
Dulu, sah-sah saja kalau pekerja lepas (freelancer) merupakan hal yang dianggap remeh temeh. Kesannya tak punya masa depan, tak ada karir dan gaji yang seadanya. Masyarakat kita juga mahfum kalau bekerja lepas itu artinya semua-semua kudu sendiri. Mulai asuransi kesehatan, tabungan hingga THR yang tak bakal ada yang memberikan.
Nyatanya, di era internet ini, banyak sekali pekerjaan yang bisa dikerjakan secara lepas, dengan perantaraan internet dan pengerjaannya secara remote. Banyak pekerjaan yang di-outsource ke masyarakat, istilahnya crowdsourcing dimana nanti peminat akan melakukan bid untuk menggarap pekerjaan sehingga pemberi pekerjaan pun akan memilih yang “terbaik”. Sama-sama senang. Semua proses pencarian pekerjaan dan penyerahan dilakukan online biasanya. Pekerjaan-pekerjaan pun juga beragam. Mulai terkait IT, yang tentu kita maklum, sampai dengan penerjemahan, penulisan dan seterusnya yang bisa dikerjakan paruh waktu.
Justru itulah menariknya acara Sesi Cerdas pertama yang digelar atas kerjasama Indonesia Freelancer Association (IFA) dan Freelancer.co.id (Freelancer.com regional khusus Indonesia) ini. Sebagai blogger, dan kebetulan sudah pernah mendaftar sebagai freelancer di freelancer.com beberapa waktu lampau namun belum saya maksimalkan, saya sangat tertarik dengan undangan Sesi Cerdas di kafe Amigos, Bellagio Mall Mega Kuningan, Jakarta di hari Sabtu, tanggal 27 Juli 2013 lalu. Terutama tentang prospek kerja freelance di Indonesia dan karakteristiknya.
Sesi cerdas yang rencananya akan dilaksanakan secara berseri ini menghadirkan beberapa narasumber yang akan berbagi mengenai sepuluh kesalahan terbesar dari freelancer (10 biggest freelancer mistakes) yaitu Daniel G Pratidya, freelancer sukses berpenghasilan lebih dari Rp 200 juta, kemudian Fariz Tadjoedin, seorang ahli IT yang juga freelancer, Helma Kusuma, country manager dari Freelancer.co.id serta Danto Adityo, Ketua Tangan Di Atas (TDA) Yogyakarta yang akan mengupas sisi pemberi pekerjaan via freelancer.com.
Artinya, walau booming pekerja lepas ini sedang tinggi, pekerjaan ini tak semerta-merta mudah. Banyak hal yang berbuah kegagalan dari seorang pencari kerja freelance, misalnya seseorang yang dengan penuh harapan ingin dapat job, mendaftar via Freelancer.co.id atau Freelancer.com (sama saja kok, hanya saja yang co.id defaultnya bahasa indonesia. Akun pun bisa yang sama apabila Anda sudah pernah daftar di Freelancer.com). Kenyataannya, setelah satu tahun, belum juga mendapatkan pekerjaan yang bisa dia kerjakan. Nah, problem ini yang dikupas oleh para narasumber diatas di tengah-tengah para peserta yang antusias menyimak setelah terlebih dahulu berbuka puasa dan makan malam di resto berkonsep amerika latin ini.



Saya tak akan banyak bicara mengenai sepuluh kesalahan ini, teman-teman bisa baca sendiri materinya disini namun saya setting gak bisa didownload karena hak cipta si pemilik ya. Juga bisa liat tip trik dari Daniel di blognya dan melihat reputasi beliau di sini. Saya, UC dalam hal ini mengembalikan ke judul artikel ini, yaitu mengenai prospeknya. Jadi, dari talkshow kemarin itu, saya berkesimpulan, memang freelance ini peluangnya besar. Apalagi dari statistik, ternyata lebih dari 60% karyawan dan masyarakat yang disurvei pernah mengerjakan pekerjaan freelance. Hanya saja, saya melihat, di Indonesia saat ini, freelance sendiri masih bukan pekerjaan. Sama halnya dengan novelis, penulis, full time blogger dan sejenisnya, belum banyak yang bercita-cita untuk itu. Semua masih sekedar “sampingan”. Bahkan, Ketua IFA dan freelancer sukses seperti Daniel yang menjadi narasumber pun mengakui, masih memiliki pekerjaan utama (masih karyawan) walaupun tidak menampik kalau dirinya mempunyai “gaji” dari freelance sebesar tiga kali lipat dari gaji bulanan dia sebagai karyawan.

Tapi ini bukanlah masalah. Kita ketahui memang perkembangan internet sangat cepat, jadi tentu saja, apabila pekerjaan kita “ngantor” bisa kita barengi dengan mengerjakan project dan bahkan bisa dikerjakan di kantor dengan fasilitas internet gratis (nah loh, hayoo ngacung yang berpikiran seperti ini hehe) maka semuanya sah-sah saja. Menurut salah satu motivator bisnis, kita memang intinya adalah mempunyai “multiple stream of income” untuk sukses secara finansial hehe..
Nah, Freelancer.com sangat membantu nih. Sebagai market place online global untuk outsourcing dan crowdsourcing bagi bisnis kecil khususnya di Indonesia (freelancer.co.id) maka kita bisa memanfaatkan ini untuk menghubungkan antara lebih 8 juta profesional yang bersedia nge-bid (menawar) untuk pekerjaan freelance kepada para pemberi project dari 234 negara diseluruh dunia, Keberadaan IFA juga membantu, dimana Anda yang tertarik kerja freelance bisa bergabung dan mendapatkan manfaatnya dengan join online melalui form aplikasi
IFA dan Freelancer.co.id juga bisa Anda temukan di facebook yaitu disini dan disini juga disini. Yuk kita coba register dan mem-bid dengan langkah mudah via freelancer.co.id yaitu hanya 5 langkah : 1) Browse dulu project yang ada yang Anda minati, 2) Lakukan bid, 3) Employer akan mencari yang terbaik menurut mereka dan pekerjaan dimulai 4) Freelancer terpilih mensubmit pekerjaan yang telah selesai dan di-approve oleh employer kemudain 5) Anda akan dibayar sesuai dengan harga yang disepakati di awal. Bahkan biasanya ada skema bayar dimuka dan bayar separuh dulu loh, jadi tenang aja, semua aman dan terjamin hehe..

Jadi, saya optimis memang, kedepannya pekerjaan freelance ini prospek banget. Bahkan bisa tiga kali lipat dari gaji reguler yang didapat. Di Indonesia, memang masih banyak yang “nyambi” bukan full time freelancer, tapi selama bisa memanajemen waktu dengan baik, dan terlepas dari jerat “10 kesalahan freelancer” yang dikemukanan pembicara di Sesi Cerdas pertama ini, masa depan freelance di Indonesia Insya Allah cerah. Yuk dicoba!
thanks infonya, langsung ke tkp …freelancer
wah saya pengen jadi freelancer yang sukses…
jadi freelancer kalau udah sukses memang enak banget…tetapi resikonya juga besar
haddeh saya gak sempat hadir di acara ini. tapi emang jadi freelancer itu high risk high return ya 🙂