Saya pertama pikir “Ah bercanda mungkin” ketika dosen matakuliah Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan (Esdal) pernah bilang akan ada field trip ke pertambangan agar mahasiswa yang mengambil matakuliah ini lebih paham kondisi di lapangan, sekaligus menemukan berbagai fenomena yang selama ini dikaji di ruang kelas sebagai sebuah kenyataan dan memverifikasinya. Tentu utamanya mengenai isu tambang dan lingkungan alam.
Itulah mengapa saya kaget ketika benar, beberapa hari menjelang trip diumumkan bahwa ada perjalanan ke Cibaliung, sebuah pertambangan yang berlokasi di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Tambang Emas ini diawaki oleh PT Cibaliung Sumber Daya, subsidiary dari BUMN ANTAM (Aneka Tambang) yang diserahi tugas sebagai badan usaha milik negara yang mengelola pertambangan di Indonesia.
Oya sebelum saya bercerita mengenai kegiatan saya di pertambangan emas ini, saya ingin memaparkan sekilas mengenai Cibaliung dan PT CSD agar pembaca ada gambaran mengenai tempat ini terlebih dahulu. Samalah seperti saya, yang dengan excited-nya di perjalanan melakukan googling mengenai tempat ini dan perusahaan pengelolanya, agar memiliki pengetahuan sebelum benar-benar bertemu perwakilan mereka, diajak berkeliling dan tentunya, ada hal yang di awal sama sekali tidak pernah saya duga loh!
Cibaliung berjarak sekitar 3-4 jam waktu tempuh dari Jakarta. Tambang emas ini dekat sekali dengan Taman Nasional Ujung Kulon dan secara administratif berada di wilayah Desa Mangku Alam – Padasuka Kecamatan Cimanggu Kabupaten Pandedglang, Provinsi Banten.
PT CSD sendiri adalah anak perusahaan ANTAM, PT Cibaliung Sumberdaya, setelah diakuisisi dari ARC Exploration Australia pada tahun 2009 sehingga menjadi perusahaan lokal Indonesia. Proyek Cibaliung ini dimulai tahun 2010 (pembukaan) setelah beberapa tahun melakukan survey dan analisa. Apa aja sih yang dilakukan PT CSD? Nah ini dia eksplorasi yang dilakukan perusahaan ini :

Berangkat dari kawasan Kampus IPB Darmaga, Bogor dengan Bus sekitar pukul 11.00 WIB, kami tiba di Carita sore hari. Yup, kami ke Carita untuk “transit” sebelum menuju Cibaliung.

Setelah beristirahat, mandi dan makan malam, kami sudah siap bersama Profesor Fauzi yang membawa serta perlengkapan perang beliau, yaitu Keyboard untuk bersenandung dengan lagu-lagu hiburan hingga waktu tidur tiba. Tentu, setelah makan malam dengan suguhan seafood yang maknyussss..

Tepat jam 12 Malam, acara hiburan usai, karena kami harus bersiap pagi-pagi ke Cibaliung yang akan ditempuh dalam waktu 3 Jam lagi. Hmm.. jauh juga ya, padahal ke Carita ini aja sudah sangat jauh.

Jam 7 pagi kami segera berangkat dengan bus yang telah menemani kami sejak hari sebelumnya dari Bogor. Oya bus ini keren loh, ada fasilitas karaokenya dan terpuaskanlah hasrat para biduanita yang berkaraoke dengan suara cempreng di depan sana di belakang sopir hihi.. Sejak awal, sepertinya sudah menjadi tempat duduk inceran deh.
Setelah beberapa lagu (baca : buanyaak) kami tiba di situs pertambangan yang dituju, yaitu Cibaliung. Langsung disambut di ruang meeting terlebih dahulu untuk sesi pengenalan dari official dan juga sesi safety. Yup, di area pertambangan, keamanan dan keselamatan merupakan hal yang utama.

