Beberapa kali ada teman yang memberikan link ke sebuah tulisan, tentu tulisan beliau, dan meminta bantuan untuk melakukan VOTING. Kalau bukan Voting, minta di-LIKE. Sebagai teman, saudara, seperjuangan, kenalan, kerabat, atasan, bawahan, dan seterusnya yang merasa dekat dengan si peminta vote dan like, tentu saya, dan Anda semua bergegas ke TEKAPE untuk melakukan vote, atau like.
Ya, model vote dan like ini sering sekali dilakukan dalam ajang perlombaan. Namun saya ada pertanyaan sekaligus kekecewaan kepada “penyelenggara” lomba. Apa benar, harus melalui mekanisme voting dan like, which means, ngandelin SUARA. Dari berbagai sudut pandang, model lomba, kontes seperti ini kehilangan maknanya. Terutama dalam hal PENULISAN BLOG. Ya, sebuah tulisan di blog bisa jadi populer, ketika : Anda penulis, juga populer. Banyak teman, banyak yang voting. Tidak itu saja, Anda juga akan memohon-mohon kepada orang-orang, entah kenal atau tidak, untuk ke-tkp dan memvote. Alhasil, tulisan yang, maaf, tidak berkualitas (walau bukan saya yang menentukan) akan bisa mencuat. Ambil contoh tulisan agak-agak “menyerempet” urusan Fried Chicken (hehehe.. paha dada) pasti banyak yang baca, banyak yang komen, dan nantinya, ini biasanya segaris, banyak yang vote.
Contoh lomba kompasiana tempo hari. Saya rasa, banyak tulisan berkualitas namun underdog. Kalah suara. Apalagi yang rada serius, nambah dipojok posisinya. Memang, ada kalanya perlu juga voting, komentar dst. Namun baiknya dikombinasikan dengan pola kualitas tulisan. Misalnya, kesesuaian isi dengan tema, gaya penulisan, keseriusan penulis, solusi yang diawarkan, runutan tulisan dan juga, mungkin, ledakan dan simpulan yang keren diakhir tulisan. Tentu penilai bukan sembarangan. Bisa juri profesional, bisa juga panitia sendiri. Tapi saya tetap Say No to Vote. Saya nggak akan mau ikutan lomba apapun dengan sistem vote lagi. Sebab saya akan menjadi penghamba. Peminta-minta, walau bukan materi.
Lomba blog bukan Polling. Dia kontes. Bukan pula hasil dari mentoknya “Musyawarah untuk Mufakat” sehingga perlu diputuskan dengan voting. Lomba blog bukan rapat anggota dewan, bukan rapat dikelurahan. Mudah sekali menentukan pemenang apabila tanpa voting. Bukankah, lebih baik itu musyawarah untuk mufakat? Hehe..
Saya menghimbau (halah bahasanya..) untuk lomba-lomba, nilailah dari isinya. Bukan jumlah vote, Kecuali voters nya memang terbatas, orang tertentu dan signifikan. Misal 10 orang “anggota senior” dari sebuah komunitas, dst. Sebagai contoh, teman saya, Kang Haris Maulana, peluangnya kecil, karena beliau tidak bisa mendedikasikan 24 jam waktunya hahahihi bersosialisasi di internet dan kenalan sana sini kemudian ikut lomba. Beliau karyawan. Beliau antusias ikut, tapi sepertinya, kalau modelnya masih voting sana sini, peluangnya kecil Kang. But saya dukung selalu. Sebab Kang Harris ini pernah menang Rumah loh dari sebuah kontes blog. Jadi semangatnya masih tinggi hehehe.. Ya, bagi saya, untuk lomba2 profesional, perlu juri. Perlu audiens untuk menilai. Kalau di blog sudah create buzz dan conversation, anggaplah itu salah satu poin.
