Kisah-Kisah Sosialisasi Linux : Chicken Soup dan Laa Tahzan Rasa Lokal untuk Aktivis Linux

https://www.unggulcenter.org/kisah-kisah-sosialisasi-linux-chicken-soup-dan-laa-tahzan-rasa-lokal-untuk-aktivis-linux/


Disclaimer Pengantar
KALAU lazimnya disclaimer itu ditulis di akhir artikel tulisan, maka sangat perlu bagi saya menulisnya di awal artikel. Yup, saya mencoba merangkum kisah-kisah tanya jawab seputar Linux (dan FOSS) yang saya temukan di berbagai diskusi maupun berbagai kesempatan dalam kapasitas saya sebagai seorang pengguna Linux –yang kalau boleh ditambahkan kata “pemula”, “awam”, atau “newbie”. Jadi, apapun yang tertulis disini merupakan pengalaman langsung dari saya, dan rekan-rekan, termasuk mungkin KISAH NYATA Anda dalam berinteraksi yang sempat mampir di penglihatan saya dalam bentuk tulisan di milis, misalnya linux-aktivis, kpli bogor, di blog, facebook dan media-media lain. Artikel ini juga akan saya jadikan “Live Chicken Soup” dengan selalu mengupdate kisah-kisah yang walaupun sedikit, secuil, dan memalukan kita sebagai bangsa Indonesia hehe.. yang penting, belajar dari pengalaman dan sampaikan walaupun hanya satu Hello World! Hehe..


Kisah Inspirasional
Kisah-kisah inspirasional biasanya ngetop dengan istilah “chicken soup”. Ya merujuk kepada buku kisah-kisah inspirasional dan motivasi hidup yang terkenal, Chicken Soup for the Soul – 101 Stories to Open The Heart and Rekindle the Spirit – terbit pada tahun 1993, terjual 2 juta copy, dan beragam sequel lainnya misal chicken soup for the mother’s soul, chicken soup for the couple’s soul dan seterusnya hingga 35 buah seri dan masih berlanjut hingga sekarang. Sang pengarang selain menulis pengalaman pribadinya sebagai seorang motivator, juga mengumpulkan kisah-kisah penuh hikmah dan melanjutkan penulisan seri buku tersebut.

Kisah-kisah inspirasional lain yang saat ini sedang hangat diperbincangkan adalah Laa Tahzan (Jangan Bersedih). Buku ini membawa pembacanya menyelami tuntutan Islam yang baik dan benar sehingga bagi yang merasa rapuh, sedih, nggak berguna, pengen mati, nelongso~.. biasanya bakal tegar setelah membaca buku karya Aidh bin Abdullah Al Qarni ini. Sama seperti Chicken Soup, walau pendekatannya berbeda, buku ini selain best seller, juga muncul seri-seri lainnya. Sang pengarang juga mencari berbagai inspirasi dan hikmah lain yang bisa dipetik dan menjadikan setiap jiwa yang kering basah oleh siraman ruhiyah yang begitu dalam dan menyentuh sanubari.

Bukan menyamakan dengan kisah sukses buku tersebut, juga bukan kisah di-dalam buku yang akan saya persembahkan, namun kisah-kisah yang bisa dibilang Lucu, aneh dan bahkan mungkin memiliki reaksi ganda. Pembaca bisa tertawa geleng-geleng kepala, geli, atau justru miris. Ya, saran saya, lihat sisi baiknya saja. Inilah kondisi riil di lapangan ketika “Pasukan Linux berani mati” mensosialisasikan Linux (baca: membagi kebahagiaan bersama Linux) yang kadangkala, sulit diterima oleh masyarakat.

Agar mudah dibaca dan ditangkap maknanya (juga biar lebih seperti humor) saya tulis dalam pola tanya jawab antara dua orang. Tentu saja walau berbeda-beda obyek pelakunya, namun dua dialog adalah antara si Awam dan si Pengguna Linux (yang mungkin juga awam, tapi berani bertindak benar!). Ingat kata disclaimer diatas, ini pengalaman nyata loh dan bisa jadi Anda lah tokoh utamanya. Untuk itu, atas nama copyleft, saya minta ijin hehe.. jika ada pengalaman lain, silakan post di komentar dan nanti akan saya tambahkan ke kumpulan “chicken soup & la tahzan” ala Linux ini..

Tetap semangat dan Enjoy !
Linux dan Birokrat Pemerintahan

Di sebuah stand pameran teknologi, kebetulan stand itu punya PC Linux yang konsisten di bisnis open source didatangi seorang menteri yang tentunya berkesempatan dalam acara pembukaan pameran tersebut. Terjadilah dialog.

