Pernah dengar cerita joke seperti ini :
Orang jawa bercerita dengan semangat kepada temannya sesama jawa, bahwa dia didorong oleh preman. Diganggu lah. Dia berkata “…sekali kudiemkan, dua kali ku diemkan, tiga kali.. terduduk aku.” Saking sabarnya dan menurutnya. Jadi, yang ketiga kali bukan melawan, malah sampai jatuh terduduk di dorong.
Ada lagi tentang keinjek kaki tak sengaja. Si Jawa menegur orang yang menginjak kakinya, ketika sama-sama berdiri, katakanlah di Halte. Dengan sopan mencolek orang jawa yang kakinya keinjak menegur sambil tak lupa senyum, “Mas, mas, Maaf, kaki ku keinjek”. Minta maaf padahal dia yang diinjak. Orang Minang/Padang lain lagi, “Pak, abis injek yang kiri, yang kanan ya, dua lima ribu”. Ada pernah dengar cerita seperti ini? Fiktif, tapi sebenarnya menunjukkan karakteristik bangsa. Tak negatif kok.
Intinya bukan sukunya, tapi mayoritas orang Indonesia pemaaf. Mudah mengucapkan maaf. Tapi ternyata, pengalaman saya, itu TIDAK BERLAKU bagi seorang pelayan restoran, petugas pom bensin, dan beberapa jenis pekerjaan yang sebenarnya erat dengan Pelayanan.
Ceritanya begini :
Di Subuh-subuh buta (mungkin karena masih ngantuk makanya sebutannya buta hehe..) Saya naik motor menuju kantor karena sesuatu pekerjaan yang perlu diselesaikan dengan cepat. Ternyata, bensin tiris. Mampirlah dengan keadaan ngantuk dan tak sempat mandi itu, saya ke sebuah Pom Bensin di depan Rumah Sakit Azra, Bogor.
Di bagian antrian motor, pas sudah membuka bagasi tanki, saya langsung bilang ke petugas, “sepuluh”. Dia melongo, gak dengar. Saya ulangi lagi dengan keras, “Sepuluh”. Baru dia mengerti. Namun yang bikin kesal (maklum pagi2 masih emosi) dia bilang, buka aja pak Helmnya biar jelas.
Wadu wadu wadu wadu.. dengan kondisi ngantuk ini, saya hanya ingat kalau saya (nau disuruh) membuka helm ada dua kondisi. Pertama, sudah sampai tujuan. Kedua, diminta buka oleh tentara ketika lewat Pos jaga atau masuk komplek militer. Selebihnya, otak saya tak menerima untuk diperintah seperti itu, oleh petugas pom bensin -yang tak seharusnya nyuruh2 pelanggan. Just do your job.
Ya, Secara etika, Anda tak berhak menyuruh-nyuruh pelanggan. Harusnya Dia mencondongkan badan dan mencoba mendengarkan. Atau berkata “maaf, tidak kedengaran”. Dan seterusnya.Yup, kata maaf yang saya tunggu tak juga muncul, Malah “menyalahkan” saya yang pakai helm. Kemudian juga Sepuluh ribu rupiah ya katanya. Saya jawab, karena kesal, ya nggak mungkin juga sepuluh liter! (motor kapasitas tankinya paling-paling 3 liter).
Sampai selesai, tak ada kata maaf dari beliau hehe.. mantabhs.
Ini kejadian kesekian kali dimana seorang “pelayan” yang tak mau meminta maaf. Hal yang sama terjadi pada kejadian saya di barong kafe, Palembang, beberapa bulan lalu.
Oya dan beberapa bulan sebelumnya terjadi juga di Solaria Botani Square dan Solaria Margo City (langganan nih solaria hehe..) Kejadian di Solaria Margo City depok adalah makanan keasinan (capcay) dan ketika dikomplain, pelayan malah cengengesan.. di Botani Square (Boker) ketika dikomplain makanan yang Luammaaa banget naudzubillah dan sampai kita marahin pun, saya bilang “Lupa ya?” dia bilang A, B, dan C dan seterusnya hehe.. susah banget ya dengan satu kata “Maaf”..
Kali lain, kejadiannya di milis. Agak esmosi dengan seorang teman dulu. Udah lama sih, cuman kayaknya biarpun beliau itu dari berbagai sudut pandang adalah “salah” tapi begitu angkuh tak mau bilang “maaf” walau cuma tertulis hehe.. alhasil, karena tak mau konflik lebih panjang, saya deh yang bertabur kata “maaf” namun gakpapa, meminta maaf tak menjadikan diri kita lebih rendah! catat itu! Setuju?
Di sebuah rumah sakit juga pernah, dengan nge-les sengeles-ngelesnya (apaan sih) seorang perawat nggak mau ngaku dan minta maaf kalau memang dia salah ngasih jadwal obat ke istri saya. Hahaha.. pakai berlindung dibalik nama dokternya lagi. Ampe mau nangis dia dicecar baru keluar kata, maaf.. dan lupa.. 🙂
Ternyata, Orang Indonesia itu Arogan dan angkuh bukan? Menurut Anda?
Mungkin karena kebanyakan orang mengamalakan “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah” yang maksudnya memberi itu lebih baik dari pada meminta. Dan menurut penuturan seorang ustadz di kitab suci Al Quran tidak ada satu ayat pun yang memerintah kan kita untuk meminta maaf tapi yang ada adalah memberi maaf.
Jadi alangkah baiknya pak unggul lah yang langsung mengatakan “ok saya maafkan mas atau mba”.
hihihi….
hihi.. betul juga ya.. “baiklah, kau sudah kumaafkan..”
huayoooo itu milis manaaaa?
hahaha.. ya memang gitu kang.. Ada orang yang keseringan minta maaf tapi malah kesannya dia nganggep beres segala kesalahan dgn ngomong maaf aja dan ada juga orang yang kyaknya ngga pernah ikhlas buat ngomong maaf 🙂
Hahaha..
sebagian tok owk..
saya tidak lho..saya suka meminta maaf kalau memang saya salah.
soal pelayan restoran, saya pernah sampai hampir ngamuk di sebuah tempat makan karena lama tak dilayani dan tidak ada pemberitahuan yang jelas soal penyebab keterlambatannya