Dari paparan manajer pertambangan, kami mengetahui bahwa pertambangan ini sebenarnya bukan pertambangan besar, namun telah berupaya semaksimal mungkin dalam menjaga lingkungan. Mulai dari mengikuti peraturan mengenai lingkungan yang ada, hingga Corporate Social Responsibility (CSR) yang sudah dilaksanakan.
Tak hanya paparan, kami mendapatkan banyak informasi foto-foto kegiatan CSR maupun kegiatan pengelolaan kawasan yang baik, misalnya dalam hal pengelolaan limbah tambang misalnya “tailing” yang biasanya inilah yang suka diributkan oleh banyak LSM lingkungan 🙂

Dikarenakan terbatasnya waktu kunjungan, mau tak mau tim kami yang berjumlah 20-an orang tidak semuanya bisa masuk ke dalam tambang, namun dibagi menjadi dua tim. Yaitu tim yang masuk ke dalam tambang tambang, dan tim kedua berkunjung ke pengolahan dan ke masyarakat. Dengan kata lain, satu tim ke perut bumi ke dalam pertambangan, tim lainnya di permukaan hehe..
Beruntung, saya termasuk yang mendapat bagian ke dalam tambang! Sangat excited karena dengan demikian mendapat pengalaman baru memasuki “perut bumi”, sesuatu yang seumur hidup bahkan saya belum pernah bermimpi!
Nah, sebelum memasuki tambang emas, saya dan teman-teman kembali di briefing. Pakaian yang kami pakai tak hanya safety helmet dan safety boots, tapi juga harus memakai pakaian ala ghostbuster 🙂
Kebayang ya, sulitnya para pekerja tambang itu sendiri. Mereka harus menambang dengan risiko yang tentu kita semua tak inginkan. Namun demikian, dewasa ini risiko penambang sudah tak seperti dulu. Dengan perlengkapan yang aman dan juga teknologi di dalam tambang untuk penahan dinding agar tak jatuh, seperti adanya semen cor yang saya lihat di Cibaliung, maka penambang cukup aman.
Oya, kami kemudian masuk ke dalam tambang menggunakan kendaraan pick-up dan masuk ke dalam dilengkapi juga dengan masker dan penyumbat telinga agar jika ada suara pengeboran maka kebisingan bisa diredam.
Kami dipandu oleh Pak Anto yang menemani kami sambil kami bertanya-tanya mengenai pertambangan ini. Kami juga boleh membawa kamera foto untuk mengabadikan momen-momen di kedalaman bawah tanah ini. Wow keren!

Di dalam, kami melihat begitu banyak persimpangan jalan dan kami tembus dengan mobil ini. Beberapa kali kami bertemu dengan kendaraan alat berat dan mobil memberi kode-kode lampu. Kode ini juga sangat penting karena kita tidak mungkin berkomunikasi dengan lancar, jadi lampu adalah alat komunikasi yang efisien dan efektif. termasuk lampu di helm kami dengan kode atas-bawah, kiri-kanan dan atau berputar-putar hehe.. artinya mendekat, menjauh atau tetap ditempat. Itu aja 🙂

Dengan berada di dalam tambang emas ini kami menemukan bongkahan-bongkahan batu yang kemudian akan menjadi emas. Jadi ngga langsung seperti kita temui di toko emas ya bro hehe..