Menteri : “Ini Stand Apa?”
Jawab :”Linux, pak!”
Menteri : Linux? Apa itu linux?”
Jawab : “Linux itu sistem operasi legal untuk menggantikan Windows, pak. Dengan Linux kita tidak perlu menggunakan software bajakan lagi dan nantinya bisa banyak menghemat devisa negara.
Menteri : “Tapi koq beda sama Windows ya …?!!! Sudah …. tidak usah
Linux-Linuxan, pakai yang ada saja… masa orang sudah sepuh begini
disuruh belajar lagi.”
Jawab : (dalam hati )”kalau tidak mau pakai Linux, kenapa diundang untuk
ikut pameran … ?”

Tidak berapa lama, salah seorang dirjen kementerian tersebut ‘meralat’
perkataan pak Menteri.

Dirjen : “Maaf, pak … maksudnya Pak Menteri, Linux itu bagus. Hanya
saja untuk kementerian ini, yang rata-rata personilnya sudah tua-tua,
sepertinya lebih cocok kalau pakai software yang sudah ada.”

Kisah dari Ahmadharis1982@gmail.com ketika berdialog dengan seorang ibu di kantor sekretariat korpri di Aceh Tengah pada waktu yang bersangkutan memigrasikan ke BlankOn.

Ibu : “Linux itu sulit sekali, payah”
Saya :”Sulitnya dimana bu?”
Ibu : “Saya tidak bisa bekerja, tidak seperti biasanya”
Saya : “Coba Ibu ngetik dan mencetak menggunakan Windows XP dan Microsoft Office dulu, saya tunggu sebentar.
Ibu :”Saya tidak bisa mengetik gituan”
Saya :”Trus susahnya dimana bu?”
Ibu :”Game saya kok nggak ada?”
Saya :”ooo…”

Linux dan Peserta Seminar
Di sebuah seminar Linux yang diadakan di Pemkot Bogor, seorang mengaku Mahasiswa di perguruan tinggi negeri di Bogor bertanya kepada narasumber,
Tanya : Linux kok susah ya mau pake aja musti ngetik-ngetik di teks. Saya liat temen saya seperti Ga kayak windows. Jadinya males.”
Narasumber : “itu jaman dulu mas..”

Karena nggak enakan juga, narasumber melanjutkan : “Mungkin temen mas emang merasa lebih cepat pake teks, tapi Linux juga grafiknya udah bagus kok kalau sekedar pakai sehari-hari.”

Ditelepon seorang siswa yang sempat dikasih Live CD pas acara sosialisasi Linux di sebuah sekolah..
Tanya : “Linux itu susah ya”
Jawab : “Nggak juga sih. Belum biasa aja.”
Tanya : “Ini Live CD yang dikasih lambat banget”
Jawab: “karena dia Live jadi baca terus..”
Tanya : “Lambat ah”
Jawab : (mulai keluar taring) ya udah install aja langsung”
Tanya : “jangan ah, tar rusak atau ada apa-apa komputer saya”
Jawab : “terus maunya gimana?”

Linux dan Pendidikan
Pengalaman Pak Setiaji Cahyadi yang chatting dengan teman SMA-nya, yang saat ini menjadi seorang dosen IT di PTS di Surabaya selatan.

Setiajie
halo
12:57

Ng
halo
12:58

Setiajie
jd dosen dimana ?
12:58

Ng
di ….. kok
cuma 1 MK aja
13:04

Setiajie
teknik informatika ?
13:05

Ng
iya
kalo selain komp, aku yang jadi muridnya :):)
13:05

Setiajie
jadi pinter komputer donk, omong-2 di **** skrg udah masuk pelajaran OS unix family belum ?
13:06

Ng
hmm kurang tau ya
kalo dulu jamanku sih linux
itu aja yang redhat
13:07

Setiajie
oalah, red hat skrg komersial
13:07

Ng
iya
tpai ga tau lagi kalo skg ya
bukannya unix juga komersil?
kalo ga salah, soale aku ga ngikuti yang free S/W :):)
13:09

Setiajie
skrg lagi musim linux ubuntu derivative
13:09

Ng
oo iya
13:09

Setiajie
unix komersial, tapi linux non komersial (open source)
13:10

Ng
hehe tapi aku masih pecinta windows
habis komp pas2an buat 1 OS :):)
13:10

Setiajie
saya skrg lg main di area linux (open suorce)
dual boot bisa kok, komputer dikamar dual boot windows dengan blankon (ubuntu derivative)
13:13

Setiajie
lama-2 sih hafal sendiri perintah-2 linux
13:14

Ng
kalo perintah2 kan bisa pake help, kalo ga ngerti bisa tanya Mr.G, pasti ada jawabannya :):)
bye dulu
13:22

Setiajie
he he he
13:24

Setiajie
bye
13:26

Ng sedang offline.
13:27

Ng sedang online.
13:32

Ng sedang offline.

