#Day 1 Bandara dan Rumah Makan di Praya

https://www.unggulcenter.org/day-1-bandara-dan-rumah-makan-di-praya/

Lombok — UC. Tiba di Bandara Internasional Lombok, saya dan teman-teman dari Jakarta langsung bertemu dengan teman-teman peserta bootcamp  yang lebih dahulu tiba dari tempat berbeda yaitu Mas Dhave Danang dari Salatiga, Ilmi dari Surabaya dan Subhan yang “putera daerah” dari Mataram.

Bandara ini baru loh. Diresmikan tahun 2011 yang lalu, menggantikan bandara sebelumnya yang berada di tengah kota Mataram, Ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Nama Bandara ini adalah “Bandar Udara Internasional Lombok”. Lokasinya di Praya, ibukota Kabupaten Sumbawa Tengah. Jadi selayaknya bandara, dia sekarang tidak berada di tengah kota.

Telisik sedikit, ternyata dulu ada beberapa opsi mengenai nama bandara ini. Kemudian dilakukan jajak pendapat. Ada 6 usulan nama yaitu BIL, BIS, BIR, BIM, SIA, PIA dan ABGIA.

Hasilnya, di Januari 2009  nama Bandara Internasional Lombok (BIL) dipilih oleh 40,4% responden, Bandara Internasional Sasak (BIS) 20%, Bandara Internasional Rinjani (BIR) 46 16,7%, Bandara Internasional Mandalika (BIM) 10,9%, Bandara Internasional Selaparang (SIA) 8%, Bandara Internasional Pejanggik (PIA) 2,9%, dan Bandara Internasional Arya Banjar rapuh (ABGIA).

IMG_20150118_1127081 IMG_20150118_1127501

Tak banyak berdiam diri, ala-ala blogger dan fotografer tentu sajah, foto bersama di ikon bandara langsung menjadi agenda utama. Ini dia wajah-wajah gembira-ria itu hehe..

IMG_20150118_1123421 IMG_20150118_1125071 IMG_20150118_1125171

Karena tiba tepat pas jam makan siang, kami pun langsung menuju Bis di temani oleh Pak Fahri, staf Newmont di Depart Komunikasi (nanti kami dipandu beberapa staf di komunikasi lain yaitu Pak Ari, Pak Komang, Bli Gede, Pak Budi, Pak Yoyok dan Pak Molev).

Bis yang sopirnya mirip teman kuliah saya yaitu Iqbal ini #penting segera keluar bandara yang baru resmi beroperasi di tahun 2011 lalu ini. Tujuan pertama di luar bandara adalah sebuah restoran.

Menu pertama dan makan pertama di NTB hehe..  Saya sebenarnya mengharapkan sayur bunga pepaya kalau ngga salah sih dari NTB ya #lupa. Yang muncul memang berbeda. Tapi lumayan macam ala-ala timbel nya masakan sunda pakai daun. Namun isinya aga berbeda yaitu sayurnya.

 

Nasi pertama di NTB. Lauk Ayam yang kecil tp gurih, orek, sama potongan kacang panjang
Nasi pertama di NTB. Lauk Ayam yang kecil tp gurih, orek, sama potongan kacang panjang
Plecing. Ke depannya, ini menu wajib ditiap resto di NTB (Lombok, Sumbawa)
Plecing. Ke depannya, ini menu wajib ditiap resto di NTB (Lombok, Sumbawa)

Disini pula-lah kecairan mulai terjadi.  Sudah mulai bercanda sana-sini. Walau berbeda umur, dengan range 20-40 tahun sepertinya, namun disinilah seni dan indahnya bergaul. Sambil banyak mengambil manfaat terutama traveller dan fotografer senior yang ada.

IMG_20150118_1151591 IMG_20150118_1144241

Ketika ada mobil pick up lewat di depan resto yang isinya tumpah ruah penumpang ibu-ibu dan anak-anak, Wingga, yang nantinya jadi roomate saya selama sepekan langsung nyeletuk

Pelabuhan Ratu lurus aja ke kiri pak

 

Hihi.. bikin ngakak. Eh pickupnya memang muter ternyata. Yang lain nyeletuk lagi

Wah bener tuh, sebelah kiri

Hahaha..

 

Asyik makan, juga ada tahu sumedang. Dan disinilah kita semua banyak tahu mengenai tahu eh sambal pedas di NTB.

Di ujung meja di kiri, sepertinya masakan tak banyak disentuh, langsung deh dialihkan ke ujung meja kanan, tempat para “pembesar” alias yang gendut-gendut. Ada saya, Subhan dan Wingga. Komplit deh.

Wingga, pemuda asal Ciamis yang kembarannya Penyanyi Tulus sudah keringetan. Subhan, pemuda Sumbawa yang memang dari awal keringetan masih rusuh makan sambil foto sana-sini pakai “talenan” alias tablet Galaxy Tab 10 inch yang luar biasa mantab. Sambil menjadi kamus berjalan bagi kami terutama masalah kuliner NTB khususnya Sumbawa, tempat dia berasal.

Saya beruntung, selain mendapat Es Kelapa-Jeruk, juga kebagian Jus Buah Naga merah.  Menarik, karena Buah Naga banyak juga kebunnya di Sumbawa. Apalagi yang merah ini, yang di Jakarta harganya mahal. Lebih mahal hampir tiga kali lipat dari yang putih yang sering rasanya aga kecut  dan hambar.

Perjalanan kemudian berlanjut dengan bis menuju Pelabuhan Kayangan.  Kata Subhan,

Kita ke Kayangan tapi naik Bis

Hehe..

Catatan perjalanan berikutnya di post mengenai Goyang Itik di Tengah Hujan.

 

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.