Sudah lama UC ingin menulis ini. Sebenarnya mau nanya sih ke teman-teman yang memang sehari-harinya hidup di ruko. Alias rumahnya adalah Rumah Toko (Ruko). Bukan bermaksud SARA, tapi kebanyak teman-teman saya yang WNI keturunan sepertinya lebih suka (?) tinggal dirumah seperti ini.
Tidak tahu kenapa, tapi rata-rata memang lantai satu adalah toko atau “workshop” dan lantai atasnya rumah. Hmm.. sebenarnya asik juga sih kalau didekat tempat tidur ada jendela yang menghadap ke jalanan dan notabene lebih tinggi dari rumah-rumah sekitar. Lebih enak lagi kalau disebelahnya ada atap rumah genteng jadi kalau sedang #galau bisa juga tiduran disana menghadap bulan atau kaki langit.. (halah)
Waktu beli onderdil mobil, saya sempat foto-foto ruko seperti ini. Kebetulan, ada sparepart yang gak ada di Bogor jadi harus ambil ke Jakarta. Nah malamnya saya janjian dengan si engkoh mau ambil ke toko sekitar jam 7 malam. Nyampe disana emang toko tutup, tapi ada bel dan setelah dipencet, anak buahnya keluar dan membuka teralis, hanya separuh sampai dada saja. Lalu saya bertransaksi.
Abis itu teralis ditutup kebawah dan digembok dari dalam. Kemudian pintu garasi ditutup. Wah, was-was sekali sepertinya. Memang sih suasana malam itu sepi. Tapi memang didaerah itu daerah ruko jadi ya wajar kalau sepi karena ga ada lagi pengunjung kecuali yang sedang nongkrong di warung-warung tenda.

Dulu, pernah juga beli hardisk via salah satu forum jual beli online. Saya datang ke rumahnya utk ambil. Sama, dibawah toko dan saya keatas ke lantai tiga. Melewati ruang keluarga di lantai dua dulu. Lantai tiga kamarnya. Nyaman sih di dalam kamar. Ada AC dan peralatan komputer canggih. Beda orang beda kali ya. Saya walau begitu ga nyaman juga naik turun tangga. Enaknya yang luas banyak kebon dan lapangan. Mungkin karena waktu kecil saya tinggal di lingkungan seperti itu. Nah, kalian yang sejak lahir tinggal di lingkungan ruko dan banyak anak tangga dan tak banyak udara, seperti apa ya? pengen tahu.
Faktor apa mendasari tempat tinggal seperti itu? Faktor budaya karena memang ratusan tahun kehidupan di negeri rantau sejak nenek moyang dulu, sudah berdagang buka toko sehingga memang mau nggak mau ya harus tinggal di dalam toko. Atau, karena faktor kewaspadaan karena keamanan yang jadi jaminan hak semua warga negara, bagi mereka belum bisa dijalankan oleh pemerintah? Lalu, bagaimana hubungan sosial dengan “tetangga” yang tak tinggal diruko, tapi “dibelakang” ruko dengan rumah2 di gang sempit ? Ada pembaca yang punya pendapat atau pengalaman?
Adakah pembaca yang kebetulan tinggal dikondisi seperti itu? Apakah jenuh, biasa aja, atau gimana sih alasan dan perasaannya?

saia dulu pernah tinggal disitu, alhamdulilah tidak bosan karena rumah sendiri 😀
Dulu, duluu..saya pernah mengalami hidup di ruko beberapa bulan. Yang jelas bagi saya gak nyaman, lha wong dulu di kampung terbiasa rumah pake halaman.
saya sendiri juga gak betah. tapi banyak org yg memilih gaya hidup spt itu dgn alasan praktis ya. belum ada filosofi juga di belakangnya. tapi ya, itu juga tebakan saya ya heheheh
yang pasti klo saya yg ada disana, ga betah 😀