Membaca blog sahabat sahaja, kang Achoey dan hikmah yang diberikan mengenai masalah janjian dan tepat waktu, jadi terinspirasi menulis ini.
Yup, tepat waktu banyak tips triknya. Biasanya, berkenaan dengan penjadwalan waktu (planning) dan penjadwalan perasaan (nah loh apa maksudnya ini. Baiklah, saya tulis ini dalam perspektif UC (Unggul center) karena bisa jadi lain pendapat bagi Anda pembaca.
Tip ini juga dalam lingkup yang spesifik, yaitu JANJIAN (meeting seseorang atau kelompok orang). Jadi tidak melebar mengenai Manajemen Waktu dan seterusnya yang saya bukan pakarnya, dan bukan pelaku yang baik juga 🙁
Poin pertama, jangan sampai telat. Ini sudah dibahas panjang lebar di blognya kang Achoey, juga mungkin di blog teman-teman juga. Nah, selain itu, ada lagi beberapa hal yang harus diingat (dan dilakukan!) berkenaan dengan ini, yaitu :
Poin kedua, jika merasa akan telat, segera hubungi dan beritahu alasannya. Kita tidak tahu kondisi di jalanan, ban bisa kempes, bisa kecelakaan, bisa ada hal-hal yang “syar’i” yang tahu2 terjadi. Tapi jaman sudah canggih. Ada HP untuk menelpon dan minimal SMS..
Poin kedua, setelat apapun, jika berjanji, tepatilah janji. Yakinlah teman kita yang janjian berpikir positif bahwa kita akan datang. Sebab, mana tahu, HP mati dijalan, hujan deras sehingga harus menepi di pinggir jalan, dan tidak bisa menginformasikannya dan seterusnya. Tapi jangan pulang. Datang ke lokasi janjian, seberapa malampun, seberapa telat pun, karena janji adalah hutang… kalau tidak, hutang itu akan tetap ada (ini pendapat saya, presiden UC).
Poin keempat, beri rentang waktu. Jika sekiranya belum pasti, beri batasan waktu mungkin datang jam 4 – 5 atau abis magrib sampai malam. Jadi si orang yang janjian atau menunggu tidak kesal. Ini pun dengan hati-hati, agar tidak menjadi penghambat orang lain beraktivitas lain demi nungguin kita 🙂
Poin kelima, milikilah perasaan orang lain. Bagaimana sih rasanya bete’ menunggu? tak enak bukan? Saya orang yang tidak mau menunggu2 tanpa kepastian, jadi perlakukan orang lain hal yang sama.
Poin keenam, ada yang namanya khilaf. Jadi, jika lupa, misal lupa sudah janjian. Segeralah minta maaf. Apalagi jika Anda adalah orang yang “butuh”. Tentu sangat sopan dan beretika jika kita meminta maaf, dan kalau perlu, memberikan “sogokan” tentu dengan bercanda, misalnya, esoknya datang ke rumah teman tersebut dengan membawa oleh-oleh. Minta maaf kelupaan (atau ketiduran dst) tapi memberikan oleh-oleh buku, karena kemarin pas lupa, dan hp pun mati, kita tau2 pergi ke toko buku misalnya.
Poin ketujuh, positive thinking. Oke, jika salah, ternyata teman kita memang “sengaja” malas untuk berkomitmen di janji, kita nggak kebawa-bawa “bete” dan “kesal”. Nah, pun, kalau benar teman kita itu terjadi sesuatu hal yang tidak bisa dia tolak terjadi pada saat itu, Insya Allah bernilai pahala. Yang “telat” pun akan berpositif thinking kalau teman yang nungguin pasti ber-positif thinking. Jadi, ketika bertemu, yang satu minta maaf yang satunya lagi tersenyum dan menerima maaf. Happy Ending kan?
Tips ini berlaku untuk saya pribadi, karena ya, pengalaman-pengalaman di atas sering terjadi kepada saya. Mudah-mudahan kita semua bisa saling memberikan toleransi, positive thinking dan
wah senang sangatlah bisa berteman with om achoey
salam
wah iya dong
tulisan ini berbau curhat kayaknya. hehehehe. but well said, kang. 😀
Tersinggung sangat sayah :p
yang penting harus empati ya gul…
hayoooooooooo ini siapa hayooooo 😀
usahakan jangan sampe telat dan jangan ngaret 🙂