Marketing Tanpa Jalan-jalan?

https://www.unggulcenter.org/marketing-tanpa-jalan-jalan/

Saya agak kaget mendengar celetukan salah seorang rekan yang berprofesi sebagai manajer untuk branch salah satu perusahaan produk jasa di Indonesia.  Kebetulan bertemu di ruang SDM, beliau mengatakan “wah jalan-jalan terus nih” ketika saya memberikan form cuti ke manajer SDM.

Halah. Entah menyindir entah apa, tak saya pusingkan. Tapi ada dua hal yang aneh. Pertama, saya mau cuti artinya potong cuti setahun. Tak layak disebut jalan-jalan, sebab pastinya, cuti itu untuk sesuatu yang mendesak. Ngapain cuti di awal tahun, mending ‘dihabiskan’ untuk mudik lebaran.

Kedua, saya heran. Dengan posisinya sebagai manajer, yang harus memasarkan produk jasa, ternyata semangat mental nya belum sampai kesana.  Sebagai mantan customer service, sepertinya  beliau masih terkondisi untuk melayani customer langsung di kantor cabang. Bersifat pasif. Padahal, untuk pemasaran (marketing) tak bisa kita diam di kantor saja.

Akhir yang berbeda mungkin ditunjukkan dua toko dimana salah satunya berpromosi gencar, satunya lagi tidak. Dengan catatan, sama-sama brand baru ya. Ini juga sama. Terkecuali ada program telemarketing dan social media enhancement yang begitu intens dan masif, sehingga Anda tak perlu mengeluarkan biaya besar untuk approaching clients.

Tapi tak juga begitu. Rata-rata bermain di ranah jejaring sosial (internet) dan atau menggunakan modal telekomunikasi (baca : menelpon prospective customer) tak menghasilkan sales. Baru menghasilkan buzz dan menghasilkan engagement yang lebih intens utk sebuah komunitas. Kecuali ya tadi, memang produk yang domainnya investment biasanya bisa via telepon. Di luar itu dan beberapa yang ‘khusus’ lainnya, biasanya utk moda pelayanan saja. Bukan sentra penjualan.

After that,  Anda harus menjelaskan kepada mereka. Bertatap muka. Mencari peluang dan inspirasi di jalan, kafe, toko buku, terminal. Sebab itulah dunia nyata pelanggan. Kecuali, memang mencari pelanggan untuk pasar internet. Misalnya domain hosting dst wajar hanya memakai satu dua media di dunia maya.

Sulit mengatakan kalau seorang manajer penjualan dengan basis konvensional, terlalu lama di belakang meja akan sukses. Rata-rata yang dibalik meja juga “bermain” facebook hehe.. lebih baik buka mata, buka telinga, buka wawasan untuk bertemu orang-orang. Mencari ilmu pengetahuan praktis dari mereka. Juga memberikan kartunama kita sebagai jangkar (anchor) untuk menjalin jejaring. Tersebarnya / habisnya kartu nama, kadang menjadi salah satu target perusahaan loh.

Empat persiapan terkait urusan ini, yaitu biaya marketing harus siap dengan entertainment, transportasi akomodasi. Kedua, siap Juga soft skill semisal teknik presentasi, komunikasi yang baik, dan negosiasi. Juga tak lepas persiapan ke urusan penampilan. Rapi, wangi, bersih. You can’t sell product if you can’t sell yourself. Last, but not least, adalah inner spirit. Semangat, senyum, sopan santun, memberikan solusi ke customer dan seterusnya.

Ini memang kasuistik. Hanya saja, dalam konteks kasus yang saya kemukakan di awal paragraf. Saya tak habis pikir, bagaimana bisa seorang manajer menganggap kegiatan “jalan-jalan” itu dengan sinis padahal itu lah salah satu ajang paling penting mencari konsumen dan melakukan promosi.

Jalan-jalan ini bisa dengan mengecek setiap posisi spanduk yang terpasang, apakah benar dipasang oleh anakbuah, dan dalam kurun waktu tertentu mengecek apakah masih terpasang, tak hilang dan seterusnya.

Jalan-jalan bisa dengan mencari tau mengenai kegiatan kompetitor. Apa yang mereka lakukan. Pasang spanduk, sebar brosur, iklan di billboard mana. Tak cuma itu, bahkan kita bisa meeting dengan kompetitor. Saling menjajagi dan saling membantu pemasaran. Oh, bisa saja!

Jalan-jalan juga diniatkan untuk mencari ide, inspirasi, agar kreativitas dan inovasi muncul. Tentu untuk kebaikan perusahaan. Suasana yang “out of the box”, memperbanyak jejaring teman, klien, vendor, merchant apapun namanya, sangat penting di dunia bisnis.

Yah, itu hanya pendapat saya saja.  Tak harus semua orang menjadi marketer. Mungkin lebih suka di bidang yang lain. Namun ketika posisi itu sudah ditangan, segeralah berubah. Kata Rhenald Kasali, Change, re-code your DNA.  Atau, segera kembali ke posisi lain yang lebih “rutin” seperti Customer Service, Administrasi, atau bagian yang pekerjaannya rutin, terjadwal dan dibelakang meja. It’s up to you.

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

3 Comments

  1. Nah lho, kan harusnya bagian marketing yang lebih sering “jalan2” y kang? -,-
    Btw cuti ada apaan neh, masih awal tahun kan ini..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.