Hari ke-5 ini kami sudah berada di rumah penduduk. Sejak semalam, grup dibagi dua yaitu menginap di Maluk, dan menginap di Sekongkang. Di hari ke lima ini, malamnya ditukar. Yang di Maluk ke Sekongkang, begitu sebaliknya.
Rumah yang ditempati adalah rumah yang cukup luas menampung sepuluh orang peserta. Grup #NewmontBootcamp ke-4 ini berjumlah enam belas peserta Bootcamp dan dua orang konsultan serta satu orang dari Kompasiana, Mba Ima dan satu orang senior Bootcamp sebelumnya, yaitu mas Cumi. Sehingga tiap lokasi kami bersepuluh.
Saya kebagian di Maluk untuk malam ini, dengan agenda esok paginya ke Sekolah, yaitu SMK 1 Maluk. Awalnya kami belum jelas SMK ini apakah rumpun teknik atau ilmu lainnya. Namun demikian, kami menyiapkan beberapa acara yaitu Sharing mengenai fotografi, blogging di Kompasiana dan juga sharing mengapa mereka, generasi muda ini harus mencoba keluar dari zona nyaman di desa mereka dan mencari banyak ilmu di luar sana.
Di Sekolah yang gedungnya dicat dengan nuansa hijau yang lembut ini, kami menemui kepala sekolah dulu untuk ngobrol. Sementara ruang kelas disiapkan.


Agar anak-anak remaja ini semakin berani, maka kami mempersiapkan cara agar mereka mau menulis. Secarik kertas dibagikan dan mereka menulis dua-tiga paragraf tentang cita-cita mereka. Tulisan kertas ini lah yang akan jadi first blog post mereka. Itu harapan kami.

Disediakan pula bermacam hadiah untuk mereka. Buku travelling juga ada. Agar keindahan Sumbawa dan NTB pada umumnya bisa mereka eksplorasi. Potret dan sebarkan ke khalayak via blog. Ternyata, rata-rata sudah mengerti blog loh. Walau baru satu atau dua tulisan. Tinggal memotivasi dan mengasah mereka agar tetap menulis. Dan tentu, dengan tema Sumbawa, akan lebih khas dan lebih bermanfaat.
Disela-sela acara, kami sempatkan juga bikin surprise untuk Ilmy, salah seorang dari grup yang ultah hari itu. Yeaaay! HBD Ilmy! dan, biasa.. ada sesi derai terharu air mata hehe.. Selamat menginjak kepala-dua ilmy, dunia masih luas untk ditaklukkan. Mulai dengan ke Harvard MUN loh nanti di Februari hehe..
Kami yakin mereka anak-anak cerdas. Tidak banyak ribut, mudah diarahkan dan hanya perlu bimbingan serta guru-guru kehidupan. Semakin banyak interaksi dengan orang banyak, seperti kami, maka mereka semakin berani. Berani untuk mengadu nasib, menjadi “orang’ tanpa bergantung tambang.
Suatu saat, desa kecil di kaki bukit ini akan maju, dan itu dengan kerja keras generasi mudanya.