Ada hal lain perihal lomba ini. Mengenai tujuan dan esensi. Tujuannya apa, apakah buang-buang hadiah lomba, atau, mengajak banyak orang untuk MENULIS (baca : ngeblog). Sebab, ngeblog, nyatanya butuh dorongan. Tidak cuma waktu senggang. Tapi perlu “dipaksakan”. Lomba adalah salah satu stimulan. Pada kenyataannya, saya melihat, misalnya, ada tulisan bagus, menang juara 1 lomba blog. Akan tetapi, sudah 3 bulan lebih blog tidak di-update. Update HANYA untuk lomba. Abis itu, goodbye lagi deh sama blog nya. Secara tujuan, tidak tercapai. Secara esensi, artinya ini lomba adalah untuk blogger, untuk meningkatkan gairah ngeblog dan meningkatkan jumlah posting, juga tidak tercapai. Perihal tulisan bagus? Betul, bagus. Tapi secara etika, kurang mengena. Wallahu’alam, hanya pendapat saya saja. Ibaratnya, ngasih Permen ke anak kecil yang paling “unyu-unyu” yang datang ke kita, pada saat itu, walaupun sebenarnya belasan anak kecil lainnya, setiap hari datang ke kita, untuk minta permen, namun pada saat itu, permen tidak ada atau tidak kita bagikan. Tidak mengena.
Akhirnya, selamat berlomba, berkompetisi. Tapi jika diurutkan dengan vote terbanyak, mending saya ikut PEMILU saja biar jelas, tidak usah ikut lomba hehehe..
president@unggulcenter.org
Kang Unggul, sebenarnya saya juga tidak setuju suatu lomba pemenangnya ditentukan lewat banyaknya vote dan atau komentar. Beberapa kali tulisan saya menjadi korban, yang paling ngenes waktu gagal ke Afrika Selatan. Tulisan saya urutan 2, sementara urutan 1 berhasil menggalang dukungan lewat sebuah website terbesar di Indonesia yang membernya jutaan. Jelas saja saya kalah. Dan lucunya sang juara 1 ini meng-klaim dialah penulis terbaik se-asia pasific dalam lomba ini, padahal lewat voting!
Trend voting sedang booming. Arusnya begitu deras. Jika kita sendiri melawannya tentu tidak akan sanggup. Kita harus bersama-sama menggalang dukungan.
Namun saya tidak setuju jika kita berhenti ikut lomba menulis karena ada ketentuan voting dalam menentukan pemenangnya. Sayang jika ide-ide yang ada dikepala akan terbuang sia-sia dan menguap begitu saja. Tulis saja untuk sekedar memindahkan ide di kepala ke dalam blog.
Terakhir, terimakasih untuk Kang Unggul yang selama ini rajin mendukung tulisan saya. Juga kepada teman2 di Blogor. Mohon maaf jika selama ini saya selalu meminta dukungan lewat milis. Abaikan saja jika tidak berkenan.
Waktu 24jam serasa sempit. Membagi waktu antara pekerjaan, keluarga dan hobi menulis begitu sulit. Untuk itu saya mendedikasikan menulis hanya untuk sebuah lomba. Karena disitu saya menemukan tantangan dalam suatu kompetisi. Kalah atau menang saya mendapat kepuasan batin. Ga apa-apa saya disebut JurigKontes 🙂 Namun jika ada ide yang harus dikeluarkan kadang saya suka menulis juga di kompasiana.
Keep Posting!
betul juga sih kang.. saya juga mendukung sebisa mungkin kang Haris dalam lomba. Sebab bagian dari kompetisi, dan itu menyenangkan sebenarnya. Merangsang ide. Mudah2an kalau emang rejeki, bisa menang. Betul gak? Tapi saya sih ga mau ah voting2 kecuali sudah jadi selebblog minimal saya akan lihat jumlah follower twitter udah 1000 apa belom hehe..