Lalu, kalau yg bikin statement “Linux Susah” itu “Anak IT” (baca: kuliah jurusan IT dan yg terkait) bagaimana? Vavai punya jawabannya:
Anak informatika: “Install linux kok susah?”
Saya: “Kamu menyia-nyiakan duwid ortumu nak. Cobak ya, tau diri
sedikit, saya ini bahkan dropout sma dan pengen sekali bisa kuliah
tapi saya miskin! Coba liat kamu! Kamu pakek mobil yang dibeliin ortu,
hapemu bagus, dua buah lagi, leptopmu vaio, sendalmu kulit! Lha saya?!
Sampek sekarang kemana-mana masih jalan dan naek motor! Hape saya
modem selamanya! Sendal saya setipis dompet saya! Cobak ya, jaga
kelakuan, kalau kamu gini terus… blah.. blah.. blah.. (3 jam)”

Linux dan Masyarakat
Ahmad Haris, aktivis Linux sharing di sebuah milis. Semalam saya sempat berdiskusi kecil dengan orang awam yang baru punya laptop dan tanya-tanya linux di rumah.
Tanya : “Kenapa sih install linux itu susah ?”
Saya : “apa Anda pernah install windows vista atau windows xp ?”
Tanya : “belom.”
Saya : “Berarti Anda orangnya menyusahkan.”

Sepertinya kebanyakan user awam pengguna komputer itu kurang ngeh
dengan software/hardware tapi kalo diajak ke linux pertanyaannya
seabrek. 😀
Banyak juga yang tanya persamaan software seperti AutoCad, Adobe flash,
Dreamweaver, CakeWalk, dll di linux itu apa. Padahal mereka sama sekali
tidak menggunakannya. 🙂

Ada lagi dialog begini..
Tanya : “Ga mau pake linux, installnya susah”
Saya : “Kalo ga mau install, coba LiveCD aja”
Tanya : “Ga mau pake linux…”
Saya : “Ga mau belajar ya?”
Tanya : …

Sharing dari Vavai
Teman : “Linux itu susah ya…”
Saya : “Susah gimana ?”
Teman : “Susah digunakan. Modelnya aza kayak DOS jaman dulu”
Saya : “Kamu pernah pakai Linux ?”
Teman : “Belum. Kata orang begitu sih…”

Saya : 😛

Tidak selalu demikian tapi memang ada saja orang yang lebih senang
mendengarkan FUD dari pihak lain 🙂

Dedy Haryadi punya dialog yg lain yang beliau ingat pada saat event Ritech2007 :
Pengunjung : “Install Linux kok susah”
Penjawab : “Install Linux susah kalo sudah ada Windowsnya. Coba install
Windows ketika masih ada Linux gampang ato susah?”
Pengunjung : *diem aja*
Penjawab : “Fresh Install lebih mudah :)”

Dialog sangat singkat oleh seseorang yang sudah kesal banget disebut Linux itu susah.
Teman : “Napa sih pakai Linux. kan susah”
Jawab : “lebih susah kalau dipenjara”

…dan Kisah terus berlanjut… sampai jumpa di ILC 2009 dan semoga ILC bisa menjadi ajang bagi kita untuk merapatkan barisan dan berbenah!

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

2 Comments

  1. sungguh memprihatinkan pengalaman mas Adnan, prihatin dengan sang bendahara yang tak mau belajar, padahal kan belajar itu mestinya sampai menutup mata.

  2. saya punya pengalaman pahit saat migrasikan laptop kantor, begini ceritanya, .. suatu hari bendahara kantor bikang kalo vistanya hanya bisa ngeprint satu lembar tidak peduli walaupun dokumen yang mau di cetak itu 100 lembar sekalipun, setelah aku cek, ternyata memang office dan windowsnya bermasalah,… karena saat aku cek pake liveCD linux bisa mencetak dengan normal 😀
    singkat kata di putuskan laptop tersebut harus dual boot dimana linux di gunakan untuk pekerjaan sehari-hari dan windows di gunakan untuk aplikasi SAKPA dan aplikasi dep Keu lainnya (yang hingga saat ini ternyata depKeu masih anti linux).
    Dual boot sudah selesai, laptop di kembalikan ke bendahara, dan hasilnya….. insentip, uang lauk-pauk, semuanya terlambat cair karena sang bendahara ternyata cuman apal pake ms office dan tidak mau belajar open office,…. duuhhh nasib nasib 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.