Menanggung Saudara

https://www.unggulcenter.org/menanggung-saudara/

Waktu kecil, diriku bahagia (halah) kata pembuka yang salah sepertinya..

Tinggal di rumah yang besar, dengan halaman yang luas. Namun jangan salah mengartikan, kami bukan orangkaya sebab di kampung, rumah besar dan halaman luas adalah pemandangan yang biasa. Tanah murah bro. Nah dirumah nenek saya itulah saya menghabiskan masa kecil hingga kelas 6 SD.

Rumah itu tak percuma. Dengan besarnya, kamarnya agak banyak, saya ingat2 sekitar  6 kamar atau 7 masing2 pun isinya dua orang kayak kost-kostan kali ya. Ada Kamar ayah dan ibu, kamar kakek dan nenek (nyai dan yai), kamar om-om dan tante-tante saya. Ini yang seru. Banyaknya kerabat yang menumpang. Baik dari sisi bapak saya yang bugis atau ibu saya yang palembang-kedaton OKU.  Ibu saya 7 bersaudara pula. Bapak saya juga punya kerabat. Dan kami, dari dulu punya tradisi menitipkan anak ke keluarga untuk mandiri, jadinya rumah itu begitu ramai.

Ketika makan malam tiba ramai dan seru. Bagian cuci piring pun seru apalagi you know obrolan2 perempuan hahaha.. saya anak ketiga, ada dua kakak dan dua adik. Semuanya dirumah itu. Diasuh oleh tante2 dan om2 saya. Bapak ibu? bekerja pagi hingga sore sebagai PNS. Hmm masa yang bahagia. Bisa lari-lari dirumah, main kelereng (ekar) dan seterusnya. Belum lagi kenangan cerita2 om dan tante yang dulu pada masih SMA dan Kuliahan.

Di Bogor, saya membentuk keluarga. Ada Kaka, anak semata wayang dan istri saya. Sepi. Sekarang ada pengasuh anak, Mbak Lia yang menjadi teman Kaka. Tetangga depan rumah yang punya anak sebaya anak saya, 1 tahun-an pun pindah rumah. Anak saya gak punya teman main.

Nah, menanggung saudara, sebuah filosofi hidup di keluarga kami mau saya hidupkan. Hayuk yang mau mandiri, yang baru lulus SMA dan mau kuliah di Bogor, di IPB atau di UI saya undang ke rumah. Hehe.. selama ini nenek dan kakeknya (ayah dan ibu saya) sering sih datang. Paling lama 2 bulan sekali tapi tak seseru waktu saya TK dan SD.

Yang jadi masalah, menanggung keluarga yang dirumah memerlukan biaya ekstra. Ya, utk biaya makan sehari2, harus ada kamarnya, dan juga, biasanya masalah biaya sekolah/kuliah dan uang saku.

Saya jadi sadar, betapa ayah saya yang menanggung semua biaya itu sungguh pengorbanan. Ayah memang suka sekali membantu kalau ada orang yang mau maju, mau kuliah. Padahal, kenyataannya, belum tentu si yang diberikan duit sekolah itu membalas budi. Banyak contohnya hehehe..

Anda siap menangung keluarga? Keuntungannya banyak. Selain rumah bersih, karena itu cari kerabat yang rajin ya, kita juga senang. Anak kita aman. Pembantu dan pengasuh bisa diawasi.  Bagi kerabat tersebut, kemandirian diperolehnya. Hmm.. pengen sekali anak saya tumbuh dengan banyak om dan tante yang menjadi temannya jadi dia tak kesepian dengan pengasuh.

Mudah2an ada sepupu2 saya yang mau kuliah dan mau kerja di Bogor dan sekitarnya. Insya Allah, pasti saya tampung dengan senang hati. Syaratnya? Sayang anak kecil, inisiatif tinggi dan tidak menghitung-hitung keringat hehe..  juga kerabat yang ditampung lebih baik kerabat dekat dan kita agak tahu sifatnya 🙂

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

4 Comments

  1. Tampung biaya jajan saiia aja mau gak kang? :mrgreen:
    hehe aku sendiri sih emang dari ‘atas’nya biarpun agak besar tapi Alhamdulillahnya udah pada nyebar masing2 & mandiri.. Jadi emang udah kebiasaan buat lebih nyaman jadi NKKBS 😀

    (eh, tapi si calon keluarganya gede banget o_O ) #halah #abaikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.