Sukses selalu kang, n keep blogging, keep competing!
saya terinspirasi dari artikel ini, lalu melanjutkannya dengan sebuah banner yg terpampang di blog sayah. terima kasih kang unggul! 🙂
Banyak temen, dan bermuka badak cari dukungan, dialah yang menang… Kira2 begitu ya?? 😀
tujuannya lomba mungkin sbg promosi/branding, jd secara tdk langsung yg ikutan lomba jg ikut mempromosikan yg mengadakan lomba.
brbeda jika yang mengadakan lomba untuk mencari tulisan yg berkualitas, ga prduli dg vote2an.
smg sj yg tulisanya brkualitas votenya jg banyak kang.. 🙂
Perasaan saya terwakili dengan artikel ini. Beberapa kali saya pernah mengikuti lomba yg ditentukan oleh vote. Satupun tak pernah menang. Terakhir adalah seperti yang diulas oleh kang Unggul. Seperti yg pernah kita obrolin di museum. Faktanya, banyak yang kecewa dengan penyelenggaraan lomba tersebut.
Saya setuju dg Indobrad, tentang kategori favorit. Namun tetap saja untuk memasuki kategori favorit, sebuah artikel/blog peserta lomba harus menyelesaikan beberapa syarat, misalnya frekuensi update pada blognya, konsistensi penggunaan bahasa dalam artikel yg dilombakan sesuai dg ketentuan lomba, dsb. Tentang kategori favorit juga mestinya ada batasan tertentu, agar layak masuk dalam kategori favorit shg layak vote. Karena dalam kasus ini juga pernah terjadi tulisan yang amat sangat “ngawur” dari sisi tema, pembahasan, dan gambar, namun karena banyak pendukungnya akhirnya menjadi tulisan favorit.
sayapun sepakat dg kang Unggul, untuk tak mau lagi ikutan lomba yang memaksa kita mengemis klik voters. Seperti yg beberapa hari yll, ketika saya ikut lomba, saya tulis, eh setelah membaca syaratnya lagi ternyata ditentukan oleh voters, ya sudah… saya batalkan mengikutinya 😀
saatnya kita deklarasikan untuk TIDAK SETUJU LOMBA YANG KETENTUAN PEMENANGNYA HANYA BERDASARKAN VOTE?!
betul! say no vote-lah..biar pemilu jg gw gak ikut.. aneh memang kalo menang lomba ngandelin hasil vote, bisa2 yang jago nulis jadi minder karena sering patah hati.
Sedih kalau sekedar dari voting semata
yang banyak masanya yang menang 🙂
Nah, Like this sayah kang, kesannya kayak ikutan poll kayak di tipi2 gitu xp
tergantung pesertanya sih, kalo sekedar pengen menang dan bisa mendatangankan banyak voter, kenapa nggak? tapi saya akan salut jika pemenangnya memang karena kualitas yang dimiliki, bukan kuantitas apalagi dg memaksa diri. berarti saya ada di urutan ke tiga dalam barisan ya setelah pak prof?
salam persahablogan 😉
@indobrad : ya, bolehlah asalkan ada kombinasi, dan ada kategorisasi, misalnya kategori terpopuler bolehlah via komen n vote. Tapi the winner kalau saya sih harusnya jgn voting 🙂
@prof syafri : setuju banget pak. Saya lupa masukin contoh idol-idol dan talent-talent an ke dalam tulisan. Kelupaan hehee..
…ya saya termasuk yg anti vote untuk suatu karya tulis…semacam meniru american idol dan ditiru jadi indonesian idol…itu lebih pada dunia musik/hiburan…sebaiknya kalau karya tulis termasuk dalam blog dinilai oleh tim yg kompeten sesuai dengan bidangnya…misalnya dari sisi konten dan tampilan seperti relevansi topik,analisis,purposenya,bahasanya, dan akurasi serta segmen pasar pembacanya…bisa dilakukan bertahap…pertama lewat desk evaluation terhadap semua karya tulis yg masuk,penyeleksian untuk dievaluasi di tingkat final, dan finalisasi untuk menentukan urutan juara…model ini saya kira jauh lebih obyektif ketimbang pemunggutan suara hanya lewat sms atau media lain….
Oh ya, kalo juara umumnya semata-mata ditentukan voting pasti saya meragukan kredibilitasnya. tapi kalau sekedar mencari juara favorit sementara juara lombanya ditentukan oleh juri yang kredibel, boleh dong?! hehehe.