Waktu di dalam tambang tak terasa loh. Kata Pak Anto, biasanya alarm mereka adalah kondisi perut tiba-tiba udah laper aja eh ternyata udah sore hihi.. terus, kalau sedang galau bisa bingung loh, jadi untuk menjadi penambang gak boleh stres n banyak pikiran tar kelupaan sedang di kedalaman level berapa. Tar teman bisa muter2 gak keruan ga ketemu pintu keluar hehe..
Oya untuk udara yang menipis karena masuk ke perut bumi semakin dalam, sudah ada teknologi saluran angin yang dipasang di langit-langit sehingga udara segar bisa masuk. Walaupun kalau dikedalaman tertentu, memang udara tetap agak berat, namun sudah sangat lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya.
Akhirnya setelah puas berkeliling, ngobrol kehidupan sehari-hari dengan para penambang, kami harus keluar. Ohya, Alhamdulillah, 90% Tambang Emas Cibaliung di tahun 2013 ini sudah mengakomodir sumberdaya penambang lokal loh.
Kami kemudian keluar lagi karena jam 3 sore akan ada Peledakan untuk membuat progres baru dari tambang ini. Kami keluar di tempat kami masuk tadi, yaitu Portal Cikoneng namanya. Sebelumnya ada Portal lain yang pertama yaitu Portal Cibitung. Portal Cikoneng di sebelah Utara dan Portal Cibitung letaknya di sebelah Selatan yang berjarak 400 m. Kedalaman tambang ini sudah lebih dari 500 m kebawah tanah loh. Portal Cibitung yang pembuatannya dibantu tenaga ahli Australia ini sudah dihentikan penggunaannya karena “mentok” karena ambrukan disebabkan kurangnya sistem penyangga terowongan (ground support). Nah portal Cikoneng ini hasil karya anak bangsa loh, dan lebih kuat dan huebaat! hehe..

Sungguh, pengalaman yang berharga sekali. Masuk ke perut bumi dan menemukan hal-hal yang secara fakta, mungkin tak diketahui orang lain. Mulai dari kehidupan penambang, kegiatan sehari-hari. Termasuk curhat mengenai ‘gampang kaya dan gampang miskin’ yang mewarnai kehidupan penambang.
Selain itu, dari sisi masyarakat, kami dan tim terutama tim “permukaan” mendapati bahwa program-program CSR sudah berjalan baik. Walau, dituntut kerjasama dengan pemerintah Banten dalam hal ini. Jadi, isu bahwa penambangan itu merusak, kami tak dapat sih di Cibaliung. Semoga memang demikian adanya. PT CSD mesti menjadi contoh “biar kecil tapi tetap masyarakat menjadi prioritas”.
Bahkan, program CSR sudah lebih “advanced” dengan community development. Tak cuma “memberi ikan” ke penduduk sekitar, tapi juga penduduk bisa menjadi penambang resmi, bisa mendapat manfaat. Selain itu, dari sisi lingkungan, bekas penambangan liar sudah PT CSD benahi dengan menjadikan berbagai danau, juga mempunyai tim yang setiap waktu tertentu mengecek kondisi air, tanah, vegetasi agar tetap aman untuk masyarakat dan lingkungan.

Dari trip ini, saya semakin tertarik dengan isu-isu tambang dan lingkungan. Semoga dikesempatan lain, bisa mengalami lagi bagaimana pertambangan mengelola tambang dan mengelola lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat. Banyak isu-isu miring di luar sana, tapi saya yakin, kalau berkesempatan langsung menyaksikan, kita bisa memaparkan apa sih sebenarnya yang sudah, sedang dan akan dilakukan oleh pengelola tambang.
Perlu juga berbagai solusi seperti yang terjadi dan dilaporkan disini mengenai kurangnya listrik untuk warga sekitar. Semoga permasalahan ini sudah teratasi (terutama sejak Gubernur Banten ditangkap KPK, hmm, tentu kalau memang terjadi hal-hal terkait korupsi, maka mudah-mudah ikut dibuka).
Jadi, jika ada yang kurang, kita bisa beri masukan, jika sudah baik, mari kita dukung untuk lebih baik lagi! Karena keberadaan Tambang Emas ini bukan hanya tanggung jawab pengelola yaitu PT CSD, tapi juga erat kaitannya dengan pemerintah dan masyarakat, yaitu kita semua dalam berkontribusi.
Salam!!
Sumber foto : (1) Koleksi pribadi (2) Pertambangan Geologi di Blogspot




Wahh.. ni info educational banget.Nice gan, udah mau berbagi pengalaman. Semoga kapan2 aku bisa ke surga perut bumi.