Kadang saya kecewa. Kecewa dengan keteguhan hati menggunakan Linux. Terlalu Pede dengan mensosialisasikan Linux, mengikuti milis Linux Aktivis dan menjadi anggota berbagai Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI).
Saya kecewa dengan diri saya. Seorang lulusan ilmu sosial yang belajar Linux, itupun tidak banyak, hanya untuk mengerti memakai grafis di Linux dan untuk berani menggunakan Linux untuk kegiatan sehari-hari seperti internet, chatting, menulis. That’s it.
Saya kecewa dengan lingkungan. Lingkungan yang menganggap seorang yang menggunakan Linux adalah yang Geek. Yang harus mengerti banyak hal, mengerti command line, SSH, Jaringa, Programming. Bagaimana dengan saya yang hanya menggunakan aplikasi perkantoran itupun apa adanya.
Kecewa dengan lingkungan yang memperlakukan saya seakan seorang yang bisa Linux dan harus bisa Linux.
Saya kecewa dengan diri sendiri dan lingkungan. Kecewa kalau untuk menjadi ‘penganjur’ untuk menggunakan Linux kita harus menjadi geek. Kita harus mengetahui konsep Free dan Open Source sampai dalam. Kita harus bisa setting jaringan, sistem administrasi.
Saya kecewa. Kadang. Dengan kemampuan informatika yang sangat terbatas dan selalu serba retorika saja. Kecewa hanya bisa mendengar, membaca namun tetap tiada bisa mempraktekkannya.
Rasa kecewa. Tanpa Sesal. Karena sudah terlanjur. Karena saya tidak bisa komputer. Tidak melek IT. Tidak bisa ngutak atik Windows jadi sama bodohnya, tidak bisa ngoprek Linux.
Skala 1-10.
Saya berada di 2.
Jadi, jangan kecewakan saya lagi…