereta kepresidenan” dan juga gerbong-gerbong yang di-grafiti “Merdeka Ataoe Mati!“.
Ya, Kereta menjadi warisan kemegahan transportasi masa kolonial. Simbol konektivitas transportasi dalam peningkatan perekonomian, dan jadi fakta analisa sejak lama, bahwa wilayah yang terkoneksi transportasi maka perekonomiannya meningkat.
Untuk itu, jejak sejarah kereta api mungkin paling lengkap. Hingga masa kini, pun kita masih memanfaatkan transportasi murah dan cepat ini. Apalagi, modernisasi KRL Jabodetabek atau Commuter Line menjadi angkutan utama masyarakat Jabodetabek sudah berjalan dan akan terus ditingkatkan.
Blogger Wisata KRL
Itu judul jalan-jalan sekitar tiga puluhan blogger yang tergabung di komunitas TDB alias Tau Dari Blogger. Ide awal soal wisata yang murah dan simpel, tiba-tiba langsung terjadi begitu saja. Itulah kekuatan komunitas.
Itinerary-nya juga tak muluk-muluk. Berkumpul di Stasiun Manggarai, kemudian naik ke Sta Gondangdia. Turun dan berjalan kaki ke Tugu Tani. Dari Tugu Tani, ke Museum Kebangkitan Nasional di Jalan Abdurrahman Saleh.
Setelah dari museum, para blogger TDB melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Es Krim Baltik yang legendaris. Sehabis melepas lelah dengan makan es krim segar, perjalanan berlanjut ke kantor Palang Merah Indonesia DKI di Kramat Raya. Disana, blogger TDB makan siang dan mendengar paparan kemudian pulang masing-masing.
Nah, menarik bukan?
Itinerary ini bukan sempurna, namun saat ini, itu yang bisa dipikirkan dalam waktu singkat ketika ide bergulir. Teman-teman blogger yang antusias segera melakukan listing peserta, dan hasilnya, ada 40 peserta yang berminat, dan itupun karena keterbatasan kepanitiaan, khawatir terlalu riuh dan sulit berkoordinasi maka dibatasi.
Coba bayangkan, hanya dari Stasiun Manggarai ke Stasiun Gondangdia, kita sudah mendapatkan itinerary Jakarta wisata sejarah yang cihuy banget. Bagaimana kalau lebih “serius” menyusun itinerary wisatanya? Hmm bakalan seru abis.
Wisata KRL, Mengapa Tidak?
Yang penting semua tempat yang memiliki nilai sejarah maupun wisata, perlu dimasukkan ke dalam koleksi calon itinerary. Maka wisata KRL merupakan wisata yang masuk akal untuk jadi andalan.
Mungkin, pihak PT KAI dapat menggandeng TDB untuk lebih serius menyusun perjalanan, juga menggandeng institusi lain yang terkait, misal Kementerian atau Dinas Pariwisata DKI atau lembaga lain.
Seperti contoh, waktu wisata KRL kemarin, PMI menjadi partner yang mendukung kegiatan. Walau hanya untuk makan siang yang penuh kebersamaan, namun nilainya sangat kami apresiasi. PMI juga menjelaskan berbagai kegiatannya kepada kita semua.
Nah, lembaga lain dapat lakukan hal serupa. Ikut jadi bagian itinerary dan memaparkan kegiatannya untuk ditulis blogger. Atau, kalau dibuka umum, hanya untuk diketahui saja oleh khalayak. Promosi, bahasa sederhananya.
Namanya juga ide, tak mengapa liar karena memupuk ide adalah yang membuat kita semua dapat berkembang. Yang penting, kalau namanya Wisata KRL, maka unsur KRL harus selalu ada dalam itinerary. Bisa kita eksplor loh, setiap stasiun KRL itu sendiri. Mulai dari namanya, sejarahnya, dan juga situs-situs bersejarah dan menarik di sekitarnya.
KRL Commuter Line Jabodetabek sendiri menjadi sebuah rujukan transportasi sekaligus itinerary wisata urban yang murah, berkualitas namun bermakna dalam sekali. Sebuah upaya membumikan antara transportasi ini dengan geliat nadi masyarakat perkotaan.
Bahwa kita harus senantiasa paham, mengenang, dan menghargai jasa pahlawan melalui berbagai museum dan sejarah. Mengenal diri dan lingkungan, tak hanya pergi untuk melepas lelah weekend setelah weekdays berkutat dengan pekerjaan mencari sesuap nasi untuk perut sendiri, tanpa peduli.
Bahwa kita juga memahami mengapa sistem transportasi massal seperti KRL Commuter Line menjadi sangat penting dalam memoles peradaban kita ke depan, menjadi simbol modern sebuah negara. Bukan dengan banyaknya mobil di jalan. Itu justru perangkap negara berkembang!
Nah, Blogger Wisata KRL merupakan awal yang baik, dan awal yang baik mudah-mudahan akan menjadi akhir dari sesuatu yang baru dan lebih baik!













